
Mendengar getirnya cerita hidup yang selama ini tersimpan rapat dibalik tawa dan canda Ridwan membuat hatiku terenyuh dan ikut larut dalam kesedihan.
"Kamu kuat ya, Wan." Aku mengusap lengannya dengan telapak tanganku.
Mata elangnya yang semua menatap jauh ke depan, berhias kilatan kemarahan dan kesedihan di saat yang sama. Manik mata yang terlihat berkaca tidak pernah dia tunjukkan. Pandai sekali rupanya dia menyembunyikan luka yang aku yakini sudah ada bertahun-tahun lamanya.
Mata elang itu kini beralih menatapku. "Maka itu, aku berjanji pada diriku bahwa sebejat-bejatnya aku, jangan sampai bermain dengan hati. Aku akan memperlakukan wanita yang aku cintai seperti seorang ratu dan bukan sebagai seorang babu. Aku akan menjaga kesetiaan pada wanita yang nantinya akan menjadi pendampingku."
Aku tersipu malu mendapat ucapan yang terdengar tegas dan tulus dari hatinya. Walau aku tahu belum tentu aku menjadi pendampingnya kelak, tetap saja rona merah muda menghiasi pipiku.
"Han, kapan saja kamu siap, aku tetap menunggu jawabanmu."
"A-aku masih belum bisa menentukan," tukasku dengan gemetar. Andaikata aku tidak pernah melihat mata indah terlihat binar cinta, andai saja Indah tidak pernah memintaku berjanji untuk melepaskan pria yang sama-sama kami cintai, sudah dari awal aku menerima pernyataan pria yang baik dan masuk kriteria pria idaman wanita.
Ridwan memang paket komplit. Secara fisik dia bisa dikatakan sempurna dengan tubuh jangkung serta wajah yang rupawan, ditambah lagi lesung pipit yang menambah manis saat tertawa. Sejauh ini dia pun berkepribadian baik, tidak segan membantu teman-temannya.
"Kenapa kamu justru melamun. Pasti kamu terpesona ya denganku?"
Ya, aku memang terpesona dengan makhluk seperti Ridwan. Ridwan ditakdirkan untuk menjagaku karena dia selalu hadir di saat yang tepat. Seperti tragedi bubur yang jatuh kemarin, dia tiba-tiba saja datang saat aku butuh pelukan. Di pabrik pun saat aku ketakutan pada hantu yang menampakkan diri di gedung spinning, dia pun ada.
"Nah kan, melamunin aku kan?" pertanyaan dan tawanya membuatku terkesiap.
"Duh, ini orang kenapa percaya diri sekali sih? Aku melamun bukan berarti terpesona, tapi sedang memikirkan kamu."
"Yakin, kamu tidak memikirkanku?"
"Yakin seyakin-yakinnya."
"Yah, kayanya perjuanganku mendapatkan bidadari surgaku masih butuh perjuangan panjang nih." Ridwan berucap sembari menepuk dahinya. Ingin rasanya berkata rasa bahwa perjuangan mendapatkan hati ini berhasil tapi keadaan memaksa aku diam saja. Tidak mungkin aku sakiti hati seorang gadis baik Indah.
"Sudah, ayo kita habiskan makanannya kemudian pulang."
__ADS_1
"Siap Bu Bos!" Aku terkekeh melihat tingkah konyol pria yang berusia dua puluh lima tahun, hampir selisih empat tahun denganku.
Setelah menghabiskan bubur, pria itu memesan empat bungkus bubur ayam kemudian menyerahkan dua bungkus untukku. Lagi dan lagi dia menolak uang yang aku berikan padanya.
"Aku tidak enak karena harus berhutang padamu terus. Ini semua biar aku saja yang bayar."
"Tidak perlu, sayang. Ini itu hari ulang tahunku jadi aku ingin traktir seseorang yang paling istimewa di hati."
"Kamu hari ini ulang tahun? Selamat ya, semoga..."
Aku heran kenapa pria itu ketika aku coba tangannya, justru terbahak bahkan dia sampai memegangi perutnya.
"Ish, kenapa malah ngakak? Memangnya ada yang salah kalau aku mau mendoakanmu di hari pertambahan usiamu."
"Tidak, tidak ada yang salah dengan doamu. Justru yang konyol aku segitu inginnya mencari alasan bisa mentraktirmu sampai bohong mengenai hari lahirku yang sudah lewat dari dua minggu yang lalu." Aku memukul lengannya karena kesal terus-menerus mengerjaiku.
"Kamu tau, Han. Kamu adalah kado terindah untukku."
"Karena di hari ulang tahunku, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan gadis semanis dirimu. Tanpa perlu alasan yang ribet, aku bisa langsung jatuh cinta pada pandangan pertama kita."
Aku tersipu malu, rupanya di hari pertama saja ada yang terpikat padaku meski aku sadar cinta Ridwan dan aku tidak akan menyatu. "Kok bisa langsung jatuh cinta bagaimana? Kamu kan tidak tau kepribadian dan latar belakangku."
"Kan sudah aku bilang tadi. Tidak ada alasan bagiku untuk jatuh cinta padamu. Makin hari aku mulai yakin bahwa mungkin kamu adalah jodoh yang memang ditakdirkan untuk bersama. Setiap kali aku memikirkanmu selalu saja kamu tiba-tiba ada di depanku."
Ah, jika terlalu lama dekat dengannya lama-kelamaan aku ini bagai es krim di siang hari bolong, cepat leleh. "Ya sudah, Wan. Ayo kita pulang. Kasihan Wulan pasti menungguku pulang."
"Baik, Bu Bos. Hari ini kamu masuk sore kan, Han?"
"Iya."
"Aku jemput ya?"
__ADS_1
"I-iya. Eh jangan, aku berangkat sendiri saja."
Hanna, bodohh sekali. Hampir saja aku mengiyakan ajakan Ridwan tanpa memikirkan risikonya. Aku tidak mau menyakiti indah. Kemarin saja saat Ridwan membetulkan motorku, dia terlihat tidak suka. Bagaimana nanti bisa dia melihatku dan Ridwan bersama. Bisa-bisa Indah menabuhkan genderang perang.
"Iya apa jangan sih, Han? Kamu ini membingungkan saja."
"Jangan, aku naik motor Wulan saja. Lagi pula pas istirahat aku mau pulang sebentar, kalau kamu antar jemput malah ribet nanti."
"Kan bisa aku antar sekalian kita cari makan saat istirahat." Aku tetap menolak karena memang ada hati yang harus aku jaga perasaannya.
"Ya sudah. Kalau kamu berubah pikiran nanti langsung hubungi aku ya. Kapan lagi aku bisa menjadi sopir pribadi untuk bidadari surgaku."
"Gombal. Ayo cepat pulang. Kasihan Wulan."
Di sepanjang jalan dari penjual bubur ayam ke indekosku, aku banyak berbagi cerita dengan Ridwan. Di sanalah aku tau ke keadaan ibunya yang memprihatinkan.
Kakek dan neneknya bukanlah orang sekitar sini, mereka adalah tinggal di kota kelahiran ibunya di Semarang. Sementara itu, ibu Ridwan dulu merantau ke tanah Jawa ini dengan alasan ingin mandiri. Namun, untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak, empat tahun ibunya Ridwan merantau dan putus kontak dengan keluarganya, tanpa diduga mereka mendapat kabar bahwa putri mereka terlunta-lunta di jalanan dalam keadaan mengenaskan serta menggendong seorang anak berusia dua tahunan, yaitu Ridwan.
"Aku tidak tau seberapa sulitnya aku hidup dulu. Yang aku ingat adalah kakek nenekku membawa kami kembali ke kota Semarang, sementara ibu dikurung di dalam kamar karena sering hilang. Entah beberapa orang yang datang untuk menyembuhkan ibuku, tapi tiada hasil."
"Apa sudah dibawa ke psikolog?"
"Tidak, karena kakekku percaya, ketidakwarasan ibuku disebabkan oleh ilmu hitam yang dikirimkan oleh seseorang. Mereka juga yakin, pelakunya adalah pria yang telah mencampakkan ibu begitu saja."
"Dari mana kalian tau bahwa ada pria yang mencampakkan ibumu? Padahal kalian kan bertemu dengan ibumu saat kondisinya sudah tidak baik-baik saja."
"Aku lah bukti nyata ada pria bajingann yang mencampakan ibuku." Ridwan berucap dengan suara bergetar. "Setiap harinya ibuku selalu meracau, menyumpahi serapahi semua pria yang ditemuinya. Baginya semua pria itu bangsattt, hanya mau manisnya saja. Satu lagi yang menyebabkan kami pindah kemari adalah setiap kali ibuku hilang, dia selalu ditemukan di depan indekosmu, indekos berdarah."
...----------------...
...--bersambung--...
__ADS_1