Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 78: Pria Misterius


__ADS_3

"Han, jika pria bertompel itu tidak ada di rombongan penari karena sudah ada di dalam penguasaan hantu perlintasan kereta api. Lalu, kira-kira apa yang menyebabkan Gayatri juga tidak di sana? Bukankah dia adalah memakai bedak pelet juga?"


Lagi dan lagi aku hanya mengangkat bahu saat pertanyaan itu dilontarkan oleh Wulan. Aku sendiri juga tidak tau bagaimana tepatnya alasan kenapa Gayatri tidak menjadi budak sang penari tapi dia menjadi hantu tanpa rupa. Aku jadi ingat pada buku catatan milik mendiang Priyambodo yang diberikan Bu Ning padaku. Aku bergegas mengambil buku yang sudah dua hari belum juga aku buka.


"Lan, mungkin di sini kita akan menemukan jawaban. Bagaimana Gayatri tidak menjadi budak sang penari yang sangat mengerikan itu."


Bersama Wulan, aku perlahan membuka halaman pertama buku itu. Halaman pertama berisi tentang sebuah puisi cinta yang indah dan romantis, rupanya Priyambodo adalah seorang pria yang romantis. Andai aku yang diberikan puisi seindah itu maka sudah pasti hatiku akan meleleh. Halaman demi halaman aku buka sampai pada pertengahan buku aku temukan sebuah catatan kecil yang merobek senyumku.


Mawar itu tercerabut dari tangkainya, terbiar layu dan mati.


Aku bukan merawatnya, malah ikut mencabuti kelopaknya yang indah.


Mawar, ampuni aku karena telah membuatmu hancur lebur.


Pada akhir puisi singkat itu tertulis tanggal dan tahun yang sama, saat Gayatri tengah dilecehkan. Aku melihat sekilas kalender yang tergantung di sana. Mawar yang dimaksud Priyambodo adalah Gayatri. Hilang sudah asaku untuk dibuatkan puisi Indah jika akhirnya aku harus membayar mahal dengan mahkotanya yang paling berharga.


Air mataku menetes karena teringat betapa tidak berdayanya gadis cantik itu saat disetubuuhii oleh pria yang merupakan kekasih sahabatnya dan juga dua orang lainnya bergiliran. Aku tidak pernah lupa amarah dan sumpah yang diucapkannya saat kegadisannya terenggut dengan kejam.


"Para biadabb itu memang pantas mati!" ujarku sembari membanting buku catatan itu dengan amarah yang membuncah.


"Han, sabar. Sekarang lebih baik kita istirahat saja dulu. Tidak perlu kita pikirkan hal yang lain."

__ADS_1


"Tapi, Lan. Aku benci sekali dengan Priyambodo ini. Dia nulis puisi cinta untuk Gayatri tapi dia juga yang merusak Gayatri. Harusnya dia tidak hanya kehilangan tangan tapi harusnya tubuhnya remuk jadi serpihan terus dimakan celurut."


"Sabar. Bukannya kamu juga yang cerita bahwa dia juga yang menyelamatkan Gayatri saar tengah dijerat oleh selendang penari itu. Bahkan di akhir hidupnya dia masih meminta agar Gayatri tidak jadi budak sang penari? Artinya Priyambodo adalah pria yang tulus mencintai Gayatri dong."


"Kalau dia mencintai Gayatri seperti yang digaungkan dalam puisi-puisinya. Harusnya dia menjaga bahkan berani melawan teman-temannya untuk melindungi Gayatri, bukan malah ikut mencicipi tubuhh Gayatri yang sudah ternoda oleh dua bajungann yang lain."


Rasa hatiku begitu geram dan Priyambodo. Aku muak dengan puisi cintanya yang mendayung tapi tidak sama dengan yang dia lakukan. Lebih baik sekarang aku tidur saja daripada hatiku nanti semakin sesak karena amarahku pada ketiga pria itu.


Tidurku sangat pulas, selain karena marah tapi memang tubuh ini rasanya pegal semua. Entah untuk berapa lama aku tertidur, yang jelas aku sempat bermimpi memukuli pria yang aku tau bernama Priyambodo itu, ya walau hanya dalam mimpi setidaknya aku bisa melampiaskan amarahku padanya. Jadi tidak lagi dongkol hatiku. Aku terbangun sembari mengulas sebuah senyum.


"Kamu mimpi apa sih, Han? Kenapa tadi pas tidur kamu senyam-senyum persis orang sinting. Jujur deh, kamu mimpi apa? Pasti mimpi jorok ya." Wanita itu menutup mulutnya dengan punggung tangannya.


"Mbahmu. Aku itu mimpi habis balas dendam sama bocah bodohh itu." Aku bercerita dengan berapi-api, bagaimana aku memukulnya sampai babak belur. Belum lagi aku tendang bagian tubuh pria itu yang paling sensitif dengan sekuat tenaga. Akibatnya pria itu langsung tersungkur dan berteriak kesakitan. "Syukurin, makanya jadi pria itu yang pintar bukan pria bodohh dan biadabb macam ini."


"Itu si Priyambodo. Dia itu tidak pantas disebut Priya tapi bocah, jadi Priyambodo jadi bocah bodohh."


"Han, tapi bocah bodohh ini sepertinya pria yang mengubah Gayatri sampai mau bertobat lo."


"Masa? Aku tidak percaya."


"Ini coba baca ini," ujar Wulan sembari menunjuk tulisan yang tengah dibacanya.

__ADS_1


Lirih aku membaca tulisan yang menceritakan bahwa Priyambodo sangat senang karena dia menjadi imam salat Gayatri. Gayatri pun bertekad akan menghentikan pemakaian bedak pelet itu meski dia tau benar akan risiko yang dia hadapi nanti.


"Hah, ini seriusan, Lan? Gayatri dan Priyambodo saling mencintai bukan karena dendam, kan?"


"Kamu tau, Han, di halaman terakhir aku bacanya merinding, Han. Bahwa jika harus mengorbankan nyawanya, dia akan lakukan agar Gayatri selamat dari teror sang penari itu. Sweet banget kan, Han."


"Jadi pria itu di sana karena menggantikan tempat Gayatri sebagai budak sang penari, tapi kenapa setelah itu Gayatri hilang bagai ditelan bumi?"


Pertanyaan tentang hilangnya Gayatri masih menjadi misteri. Aku mencoba menguatkan hati dengan membaca kembali halaman-halaman yang terlewatkan. Di dalam buku ini, Priyambodo seperti mencurahkan isi hatinya untuk Gayatri. Dia pun menulis rasa cemburu yang dirasakannya saat melihat Gayatri dekat dengan dua pelaku rudal paksa yang lain. Namun, pria itu juga heran kenapa rekan-rekannya itu keduanya tewas dalam waktu yang berdekatan.


Priyambodo hanya manusia biasa. Dia pun sempat mencurigai bahwa kematian dua orang rekannya itu adalah rencana Gayatri untuk membalas dendam pada pria bajingann yang sudah menyakitinya. Priyambodo hanya bisa bersiap jika sewaktu-waktu ketika Gayatri juga menuntut balas atas perbuatannya saat itu.


Cinta tidak dapat ditebak kapan datangnya di saat amarah mulai reda. Ketulusan dari hati yang terdalam dari Priyambodo berhasil membuat Gayatri bertekuk lutut dan jatuh cinta pada pria yang ikut menghancurkan hidupnya.


Dalam bimbingan Priyambodo, keduanya bertekad untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan lebih religius. Priyambodo berjanji akan menerima apapun kondisi Gayatri. Karena dia tau bahwa dia juga ikut bertanggung jawab atas kesesatan yang sempat dilakoni oleh Gayatri dengan menggunakan bedak pelet itu.


Priyambodo tidak mengindahkan ucapan orang-orang mengenai dirinya yang memilih Gayatri yang perlahan wajahnya mulai rapuh. Dia pun sempat bersitegang dengan beberapa kerabatnya karena Gayatri dianggap membawa sial. Setiap pria yang mendekatinya pasti mati.


Ada hal yang membuatku terkejut dari buku ini bahwa Gayatri merasa ketakutan karena ada seorang pria yang selalu duduk di depan indekos sembari menatapnya tajam. Beberapa kali pria itu mengadang Gayatri untuk berkenalan tapi Gayatri selalu menghindar. Namun, setiap Gayatri diantar pulang oleh Priyambodo, pria itu tidak pernah muncul di hadapan mereka.


...----------------...

__ADS_1


...--bersambung--...


__ADS_2