Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 80: Kolam Maut


__ADS_3

Aku menatap punggung pria itu. Tidak hanya wajah, perawakan pria ini pun begitu mirip dengan Ridwan. Hanya saja pemilik indekos berdarah lebih dewasa karena wajahnya mulai dihiasi kerutan dan lebih berisi. Otakku langsung teringat pada buku catatan Priyambodo yang menceritakan pria misterius. Apa mungkin pria itu adalah pemilik indekos berdarah.


"Mbak, Ndoro kakung (Tuan) tadi bicara apa sama kalian?" Pertanyaan Bu Wati membuatku memalingkan wajahku ke arah wanita yang tadi duduk di lantai dan tidak berani menatap mata lawan bicaranya.


"Ta-tadi i-itu, Bu. Cuma bilang kalau saya semoga betah." Aku menjawab dengan tergagap karena masih merasa ngeri dengan ucapan pria itu tadi. "Iya kan, Lan?" Pandanganku kini beralih pada Wulan.


"I-iya, Bu. Betul yang diucapkan Hanna."


"Yakin?" Wanita paruh baya itu menatapku dan Wulan bergantian dengan pandangan yang menyelidik, seolah mencari kebohongan yang tersimpan. "Apapun yang ndoro kakung ucapkan, jangan dilanggar. Ini semua demi keselamatan kita semua. Beliau lebih tau tentang indekos ini jauh dari kita semua. Apa yang harus dijaga pun beliau tau."


Wanita itu terus menatapku dan Wulan, tidak kalah tajam dengan mata tuannya kemudian berlalu meninggalkan aku dan Wulan yang termangu.


"Lan, kenapa aku merasa takut ya sama dua orang itu? Ada hawa-hawa negatif dan tidak enak gitu."


"Iya, kaya ada aura negatif ya, Han?"


"Jangan-jangan..."


Mata Wulan membulat seolah dia tengah menanti lanjutan kalimatku. Sementara aku berhenti karena takut nantinya pendapatku ini bisa jadi fitnah jika salah. Aku berpikir si empunya indekos terlibat dalam setiap tragedi yang ada di indekos berdarah, hanya saja aku tidak tau apa perannya.


"Jangan-jangan apa, Han? Lanjutin dong. Aku mau tau apa pemikiran kita sama atau tidak?"


Aku memilih mengalihkan topik pembicaraan. "Lan, kita makan saja dulu. Nanti kita bahas di rumah. Lagi pula ini sudah saatnya kita bekerja. Lukamu bagaimana?"

__ADS_1


"Sudah lumayan kok, Han. Besok sore aku baru mulai bekerja." Wulan seperti paham dengan kode yang aku berikan. Untung aku sempat memerhatikan sekitar kalau tidak, apa yang ada di kepalaku ini menyebar ke mana-mana karena aku lihat di balik tirai yang menjadi pembatas antara warung dan tempat pemilik warung menyiapkan minum, seseorang tengah mengintip dan terus memerhatikan aku dan Wulan, sepertinya dia pun ingin mencuri dengar apa yang ingin aku utarakan pada Wulan.


"Kita makanya agak cepat, Lan. Aku merasa tidak nyaman berada di sini," bisikku pada wanita yang tengah makan dengan telur balado itu. Tanpa menjawab, Wulan terus memakan nasinya dengan cepat. Usai makan kami segera membayar.


"Tadi si ibu itu nguping pembicaraan kita," ucapku setelah aku dan Wulan berjalan agak jauh dari warung itu.


"Aku tadi juga melihatnya mengintip di balik tirai pembatas."


"Makanya aku diam saja dan memilih tidak melanjutkan obrolan kit tadi."


Aku dan Wulan berjalan dalam diam, tanpa sepatah kata pun dan terus mengayunkan langkah menuju indekos berdarah yang semakin penuh dengan teka-teki yang menunggu untuk diuraikan satu per satu.


Sesampainya di indekos, aku bersiap untuk bekerja karena waktu masuk kerja sudah sangat mepet. "Lan, kamu harus hati-hati ya. Aku merasa pemilik indekos ini bukan orang sembarangan dalam berucap. Pokoknya kamu tidak usah ke mana-mana ya."


"Mbak Hanna!" Aku menolehkan wajah ke arah gadis yang sangat periang yang memanggilku sembari melambaikan tangannya. Aku bergegas ke arahnya yang tengah berdiri dan mengantri untuk presensi dengan mesin finger print.


"Mbak, bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik-baik saja, Ndah. Kamu tenang saja."


"Aku kuatir sekali dengan keadaan Mbak semalam. Kalau memang masih sakit, tidak usah dipaksakan bekerja."


"Aku baik-baik saja."

__ADS_1


Tiba giliranku untuk presensi di mesin finger print, aku dan Indah bergegas masuk ke ruang produksi karena hanya kurang dari satu menit dari waktu pergantian sift.


"Mbak Hanna sakit ya?" tanya rekan QC ku, yang akan aku gantikan posisinya. Dia mengatakan aku sangat pucat.


"Tidak, Mbak. Aku hanya sedikit kecapean saja."


Pekerjaan sore ini cukup lancar, jika pun ada kendala bisa teratasi dengan baik. Azan Magrib berkumandang. Ini saat kami para pekerja beristirahat, makan serta menjalankan ibadah salat bagi yang muslim.


Makan bersama dilakukan di kantin kali ini, karena di jalan yang biasa tempat kami duduk baru diperbaiki karena banyak lubang di jalan hingga banyak menimbulkan genangan air bila hujan turun.


Aku dan indah berjalan dengan yang lain diselingi dengan canda tawa. Aku melirik di rombongan para pria, ada Ridwan yang tengah bersenda gurau dengan teman-temannya sesama teknisi. Mataku selalu terpesona pada kolam kecil yang ada di depan pabrik. Meski airnya keruh tapi rasanya segar karena ada berapa tanaman air di sana, seperti teratai, bunga kesukaanku sejak kecil.


Saat aku tengah makan tiba-tiba aku mendengar kecipak air yang cukup keras dan berasal dari tengah kolam itu. Aku buru-buru keluar untuk melihatnya. Aku takut ada hewan yang tercebur di kolam yang tidak ada yang tau berapa dalamnya karena proses pemagaran belum selesai.


Mataku menelisik ke seluruh penjuru kolam yang keruh dan sangat tenang itu. Tidak ada apapun di sana, bahkan riak air pun tidak. Lalu dari mana suara kecipak air yang begitu keras aku dengar tadi. Saat aku tengah bingung, tiba-tiba dari tengah kolam muncul seperti pusaran air. Perlahan semakin membesar dan hampir memenuhi seluruh kolam. Mulut ini hendak berteriak tapi seperti terkunci. Dari pusat pusaran air itu muncul lah sebuah kepala yang mengerikan. Kepalanya terbelah menjadi dua bagian, kanan dan kiri. Matanya menatap tajam ke arahku. Di-dia itu seperti kuntilanak penunggu pohon mangga di dekat gedung spinning.


"Selamat tinggal, Hanna. Ini hukuman karena kamu sudah lancang mengambil kekasihku!" Sebuah bisikan terdengar di telinga kiriku. Belum sempat aku melihat siapa itu, aku bisa merasakan tubuhku didorong. Aku terjatuh ke dalam kolam yang sangat keruh dan dalam.


Aku memang bisa berenang tapi dalam keadaan terkejut seperti ini rasanya napas ini hampir putus. Dengan susah payah, aku berusaha naik ke permukaan. Air yang keruh membuat usahaku semakin berat saja. Di tengah usahaku untuk naik ke atas, indera pendengaranku menangkap suara tawa yang mengerikan. Suara tawa yang sama yang aku dengar saat tengah malam bersama dengan Wulan. Akhirnya kepalaku bisa mencapai ke permukaan. Di atas sana aku melihat seorang wanita menyeramkan terus saja tertawa sembari berkacak pinggang. Wajahnya begitu mengerikan karena kepalanya terbelah dua tapi tidak putus.


"Tolong!" Aku berteriak semampuku. Namun, tiba-tiba saja kuntilanak yang biasa di pohon mangga itu melayang ke arahku. Dengan tawanya yang terus menggema, dia memegang kepalaku dan membenamkanku dalam-dalam. Napasku sudah sangat sesak karena air bercampur lumpur mulai memasuki tubuhku.


...----------------...

__ADS_1


...--bersambung--...


__ADS_2