Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 58: Ajakan Rujuk


__ADS_3

Aku terperangah dengan penuturan Ridwan dan tentang kisah pilunya yang tidak semua orang tau. "Lalu sekarang bagaimana keadaan ibumu, Wan?"


"Ibuku sekarang jauh lebih tenang. Ibuku dulunya setiap kali bertemu pria selalu mengamuk bahkan saat bertemu denganku juga sama. Dia tidak akan henti mengumpat dan juga menyumpah serapah. Entah apa yang dialami ibuku sebenarnya."


"Kenapa kamu tidak bawa ke psikolog saja. Siapa tau ibumu akan mengingat semua dan kembali normal."


Ridwan menceritakan bahwa dulu saat masih kecil dia percaya saja dengan ucapan kakek dan neneknya bahwa ibunya adalah korban dikerjai orang. Namun, berkembangnya pemikiran Ridwan, dia tau harus membawa ibunya ke psikolog karena bisa jadi ibunya mengalami trauma berat sampai menyebabkan keadaannya begitu. "Makanya, Han. Aku berjanji akan bekerja keras agar uangku terkumpul dan bisa mengobati ibuku. Selain bekerja di pabrik, aku pun mengerjakan apa pun jika di rumah. Seperti sekarang, aku beli mobil bekas untuk aku gunakan sebagai taksi online. Hasilnya lumayan lah, aku sudah bisa dua kali membawa ibuku ke psikolog, hasilnya ibu sedikit tenang jika dekat denganku."


"Aku salut padamu, Wan. Semoga kamu terus begini, anak yang berbakti pada ibumu." Aku mengusap tangannya yang sedari tadi terus menggenggamku.


Ridwan melemparkan senyum tipis dan kami pun menghentikan langkah karena sudah sampai di depan indekos. Mata Ridwan terus menatap sisi kiri gerbang yang penuh karat itu. "Di tempat inilah ibuku berjongkok sembari memukul-mukul gerbang ditemukan, tidak hanya sekali atau dua kali tapi cukup sering."


"Wan, apa tidak ada yang mengenal ibumu di daerah sini? Siapa tau ada yang bisa membantu untuk menyelesaikannya."


"Tidak, tidak ada yang mengenal ibuku. Yang mereka ingat adalah wanita gila yang suka mengamuk saja tanpa tau kisah yang terjadi sebelumnya."


"Semoga saja ibumu cepat pulih." Pria itu hanya mengusap kepalaku dengan lembut.


"Mungkin ibuku akan sembuh jika punya menantu. Ya sudah, aku harus segera pulang karena ini sudah mendekati jam sarapannya dan segera meminum obatnya. Satu hal lagi yang harus kamu ingat, Han. Apabila kerinduan kamu rasakan padaku sebut saja namaku ya, sayang. Aku akan datang."


Dasar Ridwan di saat hati yang ikut terbawa suasana sedih begini, masih saja melemparkan gombalannya.


"Aku balik dulu ya, Han."


"Iya, hati-hati."


Aku menatap punggung pria yang sudah berlalu mengendarai sepeda motornya. Pria baik dan lucu, meski di hatinya tidak ada yang tau luka yang menganga. Aku hanya bisa berdoa semoga permasalahan orang yang mulai aku cintai itu segera usai.


"Dari mana kamu, Han? Aku bangun kamu sudah menghilang?" tanya Wulan begitu aku memasuki kamar yang kini tidak terlalu menyeramkan bagiku itu, rupanya Wulan sudah bangun dari tidurnya.


"Aku dari depan situ beli sarapan. Kamu makan dulu ya, Lan. Ini aku beli bubur ayam. Habis itu minum obatmu biar lukamu cepat kering."


Bukannya menjawab, wanita itu justru melemparkan senyuman nakal. "Habis beli sarapan apa kencan, hayo?" Wulan terkekeh.

__ADS_1


Pasti wanita ini melihat ada Ridwan tadi. "Beli sarapan lah. Sembarangan saja bilang aku kencan. Aku kan jomblo."


"Kalau kalian bukan kencan, terus si Ridwan ngapain ke sini di pagi buta seperti ini?" Aku bisa melihat Wulan yang tampak mengullum senyumnya.


"Ta-tadi kami bertemu tidak sengaja karena dia juga mau beli sarapan. Ya sudah bareng saja."


"Oh, tidak sengaja tapi tangannya gandengan terus kaya mau nyeberang jalan ya?" Tawa Wulan meledak, sementara aku hanya diam dan tersipu. Akhir-akhir ini berpelukan dan bergandengan tangan dengan pria itu sudah biasa, tidak ada penolakan dariku.


"Kamu ngintip ya, Lan?" Mataku melotot ke arah wanita yang tangannya masih terbalut dengan perban dan terus saja tertawa.


"Ya jelas, Han, apa kamu sudah menjawab pernyataan cintanya?"


Aku menggeleng karena masih banyak keraguan di hatiku apalagi sekarang ditambah kenyataan bahwa ibunya tidak sehat. Aku tidak mau menambah beban pikirannya lagi.


"Han, kasihan anak orang kamu gantung begitu terus. Aku lihat kalian juga cocok satu sama lain. Sudah terima saja, siapa tau dia adalah jodohmu."


"Entahlah, Lan. Sudah makan saja aku yang suapin." Aku menyendok bubur ayam dan menyuapkan pada Wulan.


"Memangnya ada yang mengganjal di hatimu hingga sepertinya sulit untuk menerima cintanya, Han?"


"Kalau soal cita-cita, aku hanya bisa mendukungmu, Han. Untuk menerima cinta seorang Ridwan aku pun sangat mendukung. Karena aku bisa melihat ketulusan dan cinta di matanya."


Aku memilih tersenyum tanpa menjawab lagi pembahasan tentang Ridwan. Biarlah waktu saja yang menjawab. Jika kami berjodoh maka jalannya akan dipermudah, tapi bila tidak ya sudah.


Aku melanjutkan menyuapi Wulan dengan telaten. Awalnya Wulan menolak tapi keadaannya tidak memungkinkan. Bagaimana bisa dia makan sendiri, tangannya saja tidak bisa menggenggam.


Acara makan sudah selesai, saatnya aku mandi dan bersiap ke pabrik tempat Wulan bekerja untuk menyerahkan surat izin dari rumah sakit. "Lan, aku mau nitip ke siapa?"


"Nanti kamu titip saja ke pos satpam, Han. Bilang saja ini surat izin atas nama Wulan Diyanti bagian produksi."


"Ya sudah, aku mau berangkat dulu ya, Lan."


"Eh, jangan lupa, Han. Kamu datangnya ke gedung yang sebelah barat, gedung baru. Bukan yang ada logo perusahaannya, itu yang lama."

__ADS_1


"Siap! Aku berangkat dulu ya, Lan." Perjalanan menuju pabrik cukup menguras waktu meski jaraknya cukup dekat. Jam segini adalah jam sibuk karena bersamaan jam para karyawan masuk kerja.


"Permisi, Pak. Saya menitipkan surat izin atas nama Wulan, Pak," ujarku pada seorang satpam yang berada di depan gerbang. Oleh pria berbadan besar aku diminta menyerahkan surat itu pada petugas keamanan yang sedang berada di pos satpam saja sekalian mengisi buku tamu.


Tanpa aku duga sebelumnya, di pos satpam aku bertemu dengan Adnan, pria yang sudah menyakiti Wulan.


"Han, ada apa kamu ke sini?"


"Mau konser tunggal!" jawabku sekenanya.


"Bagaimana keadaan Wulan?"


"Baik-baik saja. Akan jauh lebih baik lagi bila kamu dan si ulat bulu itu tidak menampakkan kebodohann kalian. Kamu tau Wulan sangat terluka akibat perbuatanmu."


"Aku tidak tau akibatnya akan sejauh ini, Han. Aku ingin meminta maaf padanya. Seandainya bisa, aku pun ingin kembali kepadanya dan anak-anak. Namun, aku tidak bisa juga meninggalkan Intan, sekarang dia sedang hamil anakku. Itu yang membuatku tidak bisa melepaskan Intan, walau aku sekarang tau caranya mencintaiku dan juga memilikiku itu salah. Aku yakin bisa adil. Han, apa kamu mau bantu aku membujuk Wulan agar kembali padaku? Mumpung perceraian kami belum diputuskan oleh pengadilan agama."


"Tidak sudi. Kalau kamu mau ngajak rujuk Wulan, silakan usaha sendiri. Seandainya dia tidak mau malah bagus. Bukannya kemarin kamu bilang Wulan pantas mati karena telah menyakiti selingkuhanmu itu? Lupa apa pura-pura lupa?"


Adnan terus saja memintaku untuk membantunya. Darahku mendidih dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut Adnan. Ingin tetap dengan Intan tapi juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Wulan. Andai tidak diawasi oleh pihak satpam sudah aku tampar mulutnya. Lebih baik aku diamkan saja.


"Pak, ini saya sudah mengisi buku tamunya. Lalu ini surat izinnya bagaimana?" tanyaku pada satpam yang duduk di depanku itu.


"Taruh di situ saja, Mbak. Nanti biar saya yang sampaikan."


Untunglah aku bisa segera pergi dari sini, jadi aku tidak perlu mendengarkan ucapan dari Adnan yang menyebalkan itu. Dasar laki-laki tidak punya otak, seenaknya saja mau mengajak Wulan balikan tapi dia tidak mau meninggalkan selingkuhannya. Dia minta kembali pasti karena keadaan Intan yang bisa dibilang menyedihkan.


Mungkin karena terlalu banyak memikirkan Adnan, pria yang menyebalkan itu, membuat aku tidak fokus dengan kondisi jalan. Hampir saja terjadi kecelakaan yang bisa saja menimpaku. Aku tidak menyadari kalau lampu yang semula hijau sudah berubah menjadi merah. Aku tetap saja melaju kencang. Dari arah kiriku sebuah truk kontainer melaju, telat sedetik saja mungkin aku akan pulang ke Ungaran dengan nama saja karena pasti badanku sudah hancur.


"Bodohh!" teriakan si sopir truk yang tidak aku tanggapi karena memang aku yang salah. Jantungku berdetak cepat dan kakiku gemetar hebat karena hampir saja dijemput malaikat maut membuatku berhenti di bahu jalan. Seorang wanita paruh baya yang merupakan pedagang asongan di perempatan itu menyodorkan sebotol air mineral.


"Mbak, jangan melamun kalau lewat sini. Banyak orang yang buang peliharaan mereka di sini agar bisa cari mangsa. Banyakin zikir dan jangan biarkan pikiran kosong terutama jika lewat sini dan juga perlintasan kereta api tanpa palang di depan sana. Sudah banyak korbannya."


...----------------...

__ADS_1


...--bersambung--...


__ADS_2