Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 22: Akibat Melanggar Peraturan


__ADS_3

Mulut ini hanya bisa menganga lebar-lebar, karena begitu terkejut akan kenyatannya. Rupanya dua makhluk tidak kasat mata itu terus mengikutiku sampai sekarang, padahal aku sudah pindah rumah.


"Lalu aku harus bagaimana biar mereka pergi?"


"Tidak ada cara lain selain meminta perlindungan dari Yang Mahakuasa. Kedua makhluk bisa sewaktu-waktu kembali. Jika kamu sendiri tidak bisa menjaga dirimu, pagari diri dengan doa itu yang terpenting."


Pagi telah datang bersama terbitnya sang mentari. Suasana di pabrik mulai bisa kondusif. Hanya saja tidak selesai karena insiden kesurupan massal ini.


Kehebohan kembali saat para pekerja yang jadwal sift pagi mulai berdatangan. Mereka terkejut melihat kondisi ruangan produksi yang berantakan. Mesin-mesin banyak yang jatuh dan berpindah dari tempat yang seharusnya. Pekerja sift malam yang tidak kerasukan semalam, kini bahu-membahu merapikan tempat mereka mencari nafkah. Sementara para korban kesurupan semua dalam kondisi lemah dan tidak berdaya. Maka oleh pihak petinggi pabrik yang tidak terkejut ada insiden semalam, mereka diminta untuk beristirahat di Mushola yang terletak di depan gedung ini. Memang meski pemilik garmen ini lain keyakinannya, dia tetap memberikan kebebasan dan fasilitas bagi pemeluk semua agama.


Aku merebahkan tubuh di atas karpet hijau, bersama beberapa orang lain.


"Mbak, sebenarnya semalam apa yang terjadi padaku? Seingatku aku sedang menjahit, tapi kenapa saat aku membuka mata semuanya tampak kacau, kerudungku sudah hampir terlepas, bahkan sepatuku terlempar jauh tadi," tanya gadis yang berkerudung biru. Dia adalah gadis semalam yang dirasuki oleh kunti, bahkan Indah menyebutnya kunti ganjen.


"Aku tidak tau pastinya sebenarnya semalam apa yang terjadi. Karena seumur hidup untuk pertama kalinya mengalami kerasukan dia yang tidak terlihat. Baru kali ini tubuhku menolak apa yang diperintahkan oleh otak dengan hatiku. Rasanya tubuhku tidak lagi milikku. Tubuh ini bergerak sendiri tanpa bisa aku kontrol. Aku mengamuk tapi jiwaku menolak dan tidak berdaya. Entahlah, semoga ini yang pertama dan terakhir yang kita alami."


"Amin. Aku juga tidak ingin mengalami hal yang sama seperti ini lagi. Badanku rasanya remuk semua."


"Kamu lebih baik istirahat dulu. Untuk mengembalikan stamina tubuh yang hilang karena kemarin. Makhluk tak kasat mata itu telah merasuki tubuh, sepertinya juga mencuri energi manusia. Badan ini rasanya mau rontok."


"I-iya, Mbak. Saya mau istirahat dulu. Semoga kekuatan kita kembali seperti sediakala dan kita bisa melakukan kegiatan lagi seperti sebelumnya dan tidak ada lagi gangguan dari makhluk tak kasat mata." Gadis itu berpindah posisi dan sekarang membelakangiku.


Perlahan suara dengkuran demi dengkuran mengalun di mushola. Hanya aku yang tidak bisa memejamkan mata karena aku masih berpikir kenapa kedua makhluk itu mengikutiku? Sebenarnya apa mau mereka dariku? Banyak pertanyaan di dalam benakku. Namun, aku tidak bisa menemukan satu pun jawabannya. Untuk menghilangkan rasa gerah, aku memilih berpindah tempat. Aku memilih duduk di pos satpam gedung ini yang terlihat kosong. Mungkin satpam di gedung ini sedang membantu di dalam ruangan produksi yang berantakan.


Aku menyibukkan diri dengan berselancar di sosial media demi menghindari pikiran yang mudah sekali kosong. Mataku menatap Indah yang tengah berjalan keluar sembari membawa karung kecil.


"Ndah, itu apa?" Indah tampak terkejut melihatku yang justru ada di pos satpam. "Indah!" panggilku lagi. Gadis itu tampak terkesiap.


"Loh, kamu kenapa ada di sini? Kenapa tidak istirahat? Ini sampah, Mbak."


"Tidak mengantuk, lagi pula kalau aku paksakan tidur sia-sia saja karena pikiranku pasti pergi kemana-mana. Saat aku menutup mata, selalu saja kejadian tadi terbayang. Belum lagi bayangan dua makhluk mengerikan yang katanya menempel itu pun terbayang selalu."

__ADS_1


"Ya sudah, Mbak. Coba mengalihkan perhatian dan tidak memikirkannya saja. Lihat saja video-video lucu, pasti Mbak Hanna bisa lupa dan juga bisa tertawa. Semoga saja dengan cara itu bisa sedikit membantu."


"Ndah, aku ikut ke dalam ya. Aku bosan di sini sendirian."


"Mbak Hanna di sini saja. Ingat kata sesepuh bahwa Mbak Hanna tidak boleh lengah sedikit pun karena para makhluk yang menempel di badanmu sewaktu-waktu bisa kembali. Mbak Hanna juga sudah kehilangan banyak energi setelah kejadian semalam. Mbak Hanna, jangan memaksakan diri, lebih baik sekarang istirahat dulu setelah semuanya selesai kita akan segera pulang."


"Tapi..."


"Mbak, Indah ke dalam dulu ya. Pekerjaan masih ada beberapa yang harus dibereskan. Semoga saja kurang dari setengah jam lagi semua pekerjaan sudah selesai."


Kaki Indah hendak melangkah pergi tanpa tanganku menghadapnya. "Ndah, lalu bagaimana soal tanggung jawab kita pada pekerjaan yang mangkrak dengan insiden itu. Apa yang akan kita lakukan?"


"Mbak Hanna kamu memang salah satu pekerja yang loyalitasnya tanpa batas pada perusahaan, bahkan di saat kondisimu lemah begini masih mikirin kerjaan."


"Bukan masalah loyalitas tapi soal tanggung jawab yang harus dipikul bersama."


"Iya.. Iya.. Itu nanti kita pikirin lagi. Indah masuk dulu ya, Mbak. Ingat, jangan kemana-mana sampai aku datang. Mbak Hanna di sini saja atau bersama teman yang lain di mushola."


"Saya patuh terhadap perkataan anda, Kanjeng Ratu," jawabku sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada. Seolah aku ini seorang abdi dalem yang tengah mendapat perintah atau mandat dari putri keraton.


"Lo apa aku itu badut? Kok lucu." Aku sengaja menjawab ucapan Indah dengan nada anak kecil yang tengah merajuk, bahkan aku menekuk wajahku.


"Kamu itu bukan badut, Mbak, tapi pelawak papan atas. Kamu bisa melucu di saat-saat yang genting dan mencekam seperti ini. Sudah, Indah mau masuk dulu. Biar gedung yang porak-poranda akibat ulah usil para hantu kembali bersih." Indah segera berlalu meninggalkan aku sendiri.


Tidak lama setelah kepergian Indah datang supervisor kami, Bu Ning dengan tergopoh-gopoh. Dia menghentikan langkahnya, saat matanya menatapku yang duduk di pos.


"Han, kamu tidak apa-apa? Apakah ada yang terluka?" Wanita paruh baya itu memutar-mutar tubuhku untuk melihat kondisiku.


"Aku baik-baik saja, Bu." Wanita itu tersenyum kemudian memelukku erat.


"Syukur, alhamdulilah. Aku baru buka ponsel jam enam tadi. Banyak pesan juga panggilan masuk mengabarkan kehebohan semalam. Makanya aku buru-buru ke sini."

__ADS_1


"Iya, alhamdulilah, Hanna dan teman-teman yang sempat dikuasai oleh mereka, sudah dalam keadaan baik, Bu. Hanya masih lemas saja."


Wanita itu tersenyum kemudian mengerutkan dahi seolah tengah berpikir keras. Tangannya mengepal dan giginya bergemerutuk. "Apakah ada yang melanggar pantangan, sampai semua hal buruk ini terjadi?"


Air mataku luruh, selain rasa menyesal karena kesalahan yang tidak aku sengaja itu aku takut mendapat murka Bu Ning, juga para atasan yang lain.


"Bu, se-sebenarnya ini semua salah Hanna. Hanna yang melanggar pantangan itu. Hanna yang masuk ke gedung spinning malam-malam."


"Kamu? Kamu yang melanggar, Han?" Aku tertunduk saat supervisor menatap tajam ke arahku. "Kenapa, Han? Dari awal saya sudah bilang ke kamu di pabrik ini ada beberapa peraturan yang tidak tertulis, salah satunya jangan pernah ke gedung spinning di malam hari. Apa kamu lupa atau menghiraukan semua peraturan? Han, setiap aturan yang ditegakkan pasti ada penyebab dan alasannya, paham kamu!"


"Hanna minta maaf, Bu. Tapi bener saya masuk ke sana karena ada sosok yang mirip Indah dan masuk ke sana. Saya hanya mau mengajaknya keluar dan menyelamatkan dia. Itu saja, Bu. Sama sekali tidak ada niat melanggar. Saya juga tidak tau ternyata akibat kebodohan saya ini sangat buruk."


Air mataku terus saja luruh. Andai kata waktu bisa diulang maka aku akan menggunakan akal sehatku. Bu Ning diam saja mendengar penjelasanku. Wanita itu mengacak rambutnya yang pendek dan berwarna pirang.


"Aku tidak tau setelah ini apa yang akan terjadi. Dulu beberapa tahun lalu seorang gadis hilang di indekosnya setelah dia melanggar pantangan itu. Aku takut tragedi itu terulang. Apalagi dulu gadis itu juga seorang Quality Control sepertimu, bahkan usianya pun sama denganmu."


"Apakah yang dimaksud oleh ibu adalah gadis yang bernama Gayatri? Gadis yant hilang begitu saja di kamar nomor tiga belas di indekos bercat hijau yang letaknya di belakang pabrik ini?"


"Iya... dari mana kamu tau, Hanna?"


"Ka-karena aku pun tinggal di kamar yang sama dengan kamar Gayatri, Bu. Se-sekarang Hanna takut, akankah nasib Hanna akan semua dengan Gayatri?"


Mata Bu Ning membulat setelah mendengar ucapanku. "Ka-kamu serius, Han? Kenapa bisa begitu kalian punya banyak sekali persamaan. Ya Tuhan, semoga ini bukan pertanda buruk. Semoga Tuhan selalu melindungimu."


Lagi Bu Ning memelukku erat, sementara hatiku saat ini tengah bergejolak. Ada rasa takut yang teramat sangat. Bagaimana jika aku bernasib sama dengan Gayatri? Wajah bapak tiba-tiba saja melintas di pelupuk mata. Aku tidak bisa membayangkan kesedihan dan duka yang akan melanda keluargaku jika itu terjadi.


Beberapa bulan lalu, tepat seminggu setelah kepergian ibu saja, Bapak sempat berucap bahwa jika dia ingin berpulang mendahului kami karena tidak ingin merasakan kehilangan lagi.


"Bapak, kalau harus kehilangan lagi rasanya tidak akan sanggup, Nduk."


Air mataku meleleh tanpa bisa ditahan lagi. Dalam hati aku lirih melangitkan doa agar terus dilindungi. Jangan sampai nasib buruk Gayatri tidak sampai aku alami.

__ADS_1


...----------------...


...--bersambung--...


__ADS_2