Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 77 : Tumbal Penglaris


__ADS_3

Aku hanya bisa memejamkan mata karena cahaya yang berasal dari kereta yang meluncur cepat. Air mataku turun karena dalam hitungan detik saja tubuhku akan remuk, sama seperti korban kecelakaan kereta yang aku lihat. Entah bagian tubuhku yang mana akan jadi santapan lezat bagi kawanan celurut. Hatiku remuk membayangkan wajah bapak yang tengah sakit harus mendengar putri kesayangannya mati terlindas kereta api. Suara klakson mulai menggema, goncangan tanah semakin bergetar kencang. Inilah akhir dari kehidupanku sebagai Hanna yang belum sempat membelikan batu nisan untuk ibuku.


Dadaku sesak ketika kereta menghantam tubuhku, napasku tersengal-sengal sesak rasanya. Tidak ada rasa sakit sama sekali, meskipun aku yakin saat ini ragaku sudah tercerai berai. Aku tetap berdiri di tengah rel saat suara kereta semakin terdengar pergi menjauh. Aku tidak berani membuka mataku karena pasti saat ini aku akan melihat serpihan tubuhku sendiri yang tercerai berai.


Perlahan aku buka mata, badanku sama sekali tidak lecet. Ah ini pasti hanya jiwaku saja, sementara ragaku entah bagaimana wujudnya. Aku memberanikan diri untuk melihat ke belakang tidak ada yang terlihat di sana kecuali kegelapan. Kereta api sudah jauh meninggalkanku. Bahkan sinar lampunya pun sudah ditelan kegelapan malam.


Aku bingung dengan keadaan ini mengapa tidak ada keramaian padahal biasanya jika ada tragedi seperti kecelakaan kereta atau apapun, orang akan berduyun-duyun melihat dan mengabadikan momen yang mengerikan ini. Satu lagi, apabila sebuah kereta api menabrak seseorang harusnya sang masinis menghentikan laju kereta api tapi mengapa mereka meninggalkan ragaku begitu saja, apa mereka tidak melihatku atau jangan-jangan nyawaku tidak lebih berharga dari nyawa celurut, yang sering mati karena tergilas kendaraan yang lewat.


Lebih baik aku menyusuri rel kereta siapa tau aku bisa melihat jasadku. Langkah aku ayunkan dengan sangat hati-hati karena aku takut bisa saja tanpa sengaja aku injak sendiri serpihan tubuhku sendiri. Mataku terus mencari kira-kira di mana jasadku berceceran. Rasanya kakiku sudah sangat jauh melangkah tapi tetap saja tidak aku temukan apapun bahkan bercak daerah pun tidak ada setetes pun.


Tiba-tiba saja dari arah depanku, lampu kereta kembali menyorot. Bisingnya suara kereta api terdengar jelas. Kereta itu menuju ke arahku. Kaki ini terlalu gemetar sampai tidak bisa berpindah.


Kedua kalinya aku dihantam oleh kereta api. Sensasi rasanya sama dengan yang pertama kali aku rasakan yakni dada rasanya sesak dan napasku tersengal. Untuk menetralkan rasa ini, aku harus meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Saat semuanya mulai pulih, kembali aku lakukan pencarian terhadap jasadku.


Dari sampingku aku mendengar seseorang tengah tertawa. "Apa yang tengah kamu cari?" Aku melirik dia, pria bertompel yang tangannya tinggal satu saja.


"Aku mencari tubuhku yang baru saja tertabrak kereta. Apa kamu bisa membantuku mencarinya, agar paling tidak orang tuaku bisa menguburkanku dengan layak."


Bukannya membantu, dia kembali tertawa. "Kamu belum menjadi mayat. Hanya jiwamu yang kami bawa agar kamu tau bagaimana kami mati dan kami harus melayani penguasa tempat ini. Lebih baik sekarang kamu kembali ke duniamu sebelum kamu terjebak selamanya di sini. Pergilah ke sumber cahaya yang ada di sana itu. Kamu akan temukan jalan pulang."


Jadi ini alasan kenapa dia tidak ada di rombongan penari di kampung gaib itu. Jiwanya sudah dimiliki penguasa perlintasan kereta api tanpa palang dan membantu para manusia tamak yang ingin dagangannya laris dengan cara yang kotor.


Pria bertompel itu menghilang begitu saja setelah berucap seperti itu. Meninggalkan aku yang masih dalam kebingungan. Ah, lebih baik aku mengikuti sarannya dan berjalan menuju cahaya yang begitu silau, hingga harus aku pejamkan mata agar bisa menembus cahaya terang itu.


Perlahan silau itu meredup tapi indera pendengaranku mendengar tangisan yang cukup keras, entah siapa yang menangis itu. Mataku mengerjap dan perlahan aku membuka mata. Samar aku melihat dua orang tengah menggenggam kedua tanganku. Dari perawakannya aku mengenalnya, tapi mengapa keduanya menangis tersedu seperti ini.


"Lan, Indah," panggilku lirih.


Kedua wanita itu langsung mendongak menatapku. Entah kenapa kepalaku pusing sekali saat akan bangun.


"Hanna, kamu sudah sadar? Bagaimana, apa ada yang terasa sakit?" Wulan tampak menyeka air matanya dengan lengan. Indah pun sama langsung mengusap air mata dengan punggung tangannya.


"Mbak Hanna, sudah sadar. Tadi Indah benar-benar takut kalau Mbak Hanna akan ninggalin kita," ujar Indah sembari memeluk.


"Se-sebenarnya ada apa ini? Kenapa semuanya menangis lagi, terus kita ini ada di mana sekarang? Bukannya kita tadi baru mau makan ya?"


"Biar aku jelasin yang terjadi ya, Han. Indah bisa minta tolong panggilin Ridwan, soalnya tadi dia pesan untuk dipanggil kalau Hanna sudah sadar."


Indah segera berlalu keluar, sementara itu Wulan menceritakan kenapa aku ada di sini. Menurut Wulan aku sangat lama berada di dalam kamar mandi. Dia menyusulku karena kuatir padaku. Benar saja, aku ditemukan tidak sadar diri di dalam kamar mandi. Badanku demam tinggi, denyut nadiku juga melemah. Buru-buru mereka membawaku ke rumah sakit agar segera ditangani oleh pihak dokter.


"Astaga! Maaf ya, aku selalu saja menyusahkan kalian. Aku sendiri heran sejak tinggal di indekos berdarah selalu saja terjadi hal yang aneh padahal selama di Ungaran, aku tidak pernah mengalami kejadian di luar nalar seperti..."


Ucapanku terhenti ketika Ridwan datang. "Ayang, mana yang sakit?" Tangan pria itu mengusap pipiku lembut.


"Tidak ada. Hanya sedikit pusing saja. Maaf ya aku merepotkan kamu terus."

__ADS_1


"Sudah kewajibanku untuk melindungi kamu. Kita tunggu ibuku pulih sebentar lagi, maka aku akan datang melamarmu dan menikahimu. Agar aku bisa menjagamu selama 24 jam penuh. Aku janji."


Hatiku menghangat mendengar ucapan orang yang baru sehari menjadi kekasihku itu. Walau kenyataannya janjinya itu tidak akan mungkin diwujudkan dalam waktu dekat ini tapi tetap saja pria yang telah berhasil menaklukkan hatiku itu nyatanya berhasil membuat hatiku berbunga-bunga.


"Sebentar lagi dokter dan perawat akan kunjungan ke mari. Kamu cerita saja dengan jujur pada dokter. Jangan ada yang kamu tutupi kalau sakit, bilang sakit, oke?"


"Tapi aku mau pulang, Yang. Aku tidak suka bau rumah sakit. Semua itu mengingatkanku tentang hari kematian ibuku." Air mataku menetes setiap kali mengenang wanita tersabar di dunia ini.


"Ya sudah, aku akan bicara sama dokter yang menanganimu, semoga saja dia bisa mengijinkanmu untuk pulang hari ini. Kalau misalnya dokter bersikukuh menyuruh rawat inap, sebisa mungkin akan aku buat kamu nyaman di sini." Ridwan mengecuup dahiku dengan lembut hingga membuat Wulan dan Indah berdehem agak kencang.


"Kalian berdua itu kenapa? Tenggorokannya gatal ya? Digaruk sana sama biji kedondong."


"Dasar kadal burik, coba sendiri dulu. Tenggorokanmu aman tidak kalau digaruk pakai biji kedondong. Sembarangan kalau ngomong!"


"Halah, kamu bocil tau apa sih!"


"Tahu bulat. Mbak Hanna itu mamasmu suka nakal." Indah mengadu padaku seperti anak kecil.


"Yang, sudah jangan ganggu Indah terus. Kasihan dia."


Aku terus saja tertawa melihat tingkah keduanya, sampai seorang dokter datang bersama seorang perawat. Setelah berbincang cukup lama, dokter membiarkanku untuk pulang. Ya walau harus beradu mulut dulu baru dia mengijinkanku untuk pulang.


Hari sudah hampir pagi, kami memutuskan untuk mengantar Indah terlebih dahulu agar orang tuanya tidak kuatir. Soal motor, biar nanti aku menjemputnya saat kerja.


"A-anu..." Mulutku tercekat saat mendengar tawaran Bu Yuni, ibunya Indah.


"Biarkan Hanna di sana. Wanita ini memang harus mengungkapkan rahasia besar mengenai tempat itu."


Mataku beralih menatap wanita renta yang keluar dengan masih mengenakan mukena itu. "Nek, bagaimana kabarnya? Sehat, kan?" tanyaku pada neneknya Indah sembari mencium takzim tangan yang penuh keriput itu.


"Alhamdulillah. Pokoknya, Nduk, kamu harus kuat menghadapi kenyataan hidup. Akan terbongkar hal yang sudah puluhan tahun ditutupi dunia. Kuatkan hati dan langkahmu. Berpasrahlah pada Gusti Allah."


Aku hanya mengangguk dengan wejangan dari wanita yang selalu bijaksana itu. Aku ingat betul saat bertemu Intan untuk pertama kalinya, beliau langsung menyebut tentang penghianatan, nyatanya memang ada penghianatan yang besar tengah dilakukan Intan. Kini nenek berujar tentang sebuah rahasia besar yang nantinya hanya aku yang bisa mengungkapnya, entah itu rahasia tentang apa.


Nenek terlihat tersenyum lebar ketika menatap Wulan.


"Hatimu cantik bahkan lebih cantik dari parasmu. Nduk, setiap hal yang ditentukan menjadi hakmu meski saat ini di tangan orang lain. Dia akan tetap menjadi milikmu dan kembali kepadamu bagaimanapun caranya, dia akan pulang. Namun, jika memang dia tidak pernah kembali maka kamu berhak mendapatkan yang lebih baik." Nenek berujar sembari mengusap rambut Wulan.


Raut wajah nenek yang lembut, berubah begitu tajam ketika melihat kekasihku.


"Ini siapa, Han?"


"Dia adalah Mas Ridwan, Mbah. Dia itu pacarnya Mbak Hanna. Kemarin kan dia sudah ke sini waktu mau mengantar kita ke kampung. Mbah uti lupa?" Indah buru-buru menjawab sebelum aku berucap sembari menguluumm senyum.


"Lupa. Aku kira dia itu calon suamimu, Nduk. Ternyata calonnya Hanna. Lantas kenapa ada..." Ucapan nenek berhenti kemudian. Nampak sekali beliau telah berpikir keras hal itu bisa dilihat dari caranya menautkan alis dan memandang Ridwan sedikit berbeda.

__ADS_1


"Selamat pagi, Nek." Ridwan mencium takzim tangan nenek.


"Iya, semoga sehat raganya, kuat, dan sehat jiwanya. Segala urusanmu dipermudah."


"Amin, terima kasih, Nek. Buat doa-doanya."


Setelah itu nenek segera masuk ke kamar lagi. Aku dan Wulan juga Ridwan segera berpamitan karena matahari sudah terbit di timur sana. Kami pun butuh istirahat setelah melalui banyak hal.


"Yang, kamu segera istirahat ya. Jangan lupa ini nasinya dimakan. Aku harus pergi memberi obat padanya dulu. Aku tidak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi."


"Maaf ya, Yang. Karena aku sering menyusahkan kamu. Kamu jadi tambah beban karena kehadiranku."


Pria itu menempelkan jari telunjuknya di bibir agar aku diam. "Ayang, aku senang menjagamu. Kamu tidak perlu merasa menjadi bebanku. Karena aku senang terlibat dalam kehidupanmu. Aku balik dulu. Jangan lupa istirahat."


Sebelum pergi, pria itu mengusap keningku sekilas. "Cepat istirahat. I love you, Beib."


"I love you too."


Selepas kepergian Ridwan, Wulan terus saja menggodaku. "Wah, sepertinya aku harus siap-siap mencari teman sekamar yang baru nih."


"Kenapa? Sudah tidak mau temenan sama aku lagi ya?" Aku memasang wajah yang sudah aku anggap sahabat dan juga saudariku sendiri.


"Kalian itu bau-baunya bakal segera nikah deh." Wulan berujar sembari terkekeh, sementara itu kakiku dan Wulan berjalan menaiki tangga agar bisa sampai ke kamar dan beristirahat.


"Doakan saja, Lan. Meski aku dan Ridwan sama sekali belum berpikir ke arah itu dalam waktu dekat. Dia berjanji baru akan menikah saat ibunya sudah stabil semuanya."


"Memangnya kenapa sama ibunya Ridwan?"


Aku menjelaskan pada Wulan tentang keadaan ibunya Ridwan setelah dia berjanji akan menyimpan rahasia ini serta tidak membahas soal ibunya Ridwan terutama saat ada Ridwan di tengah kami.


"Anggap saja, kamu tidak tau ya, Lan."


Aku dan Wulan menyantap nasi uduk yang kami beli di depan klinik tadi sembari berbincang tentang banyak hal termasuk apa yang aku alami selama tidak sadar.


"Sepertinya pria bertompel itu menunjukkan bagaimana cara dia mati sampai pada akhirnya menjadi tumbal penglaris di warung tersebut. Aku juga tau kenapa dia tidak ada di rombongan penari itu."


"Han, kapan para hantu itu berhenti mengganggumu?"


Entahlah, aku pun tidak bisa menjawab pertanyaan Wulan. Andai bisa memilih, aku tidak ingin hidup yang terus saja berurusan dengan mereka.


"Han, jika pria bertompel itu tidak ada di rombongan penari karena sudah ada di dalam penguasaan hantu perlintasan kereta api. Lalu, kira-kira apa yang menyebabkan Gayatri juga tidak di sana? Bukankah dia adalah memakai bedak pelet juga?"


...----------------...


...--bersambung--...

__ADS_1


__ADS_2