
Samar aku mendengar suara-suara yang memanggilku. Perlahan kegelapan mulai sirna, bayangan-bayangan mulai jelas terlihat. Wajah Wulan yang terlihat panik pun mulai tertangkap indera penglihatanku.
"Hanna!" Panggilan Wulan membuatku semakin jelas memandang sekitarku. Dinding hijau terkelupas serta sebuah lemari kecil membuatku mulai menyadari sedang berada di manakah aku ini.
"Han!" Panggilan dengan suara lembut membuatku menatap wanita yang mengenakan mukena itu.
"Lan, aku kenapa?" Aku berusaha bangkit dari kasus yang sudah sangat keras dan tipis. Dengan sigap Wulan membantuku duduk. Wulan belum sempat menjawab pertanyaanku, pintu kamar diketuk kemudian seorang gadis masuk ke dalam sembari membawa baki dengan segelas teh hangat serta setangkup roti bakar.
"Mbak, ini teh hangat buat Mbak itu," ujar gadis itu seraya menyerahkan gelas kepada Wulan. Aku bisa melihat jelas ada ketakutan yang sudah dijelaskan dari caranya mencuri pandang. Kenapa aku merasa tidak asing dengannya.
"Han, ini diminum dulu. Biar kamu tidak lemas dan tenagamu pulih lagi." Wulan menyodorkan gelas itu kepadaku. Perlahan aku meminumnya hingga tandas tidak bersisa.
"Lan, aku kenapa tiba-tiba sudah ada di kamar, bukannya tadi aku ke dapur mau masak mie ya?" Aku menatap dua wajah yang ada di depanku. Gadis yang tadi membawakan aku satu gelas teh terus saja menunduk dan meremas ujung bajunya, dan juga terus mengigit bibirnya sendiri.
"Aku tidak tau pastinya, Han. Cuma tadi ini, si Lina tiba-tiba telepon katanya di dapur ada orang yang datang sambil bawa kepala di bahunya."
Aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat penggalan cerita yang terlupakan sebelum kegelapan merajaiku. Ya, aku ingat sekarang. Dia adalah gadis yang berlari ketakutan ketika melihatku datang ke dapur. Hantu kepala itu datang dan bertengger di bahuku. Senandung tanpa syair itu terdengar meluncur dari mulut mengerikan hantu itu.
"Lan, aku ingat semua. Hantu itu datang dan menggangguku lagi. Padahal baru beberapa jam aku di sini."
Wulan memelukku erat, sementara tangannya mengusap punggungku. "Tenang ya. Jangan takut kita akan terus menemanimu, lagi pula habis ini kamu kerja kan."
Nasib baik, aku tidak perlu bermalam di indekos yang mengerikan ini. Setelah berbincang sebentar, Lina berpamitan kembali ke kamarnya. Sepeninggal Lina, aku dan Wulan memutuskan memasak mie dengan menggunakan rice cooker. Untuk ke dapur yang sebenarnya hanya berjarak satu kamar saja aku masih takut. Aku tidak mau jika harus bertatapan dengan kepala kulit yang terkelupas itu.
Sembari menunggu makanan ini matang, aku dan Wulan bercanda dan menyusun rencana untuk memberi kejutan sebagai bentuk cinta kami atas pertambahan usia Intan.
"Bagaimana caranya kita memberi kejutan pada Intan. Kita kan tidak bisa berkumpul bertiga. Aku masuk malam, kamu pagi, dan Intan masuk sore. Kita tidak pernah bisa bertemu."
"Tenang, Han. Aku tadi sudah minta ijin ke supervisor buat tukar sift tapi cuma sehari saja. Besok aku masuk pagi. Nanti aku akan jemput kamu biar Intan ngira aku masuk kerja. Nah habis itu kita kasih kejutan dengan hadiah dan kue. Nanti malam aku akan pura-pura lupa pada hari ulang tahunnya."
"Tapi kalian kan satu pabrik, memangnya dia tidak akan tau kalau kamu pindah sift?" tanyaku sembari menggaruk kepala. Biasanya di pabrik, berita sekecil apapun cepat sekali menyebar."
"Intan tidak akan tau, Han. Meski kami bekerja di satu perusahaan tapi aku dan Intan berada di gedung dan bagian berbeda. Pekerjaan Intan, tempatnya lebih bersih dariku. Dia ada di bagian produksi pembuatan obat yang berbentuk kaplet atau pil sedangan
aku di bagian ekstraksi. Tiap hari aku harus berurusan dengan jahe, kunyit, temulawak, dan banyak lagi empon-empon yang akan diproses hingga menjadi ekstraknya saja kemudian diolah lagi sebagai bahan baku jamu bubuk. Ada pula yang menjadi salah satu bahan obat."
Aku hanya mengangguk saja karena jujur tidak paham dengan penjabaran Wulan. Namun, jika ditanya soal ilmu jahit-menjahit, aku akan maju.
"Mengerti apa bingung, Han?" tanya Wulan setelah mendapati aku bengong.
"Bingung, Lan," ujarku dengan polos dan seperti tanpa dosa.
"Halah, ya sudah gampangnya gini. Pekerjaanku itu buat jamu dalam bentuk serbuk."
"Itu pabrik obat apa depot jamu, Lan?"
"Hanna anak perempuan yang cantik. Buka telinga lebar-lebar ya, Han. Jaman sekarang itu banyak orang tertarik dengan sesuatu yang natural dan tradisional. Sesuatu yang berasal dari alam yang biasa disebut bahan herbal. Bahan herbal dipercaya dari jaman dulu lebih berkhasiat serta lebih aman dikonsumsi. Lagi pula jamu itu warisan leluhur yang harus dilestarikan. Maka itu, perusahaan tempatku bekerja berusaha memodernisasikan jamu menjadi minuman serbuk yang gampang...."
"Sudah aku paham, pekerjaanmu itu bikin minuman serbuk. Begitu aja ribet!"
"Jamu dalam bentuk serbuk, tepatnya!"
"Entahlah, Lan. Eh, itu mienya sudah matang belum?"
"Astaga!" Teriakan Wulan membuatku curiga pasti ada yang salah dengan masakan kami. Karena aku penasaran, aku melihat isi dalam rice cooker itu. Tawaku dan Wulan meledak. Bagaimana tidak, mie yang kami masak terlalu matang, tak hanya medok tapi teksturnya sudah mendekati seperti bubur.
"Terus ini makannya gimana?" tanya Wulan.
"Ya sudah, kita makan saja. Lagi pula mau bagaimana lagi tidak mungkin kan kita buang makanan ini. Anggap saja hari ini kita makan bubur. Bubur bukan sembarang bubur, ini bubur versi baru. Bubur mie rasa rendang."
Dengan tawa yang tertahan, aku dan Wulan berusaha menikmati makanan yang seharusnya enak, ini menjadi aneh. "Han, kalau diperhatikan bubur mie kreasi kita ini seperti gumoh bayi. Anakku kalau kekenyangan makan mie, yang keluar kaya gini."
Aku hampir tersedak mendengar cerita menjijikkan dari Wulan. "Anjayy! Bikin aku ngebayangin yang enggak-enggak saja." Aku meletakkan mangkukku ke lantai, minum air sebanyak mungkin ketimbang makan bubur mie aneh ini. Wulan yang sedari tadi hanya makan seujung sendok tertawa lebar. Mataku menatap mangkukku, memang benar kata Wulan. Sosis yang warnanya merah pun sudah setengah hancur. Bumbu rasa rendang yang kecokelatan semakin mempertegas warnanya yang aneh.
"Dibuang aja ya, Lan. Geli ternyata makan kaya gini."
"Ini jam berapa sih? Bagaimana sebelum kamu ke pabrik kita makan di angkringan dulu?"
"Iya setuju. Aku siap-siap dulu ya." Aku bergegas bersiap untuk menukar pakaianku dengan seragam kerjaku, sementara Wulan membereskan makanan yang berbentuk aneh.
"Ekspektasinya makan mie rendang dengan toping sosis yang nendang tapi kenyataannya ketendang sampai terjungkal." Gumaman Wulan yang terdengar saat aku sedang di kamar mandi tentu saja membuat tawa ini kembali membahana. Seumur-umur aku baru kali ini memasak dengan rice cooker dan hasilnya hancur.
Persiapan sudah siap, Wulan pun sudah mengenakan jaket dan bersiap turun. Saat tangannya hendak membuka pintu, tiba-tiba saja hatiku merasa takut. Bagaimana jika hantu itu sudah bersiap untuk menyambutku di luar pintu. "Lan, lihat keluar jendela. Tolong pastikan tidak ada hantu di depan kita."
"Kamu, Han. Bikin aku takut saja."
"Jaga-jaga, Lan. Tadi saja dia bertengger di bahuku dan menakutiku juga si itu. Siapa tadi namanya?"
__ADS_1
"Lina." Aku mengangguk-angguk sementara Wulan dengan hati-hati melihat kondisi luar kamar. Setelah cukup lama Wulan menatap luar dari jendela, dia berbalik sembari mengacungkan ibu jarinya ke arahku. Senyumnya yang terbit cukup membuat reda ketakutanku.
"Aman, Han. Di luar sepi, aman, tidak ada penampakan apa pun. Yuk, kita berangkat."
"Tunggu! Biar aku pastikan dulu, Lan. Soalnya para hantu itu terkadang hanya menampakkan dirinya padaku saja. Contohnya saat kejadian di lesehan ayam tadi."
"Iya ya. Nasib punya teman indigo mah, suka dilihatin hantu."
"Lan...."
"Iya, kamu bukan indigo tapi india."
Perlahan aku membuka tirai jendela kamar Wulan. Mataku menelisik memang tidak ada apa-apa di luar. Semoga saja pas buka pintu sampai keluar dari indekos ini tidak ada penampakan. Aku dan Wulan segera keluar kamar karena merasa baik-baik saja. Dengan cepat kami turun ke parkiran. Mataku membulat saat menatap kamarku.
"Lan, lihat kamarku. Itu lampunya kenapa ya? Kok kedip-kedip seperti itu."
"Mungkin mau putus kali kabelnya atau justru sakelarnya dimainin sama hantu penunggu kamar."
"Kamu ngomong hantu mulu, nanti kamu pulang habis nganterin aku, memang berani?"
"Tenang, aku pulangnya nungguin Intan kok. Aku sudah kirim pesan ke dia, aku nunggu dia di angkringan depan pabrik."
Aku dan Wulan memutuskan untuk segera meninggalkan indekos yang mendapat julukan sebagai indekos berdarah sejak kejadian penemuan mayat tanpa identitas di kamar nomor tiga belas. Aku dan Wulan didera ketakutan setelah tiba-tiba saja pintu kamar terbuka lebar dengan sendirinya padahal tadi sudah aku kunci.
Mulutku tak henti melantunkan ayat kursi berharap tidak ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi dan para hantu itu berhenti menunjukkan eksistensinya. "Han, ayo buruan. Takut aku."
"A-anu, Han. Ini motorku kenapa tiba-tiba tidak mau jalan ya?"
"Mogok? Aduh bagaimana ini? Itu pintu kamarku juga buka tutup sendiri."
"Kita dorong saja lah, Han. Siapa tau motorku bisa hidup."
Buru-buru aku dan Wulan menuntun motor keluar dari indekos. Aneh begitu motor sudah ada di luar gerbang yang penuh karat itu. Motor Wulan yang tadinya macet tiba-tiba bisa hidup. Wulan bergegas tancap gas.
"Pantes ya, Han. Indekos kita itu terkenal angkernya karena memang menyeramkan bener."
"Memangnya dulu kamu tidak pernah mengalami hal mistis, Lan."
"Enggak, bahkan aku sempat tidak percaya dengan cerita-cerita yang beredar."
"Bahkan dengan gadis yang tiba-tiba saja hilang?" tanyaku penasaran.
"Senandung? Apa senandung seperti ini?"
Dengan ragu aku menyenandungkan yang aku dengar dari Mbak Arum dan hantu itu lantunkan. Wulan yang terkejut tiba-tiba saja menghentikan laju motornya. Untung saja jalanan sepi, andai kata ramai pasti terjadi kecelakaan karena Wulan berhenti di tengah jalan.
"Gila kamu, Lan! Ngerem mendadak seenaknya. Untung aku tidak mencelat dan mencium aspal," omelku pada wanita yang mengenakan jaket berwarna merah maroon itu.
"Maaf, Han. Aku terkejut kenapa kamu bisa menyanyikan senandung yang dinyanyikan hantu penunggu kamar itu?"
"Dua kali hantu itu menyanyikan itu di depanku, Lan. Dan yang lebih mengejutkan senandung itu sering dinyanyikan oleh mendiang ibuku saat aku tengah tidur."
"Han, lalu apa hubungannya hantu itu dengan ibumu?" Aku hanya mengangkat bahu tanda tidak mengerti dengan keadaan ini. Aku dan Wulan sama-sama diam, sibuk dengan apa yang ada di pemikiran masing-masing. Banyak pertanyaan yang seolah tidak ada jawabannya. Dalam hening tiba-tiba bunyi klakson memekakkan telinga.
"Woi! Kalian berdua mau cari mati? Melamun di tengah jalan kaya gini."
"Maaf, Mas!" ujarku bersamaan dengan Wulan. Segera Wulan menghidupkan motornya dan segera berlalu membelah jalan. Aku dan Wulan sesekali melemparkan tawa demi menghilangkan rasa takut juga penasaran tentang sosok hantu di indekos.
"Han, kita enaknya makan dimana? Angkringan saja ya?"
Mendengar Wulan mengajak ke angkringan, mengingatkanku saat hantu yang menyamar jadi Wulan. Saat itu Wulan menjulurkan lidahnya yang sangat panjang hingga menyentuh perutnya.
"Angkringan? Apa tidak ada tempat makan lain?"
"Jam segini warung makan semua tutup, kecuali lesehan dan angkringan. Memangnya kenapa kamu tidak mau ke angkringan? Pasti ingat tragedi kamu makan di angkringan yang ternyata kuburan ya?" Aku mengangguk lemah karena kejadian itu begitu membekas di kalbu.
"Tenang, kita makan di angkringan beneran karena aku juga Wulan yang beneran." Wanita itu memamerkan gigi kelincinya ke arahku melalui kaca spion.
"Ya sudahlah. Lagi pula takutnya nanti kalau kita mutar-mutar aku telat masuk kerjanya."
Wulan menghentikan laju motornya di depan angkringan yang cukup ramai pembeli.
"Makan di sini saja ya, Han? Di sini aman, semua pembeli dan pedagangnya semuanya manusia beneran." Wulan tertawa kecil seolah memahami ketakutanku. Meski berat, aku berusaha melawan rasa takutku ini. Angkringan yang aku datangi kali ini di pinggir jalan yang ramai sangat berbeda dengan angkringan yang mengerikan dulu.
Aroma rempah menguar di gelas yang asapnya membumbung tinggi itu. Wedang uwuh aku pilih sebagai penghangat badanku malam ini, sementara Wulan memilih wedang jahe.
"Hai, cantik, boleh tidak aku duduk di sini?"
__ADS_1
Suara itu membuat mataku membulat sempurna. Bagaimana dia bisa ada di sini?
"Kok pada diam sih. Boleh tidak aku duduk dan bergabung bersama kalian?"
Aku hendak menjawab pertanyaan pria yang berjongkok di depanku itu. Namun, Wulan sudah terlebih dulu melotot ke arahnya. Tidak hanya itu, Wulan bangkit berdiri dan berkacak pinggang.
"Tempat yang kosong kan banyak tuh, ke sana saja! Orang kok tidak jelas." Aku segera bangkit berdiri membujuk wanita itu agar sedikit bersabar, sementara pria yang diomelin Wulan justru tampak tersenyum.
"Sabar, Lan. Sebenarnya dia ini..."
"Sabar? Mana bisa aku sabar sama pria yang suka genit-genit!" Mataku menatap sekitarku, benar dugaanku beberapa orang mulai memerhatikan kami.
"Lan, duduk dulu. Malu tau, kita sekarang jadi pusat perhatian pengunjung." Kali ini aku sedikit memaksa dengan menarik tangannya. Untung saja Wulan mau menurut padaku. Dia duduk meski dengan mulut yang masih mengomel panjang lebar.
"Kamu kenapa masih di sini sih? Kan aku sudah bilang kamu di sana saja."
"Lan, diem dulu deh. Aku mau ngomong." Suaraku sedikit aku keraskan membuat Wulan menutup mulutnya.
"Jadi gini, Lan. Cowok ini tidak berniat buruk. Dia itu teman kerjaku, namanya Ridwan."
Bisikanku di telinga Wulan dibalasnya dengan cubitan di pahaku. "Anjayy, kenapa kamu dari tadi tidak bilang, kalau kaya gini kan aku malu." Aku bisa melihat wajah Wulan berubah kemerahan karena malu.
"Bagaimana Hanna mau bilang, orang kamunya merepet kaya kereta api." Ridwan yang menyela pembicaraan kami membuat Wulan kembali melotot, sementara aku memberi kode agar Ridwan diam dulu.
Untung saja suasana kaku dan tegang hanya berlangsung sebentar, selanjutnya suasana begitu mencair. Ridwan yang supel dan humoris dengan mudah bisa akrab dengan siapa saja.
"Lan, bilangin ke temanmu itu, biar dia segera menerima pernyataan cinta aku. Jangan biarkan aku menunggu sampai lumutan."
Wulan memandangku sembari mengerutkan kening seolah meminta penjelasanku. Memang aku belum sempat menceritakan tentang Ridwan.
"Sepertinya aku ketinggalan kereta, Wan. Kalian sudah sampai Jakarta, sementara aku masih mutar-mutar dan kesasar di stasiun Balapan." Ridwan tertawa terbahak mendengar ucapan Wulan.
"Kalau tersesat di stasiun Balapan itu bagaimana caranya? Stasiun kan kecil, Bu," ujar Ridwan sembari tertawa.
"Itu cuma seumpama, sayang!" Wulan menjawab dengan nada dibuat semanis mungkin.
"Lan, jangan panggil aku sayang. Aku tidak mau Quality Control tercantik di tempat kerjaku mengeluarkan tanduknya." Ridwan menatap lekat wajahku, hingga aku merasakan wajahku memanas.
"Duh bucin. Jangan sampai cinta kalian luntur kaya cinta mas mantan suami yang tiba-tiba menalakku hanya karena hilang rasa." Aku melirik mata indah itu, tiba-tiba terlihat berkilat seolah tengah menahan air mata.
"Inshallah, kalau Hanna juga mengijinkan, aku akan menjaga Hanna dengan baik dan sepenuh hatiku serta dengan segenap hatiku. Aku akan menjadikannya ratu dalam istanaku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya." Ucapan Ridwan membuatku terkesan tapi juga bertanya apakah cintanya setulus itu.
"Halah, mantan laki aku dulu juga ngomong begitu sama aku tapi sekarang? Persetann dengan cinta!"
Bibir Ridwan tersenyum tipis. "Aku pernah berjanji pada mendiang ibuku agar tidak akan pernah menyakiti makhluk yang bernama wanita. Karena aku tau perjuangan dan sakitnya seorang wanita yang terbuang."
"Apa maksudmu dengan ibumu adalah wanita yang terbuang, Wan?"
"Ibuku dicampakkan kekasihnya saat mengandungku. Ayahku konon terpesona dengan wanita lain. Dari situlah aku berjanji tidak akan seperti dia. Aku adalah putra ibu, si wanita hebat sementara ayah sudah aku anggap mati."
"Aduh, kenapa jadi melow sih." Aku melirik jam yang ada di dalam ponselku. "Astaga seperempat jam lagi waktunya masuk kerja. Kita jalan sekarang yuk, Lan."
"Han, kamu berangkat sama aku saja. Dari pada nanti kamu jalan dari pos satpam ke gedung."
Aku sempat ingin menolak karena seumur-umur aku belum pernah berboncengan dengan pria lain, kecuali bapak. Namun, dia ada benarnya juga, jalan dari gerbang sampai ke gedung paling tidak membutuhkan waktu sepuluh menit, bisa-bisa telat dan potong gaji.
"Han, kamu barengan Ridwan saja."
"Terus kamu bagaimana?"
"Aku kan sudah janji sama Intan nunggu dia di angkringan depan pabrik dia. Santai, yang penting sekarang kamu berangkat kerja sana!"
"Ya sudah, aku bayar dulu."
"Sudah, biar aku yang bayar kali ini." Wanita itu mendorongku untuk mendekati Ridwan yang sudah menungguku di atas motornya.
Tepat saat aku membonceng, Ridwan berbicara pada Wulan. "Kamu tidak usah bayar, Lan. Sudah aku bayar tadi. Kami duluan ya."
Lambaian tangan Wulan mengiringi kepergian kami. Ridwan tampak tersenyum menatapku dari kaca spion. "Kamu kenapa sih, Wan? Senyam-senyum begitu."
"Aku mimpi apa ya tadi? Tiba-tiba ada bidadari turun dari kahyangan lalu naik ke motor bututku."
Aku hanya diam saja, jika aku membalas ucapannya bukan tidak mungkin pria itu akan semakin gencar melancarkan gombalannya. Kata-kata manis itu terus mengalir hingga kami tiba di pabrik. Kebetulan sekali, Indah pun baru sampai di parkiran. Gadis itu terus menatapku hingga aku menghampirinya.
"Mbak Hanna kok bisa bareng Mas Ridwan? Bukannya tadi Mbak bilang mau diantar Mbak Wulan ya?"
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...