
Aku terperanjat serta mata ini membulat, saat mendapati sosok yang terbungkus kain kafan yang terlihat sudah pudar warnanya dan dipenuhi lumpur itu. Matanya merah dengan lingkaran hitam sementara ujung matanya terus meneteskan darah. Wajahnya sudah busuk dan belatung mulai menggerogotinya bahkan kapas yang tersumpal di hidungnya terus mengeluarkan cairan hijau yang baunya sangat busuk.
Segera aku terduduk dan tanganku berusaha membangunkan Indah atau siapa saja dengan menggoyangkan bahunya agar pocong itu segera menghilang tapi tidak ada yang terbangun meski aku sudah berteriak minta tolong. Aku baru akan berdiri dan bersiap berlari saat tiba-tiba saja pocong itu bangun dan menatap tajam diriku.
"Tolong aku! Di sini semuanya gelap gulita. Tolong!"
"Tidak! A-aku tidak bisa menolongmu, dunia kita sudah berbeda. Pergi! Pergi!" Teriakku sembari mengibaskan tangan, sementara tanganku yang lain menutup mataku.
Pocong itu bukannya pergi, dia menggeser tubuhnya yang terikat semakin mendekatiku. Aku tidak sanggup lagi menahan rasa takut ini. Aku segera bangkit dan berlari sekencang yang aku bisa. Namun, saat tiba di pintu gedung dia sudah ada di sana dan menghadangku.
"Tolong aku! Kamu harus menolongku!" Teriakannya membuat telingaku terasa nyeri saking kerasnya.
"Pergi! Jangan ganggu aku! Pergi!" teriakku tapi pocong itu masih berdiri tegak bahkan kini dia memamerkan senyum menyeringai dan mengerikan. Aku putuskan untuk kembali ke lobi, siapa tau saja ada seseorang yang terbangun dan bisa membantu mengusir hantu pocong itu.
Saat aku berbalik badan, pocong yang semula ada di depan pintu, kini sudah berpindah ada di hadapanku. Entah dengan cara apa makhluk mengerikan itu berpindah tempat.
"Tolong aku!" bisiknya lemah, jauh berbeda dengan tadi saat dia berteriak menggelegar dan sangat keras, bagaikan gemuruh petir. Kali ini pocong itu bernada lembut dan memelas seperti orang yang tengah mengemis, meminta belas kasihan.
"Aku tidak mungkin bisa menolongmu. Selain aku tidak tau caranya, kita juga di alam yang berbeda. Aku tidak mungkin ikut campur dalam permasalahan dunia kita masing-masing. Aku mohon, pergilah. Jangan ganggu aku terus seperti ini."
Aku berucap dengan gemetar, setelah aku mengumpulkan puing-puing keberanian yang tersisa di benak. Aku tidak boleh mengalah begitu saja dengan makhluk tak kasat mata.
Air mataku pecah di titik ini. Banyaknya beban pikiran yang harus aku pikul, belum lagi hantu-hantu yang seolah tiada hentinya merecoki hidupku yang berat ini.
"Han, apa kamu baik-baik saja?"
Sebuah tangan hangat menyentuh bahuku, perlahan aku berbalik arah. Mataku menatap sosok lembut namun tegas yang ada di hadapanku. Tidak menunggu lama, aku memeluk tubuhnya erat.
"A-aku takut. Mereka terus berdatangan dan menerorku." Aku mengadu pada pemilik tinggi badan 180 sentimeter itu sembari menangis tersedu.
"Tidak ada apa-apa." Tangannya yang kokok mengusap lembut rambutku. "Semua akan baik-baik saja. Bukankah sudah aku katakan padamu semalam. Aku akan menjagamu."
__ADS_1
Dia mengangkat daguku hingga sedikit mendongak. Mataku bertemu dengan mata elangnya yang jernih.
"Han, percayalah. Meski kita belum lama saling mengenal, di hatiku belum pernah seyakin ini. Aku akan selalu setia menunggu jawabanmu."
Mata yang begitu jernih itu terus aku tatap dan telisik dalam-dalam. Namun, tidak aku temui kebohongan di sana. Kata orang, mata adalah cerminan hati. Aku hanya mendapati ketulusan di sorot mata yang indah.
"Be-beri aku waktu. Aku belum pernah mengenal jatuh cinta kecuali pada bapakku."
Senyum merekah di wajah berjambang tipis itu. Dia kembali merengkuhku dalam pelukannya.
"Aku akan menunggu sampai engkau tau artinya mencintai. Han, andai nanti kamu memilihku maka aku akan menjadi pria yang beruntung karena akan menjadi cinta pertamamu selain cinta pada ayahmu."
Aku tidak menolak karena ada rasa nyaman dalam dekapannya. Rasa nyaman yang berbeda bahkan saat aku berada dalam pelukan bapak. Entah apakah ini yang dinamakan benih cinta atau entahlah. Yang jelas, ada kenyamanan baru dalam pelukan pria ini. Harum parfumnya sudah seperti candu untukku. Aku menghirup dalam-dalam agar wanginya membekas walau dia tidak ada di sampingku. Harum yang ingin selalu aku rasakan.
Ingatanku melayang di kejadian semalam sesaat setelah tragedi kesurupan massal. Aku diminta beristirahat di musala depan gedung bersama teman-teman yang juga mengalami kesurupan.
Aku tengah berdiri di dekat jendela sementara mataku terus menatap gedung spinning yang gelap gulita. Gedung itulah alasan terjadinya kesurupan ini. Mataku membulat karena di jendela yang sama saat aku melihat pocong, itu muncul sesosok yang akhir-akhir ini sering mengunjungiku, wanita tanpa rupa. Wanita itu melambai-lambai seolah memanggilku. Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, aku melangkah keluar dan berjalan menuju gedung yang berhadapan dengan gedung produksi.
"Apa yang kamu lakukan, Han? Kenapa kamu ada di sini lagi? Ayo, kita kembali ke musala!" Aku terkesiap saat mendengar ucapannya.
"Aku juga tidak tau, Wan. Aku hanya tadi melihat ada wanita tanpa rupa itu di jendela sana kemudian melambaikan tangan lalu tanpa sadar aku berjalan ke arahnya."
"Astaga. Ayo kita segera meninggalkan tempat mengerikan ini." Tangannya segera menarikku tapi entah mengapa kakiku berat sekali melangkah.
"Hanna! Masuk ke sini. Kita bermain bersama!" Suara itu sangat aku kenal. Itu suara Mbak Arum tapi kenapa suara itu berasal dari dalam gedung spinning.
"Wan, apa kamu dengar suara itu?"
"Suara? Suara apa? Aku tidak mendengar apa-apa."
Aku mengerutkan kening, bagaimana suara itu tidak terdengar oleh Ridwan, padahal suara itu begitu keras hingga memekakkan telinga. Namun, itu semua bisa saja terjadi.
__ADS_1
"Hanna! Awas!" Hampir saja sebuah dahan pohon mangga yang berdiri kokoh di samping gedung ini jatuh dan hampir mengenaiku. Untung saja dengan sigap Ridwan menarikku hingga aku bisa selamat.
Entah dorongan dari mana, spontan aku mendongak dan melihat sesosok kuntilanak tengah duduk di salah satu dahan.
Matanya yang berwarna merah menatapku tajam. Dia terus memelototi aku bahkan matanya hampir keluar.
"Rid, ayo kita segera pergi dari sini!" Jika tadi Ridwan yang menggandengku maka kali ini aku lah yang mengapitnya. Setelah memasuki musala, aku baru menceritakan pada Ridwan apa yang aku lihat tadi.
"Han, apa mungkin dia kunti yang sempat disebut Indah kunti ganjen itu ya?"
"Kunti yang luluhnya sama kamu tadi?"
"Amit-amit jabang bayi. Aku masih manusia normal, Han. Aku masih suka sama perempuan nyata. Aku masih menyukai wanita cantik sepertimu."
Aku terkejut dengan ucapannya, belum berhasil menenangkan hatiku. Wajah Ridwan mendekat dan hanya berjarak sepuluh sentimeter. Dengan lembut Ridwan berbisik lirih di telingaku.
"Aku jatuh cinta padamu, saat pertama kali melihatmu di terminal Tirtonadi."
"Terminal?"
"Ya kebetulan bus yang kita tumpangi berhenti di tempat itu. Aku langsung jatuh cinta padamu yang terlihat membawa kardus besar dan juga tas ransel." Aku hanya diam saja meski tidak memungkiri bahwa akibat gombalan itu hatiku berbunga.
"Aku tidak tau kenapa, tapi pertemuan demi pertemuan kita membuatku yakin kau adalah tulang rusukku yang hilang."
Aku menikmati setiap detik bersamanya. Tiba-tiba saja si kunti yang tadi duduk di atas pohon beterbangan di sekitarku.
"Wan, kunti itu ada di sekitar kita."
"Tenang, kita berdoa saja agar dia pergi." Lirih aku meminta perlindungan pada Sang Mahakuasa, Ridwan benar perlahan si kunti ganjen itu pergi. Meski aku tau si kunti sudah pergi tapi aku enggan melepaskan pelukan. Sampai-sampai ada yang berdehem di belakangku. Dengan takut aku melepaskan pelukan Ridwan untuk melihat siapa yang ada di belakangku.
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...