Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 88: Musibah Menimpa Ridwan


__ADS_3

Mataku terus menatap sekitar saat berbincang dengan Wulan, bahkan kami duduk di tikar paling jauh dari gerobak angkringan. Supaya tidak ada yang mencuri dengar pembicaraan yang cukup besar ini.


"I-iya. Aku takut, Lan. Di-dia mengancamku bahkan apapun yang hendak aku lakukan dia tau."


"Dia menguntit kamu terus?" Saat aku angguhkan kepala, wanita yang tengah menjalani proses perceraiannya itu mengepalkan tangannya. "Dancukk! Kamu harusnya laporin dia ke polisi, Han. Jangan diam begitu saja. Semakin kamu takut tentu saja dia akan seperti di atas angin. Dia akan menekan kamu terus!"


"Semalam aku takut kalau dia kirim foto telanjanggku ke bapakku di Ungaran. Kamu tau kan, Lan. Saat ini kondisi beliau sedang kurang sehat. Namun, dia terus mengirimi kebutuhanku. Aku tidak ingin menambah beban pikirannya saja, Han."


"Bodohh! Justru karena fotomu ini bisa dijadikan bukti untuk kejahatannya manusia setengah setann itu. Kalau video aku lagi nganu, itu kamu harus malu. Lah ini sudah jelas posisi kamu diikat terus mulutmu disumpal begitu."


"Ta-tapi..."


"Sudah, tidak usah kamu ber-tapi-tapi ria. Kamu itu harus laporkan tindakan setann wedok itu. Kalau terlalu lama kamu biarkan, ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Dia bisa semakin menyiksa dan menekan mentalmu dengan fotomu itu. Kamu harus laporkan ini semua ke kepolisian biar dia kena hukuman. Sekarang kita berangkat ke kantor polisi."


Wanita itu berdiri kemudian menarik tanganku dengan sedikit kasar. Aku menelisik sekitar, beberapa orang mulai memperhatikan tingkah lakuku dan Wulan, beberapa pengunjung nampak makan sembari berbisik-bisik dengan rekannya sementara matanya tertuju pada Wulan dan aku.


"Lan, besok aja deh. Ini sudah saatnya kamu bekerja bukan? Lagi pula aku tidak mungkin menghubunginya sekarang karena ponselku masih dalam pengawasan si wanita bengis itu."


Wulan sempat tersenyum tipis saat mendengar ucapanku untuk mengalihkan perhatianku. Wulan meraih ponsel yang ada di jaketnya. Dia pun menepuk dahinya saat melihat layar ponselnya.


"Iya, sudah hampir terlambat. Kamu harus bergegas berangkat, Han. Ini makanan biar aku yang bayar dulu. Ingat, kamu harus segera memperkarakan kasus ini agar kamunya tenang dan mak lampir itu segera binasa."


Aku segera bangkit berdiri tidak lupa membawa nasi dan lauknya. Aku langsung tancap gas untuk ke pabrik. Ya, setidaknya jujur pada Wulan membuat hatiku yang merasa tenang, beban yang seolah aku tanggung sendirian seolah terlepas. Walaupun kenyataannya Bu Wati masih berkeliaran dengan bebas, bisa jadi dia akan menghabisiku sewaktu-waktu jika aku lengah sedikit saja. Ngeri rasanya jika benar Bu Wati adalah orang yang senekat itu.


Sesampai di pabrik, aku lebih banyak diam karena terus memikirkan bagaimana caraku untuk lepas dari jeratan Bu Wati. Lalu bagaimana caranya membalikkan keadaan agar dia yang bertekuk lutut. Sebaiknya aku segera menuruti usul Wulan untuk berkonsultasi dengan Pak Ari.

__ADS_1


"Mbak, kenapa sedari tadi Indah perhatikan, Mbak Hanna banyak ngelamun. Ada masalah apa, Mbak? Apa hantu-hantu itu terus meneror Mbak Hanna?" tanya Indah saat kami tengah istirahat dan makan.


"Tidak apa-apa, Ndah. Cu-cuma ini aku sedikit pusing saja."


Aku kembali berusaha mengobrol dengan yang lain agar tidak terlalu memikirkan masalah ini. Nanti saja aku akan mencari solusi dari Ridwan dan Indah. Ah, iya, di mana ya kekasih hatiku berada? Hari ini aku belum mendengar suaranya yang selalu dibilang seperti anak kucing kehilangan ibunya. Aku melirik para teknisi yang telah berkumpul, Ridwan juga tidak ada di sana.


Segera aku ambil ponsel yang ada di sakuku, siapa tau Ridwan mengabariku tentang keberadaannya melalui pesan seperti biasanya. Hingga saat bel panjang berbunyi sebagai pertanda kami harus mulai bekerja lagi terdengar, Ridwan tidak muncul.


Ingin rasanya aku bertanya pada salah satu rekan seprofesi kekasihku itu tapi aku merasa malu jika harus bertanya pada mereka, apalagi di sana ada teman Ridwan yang sempat menggoda kami untuk pergi menginap di salah satu hotel. Namun, rasa penasaranku juga rasa kuatirku lebih besar daripada itu. Aku mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada mereka.


Aku sedikit mempercepat langkah kakiku yang pendek-pendek ini agar bisa menyejajari langkah mereka yang lebar. Belum sempat aku menyapa mereka, alangkah terkejutnya aku bahwa mereka ternyata sedang membicarakan kekasihku.


"Aku kasihan sama cemeng, hidupnya selalu saja ada masalah. Rasa-rasanya teman kita itu tidak pernah tenang."


Masalah? Masalah apa yang sebenarnya dihadapi oleh Ridwan. Mengapa tak sekalipun dia bercerita kepadaku? Aku melangkah perlahan agar bisa mencuri dengan ucapan mereka.


"Terus sekarang bagaimana keadaannya?" Aku yang tiba-tiba menyela di tengah pembicaraan para kaum adam itu tentu saja membuat mereka menoleh ke arahku dan terkejut bahwa aku sudah ada di belakang mereka.


"Ha-Hanna? Sejak kapan kamu ada di belakangku?" tanya pemuda itu.


"Sudah sejak tadi. Sekarang tolong ceritakan padaku. Apa yang terjadi pada Ridwan dan bagaimana keadaannya sekarang?" Bukannya menjawab pertanyaanku, rekannya Ridwan itu justru menggaruk kepalanya.


"Gini deh, Han. Kebetulan nanti aku ada perlu ke ruang produksi. Aku ceritain di sana ya. Kalau sekarang tidak memungkinkan. Di dalam masih ada pekerjaan yang menungguku dan harus aku selesaikan dengan segera."


"Aku tunggu ya."

__ADS_1


Aku masuk ke ruang produksi dengan beban yang bertambah, selain bagaimana menjerat Bu Wati agar tidak melakukan tindakan kriminal lagi, sekarang ditambah dengan keadaan Ridwan yang katanya tengah sakit.


Rasa lelah, penat, kuatir, dan bingung menjadi satu. Membuatku melihat lagi banyak makhluk tidak kasat mata berkelebat di hadapanku. Meski takut, aku berusaha tenang saat wanita tanpa rupa itu duduk di sampingku sembari mengusap-usap kain.


"Tolong aku! Gelap! Dingin!" Itulah yang terus diucapkan oleh wanita yang kakinya penuh lumpur itu. Tengkukku pun mulai terasa berat. Tidak, aku harus melawan rasa ini. Buru-buru aku lantunkan doa agar mereka tidak lagi menggangguku. Perlahan suasana mulai terkendali. Bayangan-bayangan mengerikan itu sudah pergi, yang tinggal hanyalah para pekerja sepertiku.


"Fokus bekerja, Hanna. Jangan sampai diganggu sama makhluk jadi-jadian," ujarku lirih. Aku berusaha mengingatkan diriku agar bisa mengontrol pikiran jangan sampai kosong.


Aku berusaha terus fokus dengan pekerjaan sembari berharap teman Ridwan segera datang. Saat aku melirik jam dinding hampir menunjukkan sudah hampir jam sepuluh malam, pria itu datang juga. Dia duduk di sampingku sembari memegang mesin, entah mesin apa itu.


"Han, sebenarnya Ridwan tidak mengizinkanku cerita padamu mengenai hal itu yang tengah menimpa Ridwan. Namun, karena tadi kamu sudah mendengarkannya jadi ya sudahlah."


"Katakan saja apa yang terjadi? Aku nanti yang akan bilang padanya agar tidak salah paham padamu."


Teman Ridwan itu menceritakan bahwa tadi pagi ibunya kumat dan melempar apapun yang ada di depannya. Ridwan yang berusaha menenangkan wanita itu justru didorong dengan kuat sampai pelipisnya terantuk ujung meja yang cukup runcing. Tidak hanya itu, tubuh Ridwan babak telur karena jika ibunya mengamuk maka akan menghajar siapa saja.


"Apa kamu tau rumahnya Ridwan? Besok aku ingin menjenguknya." Setelah memberiku petunjuk arah menuju rumah Ridwan, pria itu bergegas kembali ke ruang teknisi untuk melanjutkan pekerjaannya.


Aku kembali terpekur mengerjakan pekerjaan yang seolah tiada habisnya ini. Hingga bel panjang berbunyi, aku pun menyudahi pekerjaanku dan bersiap untuk pulang. Tiba-tiba saja wanita tanpa lupa atau Gayatri menampakan dirinya lagi.


"Ikut aku sebentar!" Lagi-lagi tubuhku tidak bisa menolak meski batinku berontak. Wanita itu berhenti di depan kolam. Di sana sudah menunggu kuntilanak yang sempat aku jumpai ketika aku tenggelam di kolam yang penuh lumpur ini.


Belum sempat aku berucap apapun, wanita tanpa rupa itu menjatuhkan dirinya di kolam sementara si kuntilanak itu tertawa terbahak-bahak dengan mengerikan.


...----------------...

__ADS_1


...--bersambung--...


__ADS_2