
Senyum itu terkembang sendiri saat mengingat ucapan Ridwan, pria yang terus menyebutku dengan bidadari surga. Ada rasa hangat di hati ketika dia berada di sekitarku. Dia itu aneh dan ajaib, masuk ke ruang produksi hanya untuk meminta kain perca. Di lain waktu masuk lagi dengan alasan yang berbeda. Meski tidak saling sapa tapi senyumnya yang selalu dilemparkan padaku kini sebagai pengobat rindu.
"Mbak Hanna, kenapa senyum-senyum sendiri?"
Pertanyaan yang diajukan Indah membuatku menyadari bahwa aku seperti orang sinting karena terlalu sibuk memikirkan tentang Ridwan. "Tidak apa-apa, Ndah. Aku hanya..."
"Hanna hanya sedang jatuh cinta, Ndah. Kamu tau kan saat seseorang tengah dilanda asmara akan bertingkah seperti orang gila. Apalagi mamasnya selalu memanggil Hanna dengan sebutan bidadari surga. Bagaimana seorang wanita tidak akan berbunga-bunga mendengar semua itu." Mbak Juni memotong ucapanku seenaknya. Aku malu menceritakan semua tingkah laku dan gombalan Ridwan.
"Benarkah? Memang siapa pria yang berhasil membuatmu berbunga-bunga, Mbak? Apa aku mengenalnya?" tanya Indah penasaran.
"I-itu, a-anu..."
"Halah, Han, nyebut nama Ridwan saja susah amat."
Pandangan Indah menatapku tajam. Ada kerutan di dahinya yang menandakan keterkejutannya. "Benar, Mbak? Orang itu si kadal pabrik, Ridwan."
"Besok pagi saja aku ceritakan semuanya. Dengar itu bel sudah berdering, ayo, masuk!" Gadis itu tampak cemberut karena aku tidak jadi menceritakan semuanya.
"Ingat ya, Mbak. Kamu punya hutang penjelasan denganku. Aku marah sekali karena orang lain lebih dulu tau kalau kamu punya hubungan khusus sama Mas Ridwan, padahal Mbak Hanna bilang kalau aku ini adikmu."
"Maaf sayang. Besok pagi kita sarapan bareng ya di warung soto itu, aku akan ceritakan semuanya."
"Janji?" Aku mengaitkan jari kelingkingku dengan Indah. "Mbak Hanna, besok pulang ke rumah kan? Bapak dan ibu nanyain kamu terus."
"Entahlah, Ndah. Kalau misalnya aku belum bisa pulang ke rumahmu, nanti sore aku mampir ke sana deh."
Kami terpisahkan oleh pekerjaan yang sudah menanti untuk disentuh. Deru mesin terus terdengar tanpa pernah berhenti selama 24 jam. Semakin malam semua orang menguap mulai terdengar bergantian. Padatnya pekerjaan malam ini membuat tidak ada seorangpun mengeluarkan suara atau banyolan, bahkan tidak ada yang sempat memasang musik yang biasanya menemani malam.
"Aduh!" Suara teriakan bergema membuat hampir semua orang menoleh ke arah sumber suara, tak terkecuali aku. Rupanya Indah kurang hati-hati sehingga jarumnya patah.
"Indah, kamu baik-baik saja?" aku bertanya, hanya dijawabnya dengan acungan jempol. Gadis itu tampak jongkok di kolong mesinnya untuk mencari patahan jarum. Perusahaan sebesar ini memang punya aturan bagi setiap operator yang hendak meminta jarum baru harus menyertakan alasan dan barang bukti. Seluruh patahan jarum harus ditemukan dan disusun utuh, baru akan diberikan jarum yang baru.
__ADS_1
Malam ini sudah tiga kali Indah mematahkan jarum, membuatku bertanya kenapa malam Indah nampak murung dan seperti tengah menanggung beban. Besok pagi saja akan aku tanyakan padanya.
Di tengah suasana yang sangat serius, semua terkejut sekaligus bahagia ketika bel panjang tanda istirahat tiba berdering. Semua pekerja segera meninggalkan ruangan itu sembari bercanda tawa.
"Mbak, ini makanan dari ibu buat kamu. Katanya takut kamu jajan sembarangan." Indah mengangsurkan padaku sebuah kotak makan berwarna kuning.
"Wah, terima kasih lo, Ndah. Tolong sampaikan pada ibumu ya, rasa terima kasihku. Repot-repot mengirimkanku makanan."
"Iya, Mbak. Nanti aku sampaikan ke ibu."
Aku dan Indah duduk di jalan bersama para pekerja lain seperti biasanya. Tiba-tiba saja Ridwan ikut duduk bersama kami dengan beberapa teman lainnya. Dia memilih duduk di sampingku yang kebetulan longgar. Ridwan duduk di antara aku dan Indah.
"Han, itu makanan mau kamu habisin semua?"
"Iya, kenapa?"
"Enggak apa-apa, aku seneng yang berisi," ujarnya sembari mengedipkan matanya.
"Apaan sih, Mas. Sudah aku mau fokus makan jangan diganggu mulu." Aku berusaha tidak menggubris setiap ucapannya. Aku tidak mau terlarut dalam mulut manisnya. Gagal mencandaiku. Ridwan kini menggoda Indah.
"Gangguin Mbak Hanna saja. Aku mau makan enak. Ini lele bumbu rujak buatan ibuku."
"Kayanya enak. Aku boleh nyicip enggak?"
"Ogah! Udah sana!" Ridwan kebetulan juga dipanggil oleh teman-temannya, pada akhirnya meninggalkan aku dan Indah. Makan sudah selesai, saatnya meluruskan punggung dan mengistirahatkan mata ini sejenak dengan tidur.
Baru saja aku terlelap, terdengar suara tangisan yang menyayat hati. Takut aku jika membuka mata ternyata yang menangis adalah si kunti ganjen atau malah justru Gayatri. Dia menangis dan duduk di kursi panjang yang terletak di dekat pintu bangunan ini. Ingin aku teriak minta tolong tapi urung aku lakukan. Lebih baik aku pura-pura tidak melihat dan mendengar saja. Mataku kembali aku pejamkan rapat-rapat berharap dia berhenti menangis dan pergi. Namun, keinginanku itu tidak pernah terjadi. Wanita itu semakin keras menangis dan terus berteriak meminta tolong. Aku menutup kedua telingaku agar tidak mendengarnya. Cukup lama aku ada dalam ketakutan, untung saja bel panjang sudah berdering.
Suara riuh para pekerja yang terbangun membuatku bangun. Tapi kenapa saat aku buka mata semuanya terlihat sepi. Apa bisa secepat itu teman-temanku ke ruang produksi. Aku bergegas menyusul ke ruang produksi. Benar saja mereka sudah ada di sini dengan pekerjaan mereka. Aku bergegas menuju meja kerjaku. Kenapa di tempatku ada seorang wanita yang duduk di sana sembari mengerjakan tugas-tugas yang harusnya aku lakukan.
Gadis itu terlihat begitu cantik, mungkin bisa dibilang dia adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat. Bulu matanya yang panjang dan lentik tanpa perlu maskara. Hidungnya yang mancung serta senyumnya merekah menambah kesempurnaan kecantikannya.
__ADS_1
"Permisi, Mbak. Mohon maaf ini tempat kerja saya." Aku berusaha menjelaskan pada wanita cantik itu tapi dia sama sekali tidak mengacuhkanku.
"Gayatri! Kamu mau pesan apa buat makan istirahat?" Mataku menengok ke sumber suara. Seorang gadis tengah menjahit. Kenapa dia duduk di tempat Indah, lalu kemana sebenarnya teman-temanku yang lain karena setelah aku perhatikan baik-baik, semua orang yang ada di sini adalah wajah-wajah asing.
Sekian lama bingung dengan keadaan ini ditambah lagi tidak ada yang mengacuhkan keberadaanku di sini. Seorang pria tiba-tiba masuk dan menemui gadis cantik yang duduk di kursiku.
"Nanti kita jadi kan?" Gadis itu hanya mengangguk.
"Ya sudah, sayang. Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga. Tapi apa kamu yakin Melati tidak akan curiga? Dia sedang di rumah saudaranya. Dia terus membujukku untuk pindah kerja."
"Tenang saja, aku bilang padanya ada urusan dengan teman-teman. Dia selama ini sangat percaya padaku. Soal indekosmu memang lebih baik setelah gajian kamu pindah saja. Aku pamit dulu." Pria itu menengok kiri kanan seperti mengamati keadaan. Saat tidak ada yang memerhatikan, dia mengecup mesra kening gadis itu.
Selepas kepergian pria itu, ada senyum merekah di wajah cantiknya. Tangannya merogoh sesuatu dari kantung bajunya. Alangkah terkejutnya aku saat gadis itu mengeluarkan sebuah benda, benda yang baru kemarin aku lihat. Kotak kayu kecil dengan ukiran yang cantik. Gadis itu mengusap wajahnya dengan bedak itu sembari tersenyum.
"Mas, kamu akan menjadi milikku selamanya. Meski aku harus merebutmu dari Melati," desisnya perlahan.
Melati, Gayatri? Sebenarnya aku sekarang ada dimana? Semuanya tiba-tiba saja berputar dan aku mendengar suara-suara yang terus memanggilku.
"Mbak Hanna! Mbak, ayo bangun!" Mataku mengerjap agar bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sekelilingku. Aku masih ada di lobi bersama Indah dan teman-teman yang lain.
Ada wajah Indah yang terlihat kuatir juga Mbak Juni serta Ridwan. "Alhamdulillah, kamu bangun, Mbak."
"Memangnya aku kenapa?" tanyaku pada Indah.
Indah menjelaskan bahwa tadi saat semua sudah bangun, aku masih tidur. Namun, ketika Indah membangunkanku, aku diam saja bahkan napasku juga sempat berhenti. Denyut nadiku juga sempat lemah.
"Kami hampir mau menelepon ambulans, Han." Mbak Juni mengusap tanganku yang terasa dingin.
"Sebenarnya tadi Hanna bermimpi bertemu dengan Gayatri, dalam mimpiku, Mbak. Gadis itu mengenakan..." Aku menghela napas panjang, "Dia menggunakan bedak pelet untuk menggaet pria itu."
__ADS_1
...----------------...
...--bersambung--...