
Tanpa menjawab pertanyaan wanita jahat itu, aku menarik tubuh Wulan dengan cepat. Sekilas saat aku tengok ke belakang, wanita itu menyeringai sembari menatap tajam ke arahku. Aku tau pasti dia akan mengirimkan ancaman kepadaku setelah ini. Biarlah, selama itu hanya ancaman malah itu nanti yang akan memperkuat bukti bahwa dia telah melakukan tindak kriminal padaku.
"Han, kamu itu tau sopan santun kan?" tanya Wulan dengan nada yang tinggi sesampainya kami berada di kamar.
"Memang kenapa, Lan? Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?" tanyaku sembari melepas kaus kaki.
"Kamu tau kan tadi Bu Wati bertanya baik-baik. Bukannya menjawab malah langsung kabur begitu saja. Selama ini dia banyak membantu kita lo, dia ngajak bicara malah kamu cuekin seperti tidak ada orang."
Aku tersenyum kecil mendengar omelan Wulan yang panjang bagai kereta api itu. Andai saja Wulan tau bagaimana Bu Wati sesungguhnya pasti akan marah dan membencinya, seperti aku membenci Bu Wati. Apa sebaiknya aku menceritakan semua yang aku alami semalam. Ya, lebih baik seperti itu.
Aku bergegas masuk kemudian mengunci pintu dengan cepat. Wulan terlihat terkejut melihat tingkahku karena biasanya jika siang hari selalu aku biarkan pintu terbuka agar ada pergantian udara di kamar.
"Lan, sini duduk dulu. Aku mau cerita sesuatu yang penting," ujarku dengan lirih. Kemarin saja Bu Wati bisa tau saat aku bilang mau pulang kampung, entah bagaimana caranya.
Wulan tampak kebingungan dengan sikapku yang seperti ini, segera duduk disampingku. "Ada apa?" bisiknya.
"Aku punya alasan kuat kenapa aku terkesan bersikap tidak baik pada Bu Wati..." Aku menghela napas dengan kasar sebelum lanjutkan ucapanku. "Sebenarnya semalam ada kejadian yang membuatku membencinya. Kamu harus tau, Lan, kemarin malam saat kamu bekerja, dia..."
Tepat saat ingin aku ceritakan tindakan kriminal Bu Wati, sebuah pesan masuk ke ponselku. Rupanya Bu Wati mengirimkan sebuah tangkapan layar bahwa dia akan mengirim foto telanjanggku ke nomor yang foto profilnya begitu aku kenal. Aku yakin itu nomor Mbak Arum.
Sialann, dari mana perawaann tua itu nomor Mbak Arum. Sebuah pesan dari Bu Wati masuk lagi.
"Ini baru satu, aku pegang semua kontak yang tersimpan di ponselmu. Bahkan aku bisa mengirim foto ini dengan nomormu. Sudah aku ingatkan jangan main-main denganku. Usiaku jauh di atasmu, maka kepandaianku juga jauh di depanmu. Aku memang sering melakukan ritual gaib tapi bukan berarti aku tidak melek teknologi." Aku membaca dengan lirih. Perlahan aku intip keadaan luar, benar saja Bu Wati tadi mencuri dengar pembicaraanku. Aku bisa melihat sosoknya yang telah berlari sebelum berbelok turun tangga.
"Ada apa?"
Sekarang ini aku jadi bimbang. Jika aku terus bercerita tentang Bu Wati, bisa saja dia mengirimkan foto ini ke seluruh kontak yang ada di ponselku. Ah, aku harus lebih pintar dan menggunakan akal dalam menghadapi wanita busuk itu. Sebelum bertindak, aku harus mengatur siasat dulu.
"Lan, kamu tau tidak, bubur ayam yang ada di depan sana rasanya enak banget lo." Aku berucap sekenanya dengan volume yang sedikit keras. Karena aku tau pasti wanita itu saat ini tengah mencuri dengar lagi.
__ADS_1
"Iya, tau. Kapan hari kan kita pernah makan di sana, Han. Tadi kamu mau cerita apa?" Wulan pasti bingung dengan sikapku saat ini.
"Aku mau cerita, seumur-umur aku baru tau kalau masak bubur itu harus diaduk-aduk. Kalau tidak nanti sangit bin gosong. Kalau gosong, itu bubur pasti tidak glowing lagi."
"Tidak, Han. Dibela-belain aku buka lebar kupingku tapi kamu ceritanya tidak jelas seperti itu. Sudah, aku mau mandi saja. Ketimbang mendengar yang absurd itu. Itu pintunya dibuka saja."
Aku hanya menggaruk kepalaku, ya aku tau pasti, Wulan jelas kesal padaku. Namun, bagaimana lagi aku tengah diawasi dengan ketat oleh wanita bengis itu. Aku harus punya rencana yang matang dulu untuk melawannya. Aku akan coba konsultasi dengan Pak Ari, apakah bisa menjebloskan wanita itu ke dalam penjara, bila perlu tidak akan pernah keluar. Aku membuka pintu dengan hati-hati sembari berharap wanita itu sudah pergi dari kamarku. Untung saja, saat aku buka pintu, dia sudah tidak ada.
Nanti akan aku pikirkan cara untuk memberitahu Wulan mengenai kejadian yang menegangkan itu. Mungkin bisa aku sampaikan lewat pesan. Aku baru mengetik beberapa kata tapi segera aku hapus. Aku ingat Bu Wati sudah mengambil semua kontak di ponselku. Bukan tidak mungkin dia juga menyadap setiap pesan yang masuk dan keluar dari telepon ini.
Aku membuang napas kasar sembari merebahkan tubuhku. Ya Tuhan, kenapa beban berat ini Engkau himpitkan padaku yang lemah dan cengeng ini. Otakku terus berpikir bagaimana aku harus menyelesaikan masalah yang sudah diciptakan Bu Wati. Indekos ini rasanya semakin tidak aman saja bagiku. Ada Bu Wati yang bagaikan bom waktu itu siap meluluhlantakkan diriku. Karena terlalu banyak beban pikiran, sampai aku tidak sadar sudah tertidur dengan sangat pulas. Aku baru terjaga saat Wulan membangunkanku dengan mengguncang tubuhku perlahan.
"Ini jam berapa, Lan?" tanyaku sembari menggeliat untuk meregangkan otot-ototku yang kaku sejenak.
"Masih jam setengah dua, kamu mandi sana! Kita kan harus bersiap untuk mencari nafkah." Wanita itu menarikku agar segera masuk ke kamar mandi karena aku sempat memejamkan mataku lagi.
"Bocah? Kamu bilang kamu bocah, Han? Bocah tua nakal, ya?"
Wulan tertawa lebar sampai seluruh badannya terguncang hebat. "Oalah, Han. Ingat umurmu sudah dua puluh tahun lebih, sebentar lagi ubanmu bakal tumbuh. Masih berani menyebut dirimu bocah."
"Biarin!" Aku segera menutup kamar mandi. Secepat yang aku bisa aku segera keluar kamar mandi. Aku akan mengajak Wulan berangkat lebih awal, mungkin di luar indekos berdarah ini, aku bisa ungkapkan semua beban yang telah terpaksa aku pikul ini.
"Kamu itu mandi beneran apa mandi bebek sih, Han. Perasaan batu aku selesai sisiran. Kamu sudah selesai saja."
"A-anu, Lan. Aku mau mampir ke angkringan dulu, beli buat bekal nanti pas istirahat."
Ya aku harus membuat alasan, agar kami bisa berangkat lebih awal dibanding biasanya. Aku harus melakukan ini agar terlepas dari Bu Wati yang terus mengawasi gerak-gerikku. Aku melirik ponselku, masih ada satu jam lagi sebelum aku harus sudah bekerja.
"Ayo, Lan. Cepat!"
__ADS_1
Aku bergegas mengajak Wulan untuk berangkat walaupun wanita itu terus bertanya kenapa kami berangkat seawal ini. Aku sengaja mengajak Wulan ke angkringan depan pabriknya agar dia tidak terlambat karena sibuk mendengarkanku.
"Lan, sebenarnya tadi aku mau cerita padamu hal yang penting."
"Ah, nanti kamu absurd lagi."
Tanpa banyak kata, aku menyodorkan ponselku yang menampilkan semua pesan dari Bu Wati termasuk yang baru saja aku terima. Dia terus mengancamku akan menghabisiku malam ini juga jika aku cerita pada orang lain.
Tangan Wulan tampak bergetar saat membaca kalimat demi kalimat yang dikirimkan Bu Wati kepadaku, bahkan ponselku sampai terjatuh.
"A-ada apa ini, Han? Kenapa Bu Wati bisa mengancammu seperti ini? Kenapa ada fotomu seperti ini?"
Setelah memastikan angkringan dalam keadaan sepi, aku mulai menceritakan semua kejadian yang aku alami semalam. Wulan yang mendengar ceritaku terus meremas tanganku.
"Kamu baik-baik saja kan, Han? Tidak ada yang terluka kan?" Wulan tampak menitikkan air matanya. Aku menggeleng dengan cepat.
"Dia hanya mencurahkan isi hatinya karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Aku mau bertanya pada Pak Ari apa bisa Bu Wati dijerat oleh hukum, untuk jaga-jaga sebelum dia bertindak nekat nanti."
"Pak Ari? Siapa dia?"
"Polisi yang kemarin menangani kasus Intan. Rupanya ayahnya yang mengurus kasus penemuan mayat mengerikan dua puluh tahun lalu sementara kakak sulungnya yang juga anggota, dia mengurus kasus hilangnya Gayatri. Entah kenapa aku punya firasat bahwa kedua kasus besar itu masih ada hubungannya."
"Atau mungkin pelakunya sama, yaitu Bu Wati?" Sahutan Wulan membuatku bergidik ngeri. Jika itu terjadi bukan tidak mungkin aku akan mengalami nasib serupa dengan mereka. Apalagi Bu Wati pernah bilang bahwa dia tidak segan untuk menghabisi wanita-wanita di dekat pria yang disebutnya dengan ndoro kakung.
"Jadi ini yang membuatmu semalam sempat ketakutan dan ingin pulang ke Ungaran? Han, sepertinya kita memang harus meminta bantuan karena ini sudah menyangkut nyawamu."
...----------------...
...--bersambung--...
__ADS_1