Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 43: Dendam Gayatri


__ADS_3

Seketika canda dan tawa itu berhenti karena mendengar ucapan nenek yang selalu menohok dan penuh misteri. Aku mengajak Wulan untuk mendekati wanita berusia senja itu. Aku mencium takzim tangan wanita yang masih belum lupa apapun itu. "Han, kamu sehat, Nduk?"


"Iya, Mbah."


"Tetap hati-hati dan jaga kesehatan serta adab ketimuran serta tata krama harus kamu pegang teguh dan jangan pernah kamu lupakan."


"Inshallah, Mbah. Hanna akan ingat pesannya Mbah selamanya." Tangannya yang penuh keriput mengusap kepalaku perlahan.


Wulan pun ganti melakukan hal yang sama. Nenek Indah menatap lekat ke arah Wulan. Nenek tiba-tiba saja memeluk ibu dari dua orang anak itu. Entah apa yang nenek bisikkan tapi itu membuat Wulan sempat menitikkan air mata.


"Kamu baik-baik saja kan, Wul?"


Wulan hanya mengangguk, tidak berapa lama wanita itu mengajakku untuk pulang karena sedang tidak enak badan. Di indekos aku coba bertanya padanya. Kenapa sepanjang di rumah Indah dia tampak murung? Apa ada yang tengah menjadi beban pikirannya?


"Tadi neneknya Indah bilang cuma satu kata, tapi rasanya susah sekali, Han," ceritanya berapi-api.


"Memangnya bilang apa?"


"Maafkan, itu saja. Sesuatu yang mustahil untuk aku lakukan saat ini. Bahkan hanya dengan mendengar namanya saja darahku mendidih. Aku bahkan punya keinginan untuk menghabisinya."


Memang pasti akan sulit bagi kita untuk memaafkan dan melupakan pengkhianatan apalagi jika itu dilakukan oleh orang yang paling dekat dengan kita. Tidak mudah membebat luka yang sudah terlalu dalam tertoreh.


"Kamu pasti bisa, Lan. Kamu pasti bisa melupakan dan memaafkan orang-orang itu terutama Intan juga Adnan memang susah tapi yakin deh kamu pasti bisa."


Aku mengusap punggung Wulan untuk mengurangi sakit dan gejolak di dadanya. Aku tau benar, dia sangat membutuhkan teman saat ini, makanya aku lebih memilih untuk ikut dia ke indekos ketimbang aku tinggal bersama Indah.


Jam sudah menunjukkan pukul 22.30. Sudah saatnya aku harus bersiap untuk berangkat kerja. Mengganti bajuku dengan seragam kerja dan juga mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa saat bekerja.

__ADS_1


"Han, kamu pakai saja motorku. Tidak usah minta Indah untuk jemput, kamu pakai saja. Malam ini aku mau tidur sepuasnya."


Dengan sedikit gentar aku menyusuri kamar demi kamar dan menuju tangga. Di tangga aku berjalan dengan hati-hati, sementara mulut ini komat-kamit meminta perlindungan dari Sang Pencipta. Untunglah aku tidak bertemu dengan hal-hal yang aneh dan mengerikan. Hanya saja ketika aku sedang ada di parkiran, dari kamarku keluar sesosok hantu yang kepalanya tertebas, dia melambaikan tangannya ke arahku, sementara tangan yang lainnya menenteng kepalanya yang penuh darah. Aku lebih memilih untuk segera menancapkan gas motor Wulan ketimbang nanti dia mengikutiku kemana-mana.


Sepanjang perjalanan dari indekos sampai ke pabrik, aku berjalan dengan hati-hati dan waspada. Aku tidak mau ada sesuatu hal yang buruk terjadi saat tiba-tiba ada hantu yang lewat atau bagaimana. Lebih baik aku menghindarinya dengan meningkatkan kewaspadaan.


Malam ini adalah malam terakhirku masuk sift malam, besok malam bisa tidur puas-puas tidak terbebani dengan bekerja. Aku tengah mengecek mutu kain yang akan diproduksi minggu depan oleh para operator mesin di gudang. Saat aku bertemu dengan Gayatri, si wanita tanpa rupa itu.


"Tolong! Tolong aku!" Suara serak itu terus terngiang. Selama ini jika mendengar suara makhluk tidak kasat mata aku berusaha lari dan menghindar. Kali ini aku harus berusaha berani.


"Tolong apa?"


"Tolong!"


"Iya, tapi tolong apa dulu?"


Gayatri tidak bisa berteriak karena mulutnya disumpal dengan kain perca. Aku bisa melihat kesedihannya dari air mata yang terus menetes selama para pria itu menuntaskan hasratnya. Selepas gadis itu digilir dengan kejam, seorang di antara para bajingann itu mengancam Gayatri jika dia berani buka mulut maka foto-foto tanpa busana Gayatri akan tersebar kemana-mana.


Gayatri menangis sejadi-jadinya sepeninggal mereka. Aku pun ikut menangisi nasib gadis malang itu. Cukup lama dia menangis tiba-tiba dia yang masih tanpa busana berdiri dan berteriak.


"Aku akan membuat kalian menyesali perbuatan kalian malam ini. Aku akan hancurkan kalian satu per satu. Akan aku buat kalian menangis darah nanti!"


Saat Gayatri berteriak, di saat yang sama terdengar petir menggelegar hingga membuatku terkejut kemudian menyadari aku kembali ke masa sekarang. Karena Gayatri yang mengenaskan keadaannya sudah tidak ada. Aku terhenyak ketika Bu Ning memanggilku.


"Han, kamu jangan melamun di sini. Karena beberapa tahun lalu ada pekerja, dia tertimbun oleh gulungan kain."


Aku terperangah karena di telinga kiriku ada yang berbisik. Dia adalah salah satu pelaku kejahatan. Akulah yang membuatnya tertimbun di sana." Bisikan itu diakhiri dengan tawa yang melengking.

__ADS_1


Buru-buru aku keluar dari ruangan yang juga pengap itu. Jika Gayatri bisa membunuh pria itu, bagaimana dua pria yang lain. Mungkin saja Gayatri melakukan hal yang sama pada mereka.


"Han, tadi kamu di dalam gedung ketemu yang aneh tidak?" tanya Mbak Juni ketika kami tengah beristirahat


"Aku bertemu dengan Gayatri, Mbak."


"Lalu?"


Aku ingin sekali menceritakan semua pada wanita ini tapi entah kenapa hati ini ragu. Karena jujur aku takut kasus Gayatri yang dipaksa melayani nafsu bejat tiga pemuda itu belum punya bukti yang kuat.


"Mbak, bagaimana rupa tunangannya Melati yang direbut oleh Gayatri? Apa Mbak Juni menyimpan fotonya atau masih ingat ciri-cirinya?"


"Dia meninggal tidak lama setelah kematian Melati karena kecelakaan di saat mau berangkat kerja. Mayatnya dalam keadaan yang tidak utuh dan tercerai berai saat dimakamkan. Ada beberapa anggota tubuhnya hilang entah karena dimakan oleh tikus gorong-gorong."


"Tercerai berai?" tanyaku kebingungan.


"Tentu saja. Hari itu dia tertabrak kereta api saat dia melewati perlintasan kereta tanpa palang."


"Mbak, ada fotonya?"


"Tidak punya aku. Yang jelas tunangannya Melati itu punya tompel di dekat telinganya."


Pria bertompel, ciri-ciri yang sama dengan yang pertama menggagahi Gayatri. Aku ingat betul pria itu tidak hanya merudal paksa tapi juga beberapa kali sempat memukul Gayatri karena gadis itu sempat melakukan perlawanan dengan menendangnya.


Mungkinkah jika Gayatri mendekatinya hanya untuk membalas dendam?


...----------------...

__ADS_1


...--bersambung--...


__ADS_2