
Sepeninggal kedua petugas kepolisian itu, mataku membulat sembari menatap surat panggilan yang tengah aku genggam erat. Wulan terlihat menggigit bibirnya perlahan.
"Han, ini bagaimana? Seumur-umur baru kali ini aku dapat surat panggilan seperti itu. A-apa kita akan dipenjara ya, karena dianggap menyelakai Intan?"
"Tidak, tidak akan, Lan. Kita tidak salah apa-apa." Bibirku memang berucap seolah akan baik-baik saja tapi hatiku pun diliputi ketakutan. Semua penghuni indekos ini pun tau bahwa aku mengejar Intan, walau pada kenyataannya aku mengikuti ke mana perginya hantu yang selalu menenteng kepalanya itu.
Aku dan Wulan mungkin dianggap orang yang bermasalah dan terakhir melihat gadis yang sekujur tubuhnya penuh borok itu. Bisa jadi semua sangkaan buruk tentang tragedi hilangnya Intan kini mengarah kepadaku dan Wulan.
"Han, nanti kita ditanya apa saja ya? Soalnya ini kaki pertama, aku harus berurusan sama kepolisian."
"Aku juga tidak tau bagaimana nanti. Itu pun juga yang pertama dan semoga saja jadi yang terakhir berurusan dengan kepolisian."
"Amin. Kita siap-siap yu, Han. Ketimbang nanti kita dijemput paksa pakai mobil anti peluru serta dikawal dengan mobil tank dan didampingi oleh petugas bersenjata lengkap."
Aku tertawa mendengar ucapannya yang terlalu jauh dan juga berlebihan. "Lan, kita ini hanya saksi dan bukan ******* yang harus ditangkap dengan cara mengerikan seperti itu."
"Ya, kan siapa tau, Han. Aku ngeri kalau lihat penangkapan di televisi bahkan ada yang sampai baku tembak."
Ingin rasanya aku timpuk wanita itu dengan bantal karena pemikirannya yang sudah melebar kemana-mana. "Nggak sekalian saling melempar granat atau bom atom yang meluluhlantakkan tempat ini saja, Lan. Orang kok halunya kebangetan."
Wulan hanya meringis sembari menggaruk kepalanya. Aku segera meminta wanita itu untuk segera mandi dan bersiap terlebih dahulu. Kemudian baru aku yang mandi dan bersiap.
"Han, aku deg-degan. Bagaimana kalau nantinya kita langsung dijebloskan ke penjara?"
"Tidak, tidak. Sudah, bismillah saja. Kita hadapi sama-sama."
Dengan mengendarai motor Wulan, kami berangkat meski rasanya tidak nyaman juga tidak tenang karena harus berurusan dengan kasus hukum. Setibanya di sana, aku dan Wulan masuk ke ruang yang berbeda.
Kini aku harus berhadapan dengan dua orang petugas yang usianya mungkin tidak terlalu jauh. Mereka bertanya banyak hal, salah satunya pertemuan terakhirku dengan Intan. Aku menceritakan semua detail mungkin, semua kejadian saat terakhir Intan menemuiku dalam keadaan menegangkan.
"Mengapa anda tidak melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian?"
__ADS_1
"Sa-saya tidak berpikir sejauh itu. Bagi saya selamat dan bisa berkumpul dengan teman yang lain itu lebih penting."
"Menurut beberapa orang, saat saudari Intan keluar dari kamar anda maka anda berlari membuntutinya. Benarkah?"
Aku menghela napas dengan kasar, sebelum melanjutkan penjelasanku yang mungkin akan terdengar aneh dan tidak masuk di akal.
"Sebenarnya saya pergi keluar itu bukan untuk mengikuti Intan tapi sosok hantu tanpa kepala yang menuntun saya dan membawa saya masuk ke kampung gaib. Mungkin ini terdengar aneh tapi percaya atau tidak percaya, itulah yang saya alami."
Meski aku sangat takut dan gugup tapi aku berusaha kuat dan tetap tenang. Pria itu tampak mengerutkan dahinya. Kemudian membaca berkas-berkasku.
"Mbak, tinggalnya di indekos berdarah ya?"
Saat aku menganggukkan kepala, pria itu tampak mengipasi badannya dengan tangannya. "Huft, kenapa kasus ini harus terjadi di sana lagi sih, pasti akan sulit mengungkapkannya." Pria itu mengeluh dengan suara yang lirih tapi tetap saja telingaku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Ada apa, Pak?" tanyaku penasaran. Pria itu memajukan wajahnya ke arahku.
"Setiap kali di sana ada kasus kriminal, terutama kasus penemuan mayat serta hilangnya seseorang, tidak pernah kami menemukan titik temunya. Jangan-jangan korban itu penghuni kamar nomor tiga belas, sama seperti yang sudah-sudah."
Aku menggelengkan kepala dengan cepat sementara petugas itu mengulaskan sebuah senyum. "Baguslah, berarti ada kemungkinan kasus ini bisa terkuak," desisnya perlahan.
Pria itu menepuk dahinya. "Sudah, Brin. Kamu pasti bisa memecah kasus ini. Aku harus berhasil, agar tidak seperti ayah yang gagal dalam mengungkap kejahatan."
"Maaf, Pak. Apa maksudnya ini? Apa ada hubungan penemuan mayat di kamarku dalam kondisi mengerikan seperti kepalanya terpenggal."
Rupanya polisi yang menemukan mayat itu adalah ayah polisi yang tengah meminta keteranganku ini. Sementara pada kasus hilangnya Gayatri ditangani oleh kakak sulungnya. Keduanya buntu, sama sekali tidak menemukan jalan keluar permasalahan ini.
"Kenapa bisa kebetulan sekali, Pak? Kapan-kapan saya ingin membahas masalah ini karena semenjak saya tinggal di indekos berdarah, sering kali mendapatkan teror dari mereka yang tidak kasat mata." Polisi yang bernama Ari itu memberiku sebuah kertas yang berisi nomor ponselnya.
"Hubungi aku bila menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk tentang kejadian itu. Aku berharap dia bisa bekerja sama dalam memecah misteri tentang kamarmu itu."
"Pak, bolehkah saya tau kenapa kasus mengerikan seperti penemuan mayat di kamar saya itu akhirnya dibekukan?"
__ADS_1
"Kurangnya informasi yang kami terima dari kasus ini. Bahkan identitas korbannya tidak diketahui. Tidak adanya saksi juga menyulitkan petugas. Pemilik indekos saat itu sedang menunggui putranya yang tengah kritis sementara penjaga indekos juga sedang berjaga di pos ronda tidak pernah menjumpai hal aneh. Bahkan sepertinya wanita itu tiba-tiba ada di sana. Padahal kamar itu kosong sudah dari lama. Pintu kamar itu juga sudah rusak."
Setelah hampir tiga jam ditanyai banyak hal, akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang. Tidak berapa lama menunggu, Wulan pun keluar dari ruangannya diperiksa.
"Lan, aku lega banget. Akhirnya semua bisa dilalui dengan baik."
Tanpa banyak bicara lagi aku segera mengajak Wulan untuk pulang karena ini sudah mendekati jam makan siang sementara karena panik, kami berdua tadi hanya sempat mencomot secuil roti sobek. Aku dan Wulan memutuskan untuk makan di sebuah warung tahu kupat yang terletak tidak jauh dari pabrik tempat Wulan bekerja.
"Semoga ya, Han, cukup sampai di sini urusan kita dengan Intan dan juga kantor polisi. Serem tau petugasnya tadi. Mana judes banget."
"Lan, kamu tau tidak? Yang mengurus kasus penemuan mayat terus hilangnya Gayatri dan yang mengurus kasus Intan itu satu keluarga. Bapak dan kedua anaknya yang sama-sama berprofesi sebagai polisi."
Wulan pun ternganga saat mendengar ucapanku. Dia sama terkejutnya denganku.
"Terus gimana?"
"Kami bertukar nomor agar bisa saling menghubungi saat ada informasi terbaru. Bahkan jika kemungkinan terburuk terjadi. Kita akan diberitahu terlebih dahulu seandainya kita ditetapkan sebagai tersangka ataupun jika nama kita terbukti tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian hilangnya Intan. Kita bahkan sebelum surat resmi dari kepolisian ke rumah kita."
Aku dan Wulan segera pulang ke indekos karena kami pun nanti harus bekerja. Memasuki gerbang indekos kakiku mulai gemetar bahkan tanganku mulai mengeluarkan keringat dingin. Aku ketakutan karena tiba-tiba teringat akan kejadian semalam.
"Han, kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba wajahmu pucat?"
"Aku kan cerita padamu tapi tidak sekarang dan tidak di tempat itu. Di sini dinding pun punya telinga. A-ayo, kita masuk ke kamar."
Kakiku rasanya berat saat menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat Bu Wati tinggal. Keringat sebesar biji jagung terus meleleh membasahi tubuhku. Aku meremas lengan Wulan dengan kencang saat kakiku sampai di anak tangga terakhir. Tepat saat itu, pintu kamar Bu Wati terbuka. Aku berhenti dan entah mengapa tidak bisa bergerak seperti patung saja.
"Mbak Wulan, Mbak Hanna, habis dari mana? Kok cantik dan rapi sekali?"
Aku muak melihat wajahnya yang sok manis padahal wajah aslinya begitu bengis. Dasar perawaann tua, lihat saja sekali lagi menyakitiku, semua tingkah lakumu akan aku laporkan pada pihak berwajib. Dengan sekali tekan akan aku hubungi Pak Ari, petugas kepolisian tadi.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku menarik Wulan untuk naik. Entah kekuatan dari mana padahal tadi tubuhku tidak bisa bergerak.
__ADS_1
...----------------...
...--bersambung--...