Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 69: Wanita di Rel Kereta Api


__ADS_3

Aku menatap buku berwarna cokelat tua dan bermotif batik itu dengan nanar. Andai kata tidak ingat ucapan Bu Ning untuk menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu sebelum membaca buku itu, pasti sudah aku lakukan sekarang. Aku kembali menekuni pekerjaanku dan menyimpan buku itu di laci meja. Tidak ada kendala yang berarti selama aku bekerja sore ini bahkan sampai jam pulang aku tenggelam dalam pekerjaanku.


"Mbak Hanna, kamu nanti baliknya sama Mas Ridwan saja. Soalnya aku mau dijemput bapak sekalian cari lauk untuk di rumah." Indah tiba-tiba menghampiriku saat aku tengah bersiap merapikan mejaku.


"Lo kenapa?"


"Tadi bapak kirim pesan mau jemput aku. Soalnya ibu minta tolong dibelikan uritan goreng yang ada di depan pasar itu lo, Mbak."


"Ta-tapi..."


"Maaf ya, Mbak. Kalau bapak minta tolong Mas Ridwan untuk mengantarku ke sana, rasanya tidak enak hati. Soalnya dari tadi pagi Mas Ridwan sama sekali belum istirahat, begitu pulang langsung bekerja."


"Tapi..."


"Dari tadi tapi melulu. Aku tadi pas istirahat juga sudah bilang ke si kadal burik. Mbak, anggap saja ini malam quality time nya kalian. Mbak, harus menjawab pertanyaan cintanya Mas Ridwan." Gadis itu tiba-tiba saja mendekatkan bibirnya ke arahku. "Kalau tidak gercep, nanti aku rebut lo, Mbak."


Bisikan Indah membuatku bergidik, tiba-tiba saja aku teringat kisah cinta segitiga yang menghancurkan banyak persahabatan. Akankah aku dan Indah mengalami hal yang serupa.


"Mbak Hanna kenapa pucat begitu?" Indah menatapku lekat. "Mbak, Indah cuma bercanda kali, jangan dibawa serius." Gadis itu menutup mulutnya agar tidak tertawa.


"Aku ngeri saja membayangkan persahabatan kita hancur, hanya karena masalah percintaan. Apa lebih baik aku lepaskan saja Ridwan, buat kamu saja. Biar persahabatan kita langgeng."


"Mbak, aku tidak mau menerima Mas Ridwan karena dia bukan barang. Kalau dia bersamaku, apa dikira aku akan bahagia? Tidak sama sekali, karena aku tau pria yang bersamaku hatinya bukanlah untukku. Bukan hanya aku yang terluka, tapi kalian pun terluka. Kalau Mbak Hanna sama Mas Ridwan bersama, yang sakit hanya aku. Aku hanya butuh waktu untuk melupakan dan membuka hati pada pria lain, masalah beres bukan?"


Aku tidak pernah menduga gadis semuda ini bisa berpikiran dewasa. "Mbak boleh peluk kamu, Ndah?"


Pelukan erat serta hangat membuat hatiku merasa lega. Apa yang selama ini aku takutkan, jika suatu saat indah tau dan marah besar padaku menguap dan menghilang begitu saja seolah tanpa bekas.


"Hei, kalian berdua ini seperti teletubbies saja, suka banget berpelukan. Aku mau ikut dong!" Suara Ridwan tiba-tiba saja menyela membuatku dan Indah melepaskan pelukan.


"Sana pelukan sama tiang listrik, biar kesetrum terus gosong!" Indah tampak menatap sinis ke arah Ridwan.


"Astaga, nanti aku meninggoy dalam keadaan jomblo. Jangan kejam-kejam begitulah padaku!"


"Makanya jangan nakal!" ucapku dan Indah bersamaan.


"Kalian ini seperti kakak adik beneran, sama-sama galak!"


Belum sempat aku jawab, ponsel Indah berdering di tengah riuh rendahnya suara para karyawan yang hendak bertukar sift. Dia berjalan sedikit agak menjauh dariku, sementara itu Ridwan terus menatapku sembari terus tersenyum, hal ini tentu saja membuatku salah tingkah.


Petugas QC sift malam sudah datang, membuatku untuk sejenak mengalihkan perhatian dari Ridwan. Setelah menjelaskan beberapa tugas yang harus diselesaikan oleh temanku, aku berjalan mendekati Indah yang menungguku di pintu bersama Ridwan.


"Mbak, aku nebeng Mbak Juni keluarnya. Jadi tidak bisa menemani kalian ke parkiran mobil. Maaf ya, aku duluan ya, itu Mbak Juni sudah menunggu di parkiran depan. Rasanya tidak enak kalau membuat Mbak Juni menunggu. Duluan ya."


Gadis itu memang susah ditebak, dia berpamitan bahkan saat aku belum mengucapkan apa-apa. Aku dan Ridwan berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Rasanya lidahku kelu saat ingin berucap. Saat tengah mengambil tasku yang tersimpan di lobi, aku baru ingat bahwa aku menyimpan buku mendiang Priyambodo di laci yang belum aku bawa.


"Wan, sebentar ya. Aku mau kembali ke ruang produksi, ada yang tertinggal."


Aku segera berlari ke ruang produksi untuk mengambilnya. "Ada apa, Mbak Hanna?"


"A-anu, permisi. Aku mau ambil barangku yang ketinggalan di laci." Setelah mengambil buku pemberian Bu Ning, aku mengucapkan terima kasih kepada rekan kerjaku.


"Ambil apa sih? Penting banget ya?"


Awalnya aku belum ingin menceritakan perihal buku ini pada Ridwan, tapi mengingat selama ini dia selalu ada di saat-saat aku butuh bantuan. Aku memutuskan untuk menceritakan padanya semua yang dikatakan Bu Ning tentang buku ini.


"Semoga saja ada jawaban di buku ini untuk menguak semua ya, Han. Tapi kamu juga harus ingat jaga diri kamu baik-baik. Aku tidak bisa menjagamu seharian penuh. Jangan sampai kamu terluka. Okey."


Rasanya nyaman sekali saat tangan itu mengusap kepalaku. Angin dingin menyapa saat kaki ini melangkah keluar gedung. Hampir semua karyawan yang masuk sift sore sudah meninggalkan pabrik, hanya tinggal beberapa yang terlihat masih berbincang di parkiran.


"Bro, kenapa belum pulang?" tanya Ridwan ke beberapa temannya yang tengah duduk di atas motor.


"Itu nunggu ibu-ibu rempong di toilet lama banget. Motor kamu mana, Wan?"


"Di rumah, habis dapat sampingan jadi bawa gerobak sekalian. Ya sudah, aku duluan ya!"


Aku dan Ridwan berjalan berdampingan. "Wan, memangnya itu mereka tidak takut ya kalau tiba-tiba asa penampakan gitu di gedung spinning?"

__ADS_1


"Mereka lebih takut sama pacar-pacar mereka." Ridwan tersenyum.


Angin duduk menusuk kulit. Aku ceroboh sekali, harusnya aku mengenakan jaket saat berangkat tadi, bukan hanya mengenakan seragam seperti ini. Aku mengusap lenganku agar rasa hangat menjalar di tubuhku ini.


"Dingin, Han?"


"Cuma sedi..." Belum usai ucapanku, mataku terbelalak saat Ridwan melepas jaket merahnya dan memakaikan di bahuku.


"Pakailah, biar hangat. Jangan menolak apalagi membantah." Mulutku sebenarnya hendak berucap untuk menolaknya tapi lagi-lagi Ridwan berhasil menebaknya.


"Terima kasih." Perlahan aku mengenakan jaket itu. Harum parfum yang maskulin dan hangat begitu kentara dari jaket ini. Ini wangi Ridwan yang khas bahkan saat aku memeluknya, wangi ini juga tercium menenangkan.


"Siniin tanganmu!"


"Untuk apa?"


"Bawel." Pria itu meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Entah sebenarnya ada apa, rasa dingin itu perlahan menghilang seiring genggamannya tangan kokoh itu. Rasa takut kehilangan saat melewati gedung-gedung yang minim penerangan itu.


Suara motor mendekat seiring dengan terangnya jalanannya tertimpa sorotan lampu beberapa motor yang ada di belakang kami. Para pengendara motor itu berhenti tepat di sisi Ridwan.


"Ciye... Sudah laku juga kamu, Wan. Tinggal tunggu tanggal nikahnya nih," goda salah satu pengemudi motor yang tadi sempat berbincang dengan Ridwan saat ada di parkiran.


"Doakan saja, Bro. Sekarang baru tangan yang bersatu, siapa tau besok yang lain!" Gelak tawa terdengar membahana. Sementara aku hanya menunduk malu karena tidak mengenal mereka satu pun, meski kami bekerja di satu gedung.


"Han, ini teman-temanku sesama teknisi, cuma mereka selama ini nunggu di ruangan. Kalau aku kan suka kelayapan di mana-mana."


Setelah acara perkenalan singkat, aku jadi tau bahwa pacar-pacar mereka kebanyakan juga anak-anak produksi. Hanya saja aku belum terlalu mengenal mereka.


"Kalian mau ikut kita tidak?"


"Ke mana?"


"Ke Tawang Mangu lah. Katanya ada promo sih di sana."


"Promosi apa?"


"Sudah, aku mau pulang dulu. Lama-lama sama kalian itu terkontaminasi." Mata Ridwan kini beralih memandangku. "Kita pulang ya, Han. Biar kita tetap waras. Soalnya aku takut kalau dekat mereka apalagi hampir tengah malam begini, bisa ketularan penyakit kita.


"Penyakit?" tanyaku yang masih bingung dengan arah ucapan Ridwan.


"Penyakit menular dan berbahaya. Dia itu mengidap rabies tingkat parah!" Aku tertawa terbahak saat Ridwan dilempar sandal oleh temannya.


"Asem, aku disamakan sama anjiingg!"


"Sudah. Ayo, Yang. Kita segera pergi ketimbang diamuk sama komplotan anjiingg." Ridwan berucap sembari tertawa lebar. Tanganku ditariknya untuk menjauhi teman-teman Ridwan yang hendak turun mengejar pria itu. Aku bisa melihat teman-teman Ridwan mengacungkan tinjunya sembari tertawa.


"Kalian tadi bicara apa sih, Wan?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam mobil.


"Yakin kamu mau mendengarnya?" Aku mengangguk. "Mereka mau mengajak kita ke hotel di Tawang Mangu."


"Jam segini ke sana, mau ngapain, Wan? Tempatnya kan naik gitu, belum lagi ada jurangnya. Apa tidak takut kenapa-kenapa?"


Ridwan mengusap rambutku lagi. "Kamu itu sudah dewasa tapi kenapa polos sekali sih, Han. Kamu nanya mereka berpasang-pasangan ke daerah yang dingin terus nginep di hotel. Kira-kira kalau perempuan dan laki-laki dalam satu kamar, mereka ngapain? Tidak mungkin kan mereka monopoli atau main uno? Paham kan, Sayang."


Aku merinding membayangkan bila Ridwan tadi mengiyakan ajakan temannya, bisa-bisa nasibku akan bernasib seperti Gayatri yang di rudal paksa beramai-ramai. Untunglah iman calon imamku ini cukup kuat.


Hah, apa yang baru saja aku pikirkan tadi, Ridwan adalah calon imamku? Hanna kenapa kamu berpikiran sejauh itu. Aku terus merutuki pikiranku.


"Kita pulang, ya."


"I-iya. Kita pulang." Pada saat mobil Ridwan sudah berjalan dan keluar dari gerbang utama pabrik, ponselku tiba-tiba saja berdering. Rupanya Wulan menghubungi melalui panggilan video.


"Assalamualaikum, Lan!" sapaku pada gadis yang tampak menutup tubuhnya dengan selimut.


"Waalaikumsalam, Han." Suaranya bergetar seperti tengah kedinginan.


"Ada apa? Kamu sakit, Lan?" tanyaku kuatir. Aku teringat kata dokter agar jangan sampai tubuh bulan menggigil kedinginan dan demam tinggi, ditakutkan adanya infeksi pada luka Wulan.

__ADS_1


"Tidak, aku cuma kedinginan saja. Apa aku bisa minta tolong padamu, Han. Itu pun kalau tidak merepotkanmu."


"Inshallah, aku usahakan. Ada apa?"


"Tolong, belikan aku wedang uwuh ya."


"Wedang uwuh itu apa, Lan? Uwuh kan sampah..." Belum selesai ucapanku, tiba-tiba Ridwan menyahut.


"Iya, Lan. Kita belikan. Kamu butuh apa lagi?"


"Itu saja, Wan. Terima kasih ya. Oh iya, tolong segera antar sahabatku pulang. Jangan ada yang lecet sedikitpun."


"Siap, Bos."


Sambungan telepon dimatikan oleh Wulan tanpa menungguku melanjutkan pembicaraanku.


"Wedang uwuh itu apa sih, Wan?"


"Wedang yang terbuat dari rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, dan rempah-rempah lainnya."


"Bedanya sama wedang jahe apa?"


"Lebih banyak rempahnya, saking banyaknya rempah yang masuk, minuman ini dikatakan wedang uwuh."


Aku penasaran juga dengan bentuk wedang uwuh ini, karena setahuku uwuh jika dalam bahasa Indonesia artinya sampah.


"Han, aku tau wedangan yang jual wedang uwuh yang enak banget. Tidak apa-apa kan kita pulang telat?"


"Memangnya kamu tidak lelah? Seharian kamu kan sama sekali tidak istirahat. Kita cari yang dekat saja ya."


"Tidak apa-apa, Han. Aku akan mengarungi samudra raya demi kamu." Lagi-lagi Ridwan melemparkan gombalannya, aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal sebenarnya.


"Selain itu kita juga butuh wedang uwuh agar menghilangkan capek dan pegal linu di tubuh kita ini, Han."


"Iya. Aku juga pengen cobain rasanya wedang uwuh itu seperti apa."


Aku menikmati pemandangan luar yang dipenuhi lampu berkelap-kerlip begitu cantik. Namun, rasa nyaman itu berubah menjadi rasa yang berbeda saat aku sadari, kami menuju jalur perlintasan kereta api tanpa palang yang baru tadi siang terjadi tragedi maut.


"Wan, harus banget ya kita lewat sini?"


"Iya, angkringan itu di seberang rel maju sedikit."


"Aku takut, Wan. Soalnya tadi siang ada yang tertabrak kereta di sini. Kita cari jalan lain saja ya. Di depan sana kan ada tuh yang ada palangnya."


"Tidak apa-apa. Kalau lewat sana kita meternya terlalu jauh, sayang. Kamu mau kita sampai indekosmu pagi hari?"


Dasar Ridwan kadang kalau berbicara suka berlebihan. "Tidak mungkin sampai pagi. Kita lewat jalan lain saja ya."


Tangan Ridwan mengusap kepalaku. "Sudah jangan kuatir, asal hati-hati kita akan baik-baik saja."


Ridwan tiba-tiba saja menepikan mobilnya sebelum melintasi rel kereta. "Kenapa berhenti, Wan?"


Bukannya menjawab, Ridwan justru keluar dari mobil dan berjalan menuju rel. Aku pun keluar serta berlari mengejarnya.


"Ridwan, berhenti! Kamu mau ke mana?" Teriakanku tidak diacuhkannya. Ridwan tidak hanya berjalan, dia berlari ke tengah rel.


"Ridwan! Hati-hati!" Lagi dan lagi Ridwan sama sekali tidak menoleh ke arahku, seolah dia sama sekali tidak mendengar teriakanku yang sangat kencang ini.


Hatiku merasa tidak enak, kenapa aku merasa akan ada hal buruk menimpa kami. Apalagi dari kejauhan terdengar perlintasan kereta api tidak berpalang pintu yang ada di depan sana berbunyi sebagai pertanda akan ada kereta yang lewat. Ridwan seperti tidak mendengar teriakanku. Suara kereta mulai terdengar. Untung saja aku masih sempat menarik tangan Ridwan untuk menepi hanya selisih beberapa detik saja sebelum kereta api lewat.


"Istigfar, Wan!" bisikku sembari memeluk tubuh pria yang tiba-tiba lemah itu. Air mataku berderai karena pria periang itu tiba-tiba saja pandangannya begitu kosong.


Tepat saat gerbong terakhir melintas, aku bisa melihat dengan jelas sosok wanita bergaun putih dan berlumuran darah berdiri di atas rel. Dia menatapku tajam serta menyeringai dengan mengerikan memperlihatkan taringnya. Mataku tertuju pada beberapa pria yang ada di belakangnya, semuanya pun berlumuran darah. Satu wajah yang membuatnya terkejut adalah pria bertompel yang merupakan kekasih Melati ada di sana, di antara para pria yang bersama wanita mengerikan itu.


...----------------...


...--bersambung--...

__ADS_1


__ADS_2