Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 40: Kecantikan Gayatri


__ADS_3

Indah dan Mbak Juni serta Ridwan saling pandang setelah mendengar yang aku ucapkan. Bisa jadi tadi jiwaku terlepas dan pergi ke masa itu. Di masa saat Gayatri masih ada.


"Kamu memangnya tau wajah Gayatri, Han?"


"Aku sangat yakin, dia adalah Gayatri karena saat itu ada yang memanggil namanya. Bahkan pria yang membuat janji temu dengannya juga menyebut nama Melati. Aku yakin itu adalah Gayatri yang hilang di kamarku."


Mbak Juni terdiam kemudian tampak menggeser-geser ponselnya. Setelah cukup lama menunggu, wanita itu mengangsurkan foto di ponselnya. "Jika yang kamu temui adalah Gayatri, maka pasti kamu mengenalinya. Coba tebak yang mana Gayatri?"


Mataku tertuju pada layar ponsel yang menampilkan sebuah foto yang berisi beberapa wanita yang tengah berpose di depan pabrik. Satu per satu, aku melihat dengan teliti untuk mencari sosok Gayatri.


"Yang ini! Ini adalah Gayatri." Aku menunjuk seorang gadis yang tengah mengenakan masker medis. Wajahnya memang tertutup tapi mata bulat yang indah serta berhias bulu mata yang lentik membuat dia sangat mudah aku kenali.


"Aku benar kan, Mbak."


"Iya, dia adalah Gayatri. Primadona di pabrik ini beberapa tahun yang lalu. Sudah jadi rahasia umum, dia pun menggunakan bedak itu agar orang yang dicintainya takluk."


"Mbak, Gayatri kenapa justru jatuh cintanya dengan tunangan sahabatnya bahkan dia mencurinya dengan bantuan para penghuni kegelapan? Kenapa dia tidak jatuh cinta dengan pria lain yang di atas itu? Bukankah dia bisa menaklukkan hati banyak pria, termasuk cucu dari pemilik perusahaan ini."


"Entahlah, Han. Apa yang menyebabkan dia tergila-gila dengan tunangan Melati? Mungkin hilangnya Gayatri adalah akibat perbuatannya dan juga sumpah serapah yang diucapkan oleh Melati di penghujung napasnya. Dulu Melati bersumpah akan membalaskan dendamnya pasa Gayatri. Ah sudah terlalu lama kita ngobrol. Mari kita kembali bekerja. Han, kalau kamu masih lemas, istirahat saja di musala. Tadi Bu Ning sudah mengijinkan."


Lebih baik aku tetap bekerja daripada sendirian di musala, bisa-bisa Gayatri dan pocong juga hantu-hantu yang lain mengganguku. Aku memilih untuk tetap bekerja seperti biasanya juga.


"Yakin, Mbak?" tanya Indah dengan nada khawatir.


"Inshallah. Semoga saja bisa kuat, Ndah." Aku tersenyum agar dia tidak terlalu memikirkanku.


Berjalan beriringan menuju ruang produksi. Sebelum berpisah, Ridwan sempat mengatakan padaku. "Han, kalau kamu butuh apapun, ingat ada aku yang siap siaga. Aku akan jadi pria yang paling menjagamu setelah ayahmu."


Ridwan memang selalu bisa membuat hati ini berbunga apalagi saat dengan lembut tangannya mengusap rambutku yang tertutup hijab juga topi. Saat di ruang produksi banyak orang yang mampir ke mejaku hanya untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi padaku tadi. Aku hanya menjawab tadi hanya karena terlalu lelah. Tidak ingin semua yang aku alami menimbulkan kepanikan banyak orang, sepertinya itu jawaban terbaik. Untunglah hingga pergantian sift tidak ada kejadian aneh berlangsung.


Aku dan Indah serta pekerja yang lain bergegas keluar dari gedung itu. Aku dan Indah berjalan beriringan menuju parkiran. "Mbak, pulangnya bareng saja ya. Mbak janji kan mau sarapan dan memberi penjelasan soal hubungan Mbak dengan Mas Ridwan."

__ADS_1


"Iya, aku ingat. Kita cari sarapan di soto biasanya, bagaimana?"


Indah menatapku yang tengah mengeluarkan motor. "Mbak Hanna, pakai motor siapa itu?"


"Oh, ini motor Wulan, soalnya semalam dia kurang enak badan. Jadi dia tidak bisa mengantar."


Dengan hati-hati aku menaiki motor, aku memang belum mahir mengendarai motor jenis matic karena selama di Ungaran, kami hanya memiliki motor bebek yang harus sering memindahkan gigi. Kami berhenti di warung soto favorit Indah. Apalagi sudah beberapa hari ini soto di sini enak sekali.


"Bu, soto dua ya, seperti biasanya."


Ibu penjual soto hanya tersenyum sembari mengangguk. Aku dan Indah punya kebiasaan yang berbeda mengenai soto. Jika Indah selalu meminta tambahan irisan kubis maka aku tidak mau ada satu helai pun.


"Jadi bagaimana, Mbak, apa hubunganmu dengan Ridwan?" tanya Indah di saat kami tengah menunggu pesanan.


"Beberapa waktu lalu ada kesurupan massal, bukan? Nah saat itu Ridwan datang dan menyatakan perasaannya padaku."


"La-lalu, Mbak Hanna terima gitu?"


Pembicaraan kami terjeda karena pesanan soto kami datang. Aku melanjutkan cerita tentang Ridwan yang terus menghujaniku dengan kata-kata cinta. Namun, aku masih meragukan semua ini. Aku takut dia hanya melemparkan rayuan belaka.


"Aku rasa, Mbak Hanna tidak salah tingkah kali ini. Aku sudah cukup lama mengenal pria itu jadi cukup tau bagaimana tabiatnya. Sudah menjadi hal yang biasa dia merayu anak baru sepertimu, Mbak. Hampir semua orang lama tau reputasi Ridwan seperti apa. Lebih baik Mbak Hanna hati-hati dengannya. Jangan terlalu baper sama rayuan kada burik seperti dia."


Ya, Indah benar seharusnya aku tidak gampang mempercayai mulut manisnya, bisa saja dia pun mengeluarkan racun bisa yang mematikan. Aku harus mulai menganggap bahwa ucapan yang dilontarkan Ridwan adalah candaan. Aku tidak memungkiri bahwa hati ini rasanya sakit saat dia menyadari ada kemungkinan bahwa Ridwan hanya main-main dengan ucapannya. Cinta yang mulai berkembang perlahan layu karena keraguan.


Aku memilih kembali ke indekos setelah sarapan, selain karena aku tengah membawa motor Wulan aku juga ingin tau keadaannya saat ini. Semoga saja dia merasa lebih baik dibanding kemarin. Tidak lupa aku belikan sarapan untuknya.


"Assalamualaikum!" sapaanku tidak mendapat jawaban dari Wulan. Aku membuka pintu yang tidak terkunci itu. Suara gemericik air terdengar di kamar mandi. Namun, di kamar maupun di kamar mandi aku tidak menemukan Wulan. Dimana dia sebenarnya? Aku mencoba menghubungi ponselnya tapi ternyata ponsel Wulan tergeletak di atas lemari kecil. Wulan, kamu dimana?


Di tengah keresahan dan kepanikan, tiba-tiba saja Wulan masuk ke kamar. Hatiku lega rasanya, pikiranku jadi sempat mengkhayalkan bagaimana jika Wulan melakukan hal-hal konyol pasti aku tidak akan bisa memaafkan diriku.


"Kamu itu kenapa sih, Han? Aku baru datang tiba-tiba saja aku mau peluk begitu orang sampai sesak rasanya napas ini atau kamu jangan-jangan mau membunuhku, Han?"

__ADS_1


"Sembarangan kalau ngomong, justru saat ini aku sedang khawatir sama kamu. Aku takut kamu melakukan hal-hal yang konyol, hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri."


"Memangnya apa yang di pikiranmu sampai kamu sangat takut?"


"A-aku takut kamu lari dari kenyataan dan kamu memilih jalan pintas untuk mengakhiri semuanya."


"Jalan pintas untuk mengakhiri? Astaga, apa kamu pikir aku akan bunuh diri, Han?" Aku hanya mengangguk karena masalah demi masalah seolah tidak berhenti mengujinya, bisa jadi membuatnya hilang akal.


"Tenang, ilmuku tidak sedangkal itu, Han. Tadi itu aku hanya mencari makan di dekat pabrikmu. Kamu tau, Han, di sana aku bertemu siapa?"


"Memangnya kamu bertemu dengan siapa?" Aku curiga pada Wulan karena saat bertanya ada seringai yang terlihat di wajah cantiknya.


"Aku bertemu dengan dua binatang itu. Sepertinya mereka melewatkan malam yang panjang karena selalu menguap. Jadi aku bantu saja agar mereka melek dengan mengguyur mereka dengan segelas es teh manis. Saat mak lampir itu mau menyerangku, aku permalukan saja keduanya dengan membongkar perselingkuhan mereka. Dengan muka dengan wajah yang merah padam keduanya keluar dari warung, pasti karena menahan amarah dan malu. Mereka kalah telak, aku bisa menunjukkan surat nikah yang resmi.


"Gila kamu, buat apa sih, Lan? Sekarang lebih baik kamu fokus sama anak-anakmu."


"Dadaku sakit, Han. Melihat kemesraan yang mereka pamerkan padahal hasil curian. Mereka mencuri senyum anak-anakku." Wulan kembali berderai air mata saat membahas anak-anaknya yang masih kecil harus menjadi korban perpisahan orang tuanya. Aku mengusap punggung wanita itu.


"Lan, kamu harus kuat demi anak-anakmu. Ingat setiap perbuatan akan ada akibatnya. Intan dan Adnan suatu saat akan menghadapi buah dari perbuatan mereka." Wanita itu terus menangis untuk beberapa saat kemudian dia pun menyeka air matanya.


"Han, bedak pelet itu akan menghancurkan wajah Intan berapa lama? Aku tidak sabar melihat kehancurannya."


"Kalau kata Lina sekitar satu minggu setelah pemakaiannya dihentikan."


"Tidak sabar rasanya melihat kehancurannya. Toh nanti Mas Adnan pasti akan meninggalkan dia. Mana mungkin seorang supervisor di perusahaan ternama punya calon istri dengan wajah yang mengerikan."


"Lan, maaf ya. Aku sekarang ini justru memikirkan bayi yang ada di perut Intan, bagaimana pun dia tidak bersalah." Aku san Wulan terdiam dan sibuk dengan pemikiran masing-masing. Intan dan Adnan memang bisa berpisah setelah efek bedak pelet itu hilang tapi bagaimana dengan anak hasil hubungan gelap mereka.


"Kalau tidak ada yang merawat anak itu, maka biarlah aku yang merawatnya. Intan benar, bagaimana pun dia adalah adik tiri anak-anakku."


...----------------...

__ADS_1


...--bersambung--...


__ADS_2