
Cahaya lampu yang semula terang benderang berubah meremang dan berkedip. Waktu seolah terhenti ketika aku menatap dengan ketakutan sosok yang ada di belakangku. Mulut ini hendak berteriak memanggil Indah tapi lagi-lagi lidah ini kelu tidak bisa digerakkan.
Perlahan wanita tanpa rupa mendekat kepadaku. Kini wajahnya yang halus tanpa lekukan sedikitpun hanya berjarak sepuluh sentimeter. Keringat dingin membasahi wajah serta badan ini. Kaki dan tangan bergetar hebat tanpa bisa aku hentikan. Apalagi ketika tangan yang bisa dikatakan bagai tulang yang terbungkus kulit dengan kuku hitam nan panjang menyentuh bahuku.
Kepalanya mendekat ke telingaku, dengan perlahan wanita itu meniup telinga hingga menimbulkan sensasi kengerian yang teramat sangat.
"To-tolong. Di sini Aku mau pulang!" Bisikan disertai tangisan dari wanita tanpa rupa terus terngiang di telinga. Wajahku memucat karena baru kali ini bersinggungan begitu dekat dengan hantu dalam kondisi sadar bahkan aroma anyir bercampur bunga setaman menyeruak menusuk hidung.
"Mbak Hanna, kenapa berhenti?" Aku menepis tangan yang memegang bahuku segera. Mataku kini terarahnya ke pemilik suara yang terdengar sangat manis. Jauh berbeda dari suara wanita tanpa rupa yang serak dan menyeramkan. Nyatanya pemilik suara itu bukan wanita tanpa rupa, melainkan Indah.
"Mbak, kenapa berhenti? Ayo, kita masuk. Sudah hampir terlambat!" Tangannya yang tertutup hoodie warna biru muda menarikku dengan cepat agar segera masuk ke gedung produksi. Dari ekspresinya yang biasa saja, aku tau dia pasti tidak melihat atau merasakan kehadiran wanita tanpa rupa itu.
"Ih, Mbak Hanna. Kenapa sih malah bengong lagi? Jangan melamun terus, nanti kalau pikiran kosong, kejadian kemarin malam terulang lagi, gimana? Indah tidak mau."
"Hush... Kalau ngomong hati-hati dong, Ndah. Aku tadi cuma mikir i-itu lo... A-anu...."
"Itu, anu, itu anu apa, Mbak?"
Aku berpikir keras untuk membuat alasan yang tepat pada Indah. Tidak mungkin aku menceritakan semua yang aku alami baru saja. Aku tidak mau ada kehebohan terjadi lagi karena nyatanya yang melihat wanita tanpa rupa itu hanya aku padahal Indah ada di sisiku tapi dia tidak melihat apa-apa. Toh, jika aku bercerita mungkin Indah akan menganggapnya aku hanya berhalusinasi.
"A-anu itu aku lagi mikir tentang... kompor! I-iya, aku lagi mikir tentang kompor!"
"Astaga, Mbak. Timbang masalah kompor saja sampai melamun begitu. Memangnya itu kompor kenapa?" tanya Indah dibarengi dengan tawa hingga tubuhnya terguncang.
"Tadi sepertinya aku nyalain kompor buat goreng tahu bakso kan, sudah aku matiin belum ya?" Aku memasang wajah polos dan bingung seolah aku benar-benar lupa. Aku harus membuat Indah percaya pada aktingku.
"Oalah, Mbak Hanna. Aku kira ada hantu lagi yang nyamperin kamu. Sudah, ayo kita masuk ke dalam. Sudah waktunya kerja."
__ADS_1
Senyum tipis kini menghiasi wajahku. Untung saja aku pernah ikut kelas teater saat masih duduk di Sekolah Menengah Kejuruan. Terbesit rasa bersalah karena nyatanya aku berbohong pada Indah tapi tidak apa, ini demi ketenangan pabrik.
Saat ini aku tengah menunggu teman-teman yang masuk sift sore keluar gedung setelah itu aku dan rekan-rekan yang lain bergantian masuk ke dalam ruang produksi sesuai bidang kami masing-masing. Aku menempatkan diri di kursi paling ujung karena di sinilah tempatku mengais rejeki.
Di tengah bertumpuknya pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya. Tiba-tiba saja angin bertiup kencang tidak tau dari mana asalnya. Kertas-kertas formulir untuk cek mutu kain yang ada di mejaku beterbangan karena tiupan angin yang cukup besar itu.
Namun, orang-orang di sekitarku tampak biasa saja seperti tidak merasakannya, bahkan ada yang mengeluh kepanasan. Di situlah aku tau ini bukan angin biasa.
"Mbak Hanna kayanya pusing dan kesel banget sama kerjaannya yang bertumpuk-tumpuk itu, sampai-sampai kertas disebar-sebar."
Seorang gadis yang mesinnya tidak jauh dari mejaku melemparkan kelakarnya, membuat beberapa orang yang mendengarnya tersenyum bahkan tertawa. Aku diam saja, aku membiarkan mereka mengganggap hal itu murni terjadi karena kekesalanku pada pekerjaan yang bertumpuk itu. Mereka tidak tau bahwa ada mereka yang tidak kasat mata yang sedang bermain-main di mejaku.
Perlahan aku memunguti semua kertas itu satu per satu. Aku kembali menata rapi kertas yang berserakan itu. Namun, baru saja kertas itu tersusun di meja, lima menit kemudian angin besar kembali datang dan memporak-porandakan kertas-kertas itu. Lagi-lagi hanya aku yang merasakannya.
Antara takut dan kesal yang menjadi satu, aku mendengkus kasar sembari kembali memunguti kertas-kertas itu.
"Tidak usah. Ini tadi kesenggol tanganku." Aku menutupi kehadiran dia yang tak kasat mata agar suasana tidak berubah menjadi kisruh. Aku masih ingat tragedi semalam itu begitu ricuh. Jangan sampai terulang lagi.
Aku kembali menyibukkan diri dengan pekerjaanku dan berusaha mengabaikan angin tidak biasa yang terkadang muncul. Entah berapa kali angin tidak biasa itu menguji kesabaranku. Aku mencoba melawannya dengan melantunkan doa serta salawat. Untung saja angin itu segera terhenti.
Bel panjang berdering sebagai pertanda kami para karyawan bisa makan dan juga beristirahat. Kami dituntut memanfaatkan waktu satu jam ini dengan baik.
"Mbak makan dulu apa tidur dulu?" tanya Indah yang duduk di sebelahku sembari menenteng plastik berisi bekal nasi ayam serundeng yang sengaja aku masak sebagai rasa terima kasihku atas kebaikan keluarga Indah.
"Makan saja dulu, Ndah. Habis itu baru tidur."
Aku membuka bungkusan nasi yang sudah dingin itu. Wangi ayam goreng yang diungkep dengan berbagai rempah dan bumbu tetap menusuk hidung meski sudah dingin. Selain aroma ayam yang kelihatannya sangat sedap, ada juga sambal matah yang tak kalah menggoda. Membuat air liur sepertinya mau terjun bebas.
__ADS_1
Aku hendak menyantap nasi itu tapi tiba-tiba otakku dipenuhi dengan kejadian hari pertama kali tinggal di kota ini. Serundeng yang jauh-jauh aku bawa dari Ungaran berubah menjadi belatung. Ah, nafsu makanku mendadak lenyap, aku takut hal yang sama terjadi kembali.
"Mbak, ayo makan." Aku menatap Indah yang terus melahap nasi dan ayam serundeng itu. "Enak banget lo, Mbak, masakanmu. Lama-lama timbanganku bakal naik terus ini kalau Mbak Hanna masak kaya gini."
Aku tersenyum tipis menanggapi ucapan Indah. Sementara nafsu makanku yang sudah menguap membuatku malas untuk makan. Aku putuskan untuk membungkus kembali nasi ayam itu, siapa tau nanti aku lapar tidak lagi teringat akan belatung-belatung itu.
"Kok Mbak Hanna tidak makan, malah rebahan sih? Tadi katanya mau makan dulu."
"Bentar lagi, Ndah. A-anu, tiba-tiba rasanya punggungku rasanya pegal banget jadi butuh diselonjorin sebentar dulu ya, Ndah." Indah hanya manggut-manggut mendengar alasanku.
"Indah mengerti kok, Mbak. Umur kaya Mbak Hanna itu sudah anu jadi ya begitu." Gadis itu terkekeh sendiri karena berhasil mengejekku. Aku melempar gadis itu dengan penutup kepala yang memang wajib dikenakan setiap kali bekerja.
"Ngejek banget!" Indah terlihat terbahak bahkan sampai terbatuk.
"Syukurin, makanya jangan sampai mengejekku."
Canda tawa itu terhenti saat aku dan Indah memutuskan untuk segera tidur bareng sebentar. Belum lama aku terlelap tiba-tiba saja aku terjaga lagi karena ada seseorang yang menggelitik telingaku. Awalnya aku pikir Indah tapi tidak mungkin karena gadis itu tidur di depanku bahkan hingga mengeluarkan suara dengkuran halus. Ah, mungkin tadi hanya perasaanku saja.
Aku memilih memutuskan untuk tidur menghadap wajahnya jadi jika memang tadi yang mengusiliku Indah, aku bisa langsung menangkap basah dirinya. Aku baru saja terlelap ketika seseorang menggelitik telingaku lagi. Perlahan aku memicingkan mataku untuk melihat siapa pelakunya. Mataku terbuka lebar saat aku mendapati Indah yang masih terlelap. Lalu siapa yang usil? Telingaku masih terasa geli, karena penasaran aku menoleh ke arah belakangku. Tidak ada yang mencurigakan, hanya Mbak Juni yang ada di belakangku. Itu pun posisinya membelakangiku.
Namun saat aku memindahkan posisi tidur dari miring kemudian berpindah telentang, di situlah jantungku rasanya berhenti berdetak. Tepat di atasku. Wanita tanpa rupa itu merayap di atas langit-langit, wajahnya menghadap ke arahku. Rambutnya yang panjang menjuntai turun mengenai wajahku. Rambut dengan bau apek dan anyir menusuk hidung serta mengaduk perutku ini. Sampai-sampai rasanya ingin muntah karena tidak tahan dengan bau busuknya.
"Aaaa!"
Belum usai rasa takut ini. Sesosok pocong yang aku lihat di gedung spinning kini tidur di sampingku.
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...