Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 81: Upaya Pembunuhan


__ADS_3

Hidupku sudah bagai telur di atas ujung tanduk. Bisa terlepas dan pecah kapan pun. Aku sudah tidak bisa bernapas hingga perlahan semua berubah gelap tanpa cahaya sama sekali. Entah untuk berapa lama semuanya berjalan hingga aku dengar suara-suara tangisan yang bersahut-sahutan menyebut namaku.


"Hanna!" Suara itu seperti suara Ridwan yang terus memanggilku. Perlahan aku buka mataku, aku bisa melihat wajah-wajah dengan samar.


"Hanna, bangun!" Semakin jelas kini, ada Ridwan yang tengah menangis sembari memelukku. Tubuhnya penuh lumpur. Belum sempat aku berucap suara sirine ambulans memekakkan telinga. Dengan air mata yang berderai Ridwan mengangkatku dan membawaku ke ambulans.


Ridwan dimintai menemaniku dan juga Bu Ning selaku atasanku. Dalam perjalanan, petugas membersihkan badanku yang penuh Lumpur.


"Bagaimana kronologi sampai pasien jatuh ke dalam kolam itu, Bu?" Samar aku dengar percakapan antara Bu Ning dan petugas itu. Ya, yang terakhir kali aku ingat adalah aku terjatuh di kolam. Setelah itu, makhluk mengerikan itu membenamkan kepalaku ke dasar kolam yang penuh lumpur itu.


Di rumah sakit, beberapa tindakan dilakukan padaku yang masih lemah. Aku pun sudah bertukar baju dengan baju yang disediakan rumah sakit.


"Istirahat, Han. Biar kamu segera pulih lagi." Bu Ning terus mengusap tanganku dengan lembut.


"Bu, di mana Ridwan?"


"Dia sedang diperiksa oleh dokter untuk memastikan keadaannya baik-baik saja."


"Apa Ridwan yang menyelematkanku?"


Bu Ning menceritakan ritual yang langsung terjun, melompat ke dalam kolam tanpa memikirkan risiko yang harus dia hadapi nantinya. Semua orang panik saat mendengar teriakan Indah yang memberitahu bahwa aku melompat ke dalam kolam.


"A-aku tidak melompat tapi ada yant mendorongku." Aku menceritakan semuanya kepada wanita yang telah lebih dari dua puluh tahun mengabdi di pabrik ini. Dari awal aku melihat pusaran air sampai aku didorong dan tenggelam di dalam kolam itu.


"Ta-tapi kata Indah, kamu melamun di pinggir kolam terus bersiap melompat. Saat Indah teriak-teriak untuk memperingatkanmu, kamunya malah cuma senyum ke arahnya terus melompat."


Aku mencoba menggali ingatanku. Tidak, aku sama sekali tidak melihat Indah di sekitarku. Aku hanya melihat hantu wanita yang tertawa mengerikan itu. Dia yang berusaha menghabisiku.

__ADS_1


"Hanna!" Suara itu membuatku menoleh, rupanya Wulan datang dengan membawa sebuah tas uang cukup besar. "Kamu kenapa? Kenapa sampai seperti ini?" Wulan datang dengan tergopoh-gopoh dan segera memelukku. Air mataku tumpah dalam pelukan sahabatku ini.


"Dia mau menghabisiku, Lan. Aku takut." Aku berujar dengan gemetar.


"Siapa yang kamu maksud, Han?"


"Dia yang ikut tertawa bersama kita di tengah malam. Di-dia yang berusaha menghabisiku. Aku takut, Lan. Bagaimana kalau dia kembali dan ingin menghabisiku lagi? Apa lebih baik aku pulang saja ke Ungaran. Aku lelah, Lan. Setiap hari tidak pernah tenang. Hantu-hantu itu terus menerorku, bergantian."


Wanita itu mengelus rambutku. "Kalau kamu pulang, bagaimana dengan impianmu untuk membelikan batu nisan mendiang ibumu?"


Aku tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Wulan. Aku dalam dilema sekarang ini. Jika bertahan di sini artinya harus siap menghadapi teror tapi jika pulang ke Ungaran artinya akan lebih lama lagi untuk membeli batu nisan ibuku. Karena aku harus mencari pekerjaan lagi.


"Sudah, kita pikirkan nanti ya. Sekarang kamu istirahat. Aku sudah bawakan baju untukmu."


Wanita itu menceritakan bahwa tadi dihubungi Indah agar membawa baju-bajuku ke rumah sakit. Wulan bergegas memasukkan bajuku dan segera mengendarai ojek online karena motornya aku pakai dan saat ini masih terparkir di pabrik tempatku bekerja.


"Tadi saat aku turun, aku sempat mencuri dengar, Bu Wati tengah berbincang dengan seseorang melalui sambungan telepon. Dia menyinggung tentang kegagalan tapi aku tidak tau perihal apa. Aku curiga itu karena kamu selamat."


"Entahlah, Lan. Semoga saja kegagalan yang mereka maksud tidak ada hubunganmu dengan aku."


Bu Ning berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini juga. Tepat saat itu Ridwan datang dengan terburu-buru. Bajunya yang belepotan telah berganti dengan baju yang bersih dan kering.


"Ayang, bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik? Mana yang sakit?" Pria itu mengusap tanganku dengan lembut.


"Baik, terima kasih ya kamu sudah menyelamatkanmu."


"Sudah jadi kewajibanku untuk menjagamu. Sekarang kamu istirahat ya." Aku hanya mengangguk dan kembali menutup mataku. Namun, pikiranku terus melayang memikirkan apa hubungan antara kejadian yang aku alami dengan kegagalan yang disinggung Bu Wati. Apa benar mereka kini mengincar nyawaku tapi kenapa? Lalu mengenai ucapan yang aku dengar sebelum aku tenggelam bahwa aku sudah merebut kekasihnya. Siapa itu dan siapa kekasihnya yang aku rebut itu. Apa ini ulah kunti ganjen yang sepertinya tidak menyukai hubunganku dengan Ridwan.

__ADS_1


Saat aku tengah berusaha mengaitkan semua kejadian yang aku alami, aku mendengar Ridwan berbincang dengan Wulan dan meminta Wulan lebih baik dia pulang dulu. Besok pagi baru kembali lagi karena Ridwan harus pulang untuk merawat ibunya terlebih dahulu.


"Aku titip Hanna, Wan. Tolong jaga dia dengan baik. Aku tidak tau sebenarnya apa yang tengah dihadapinya sampai dia seperti ini. Terus menerus diganggu makhluk tidak kasat mata."


"Inshallah, akan aku jaga baik-baik calon bidadari surgaku itu. Bahkan bila harus aku korbankan nyawa, aku ikhlas."


Hatiku menghangat karena ucapan Ridwan baru saja. Betapa beruntungnya aku memiliki kekasih sebaik dia. Selepas kepergian Wulan, Ridwan terus saja menggenggam tanganku erat sekali, hatiku rasanya tenang sekali hingga aku bisa tertidur dengan sangat nyenyak. Rasa-rasanya selama beberapa minggu tinggal di kota ini, baru kali ini aku rasakan bisa tidur senyaman ini.


Aku terjaga karena mendengar ada suara deritan, seperti ada yang sedang membuka pintu kamar ini. Mataku mengerjap saat menangkap seseorang tengah mengendap-endap masuk ke kamarku. Jika dilihat dari postur tubuhnya, dia bukanlah Ridwan karena Ridwan bertubuh jangkung. Wajah orang itu pun tertutupi oleh masker. Bajunya yang kedodoran membuatku tidak bisa membedakan dia itu perempuan atau laki-laki.


Aku pura-pura tidur saat orang itu sudah ada di dekatku. Karena aku ingin tau siapa dia dan mengapa dia masuk dengan mengendap-endap.


"Baguslah dia masih tidur, jadi aku akan mudah menghabisinya." Su-suara itu kenapa aku seperti mengenalnya. Beberapa detik kemudian aku merasa wajahku disentuh oleh benda yang dingin dan terasa tajam. Nyawaku terancam, harus aku akhiri sandiwara pura-pura tidurku. Aku membuka mataku dan segera mendorong tubuh orang itu sampai terjatuh. Dengan cepat, aku turun ke ranjang. Satu hal yang ada di pikiranku saat ini adalah keluar dan meminta bantuan.


"To... Hmmmphh!" Aku kalah cepat dengan gerakan gesit orang itu yang langsung membekap mulutku. Badannya memang kecil tapi sangat gesit. Tangan kanannya menempelkan pisau ke pinggangku sementara tangan yang lain membekapku. Siapa sebenarnya orang ini. Apa yang dilakukannya adalah seperti yang dilakukan Intan padaku tempo hari. Namun, rasanya tidak mungkin orang ini Intan. Dia tidak berbau busuk.


"Diam atau perutmu akan sobek?" Sementara ini, aku harus menuruti perintahnya agar selamat dahulu. Tapi otakku terus mencari cara menyelamatkan diri dari orang ini. Aku menuruti saat memintaku kembali tidur di brankar sembari tetap menodongkan pisaunya. Orang itu merogoh kantongnya yang ternyata berisi lakban. Dia membekap mulutku serta mengikat tangan dan kakiku kuat-kuat. Dia pula mengikatku menjadi satu dengan brankar sampai aku tidak bisa bergerak sedikit pun. Tindakannya ini membuat rencana yang aku buat untuk meloloskan diri gagal sebelum terlaksana.


"Seharusnya dari dulu aku menghabisimu, tapi tidak apa-apa biar terlambat tapi misiku berhasil kali ini. Sebenarnya aku tidak mau menghabisimu dengan tanganku sendiri tapi mereka berulang kali gagal tadi, jadi aku sendiri yang akan bertindak. Hanna, terimalah akhir hidupmu!"


Dia mengangkat tinggi pisau yang ujungnya tampak berkilat itu dan bersiap merobek perutku. Aku hanya bisa memejamkan mata dan meminta perlindungan Yang Mahakuasa. Saat pisau itu hanya berjarak satu sentimeter tiba-tiba saja dia melempar pisau itu.


"Kamu! Pergi kamu! Jangan menghalangiku!"


Perlahan aku membuka mataku. Orang yang hendak menghabisiku tampak berjalan mundur ketakutan sementara hantu tanpa kepala itu berjalan mendekatinya.


...----------------...

__ADS_1


...--bersambung--...


__ADS_2