
"Astagfirullah, tapi memang benar ada potongan jarinya?"
"Tidak ada, Mbak. Ada saksi matanya saat saya ngubek mangkok bekas mbak itu, tidak ada potongan jari atau sesuatu yang janggal."
Dalam perjalanan pulang, aku dan Indah lebih banyak diam. Agaknya Indah sedikit terpukul karena nyatanya sang sepupu meninggal bukan karena diganggu makhluk tidak kasat mata saat ingin menolong sahabatnya, justru karena amarah pada pengkhianatan yang dilakukan oleh Gayatri. Aku bisa melihat ada air mata turun membasahi pipinya dari kaca spion.
"Indah, biar aku yang nyetir saja. Aku sudah hapal jalan ke rumahmu," ujarku padanya sembari mengusap bahunya. Aku tau gadis itu butuh ketenangan hati saat ini, suatu hal yang tidak mungkin didapat saat dia harus berbagi pikirannya antara kesedihan dan konsentrasi membelah jalanan yang ramai akan pengembara.
"Beneran?" Aku melemparkan senyum untuk meyakinkan Indah agar mau menerima tawaranku. Di pinggir jalan yang cukup sepi, Indah menghentikan laju motornya. Dengan cepat aku mengambil alih kemudi.
"Aku tau, Ndah. Hatimu saat ini hancur, jadi kalau mau menangis gunakan saja pundakku."
Perlahan aku melajukan motor Indah, sementara Indah menyembunyikan wajahnya di pundakku. Aku bisa merasakan ada air mata yang membasahi bajuku.
"Indah tidak menyangka, Mbak. Bertahun-tahun kami prihatin saat Gayatri hilang. Ibu dan bapakku juga merasa bersalah karena kami menolak permintaan Mbak Melati untuk menampung sementara Gayatri. Tapi kenyataannya sekarang wanita itu yang menyebabkan Mbak Melati meninggal dunia."
Aku mengelus tangan gadis itu yang sedari tadi melingkar di pinggangku. "Tenang, Inshallah sepupumu itu sudah ada di tempat terbaik. Soal pengkhianatan yang dilakukan oleh Gayatri, biarlah itu urusan dia dengan Sang Kuasa."
Aku melirik gadis yang terus saja sesenggukan, rasanya tidak tega melihat gadis yang biasanya ceria, kini dalam kondisi yang begitu menyakitkan. Di depan ada minimarket lebih baik aku belikan Indah minum agar lebih baik. Aku parkirkan motor sembari berbisik padanya. "Kamu tidak usah turun, aku cuma sebentar. Kamu mau aku belikan apa?"
"Tidak usah, Mbak," jawabnya sembari menurunkan kaca helmnya.
"Ya sudah, tunggu sebentar ya."
Dengan cepat aku masuki minimarket yang cukup terkenal. Segera aku mengambil sebotol minuman berbahan dasar jeruk serta sebotol air mineral. Minuman jeruk ini sering kali dibeli oleh Indah karena Indah sangat menyukai bulir-bulir jeruk yang ada di dalam minuman itu.
Saat di kasir aku melihat cokelat, tanpa pikir panjang aku mengambilnya. Cokelat yang dipercaya mempunyai senyawa yang bisa membuat orang yang mengkonsumsinya merasa bahagia. Cokelat juga membantu melepaskan hormon erdovin untuk membantu mengurangi stres. Sepertinya Indah saat ini membutuhkannya.
Aku hendak membayar belanjaanku, saat sebuah tangan menyentuh bahuku. Aku menoleh ke belakang, rupanya dia adalah pria yang kemarin sibuk mondar-mandir di pikiranku. Dia dengan senyum lebarnya menatapku dengan lembut.
"Kamu ngapain di sini, Mas?"
"Mau meni pedi, Nek." Jawabannya membuat mataku membulat. Antara kesal dan ingin tertawa menanggapinya.
"Ish, apaan sih. Mana ada meni pedi di sini," ujarku sembari mencubit kecil pinggangnya.
"Aduh, jangan cubit-cubit gitu, ntar aku ketagihan lo." Andai kata kita di depan umum sudah aku pukul pria yang terus saja membuat jantungku berdesir.
__ADS_1
"Belanjaannya ini saja, Kak?" Pertanyaan dari Mbak kasir membuatku terkesiap, aku seolah lupa sedang ada dimana.
"I-iya, Mbak."
"Mau sekalian diapernya, Kak? Mumpung lagi promo lo, beli satu pack isi dua puluh dapat mie goreng lima biji."
Aku terkejut dengan tawaran Mbak kasir. Apa aku ini tampak seperti ibu-ibu yang sudah beranak hingga ditawari diaper bayi.
"Mbak, sekalian ini, ya. Istri saya ini suka lupa sama suaminya juga lagi belanja. Eh, tadi istri saya ambil cokelat satu saja ya? Ini saya ambil satu lagi."
Mataku membulat saat tiba-tiba saja Ridwan menyela bahkan dengan percaya diri memproklamirkan dirinya sebagai suamiku, padahal pernyataan cintanya saja belum aku terima. Dasar pria, suka seenaknya saja sendiri mengaku-ngaku.
"Diapernya sekalian, Pak?"
"Tidak usah dulu, Mbak. Karena dedek bayinya masih dalam angan-angan, belum juga dibuat. Nanti saja kalau sudah jadi, saya beli satu truk. Iya kan, sayang."
Mata Ridwan kini berpaling ke arahku dan dengan senyum yang merekah, dia mengerlingkan matanya. Ih, andai saja aku tidak malu, pasti cubitan-cubitan akan aku layangkan sampai membuat badannya yang proposional itu lecet.
"Baik, Kak, totalnya sembilan puluh ribu." Aku hendak mengulurkan uang tapi Ridwan sudah mendahuluiku.
"Apaan sih, sayang. Uangku kan juga uangmu, kenapa harus diganti."
Ada desir yang berbeda saat tangan keluar. Ridwan mengusap rambutku. Meski pria ini sering bercanda tapi aku bisa melihat kebaikan dalam dirinya.
"Ini, Kak, kembaliannya. Terima kasih sudah belanja. Semoga bapak dan ibu segera mendapatkan momongan ya." Ucapan Mbak kasir itu hampir membuat jantungku terlepas. Namun, saat aku berusaha meluruskan kesalahpahaman ini, Ridwan menarikku ke pintu keluar.
"Ayo, sayang. Itu banyak yang antri." Pandanganku kini beralih pada beberapa orang yang tengah antri untuk membayar. Beberapa di antara mereka senyum melihat kami.
"Kalian ini pasti pengantin baru, belanja berdua saja masih kaku seperti itu." Tawa bergema di minimarket itu membuatku malu. Aku buru-buru berjalan keluar setelah mengambil minuman dan sebatang cokelat.
"Ya sudah, Mas. Aku keluar dulu kasihan Indah kalau harus menunggu lebih lama lagi." Aku melirik Indah yang masih tertunduk serta menyandarkan kepalanya di atas stang motor.
"Itu bocah kenapa?"
"Dia sedang sedih dan terkejut pada sesuatu hal. Makanya aku beli minuman dan cokelat buat dia."
"Oh, ini jajanannya buat kalian saja. Tadi itu sebenarnya cuma mau beli rokok. Lihat kamu yang masuk tapi tidak lihat kiri kanan, jadi aku ikutin di belakangmu. Aku ambil apa saja yang di dekatku."
__ADS_1
"Ta-tapi..."
"Jangan menolak. Ayo, kita dekati Indah."
Aku dan Ridwan berjalan beriringan menuju tempat Indah yang terlihat masih menangis. "Ndah, ini diminum dulu." Panggilanku tidak digubrisnya, aku paham pasti Indah sangat sedih dengan ini semua.
"Indah, diminum dulu, yuk."
Ajaib, begitu mendengar suara Ridwan, gadis itu langsung mendongak.
"Mas!" Dengan cepat Indah turun dari motor kemudian memeluk erat Ridwan sembari menangis. Terselip rasa tidak suka dengan ini semua, pria yang menyatakan cinta padaku dipeluk oleh orang lain, meski itu sahabatku sendiri.
Aku mencoba bersikap biasa saja, karena yang penting sekarang kondisi Indah stabil. Tangisnya sedikit reda dalam pelukan Ridwan. Aku bahkan mengelus rambutnya walau dengan tangan bergetar, aku hanya ingin dia tenang lalu kemudian melepaskan pelukannya.
"Kamu kenapa, Nduk? Tidak biasanya cengeng seperti ini?" tanya Ridwan sembari mengusap air mata Indah dengan tangannya.
"Mas, ingat aku pernah bercerita tentang sepupuku Melati?"
"Iya, bukankah dia sudah berpulang beberapa tahun lalu?"
"Iya, ternyata dia meninggal dalam keadaan marah besar akibat pengkhianatan sahabatnya. Aku kasihan sama dia, Mas. Pasti dia tidak tenang di alam sana."
"Hush, jangan bicara sembarangan. Doakan saja sepupumu itu mendapat tempat terbaik di surga. Janji?" Ridwan menyodorkan kelingkingnya ke depan wajah gadis itu. Aku bisa melihat ada senyum yang terbit di wajah ayunya. Dengan perlahan, Indah mengaitkan kelingkingnya.
"Janji. Indah janji akan mendoakan Mbak Melati dan tidak berpikiran yang aneh-aneh lagi."
"Good girl. Sekarang minum dulu, kasihan kalau tidak minum nanti stok air matamu habis lo."
Candaan Ridwan membuat tawa kembali muncul di wajah Indah. Ridwan memang pria yang ajaib, dia bisa menyebalkan tapi sekaligus menyenangkan. Setelah hanya menjadi pendengar setia di antara kedua orang itu, Indah mengajakku kembali pulang dan beristirahat.
Di rumah Indah, aku sengaja tidak membalas masalah Melati. Namun, ucapan Indah sebelum kami tidur mengganggu pikiranku.
"Mbak, semoga kasih persahabatan yang tragis antara Gayatri dan Mbak Melati, tidak terjadi pada kita. Jika kelak kita menyukai pria yang sama maka harus kita lepaskan. Tidak ada satu pun dari kita yang boleh memilikinya."
...----------------...
...--bersambung--...
__ADS_1