
Aku tidak mampu membayangkan duka yang akan dirasakan Bapak, jika benar harus aku alami dan hilang tanpa jejak seperti Gayatri. Entah sehancur apakah hatinya nanti. Bisakah dia menahan rasa sakit.
"Sudah, jangan menangis lagi. Perbanyak doa semoga yang terjadi pada Gayatri itu tidak terjadi padamu. Han, aku ke dalam dulu ya. Aku harus melihat bagaimana keadaan gedung produksi sekarang. Semoga tidak ada yang rusak parah sehingga kita tidak perlu meminta barang baru ke atasan. Jika kita meminta, urusannya akan lebih panjang lagi karena pasti setiap orang yang melanggar diberhentikan secara sepihak oleh perusahaan."
Aku hanya mengangguk lemah. Mata ini kembali tertunduk dan tafakur menatap layar ponselku yang mati kemudian aku hidupkan lagi. Entah apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan kekalutanku. Sosial media nyatanya tidak membuatku melupakan permasalahan-permasalahan yang terjadi.
"Mbak... Mbak Hanna, ayo, bisa pulang!" Aku terkejut ketika tiba-tiba saja Indah sudah ada di sampingku. Mungkin karena aku terlalu sibuk melamun dan membayangkan sesuatu yang bahkan belum terjadi sehingga tidak mengetahui kedatangannya.
"I-Indah, kapan kamu keluar gedung?"
"Dari tadi, Mbak. Mulutku sampai pegal karena memanggil Mbak Hanna berkali-kali tapi Mbak Hanna nya tidak juga menengok. Mbak Hanna jangan melamun terus, aku manggilnya itu sudah berkali-kali lo."
"Maaf ya, Indah. Mbak Hanna benar-benar enggak dengar kamu manggil."
"Ya sudah. Ayo, kita pulang. Indah tidak mau kelamaan di sini. Indah masih ngeri setiap ingat sama kejadian semalam. Seumur-umur baru lihat dengan mata kepala sendiri, biasanya cuma lihat di video kisah misteri. Amit-amit jabang bayi. Semoga ini pertama dan terakhir kalinya ada adegan semenyeramkan ini di hidup Indah," ujarnya sembari berjalan ke arah parkiran motor sementara aku hanya tersenyum tipis.
Apa yang dilihat Indah masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan teror-teror yang selama ini aku alami jauh sekali. Dalam perjalanan ke rumah, Indah mengajakku untuk mampir sarapan terlebih dahulu. Namun, aku menolaknya karena bagiku yang terpenting sekarang adalah hanyalah beristirahat dan menenangkan pikiranku yang terus berkecamuk.
Aku juga ingin menelepon keluargaku di Ungaran. Aku ingin mendengarkan suara bapak dan juga Mbak Arum, karena aku tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya. Akankah aku masih diberi napas di sini ataukah aku bernasib sama seperti Gayatri, hilang tanpa jejak dan tidak pernah kembali.
"Mbak Hanna memangnya tidak merasa lapar? Semalam kan energi Mbak Hanna terkuras."
"Enggak, aku ingin pulang. Kalau kamu mau beli sarapan tidak apa-apa. Aku balik ke indekosku dulu saja. Aku mau istirahat."
"Jangan! Mbak pulang ke rumahku saja. Nanti sarapannya beli di dekat rumah saja."
Dalam perjalanan pulang, aku lebih banyak diam dan sibuk dengan pikiranku sendiri. Indah sempat bertanya kepadaku, apa aku baik-baik saja. Pertanyaan Indah hanya aku tanggapi dengan seutas senyuman yang aku lemparkan padanya melalui pantulan di kaca spion. Aku ingin Indah tau bahwa aku baik-baik saja.
Rumah Indah terlihat sepi dan tiada penghuni. Pasti ibu dan bapaknya sudah berangkat kerja. Aku merebahkan diri di kasur tanpa mengganti baju seragamku. Kejadian-kejadian semalam kembali terbayang. Buru-buru aku menghubungi bapak karena aku sangat membutuhkan hangat pelukannya. Aku butuh mendengar suaranya yang menenangkan.
Segera aku mencari kontak bapak dan segera menghubunginya. Jika biasanya aku lebih menyukai panggilan suara saat berkomunikasi dengan bapak, maka kali ini aku lebih memilih langsung dengan panggilan video. Aku ingin melihat wajahnya yang tegas dan galak, namun begitu aku rindukan. Benar kata orang, cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya, bukan kekasih ataupun suaminya.
Saat panggilan tersambung setelah cukup lama menunggu. Aku bisa melihat wajah bapak yang berkumis tipis. Kerutan di wajahnya tidak mengurangi kewibawaan serta ketampanannya saat masih muda dulu. Meski hanya seorang petani dan buruh kasar, bapakku termasuk pria tertampan di kampungnya dulu.
"Assalamualaikum, Pak," sapaku sembari melambaikan tangan ke arah kamera.
"Wa-waalaikumsalam, Nduk." Ucapan bapak yang terdengar tergagap dan lemah membuatku terdiam dan merasa ada sesuatu yang salah karena bapak yang biasanya berbicara lantang dan tegas, bagaimana bisa berubah. Aku perhatikan wajah bapakku yang terlihat pucat dan juga pipinya sedikit tirus.
"Pak, makan dulu ya, agar dapat minum obat." Aku bisa mendengar jelas isi suara kakakku yang tengah membujuk bapak untuk makan dan meminum obat. Sebenernya bapak kenapa? Apakah dia sakit? Aku melihat bapak menempelkan jari ke mulut dan mengarahkan pandangannya ke arah kanan.
"Bapak sakit?"
"Enggak! Bapak sehat-sehat saja. Kamu jangan kuatir."
"Lo itu tadi, kenapa Mbak Arum minta bapak minum obat?"
__ADS_1
"Halah, biasa itu, Mbakmu memang selalu bikin kesel sama seperti ibu kalian. Bapak bersin sedikit saja langsung dibelikan obat sekarung."
Aku hapal betul bapak memang paling tidak suka jika disuruh meminum obat. Yang jadi permasalahannya sekarang sebenarnya bapak sakit apa. Baru beberapa hari aku tinggalkan sudah terlihat kurus dan juga pucat seperti itu. Bibirnya pun sedikit turun, bicaranya juga tergagap.
"Bapak yang dirasakan apa?"
"Bapak itu sehat-sehat saja, Nduk. Kamu bagaimana di Solo, lancar kan? Betah tidak? Peganganmu masih ada tidak? Kalau habis bilang sama bapak, biar nanti bapak kirim wesel." Air mataku menggenang, di saat keadaannya tidak dalam keadaan yang baik-baik saja, pria berkulit sawo matang itu tetap memikirkan kebutuhanku.
"Halah, Pak, sekarang itu sudah tidak jaman kirim uang pakai wesel. Sekarang tinggal pencet-pencet ponsel, uangnya sudah sampai." Mbak Arum nimbrung dalam obrolan kami. Dia pun tampak tengah memangku semangkuk bubur nasi.
"Dimakan, Pak. Sudah ditungguin sama Hanna kan."
"Memangnya bapak tidak mau makan, Mbak?"
"Iya, katanya kangen sama anak kesayangannya. Han, bujuk bapak biar mau makan sama minum obat. Tobat aku, segala cara aku lakukan biar bapak mau makan, hasilnya aku yang kena omel sepanjang kereta api."
"Bapak makan ya. Nanti kalau tidak mau makan, Hanna tidak mau pulang ke Ungaran sekalian cari suami orang Solo, kalau perlu cari orang luar pulau."
"Sudah-sudah, anak perempuan dua senengnya mengancam. Kalian sama ibu itu sama saja. Ya sudah, mana mangkuknya. Aku makan saja biar tidak kena ceramah kalian."
Aku tersenyum lega saat mangkuk bubur itu kini berada di pangkuan bapak. Namun, sekejap kemudian senyumku berubah menjadi air mata, saat kulihat bapak dengan susah payah menggenggam sendok.
"Pak, biar Arum suapin." Bapakku menolak dengan alasan dia masih belum lumpuh jadi bisa melakukannya sendiri. Beberapa kali buburnya tumpah dan mengotori baju dan celana bapak.
"Pak..."
"Iya deh. Makannya pelan-pelan saja, Pak. Yang penting perut terisi dan juga minum obatnya."
Pria yang aku jadikan panutan itu tersenyum lebar, seolah memintaku untuk tidak kuatir akan keadaannya yang jelas sedang tidak baik-baik saja.
"Pak, Hanna mohon ijin bicara sama Mbak Arum sebentar, ya."
"Kenapa tidak bicara sekarang? Sudah mau main rahasia-rahasiaan sama bapakmu?"
"Biarin dong, Pak. Hanna itu sudah besar, mungkin ada hal yang ingin dia tanyakan atau ceritakan ke sesama perempuan."
"Pertanyaan apa yang tidak bisa bapakmu jawab?" ujar bapak dengan nada angkuh. Aku tertawa geli. Memang benar semua pertanyaan bisa bapak jawab karena meski hanya seorang petani, bapak termasuk orang yang melek akan teknologi. Tidak hanya itu, gosip terbaru tentang artis pun bapak tidak pernah ketinggalan.
"Mmm, seperti gimana rasanya menstruasi atau mungkin Hanna mau tanya trik agar pacarnya direstui sama bapak. Kalau sudah seperti itu, artinya bapak akan segera punya cucu lagi."
"Oh, tidak bisa. Hanna harus puas menikmati masa muda dulu, soal menikah mah nanti."
Aku hanya tertawa melihat perdebatan bapak dan kakakku.
"Sudah, bicara sama bakul panci seperti Arum tidak akan selesai. Sudah sana kalian bicara saja. Kalau ibu kalian masih ada, pasar rumah ini kaya pasar burung."
__ADS_1
"Lo, kan ada pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau ibu bicara sepanjang kereta maka anak-anaknya sepanjang relnya. Iya kan, Han." Aku mengiyakan ucapan kakakku.
"Tidak tau, terserah kamu."
Tawa itu menggema karena pada akhirnya bapak memilih mengakhiri perdebatan yang tiada ujung pangkalnya ini dengan mengaku kalah dari dua putrinya.
Aku memberi kode Mbak Arum untuk keluar dari kamar bapak yang susah payah melanjutkan makannya. Mbak Arum berjalan ke kamarnya dan menguncinya.
"Mbak, bapak sebenarnya kenapa? Kenapa tampak berbeda?" Aku memberondong Mbak Arum dengan banyak pertanyaan.
"Kalau bertanya satu-satu, biar tidak bingung aku."
Setelah menghela napas panjang, Mbak Arum bercerita seminggu yang lalu tiba-tiba bapak jatuh pingsan saat sedang panen padi. Oleh beberapa tetangga bapak langsung dilarikan ke rumah sakit.
"Terus kata dokternya gimana, Mbak?"
"Hipertensi bapak kumat bahkan sudah di angka dua ratusan. Bapak drops dan diduga terserang stroke ringan. Ini sudah ada kemajuan, kemarin bapak bicara sangat sulit."
"Terus kenapa Mbak Arum tidak menghubungi Hanna untuk memberitahu yang terjadi?"
"Bapak yang melarang aku, Han."
"Kok bisa?"
"Karena kata bapak, biar kamu fokus bekerja. Kan kamu sendiri yang punya cita-cita buat beli nisan buat makamnya ibu. Kamu ingin semua biayanya dari hasil kerja kerasmu."
Aku menangis tergugu. Tujuh hari selepas ibuku berpulang, aku berucap pada bapak bahwa jangan ada yang memberikan batu nisan karena aku yang akan membelikannya sebagai wujud baktiku juga tanda cintaku karena selama ibu ada, aku belum sempat membahagiakannya dengan hasil keringatku.
"Apa Hanna pulang saja ya, Mbak? Biar bisa merawat bapak."
"Tidak usah. Lagi pula di sini sudah ada aku. Kamu jangan kuatir. Kamu fokus saja dengan pekerjaanmu di sana."
Fokus dengan pekerjaanku, rasanya sangat sulit. Apalagi setelah tragedi semalam. Ingin rasanya aku mencurahkan rasa takut yang menderaku pada Mbak Arum tapi aku rasa ini bukan saat yang tepat. Pasti hari-hari ini Mbak Arum sedang banyak pikiran. Kondisi bapak yang tengah sakit, belum lagi dia harus terpisah dari suami dan anak-anaknya yang berada di Jakarta. Jika harus ditambah dengan persoalanku rasanya tidak bijak.
"Mbak, Hanna mau pamit sama bapak. Ini mata Hanna sudah mengantuk karena baru pulang kerja sift malam."
"Ya, sebentar." Mbak Arum beranjak dari kamarnya dan menuju kamar bapak.
"Sudah, Nduk, yang curhat sama mbakmu?" Aku berusaha tersenyum walau dalam hati ini teriris melihat kondisi bapak yang celemotan dengan bubur.
"Sudah, Pak. Hanna pamit mau tidur dulu ya."
"Iya, kamu hati-hati ya, Nduk."
Saat aku hendak menutup sambungan telepon, indera pendengaranku menangkap senandung tanpa lirik dinyanyikan Mbak Arum sama dengan apa yang dilantunkan oleh wanita yang serupa denganku. Wanita yang keluar dari cermin toilet pabrik.
__ADS_1
...----------------...
...--bersambung--...