
Bukan hanya Mbak Juni, tapi beberapa orang yang tersisa menyoraki aku dan Ridwan. Bahkan ada yang menceletuk agar aku dan Ridwan segera menikah saja.
"Doakan saja, biar dia cepet terbuka hatinya untuk menerima cintaku." Ridwan menjawab tanpa melihatku dan yang lain, dia masih sibuk mengotak-atik mesin motor.
"Dasar kadal burik, kalau bicara seenaknya saja. Tak cubit mau?" ucapku perlahan dengan nada penuh penekanan. Wajah Ridwan tiba-tiba saja mendongak. Pria itu memang susah ditebak. Mata elangnya menatapku dan tangannya mengusap kepalaku yang tertutup kerudung. Mentang-mentang jangkung jadi mudah saja melakukan itu.
"Apa kamu bilang? Aku menggemaskan dan akan memberiku sebuah kecupan? Sabar dulu, sayang. Tunggu aku membawamu ke Kantor Urusan Agama dulu. Setelah sah, jangankan kecupan, seluruh jiwa raga ini akan melayanimu sepenuhnya."
"Cerewet! Mana kunci motorku? Dari tadi cuma kamu otak-atik tidak selesai-selesai, jadi enggak tambah parah iya." Tanganku menengadah meminta kunci motor. Lebih baik aku pulang dengan mendorong motor yang beberapa bagian masih dibongkar ketimbang terus saja mendapat gombalan dari pria ini, selain itu aku juga merasa tidak nyaman, Indah seringkali melirikku dan Ridwan. Soal motor Wulan nanti aku bisa tanya ke orang bengkel mana yang buka di hari minggu seperti ini.
"Ih, sayangku benar-benar tidak sabaran. Sebentar ya. Aku pasangin ini dulu dan kita coba semoga saja mau menyala."
"Hih, cepet. Keburu ngantuk ini."
Sementara Ridwan tengah memasang bodi motor yang tadi dibongkarnya, aku membuka ponselku yang dari sejak semalam aku matikan karena baterainya menipis. Rupanya ada beberapa panggilan masuk dari Wulan. Tumben sekali dia meneleponku berkali-kali. Dia pun mengirim voice note yang cukup membuatku was-was. Saat suaranya direkam, aku bisa mendengar dengan jelas ada suara orang menangis.
"Han, tolong aku! Aku terkunci di kamarmu dan dari tadi ada orang menangis di kamar mandi."
Bagaimana bisa Wulan terjebak di kamar yang sudah terbilang angker itu? Semoga dia baik-baik saja. Aku mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak aktif. Aku mengirim pesan tapi hanya centang satu, apa ponselnya mati ya? Hatiku semakin kalut, takut terjadi apa-apa padanya.
"Wan, motorku sudah jadi?"
"Sudah, aku coba dulu ya. Enak tidak jalannya."
"Tidak perlu, aku buru-buru soalnya." Tanpa menunggu jawaban Ridwan, aku langsung menggeber motor dan buru-buru pergi tanpa sempat berpamitan pada semua orang. Satu hal yang aku pikirkan adalah cepat sampai di indekos dan melihat keadaan Wulan.
Hari minggu indekos tampak sepi karena banyak pekerja yang memilih pulang ke kampung asalnya apalagi senin juga libur karena bertepatan ada hari besar. Langkahku aku ayunkan menuju kamarku. Semoga saja Wulan dalam keadaan baik-baik saja.
Perlahan aku memutar gagang pintu, lah kenapa ini bisa terbuka? Bukannya Wulan bilang dia terkunci. Aku masuk setelah mengucapkan salam. Dia, Wulan tengah terlelap di kasurku. Aku bisa bernapas lega melihat wanita itu terlelap begitu damai. Lebih baik aku biarkan dia beristirahat dulu, aku tau akhir-akhir ini Wulan sangat susah Tidur karena menghadapi permasalahan yang datang bertubi-tubi. Nanti saja aku akan tanya-tanya kenapa dia ada di kamar yang bahkan tidak mau dia masuki selama ini karena takut.
__ADS_1
Ada beberapa helai baju yang masih tersisa di kamar ini. Meski takut, aku mengganti baju kerjaku di kamar mandi. Aku merebahkan diri di samping Wulan meski lapar tapi rasa kantuk ini lebih dominan. Makannya nanti saja kalau Wulan sudah bangun. Aku memejamkan mata kemudian terlelap entah untuk berapa lama. Yang jelas azan Zuhur berkumandang aku terbangun dan menjalankan kewajibanku.
Kamar ini masih seperti pertama kali saat aku datang ke sini, panas dan pengap ketika digunakan untuk salat dan kembali seperti semula saat sudah selesai.
Perutku rasanya keroncongan saat melipat sajadah. Rupanya Wulan sudah terbangun dan tengah bermain dengan ponselnya.
"Lan, maaf semalem aku matikan ponselku. Ke-kenapa kamu ada di sini?"
"Aku ceritakan di luar ya, Han. Kenapa bisa aku tidur di sini? Tapi sebelumnya kita makan dulu yuk. Soalnya dari semalem aku belum makan."
"Ya sudah, kita ke kamar atas dulu. Masa kita beli makan dengan seperti ini."
Ya memang aku hanya menggunakan daster mini, daster yang panjangnya jauh di atas lutut. Sementara itu separuh bajuku ada di kamar Wulan. Aku dan Wulan bergegas naik ke atas, di tangga kami bertemu Lina.
"Mbak Wulan, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Lina sembari menatap lekat ke arah Wulan.
"Semalam di kamar Mbak Wulan ada keributan apa? Ada suara berisik sekali, seperti ada benda jatuh bahkan terdengar suara orang mengumpat, semua binatang di kebun binatang dan di hutan keluar semua. Aku sebenarnya mau keluar dan nyamperin kamarmu, tapi tidak berani karena aku sendiri. Lina cuma bisa berdoa Mbak dalam keadaan baik-baik saja soalnya..."
"Soalnya apa, Lin?" sahutku.
"Soalnya perempuan itu bilang akan menghabisi kamu, Mbak. Aku takut sekali, Mbak."
"Sudah tidak perlu takut, aku baik-baik saja ini lo. Kamu mau berangkat kerja kan, Lin? Sana nanti terlambat lo."
Gadis itu melirik jam tangannya kemudian pamit karena sudah hampir terlambat kerja. Aku dan Wulan bergegas naik untuk melihat kamar Wulan untuk memastikan semua keadaan kamar. Aku terperangah karena begitu kamar ini terbuka, pemandangan kamar ini sukses membuat mata terbelalak. Semua baju berserakan di lantai. Sementara lemari kecil juga terguling.
"Lan, lihat ini!" Aku menutup mataku setelah aku lihat sayatan-sayatan di bantal, sampai semua kapas berhamburan keluar.
"Intan, ini pasti kerjaan Intan," guman Wulan lirih.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Lan?"
"Aku yakin Intan ke mari untuk mencari ini." Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Aku mengenal benda itu, kotak kecil kayu itu aku lah yang pertama kali menemukannya.
"Bedak itu? Tapi kenapa dia mencarinya? Bukankah isinya sudah kamu buang waktu itu?"
"Iya, tapi aku baru tadi setelah browsing. Rupanya selain bedaknya yang sudah diisi dengan ilmu pelet, tempat bedak ini juga mempunyai daya magis yang tidak kalah menakutkannya. Konon tempat bedak inilah yang banyak dicari para pekerja seni. Katanya bedak apapun yang disimpan di sini membuat para pekerja terlihat pangling juga menarik semua orang untuk melihatnya. Makanya bila disandingkan dengan bedak pelet kekuatannya akan luar biasa."
"Tempat bedak ini berarti mahal dong ya. Kalau mahal itu Intan kenapa hanya menggaet suamimu saja?"
"Ini kutukan, Han. Berdasarkan artikel yang aku baca. Dulunya tempat bedak ini adalah milik seorang penari yang dihabisi rekannya hanya karena si pembunuh itu jatuh cinta pada kekasih si penari. Sebelum mati, si penari sempat bersumpah akan menuntut balas pada semua orang yang menggunakan ini pasti akan jatuh cinta pada kekasih sahabatnya. Penggunanya akan berakhir tragis."
Aku membekap mulutku karena dibalik bentuknya yang kecil terselip kisah yang mengerikan. Gayatri adalah bukti nyata dari kutukan itu. Awalnya dia memang ingin membalas dendam pada tiga orang yang merudal paksa dia. Akhirnya malah jatuh cinta pada calon suami sahabatnya.
"Lan, kita buang saja ya. Aku takut terjadi sesuatu yang mengerikan lagi."
"Iya, akan aku buang. Kamu jadi ganti baju? Ini bajunya sudah amburadul begini."
"Mau bagaimana lagi," jawabku sembari mengedarkan pandangan ke kamar yang sudah seperti kapal pecah itu. "Masa aku mau keluar pake daster kaya gini."
"Nanti kamu yang malah mau dibeli, Han!"
"Asem! Amit-amit jabang bayi. Aku kan perempuan baik-baik bukan penjaja cinta."
Ada derai tawa yang menghiasi hari penuh insiden ini. Soal Intan yang mungkin akan datang lagi untuk meminta kotak bedak itu urusan nanti. Yang terpenting sekarang adalah membungkam perut yang semenjak tadi ramai sekali meminta haknya.
...----------------...
...--bersambung--...
__ADS_1