Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 44: Selendang sang Penari


__ADS_3

Amarah dan dendam bagai pisau bermata dua. Dia akan menyakiti orang lain juga dirinya sendiri. Tidak hanya menyakiti tapi juga menghancurkan. Seperti Gayatri yang akhirnya hancur, dia pergi dengan jiwa yang tidak tenang.


Aku menghela napas panjang, masih terbayang kejadian tadi aku lihat di gudang. Ketakutan Gayatri yang tergambar jelas melalui air mata yang mengalir membuatku tanpa terasa menitikkan air mata juga.


"Han, apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu menangis?"


Buru-buru aku menghapus air mata ini. Aku tidak mungkin menceritakan tentang hal mengerikan yang baru saja aku lihat pada Mbak Juni. "Hanna tidak apa-apa. Cuma tadi pas di gudang ada banyak debu beterbangan jadi ada yang menyelinap masuk ke mata. Jadinya mata ini gatal dan perih. "Aku mengusap mataku bertingkah seolah mata ini kelilipan. Padahal mataku baik-baik saja.


"Coba sini, aku tiupin biar debu yang terjebak segera keluar."


Wanita tiga puluhan tahun itu meniupi mataku. Di tiupan ketiga aku berpura-pura sudah hilang debunya.


"Yakin, sudah sembuh?"


"Iya, makasih ya, Mbak."


Pekerjaanku hampir selesai tinggal memasukkan laporan di komputer agar bisa dicek oleh pihak kantor. Bel tanda istirahat berdering kencang serta memekakkan telinga. Sepoi angin malam seperti sudah menjadi teman bagi kami setiap pekerja sift malam.


"Han, bagaimana kamu di pabrik ini, betah kan?"


"Betah, Mbak. Bekerja di garmen besar seperti ini tidak semenyeramkan cerita orang-orang di luar sana. Di sini orangnya baik-baik saja."


"Memangnya apa kata orang tentang pabrik kita?" Mbak Juni menatapku, Indah juga menatapku membuatku jadi serba salah.


"A-anu, kata teman-temanku yang pernah bekerja di sini. Tempat ini seperti sarang penyamun. Salah sedikit saja, seluruh isi kebun binatang semua. Jika tidak kuat mental maka tidak akan bertahan lama."


"Terus bagaimana pendapatmu setelah beberapa hari bekerja di sini? Apa rumor yang beredar itu benar atau tidak?"


Tentu saja aku menggeleng, bukan karena takut tapi memang dari awal aku masuk, tidak pernah ada kata-kata kasar yang keluar. Jikalau memang ada kesalahan maka atasan akan menegur sewajarnya tapi jika terus saja melakukan kesalahan yang sama atasan tidak segan memarahi meski itu di depan khalayak ramai. Namun, jika si pekerja masih seperti itu dan tidak berubah sedikit saja, tentu tidak segan pihak HRD mengeluarkan si pekerja dari perusahaan.


"Semua orang itu mendapat perlakuan sesuai dengan tindakannya sendiri. Kalau atas marah itu artinya ada yang salah dari dirinya. Kuncinya lakukan semua pekerjaan dengan baik. Di mana pun kita, kita harus pandai membaur dan membawa diri."


Aku menyetujui ucapan Mbak Juni, di mana pun kita berada harus bisa beradaptasi dengan lingkungan. Aku dan Mbak Juni juga Indah kembali diam sembari menikmati istirahat terakhir di sift malam.


"Ndah, aku mau ke toilet dulu ya. Tungguin aku ya, jangan masuk ke gedung dulu."


Aku memilih toilet yang ada di samping musala saja dari pada aku harus masuk ke gedung sendiri. Sejak kejadian ada wanita yang serupa denganku keluar dari cermin waktu itu, aku memang sedikit merasa ketakutan jika ada di sana. Aku mencuci tangan serta aku membasuh wajahku untuk menghilangkan rasa lengket karena keringat. Saat hendak keluar dari kamar mandi, aku bisa melihat dengan jelas ada sosok hitam yang melesat dengan cepat di depanku. Sosok itu menghilang di gedung spinning. Ada rasa ingin mengikutinya, kenapa dari dulu aku seolah dibuat tertarik dengan gedung yang selalu dalam keadaan gelap gulita.

__ADS_1


"Han, jangan melamun!" Aku menatap pemilik suara yang memperingatkanku. Rupanya Ridwan juga baru saja keluar dari kamar mandi pria yang ada di sebelah.


"Enggak, tadi aku cuma... Ah, sudahlah. Aku mau ke depan dulu ya. Indah dan Mbak Juni menungguku." Buru-buru aku berlalu, tidak ingin berlama-lama di dekatnya. Aku tidak ingin kecewa jika benar yang Indah katakan bahwa pria di depanku ini hanya membual soal perasaannya padaku. Aku tidak ingin menanggapi rayuan dan kata cinta yang hanya manis di mulut saja.


Baru beberapa langkah, Ridwan merentangkan tangannya untuk menghadang langkahku. Aku berjalan ke kanan, dia pun bergeser ke kanan, begitu pula sebaliknya.


"Aku mau ke tempat Indah, kamu minggir dulu deh. Jangan menghalangiku seperti ini!" ucapku kesal.


"Jangan marah-marah, sayang. Nanti tambah imut lo." Di mataku lawakannya tidak lucu. Aku mulai membenci ucapannya yang manis itu.


"Soyang-sayang, aku punya nama. Namaku Hanna dan bukan sayang. Sudah aku mau pergi!"


Sengaja aku berucap dengan nada tinggi, berharap Ridwan menyadari aku bukan perempuan murahan yang mudah luluh hanya karena terbuai rayuan manis. Ridwan nampak terkejut dengan sikap ketus yang aku tunjukkan. Dia menurunkan tangannya dan sedikit menepikan badannya seolah tengah memberiku jalan. Aku berlalu, meninggalkannya. Namun, baru beberapa langkah, Ridwan menarik tanganku. Didekapnya tubuhku, sempat aku meronta tapi tatapan mata elangnya membuatku terdiam. Detak jantungnya terdengar jelas, karena tinggiku hanya sebatas dada bidangnya.


"Dengarkan detak jantungku. Kamu tau, Han, dua hari ini pekerjaan yang menumpuk membuatku terpaksa menahan rinduku padamu karena waktuku terkuras untuk pekerjaan. Tidakkah kamu merasakan hal yang sama, Hanna? Kenapa justru saat kita bertemu kamu berubah seolah ingin menjauhiku."


"A-aku memang sedang berusaha menjauhimu agar aku tidak bisa kamu sakiti. Jadi lepaskan aku!"


"Kenapa?"


Ridwan melepas pelukannya dan kemudian mengangkat daguku, sorot matanya membuatku tersipu. "Siapa yang bilang hal itu? Kamu tanyakan pada Mbak Juni atau Bu Ning, atau siapa saja terutama pada pekerja lama. Mereka tau bagaimana aku. Aku memang suka bercanda tapi soal perasaanku padamu itu serius, Han."


Mata ini terus menatapku tajam. Anu memang tidak menemukan kebohongan di sana, hanya ketulusan saja dalam mata elang itu.


"Kamu percaya padaku, bukan?"


"Entahlah. Aku bingung pada siapa harus aku letakkan rasa percaya itu." Perlahan aku melepaskan pelukan Ridwan. "Wan, aku pergi dulu."


Tanpa aku pedulikan lagi panggilannya, aku terus melangkah maju menuju depan gedung. Dari belakang aku mendengar suara derap langkah seperti orang tengah berlari, apa jangan-jangan itu adalah Ridwan. Aku menoleh ke belakang. Rupanya bukan Ridwan yang ada di belakangku. Aku bisa melihat seorang gadis tengah berlari kencang, keringatnya membanjir membasahi tubuh. Semakin dekat aku mulai menyadari siapa dia. Dia adalah Gayatri dengan sebagian wajahnya melepuh. Dia dikejar oleh sosok penari yang berwajah terkelupas sebagian. Rasanya pun aku pernah bertemu dengan penari itu. Aku ingat, aku bertemu mereka saat tersesat di kampung tidak kasat mata.


"Gayatri!" panggilku dengan keras tapi Gayatri terus berlari dan tidak mendengarku. Tepat di gedung spinning, dia jatuh karena terantuk batu. Si penari yang separuh wajahnya terkelupas itu mengalungkan selendangnya ke leher Gayatri dan mencekiknya. Saat napas Gayatri mulai tersengal, kain itu dilepaskan begitu saja. Kain yang dilepaskan harusnya jatuh ke tanah. Kain yang menjerat leher Gayatri, terbang sembari membawa gadis yang tengah meregang nyawa kemudian melingkar di pohon mangga, tempat si kunti ganjen itu tinggal. Seolah-olah Gayatri tengah bunuh diri.


"Gayatri! Tolong!"


Tiba-tiba dari arah belakangku, seorang pria datang dan segera naik ke atas pohon dan memutus selendang itu. Tubuh Gayatri yang sudah lemah dan hampir kehilangan nyawanya terjatuh ke tanah, untung saja ia tergantung tidak terlalu tinggi. Pria yang datang bagai pahlawan itu segera memeluk tubuh Gayatri yang masih lemas. Dengan bercucuran air mata, pria itu berucap agar Gayatri membuka matanya seraya berjanji akan menebus kesalahannya, dia akan menikahi Gayatri sebagai bentuk tanggung jawabnya.


"Gayatri, aku mencintaimu dengan tulus. Bukan karena rasa bersalahku karena menyakitimu waktu itu. Tolong, jangan sakiti dirimu karena kesalahan baajiingann sepertiku. Hukum aku, bahkan bila perlu bunuh saja aku tapi jangan kau siksa dirimu seperti ini."

__ADS_1


Aku memerhatikan wajah laki-laki itu, aku terkejut dia adalah satu di antara tiga pria yang merenggut kesucian Gayatri. Aku ingin hendak mendekat dan memastikan keadaan Gayatri yang napasnya mulai stabil. Namun, baru beberapa langkah seseorang menyentuh bahuku.


"Han, apa yang kamu lakukan di sini?" Rupanya Ridwan sudah ada di belakangku.


"I-itu, aku mau melihat keadaannya dulu. Aku harus menolongnya "


"Menolong siapa?"


"I-itu!" Tanganku menunjuk ke bawah pohon mangga tempat Gayatri jatuh.


"Tidak ada siapa-siapa, Han. Kamu menolong siapa?"


Aku gelagapan menjawab pertanyaan Ridwan karena setelah aku lihat lagi, Gayatri dan pria itu sudah hilang. Bagaimana aku bisa lupa Gayatri sudah meninggal dan mungkin tadi hanyalah sepenggal gambaran di masa lalu.


"Aku mau menolong mangga yang jatuh. Kan sayang, kalau mubazir begitu," jawabku sekenanya.


Ridwan tampak menggaruk kepalanya, mungkin dia bingung dengan ucapanku yang seolah asal bunyi saja.


"Ya sudah, aku mau balik ke gedung dulu. Takut Indah dan Mbak Juni mencari."


"Aku antar ya, takutnya nanti bengong karena mangga jatuh lagi."


Aku berjalan beriringan dengan Ridwan. Setiap kata yang diucapkan Ridwan tidak aku acuhkan karena pikiranku masih membayangkan Gayatri. Di depan gedung sudah menunggu Indah dan Mbak Juni.


"Kalian dari mana sih? Lagian kamu, Han, pamitnya ke toilet malah ketemuan sama si cemeng," omel Mbak Juni.


"Bu-bukan begitu ceritanya, Mbak. Aku sama dia itu ketemunya tidak sengaja, terus..."


"Sudah, ayo, kita tidur dulu!" Mbak Juni menarik tanganku ke dalam meninggalkan pria itu. Indah mengekori dari belakang.


Saat aku merebahkan tubuh dengan beralaskan kardus, Indah berkata kepadaku dengan muka masam.


"Mbak Hanna, kemarin kan Indah sudah bilang jangan dekat dan jangan percaya sama Mas Ridwan. Indah tidak mau Mbak Hanna disakiti oleh playboy macam dia! Kalau nanti Mbak Hanna ngeyel terus disakiti oleh dia, jangan cari Indah buat curhat karena Indah sudah mengingatkan!"


...----------------...


...--bersambung--...

__ADS_1


__ADS_2