Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 38: Rayuan si Cemeng


__ADS_3

Angin malam semakin berembus kencang, menambah ketegangan yang aku rasakan saat menanti jawaban Mbak Juni tentang wanita tanpa rupa itu.


"Mbak, bener kan tebakan Hanna kalau wanita tanpa rupa itu Gayatri?" tanyaku lagi padanya.


"Iya, banyak yang bilang dia wanita tanpa rupa tapi aku bisa melihat jelas dia adalah Gayatri. Selama tujuh tahun aku bekerja di pabrik ini, dia adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat. Banyak pria yang mengincarnya termasuk cucu dari pemilik perusahaan ini. Namun, Gayatri ternyata sudah mencintai pria lain. Pria yang tidak lain adalah kekasih sahabatnya, Melati."


Cerita cinta segitiga antara Gayatri dan Melati mengingatkanku akan kisah yang terjadi antara Wulan dan Intan. Semoga saja kisah mereka tidak setragis Gayatri dan Melati.


"Mbak, kenapa Gayatri selalu menampakkan dirinya padaku padahal aku tidak tau sejarah bahkan siapa dia aku tidak tau? Kenapa dia tidak meminta tolong padamu, Mbak. Kan kamu mengenalnya dengan baik saat dia masih hidup?"


"Entahlah, Han. Mungkin karena kamu punya banyak kesamaan dengannya, Han. Apalagi kamu adalah penghuni indekos yang sana dengan dia. Mungkin juga kamu ada hubungannya dengan tragedi hilangnya Gayatri beberapa tahun lalu."


Aku semakin bingung dengan ucapan Mbak Juni. Bagaimana bisa aku berhubungan dengan tragedi itu, sementara saat itu aku adalah gadis desa yang sehari-hari terkadang aku habiskan untuk membantu ibuku berjualan tahu bakso di tepi jalan.


"Ta-tapi bagaimana bisa?"


"Entahlah, Han. Itu baru dugaanku saja."


Belum mampu aku mencerna sebenarnya apa hubunganku dengan semua tragedi ini. Suara klakson motor memekakkan telinga. Sorot lampu tajam menyerang kami hingga aku harus memejamkan mata ini.


"Sayang aku, kenapa pada ngumpul di sini? Pasti nungguin Mamas, ya. Ya sudah, berhubung mamas sudah di sini. Ayo, kita bergegas masuk ke gedung Kantor Urusan Agama. Aku sudah tidak sabar menghalalkan hubungan kita di depan pak penghulu biar sah secara agama dan negara."


Suara itu begitu aku rindukan padahal kami terpisah tidak lama, bahkan dalam mimpiku tadi siang pun ada dia di sana. Aku tidak bisa menanggapi ucapannya karena jantung ini seolah berhenti berdetak.


"Ciye... malu-malu nih ye!" Kali ini aku semakin tertunduk. Andai bisa seperti burung unta, pasti akan aku sembunyikan wajahku ke dalam tanah. Agar tidak ada yang melihat rona merah yang kian menghiasi pipiku.


"Mbak Juni, tanyain ke dia kira-kira kapan dia akan membalas rasa cintaku yang sangat menggebu ini." Mata Ridwan kini beralih ke Mbak Juni. Untunglah jadi aku bisa mencuri pandang pada wajah tampan serta berlesung pipi itu.


"Eh, anakan kucing! Kalau serius sama cewek itu kamu datangin ibu dan bapaknya. Kamu minta pujaanmu itu dari orang tuanya bukan asal tembak saja!" Ridwan tertawa lebar menanggapi omelan Mbak Juni sembari melayangkan jeweran ke telinganya.

__ADS_1


"Tunggu dong, Mbak. Orang cintaku saja belum diterima lo sama bidadari surga ini. Kalau sudah, aku pasti akan melamarnya segera walaupun harus melalui lautan api pasti akan aku sebrangi. Jalan di atas bara api yang membara pun akan aku lakukan jika itu demi meraih cinta dan kebahagiaannya.


"Halah gombalmu itu! Laki-laki kalau belum dapat itu bicaranya selangit. Kalau sudah, cari yang lain. Ibarat habis manis sepah dibuang!"


"Tidak. Aku tidak seperti itu, Mbak. Aku orangnya setia."


"Iya, setia. Setiap tikungan ada, kan?"


Aku hanya tersenyum mendengar perdebatan Mbak Juni juga Ridwan bagaikan anjing dan kucing. Hingga perdebatan itu terhenti karena ada klakson mobil yang berbunyi dan berhenti tepat di depan kami. Kaca mobil berwarna merah itu terbuka, ternyata itu Bu Ning yang datang.


"Hei, kalian ngapain berkumpul di tepi jalan? Rapat apa?" tanya wanita berbadan tinggi besar itu.


"Rapat dalam rangka menggulingkan kekuasaan ibu sebagai atasan kami." Ridwan menjawab sekenanya. Bu Ning bukannya marah dia justru tertawa lebar.


"Mulutmu kurang sajen, Wan? Mesti ini efek belum ngopi. Sana ke pantry, buat kopi panas!"


"Aku bukan kurang sajen, Bu, tapi kurang kasih ayang."


Tawa menggema dari mulutku juga Mbak Juni. Sedangkan Ridwan memajukan bibirnya. "Iya ya. Aku ini jomblo abadi. Malangnya nasibku ini selalu dirundung oleh para dedengkot pabrik. Apa salah dan dosaku ini hingga selalu dicaci dan dihina hanya karena belum punya ayang."


"Dasar cemeng, anak kucing. Lagaknya kalau bicara sok puitis alisnya padahal aku menangis. Sudah sana cepat ketimbang makin keras kamu dihujat karena jomblo. Bu Ning, ini anak misal pindah ke gedung sebelah itu bisa gak ya?" tanya Mbak Juni sembari melirik ke arah Bu Ning.


"Bisa, tapi harus ada alasan yang kuat dulu seperti kinerja tidak bagus dan membuat masalah serta mengganggu ketenangan karyawan lain."


"Berarti si cemeng itu bisa dipindahkan karena dia itu sudah mengganggu ketenangan karyawan, Bu. Si cemeng, dia ini sering bikin sepet mata, Bu. Kerjaannya kan benerin mesin kan ya tapi dia itu kerjaannya tiap saat mondar-mandir di ruang produksi, sudah persis seperti setrikaan laundry, bikin empet tau, Bu."


"Bener seperti itu, Wan?"


"A-anu, Bu. Memang benar Ridwan sering mondar-mandir kaya setrikaan tapi itu demi..."

__ADS_1


"Demi apa? Demikian?" potong Mbak Juni sebelum Ridwan menyelesaikan ucapannya.


"Tunggu dong, jangan dipotong dulu ucapanku, Mbak Juniyati Puspita Sari harum mewangi sepanjang hari. Aku selesaikan dulu ucapanku." Semua orang yang mendengar ucapan Ridwan terbahak apalagi ketika dia memanjangkan nama Mbak Juni.


"Bocah edan. Lanjutkan kamu ngomong apa, tapi kalau omonganmu tidak ada gunanya akan aku buang kamu ke kolam yang di dekat kantin itu. Biar dimakan sama siluman yang bersemayam di sana."


"Ridwan itu mondar-mandir ke sana demi melihat senyum dan mengobati kerinduanku pada bidadari surga kesayanganku."


"Jun, memangnya siapa sih perempuan yang membuat si cemeng ini bertekuk lutut seperti itu, bertingkah makin edan saja," bisik Bu Ning pada Mbak Juni. Bisikan itu cukup jelas terdengar di telingaku karena aku ada di sebelah Mbak Juni.


"Ini lo, Mbak." Mbak Juni menarikku dan mengubah posisiku menjadi berdiri di antara mereka.


"Jadi kanu, Han. Bidadari surganya cemeng?"


Aku menggeleng meski di lubuk hati tersirat rasa bahagia karena berulang kali Ridwan menyebutku dengan bidadari surga.


"Sudah, daripada kita hanya mendengar ocehannya si cemeng saja, mending kita segera jalan lagi ke gedung produksi. Tinggal sepuluh menit sebelum itu bel bikin budek."


Kami bergegas meninggalkan tempat itu. Hatiku sedikit tenang dengan beriringan rasanya tidak mungkin Gayatri hantu lain menampakkan dirinya lagi.


Indah terheran kenapa aku, Ridwan, Mbak Juni, dan Bu Ning masuk ke gedung bersama-sama bahkan canda tawa itu masih sesekali terlontar. Dia yang sudah ada di lobi untuk menunggu saatnya pergantian sift terus memandang kami bergantian.


"Indah!" Aku memilih duduk di samping Indah karena masih ada ruang kosong. Sementara itu, Bu Ning dan Ridwan masuk ke ruangan mereka masing-masing. Mbak Juni memilih ke toilet dulu sebelum bergabung.


"Han, aku ke toilet dulu ya. Maklum umur sudah banyak kalau tertawa terus pertahanan bawah bisa jebol," pamit Mbak Juni, tadi saat kami akan berpisah.


Senyumku semakin terkembang saat aku mengingat bisikan Ridwan tepat saat dia akan masuk ke ruang kerjanya. Karena mesin-mesin jahit rusak yang tadinya ada di ruang produksi paling belakang sudah dipindah ke ruangannya untuk memudahkan perkejaan dan tidak menggangu para pekerja produksi.


"Han, kamu jangan cemburu jika aku bersenda gurau dengan karyawati di pabrik ini. Karena aku sangat suka bercanda. Namun, ada satu hal yang harus kamu ingat terus, Han. Aku tidak pernah bercanda mengenai perasaanku padamu. Aku serius dengan cintaku." Dengan mengucap salam, pria itu hilang di balik pintu besi ruangannya.

__ADS_1


...----------------...


...--bersambung--...


__ADS_2