
Mataku membulat karena senandung yang dinyanyikan oleh Mbak Arum. Seperti tanpa beban dan senyum yang menghias wajahnya ketika dilantunkannya senandung yang membuat bulu kudukku merinding akibat senandung itu.
"Han, katanya ngantuk terus mau matiin telepon, kok tidak jadi kenapa? Apa kamu masih kangen sama kami?" Mbak Arum tertawa kecil menatapku yang tengah menggaruk kepala yang tidak gatal ini.
"A-anu, Mbak. Ini Ha-Hanna mau tanya perihal senandung yang baru saja Mbak Arum lantunkan. Itu senandung apa, Mbak? Siapa yang mengajari menyanyikan itu? Kenapa tidak ada liriknya?" Aku memberondong Mbak Arum dengan banyak pertanyaan.
Tangan kakakku terus membersihkan wajah dan juga badan ayahku yang terkena tumpahan bubur, sembari melakukan perawatan rutinnya untuk bapak, Mbak Arum menceritakan semuanya kepadaku.
Menurut Mbak Arum senandung itu digunakan ibu untuk menenangkanku saat aku rewel dan tidak bisa tidur. Ibu selalu menyanyikan ini dan ajaibnya aku langsung tenang. Namun, sejak aku mulai berusia dua tahun, senandung itu tidak pernah Mbak Arum dengar, kecuali satu minggu sebelum ibu berpulang. Setiap kali aku tidur, ibu menyanyikan itu sembari mengelus rambut panjang bergelombang milikku.
"Ta-tapi, kenapa aku tidak pernah mendengar lagu itu?"
"Ibu hanya menyanyikannya saat kamu terlelap. Lucunya setiap kali senandung itu terdengar, kamu selalu tersenyum dalam tidurmu kemudian mencari sesuatu untuk kamu peluk, entah itu guling atau bahkan kaki ibu. Ya sudah, ini teleponnya aku matikan dulu ya, Han. Ini mau bersihkan lantai dulu."
Aku masih termangu bahkan saat sambungan telepon sudah diputus serta layar ponsel sudah gelap. Aku masih bingung perihal senandung tanpa lirik itu. Jika itu yang dinyanyikan ibuku semasa aku masih bayi lalu bagaimana makhluk yang di cermin itu tau. Mungkinkah dia adalah perwujudan ibuku. Tidak, tidak mungkin semasa hidup ibu tidak pernah meninggalkan salat juga sering beramal, rasanya tidak mungkin ibuku gentayangan dengan wujud tangan yang penuh luka itu.
Indah yang datang dan kemudian menghempaskan tubuhnya di kasur membuatku terkejut. Aku terkesiap dari lamunan panjangku.
"Mbak Hanna, katanya mau tidur sampai-sampai tidak mau Indah ajak makan bersama. Terus kenapa sekarang masih melek?"
"Aku habis telepon orang rumah. Ndah, menurutmu apa aku lebih baik pulang ke Ungaran ya?"
"Pulang ke Ungaran, tapi kenapa tiba-tiba? Ada masalah di rumah atau gara-gara teror hantu semalam? Mbak bukannya sesepuh sudah bilang kalau Mbak Hanna tidak perlu risau?"
Aku menghela napas panjang sebelum menjawab berondongan pertanyaan yang diluncurkan oleh gadis berkulit putih itu.
"Bukan karena tragedi kesurupan semalam."
"Terus karena apa, Mbak Hanna mau pulang ke Ungaran?"
"Bapakku sakit, Ndah. Aku rasanya tidak tega meninggalkan bapakku di sana. Dulu saja pas aku kecil dia rela begadang dan berbuat berbagai hal demi menjaga aku serta membuatku sembuh. Jadi jika sekarang aku tidak di sampingnya maka akan ada rasa bersalah yang menghantuiku."
"Kalau sudah menyangkut bakti sama orang tua, Indah tidak bisa menanggapinya, Mbak. Lalu bagaimana impianmu membuatkan makam yang bagus untuk ibumu."
Mendengar ucapan Indah membuat kebimbangan semakin terlihat. Jika aku memilih pulang, lalu kapan makam ibu akan dibenarkan. Bahkan bapak sengaja menyembunyikan keadaannya agar aku bisa fokus mencari rejeki di sini.
"Aku bingung, Ndah."
"Kalau menurutku, Mbak Hanna fokus kerja saja dulu. Lagi pula ada kakakmu kan, Mbak, yang mengurus bapakmu."
Benar juga ucapan Indah, mungkin memang lebih baik aku tetap tinggal di sini. Nanti jika uang tabungan sudah terkumpul, aku baru akan mengajak bapak tinggal di sini atau kembali ke Ungaran dan membuka usaha. Semua impian dan cita-citaku untuk saat ini terlihat jauh sekali tapi perlahan aku harus mewujudkannya dengan bekerja keras.
Mataku terasa sangat berat, sampai aku kembali tertidur pulas. Aku terjaga ketika seruan azan Zuhur menggema. Aku terjaga kemudian menjalankan kewajibanku itu. Lirih aku panjatkan doa untuk kesembuhan ayahku serta keselamatanku juga.
Pintu kamar terdengar diketuk saat aku tengah melipat sajadah.
"Indah, Hanna, bangun Nduk! Salat dulu!" Suara Bu Yuni terdengar dari luar kamar membuatku bergegas membukakan pintu. Senyum terkembang di wajah bersahaja wanita yang mengabdikan diri sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ini. Sepertinya dia juga baru pulang kerja karena seragam masih dia kenakan.
__ADS_1
"Sudah salat, Nduk?" tanyanya sembari mengelus kepalaku yang masih tertutup dengan mukena biru.
"Sudah, Bu."
"Indah?"
"Masih tidur. Habis ini Hanna bangunkan."
"Biar ibu saja. Kamu makan saja dulu. Itu ini beli garang asem."
Berjalan menuju ruang makan, aku melewati kamar nenek. Tubuhnya yang renta tengah duduk di atas dipan sembari menghadap jendela. Wanita itu menoleh sepertinya tau aku tengah ada di depan kamarnya.
"Sini, Nduk!" Aku masuk ke kamar beliau setelah mendapat isyarat lambaian tangan yang penuh keriput itu. Aku mencium tangan berbau kinang itu dengan hormat.
"Nduk, kuatkan hatimu. Setelah hari ini akan banyak masalah yang datang kepadamu. Karena hanya kamu yang bisa menyingkap tabir indekos kamar tiga belas itu." Nenek berucap dengan lirih dan dengan nada yang sendu.
"Ta-tapi bagaimana, Nek? Bahkan saat kejadian itu terjadi saya masih bayi."
"Nanti kamu akan ditunjukkan jalan entah lewat apa. Yang penting jaga perilakumu. Tetap jaga pula perilaku yang pantas dalam segala hal." Tangan renta itu kembali mengusap kepalaku. "Sudah makan dulu sana!"
Pikiranku semakin ruwet saja setelah berbincang dengan nenek. Belum hilang rasa takutku karena tragedi kesurupan massal ditambah sakitnya bapakku, kini ditambah lagi tentang indekos kamar tiga belas. Aku pikir dengan mengungsi ke tempat Indah, urusanku dengan indekos itu selesai tapi mendengar ucapan nenek tadi sepertinya aku masih terhubung di sana. Apalagi makhluk penunggu kamar itu semalam juga menempel kepadaku. Aku mengacak rambutku perlahan.
"Han, kamu kenapa?" Sentuhan tangan Bu Yuni membuatku tersentak. "Kenapa melamun? Dari tadi ibu perhatikan kamu hanya bertopang dagu, apa ada masalah yang sedang kamu pikirkan?"
Ingin rasanya aku menumpahkan segala keluh kesahku pada wanita berperangai lembut tapi tetap terlihat tegas itu. Namun, entah mengapa hatiku tidak mengijinkannya. Mulutku pun berat saat hendak bercerita semuanya.
"Ya sudah kalau begitu, kamu makan dulu habis itu tidur lagi. Indah baru bangun terus salat. Anak ibu yang itu memang kaya kerbau. Kalau sudah tidur susah bangunnya." Aku tersenyum kecil mendengar ucapan Bu Yuni yang tengah menceritakan kebiasaan putri kandungnya sendiri.
"Ibu itu lo, sukanya gibah anak sendiri. Indah kan jadi malu," protes Indah yang ternyata sudah berdiri di belakang kami. Wajahnya nampak cemberut karena dibicarakan kejelekannya.
"Ibu kan bicara kenyataan yang terjadi, biar Hanna tidak kaget kalau bangunin kamu itu harus diguyur air seember."
Aku hanya tersenyum melihat perdebatan ibu dan anak itu. Perdebatan itu mengingatkan aku dan ibuku yang sering beradu mulut untuk hal-hal yang sepele, perihal menata jemuran yang berbeda warna dan penataan pun sebuah masalah bagi ibuku.
'Kalau baju putih yang disandingkan sama putih. Kalau habis, baru ganti warna. Terus ini bukan seperti ini. Baju jangan dijejerkan celana kaya gini!' omel ibuku saat aku membantu menjemur pakaian. Seolah aku tidak pernah benar di hadapannya. Namun, itulah yang aku rindukan dari sosoknya sekarang. Tanpa aku sadari air mata ini menetes.
"Lo Mbak Hanna kok nangis?" tanya Indah yang melihat wajahku.
"Tidak apa-apa. Aku cuma lagi kangen ibuku."
Serta merta Bu Yuni juga Indah berangsur memelukku erat.
"Nduk Han, anggap saja ibu ini ibumu sendiri. Ingat, kami sudah menganggapmu seperti anak sendiri."
Air mataku terus luruh, bagaimana bisa ada keluarga sebaik keluarga ini. Mau menerima orang asing tinggal di rumah mereka dan menganggap seperti putri mereka. Aku patut mensyukuri nikmat Tuhan untuk ini. Aku tidak bisa membayangkan jika harus bertahan di indekos yang mengerikan itu. Bisa-bisa aku sudah gila atau mungkin juga hilang sama seperti nasib Gayatri.
"Setelah makan, kalian balik tidur sana. Itu mata udah kaya panda saja." Ibu Yuni menyendokkan nasi ke piring kami. Awalnya rasanya sungkan dilayani seperti ini tapi Bu Yuni memaksa dengan mengambil piringku.
__ADS_1
Makan siang yang dipenuhi canda tawa membuatku sejenak melupakan beban pikiranku. Saat tengah makan, ponselku bergetar ada pesan masuk. Aku melirik sekilas, rupanya pemberitahuan dari pihak bank bahwa ada yang mengirimkan sejumlah uang ke rekeningku. Tidak lama kemudian pesan dari Mbak Arum, dia yang mengatakan bapak yang mengirim uang itu. Air mataku kembali menetes bahkan di saat kondisinya tengah melawan rasa sakit, masih memikirkan aku. Nanti saja aku akan menghubungi bapak agar tidak perlu mengirimkan uang lagi. Buru-buru aku menghapus air mata sebelum Bu Yuni dan Indah menyadarinya karena tidak ingin aku membebani dua orang baik itu dengan air mataku.
Setelah makan, bukannya mengantuk tapi mata ini terbuka lebar. Aku memutuskan untuk membersihkan rumah, sementara Bu Yuni dan Indah kembali tidur. Aku tengah menyapu halaman saat dua orang dengan satu buah motor masuk ke halaman.
"Hanna!" panggil si pembonceng itu sembari membuka helmnya. Rupanya Intan datang bersama seorang pria bertubuh tinggi.
"Intan," sambutku dengan pelukan hangat. "Bawa siapa itu?" tanyaku lagi sembari melirik pria yang berkemeja biru itu.
"Mbak, kenalin ini Mas Adnan, pacarku." Mataku menatap sepatu pria itu. Ya, sepatu itu mirip dengan yang beberapa hari lalu terlihat di depan pintu kamar Intan.
"Saya Adnan," ucap pria itu sembari mengulurkan tangannya.
"Oh iya, saya Hanna." Aku membalas uluran tangan pria dengan mata elang itu. Secepat kilat aku menarik kembali. Seharusnya tadi aku hanya menangkupkan tangan di dada seperti biasa saja. "Silakan duduk di teras dulu. Aku mau taruh ini dulu."
Aku berjalan ke samping rumah untuk meletakkan pengki dan sapu kemudian berjalan menuju dua insan yang duduk berdampingan. Jadi pria ini yang membuat sahabatku lupa diri.
"Ada apa, Tan? Tumben mampir ke mari?"
"A-anu, Han. Ini bulan depan aku mau menikah. Nah aku tuh ingin kamu ikut terlibat dalam pernikahanku jadi pagar ayu gitu. Kamu mau ya, Han?"
"Wah selamat ya, Tan. Tentu saja aku mau. Aku juga Wulan pasti seneng banget bisa berpartisipasi dalam pernikahanmu."
Ada senyum getir di wajah kedua tamuku itu.
"Han, kamu jangan bilang ke Wulan dulu ya. Karena aku belum bilang sama dia. Biar aku sendiri yang bilang." Aku hanya mengangguk. Memang lebih baik yang punya hajat sendiri yang mengundang tapi bukankah Intan dan Wulan bertemu setiap harinya, mengapa Intan belum memberitahu Wulan justru aku yang lebih dulu.
"Mas Adnan orang mana?"
"Aku dari Sragen, Han."
"Lo berarti sama seperti Wulan dong. Wah, Tan. Sragen sepertinya jadi kota penghasil orang pilihan. Sahabat kita orang sana, eh sekarang calon suamimu juga orang sana."
Keduanya tidak menjawab, hanya tersenyum. Setelah berbasa-basi sebentar, keduanya pamit pulang karena masih harus mengurus pernikahan mereka yang sebentar lagi digelar.
"Tolong ya, Han. Jangan bilang-bilang dulu sama Wulan." Bisik Intan saat pelukan perpisahan semakin membuatku bingung. Pada akhirnya aku hanya mengangguk, mungkin Intan punya pertimbangan tersendiri.
Sore hari aku habiskan waktu dengan bercengkerama dengan keluarga Indah. Canda dan tawa terus bergulir sampai membuatku juga Indah lupa bahwa kami hampir terlambat bekerja.
"Naik motor tidak usah ngebut-ngebut, Ndah!" nasihat Bu Yuni saat kami hendak berangkat. Hanya lima belas menit tersisa sebelum bel berdering sementara kami masih ada di rumah.
"Iya, Bu. Assalamualaikum!" Indah kemudian memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi agar kami tidak terlambat. Setiba di parkiran motor, aku melirik jam tangan, untung masih ada sekitar tiga menit lagi sebelum bel panjang. Aku dan Indah berlari kecil menuju mesin daftar hadir berbentuk finger print yang ada di dekat pintu masuk gerbang produksi. Untunglah tidak ada antrian jadi waktu kami masuk masih aman.
Beberapa langkah aku meninggalkan mesin itu tiba-tiba terdengar seseorang baru saja menggunakan mesin itu. Aku menoleh siapa tau aku mengenal orang yang ada di belakangku. Aku terperanjat karena dia, wanita tanpa rupa berdiri di belakangku.
...----------------...
...--bersambung--...
__ADS_1