Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 67: Cemburu Itu Ada


__ADS_3

Aku dan Wulan memilih meninggalkan tempat yang masih ramai orang berkerumun untuk menyaksikan proses evakuasi serpihan jenazah yang masih berceceran di sana.


"Lan, apa yang dimaksud orang-orang tadi adalah warung yang pernah kita datangi itu ya? Kan letaknya di seberang rel ini, agak maju sedikit."


Wulan mengangguk sebagai tanda bahwa dia pun sepemikiran denganku. "Bisa jadi, Han. Tapi jangan berburuk sangka terlebih dulu, siapa tau itu cuma kebetulan si pocong sedang kelaparan."


"Ngaco kamu, Lan. Jangan bercanda soal mereka lagi. Nanti tragedi semalam terulang lagi. Kita semalam didatangi Miss kunti, bagaimana kalau malam ini disamperin itu pocong yang di lesehan atau yang lebih parah itu korban tabrakan kereta tadi. Hiii... serem."


"Iya... Iya, juragan empang!"


Kembali gelak tawa mengirim perjalanan kami untuk pulang kembali ke indekos. Sesampai di indekos aku dan Wulan segera ke kamar atas untuk beristirahat.


"Lan, jangan lupa minum obatmu. Biar lukamu cepat kering ya," ingatku sembari menyodorkan beberapa bungkus obat ke Wulan. "Aku bukain sekalian ya?"


"Terima kasih ya, Han. Kamu sudah merawatku dengan baik."


"Biasa saja, tidak perlu berlebihan seperti itu. Orang itu wajib tolong-menolong. Hari ini mungkin kamu yang butuh bantuan, siapa tau besok aku yang butuh pertolongan."


Tinggal dua jam lagi sebelum aku harus bekerja, disela waktu itu aku manfaatkan waktu untuk mencuci baju-baju kotorku. Awalnya aku ingin membantu Wulan mencuci bajunya tapi dia menolak.


"Jangan, Han. Biar bajuku aku masukkan laundry yang ada di depan saja. Tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa ya. Kan sekalian aku mau nyuci baju."


Wulan tetap saja menolak meski aku menolak. Mungkin dia sungkan atas bantuan yang aku tawarkan. Ah, sudahlah. Sembari bersenandung aku melakukan tugas negara yaitu mencuci bajuku, sementara Wulan tampak terlelap setelah meminum obatnya. Saat semua sudah selesai, aku hendak mandi dan segera bersiap untuk keluar membeli makanan untuk Wulan. Baru setelah itu akan berangkat kerja. Dering ponselku begitu kencang terdengar sebagai pertanda bahwa ada yang meneleponku. Saat aku lihat layar ponselku, nama Indah terpampang di sana dan dia melakukan panggilan video.


"Assalamualaikum, Ndah," sapaku sembari melambaikan tangan pada gadis yang saat ini begitu manis dengan balutan kerudung berwarna pink yang menutup rambut panjangnya.


"Waalaikumsalam, Mbak. Mbak Hanna ada di mana sekarang?"


"Di indekos, Ndah. Ada apa? Apa kamu masih di rumahnya Melati?"


"Tebak deh, aku ada di mana dan sama siapa?"


Sedari tadi aku memang melihat gadis itu sepertinya ada di dalam mobil, jok mobil itu aku mengenalnya meski baru sekali aku menaikinya. "Memangnya kamu di mana dan sama siapa?" Aku mendengkus kasar karena aku tau pasti dengan siapa dia sekarang.


"Taraaa! Aku lagi sama kadal burik alias Mas Ridwan." Saat kamera ponsel itu diarahkan ke sang pengemudi, hatiku rasanya ada yang janggal. Ada sesak yang tidak bisa aku jelaskan.


"Hai, Han!" Sapaan dan lambaian Ridwan membuatku terkesiap lalu buru-buru membalas sapaan mereka.


"Hai, kalian lagi di mana?"


"Kita mau ke indekosnya Mbak Hanna. Ada oleh-oleh dari bapak sama ibu. Sekalian ngajak berangkat kerja bareng. Mbak Hanna ada di indekos kan?"


"Oohh, iya. Kalau sudah sampai kabarin ya. Aku mau keluar sebentar beli makanan buat Wulan."


"Mbak, tidak usah beli makanan. Ini dibawain ibu banyak kok. Ada nasi, sayur, dan banyak lagi. Ketimbang kebuang nantinya. Mbak, bukain pagar dong, kita sudah ada di depan nih."


Segera aku matikan sambungan telepon Indah dan bergegas turun untuk ke bawah. Namun, saat aku hendak keluar kamar, Wulan bertanya padaku apakah aku sudah mau berangkat kerja.


"Enggak, aku mau buka gerbang. Soalnya Indah dan Ridwan mau ke sini, sekalian mau berangkat bareng."

__ADS_1


Wanita itu menyuruhku berhenti sejenak. "Han, tes perasaanmu, kalau kamu cemburu sama mereka itu sudah pasti kamu punya hati sama Ridwan. Makanya jangan gantung anak orang, nanti dia sama Indah beneran nangis."


"Ngawur! Sudah aku mau turun dulu. Ikut nggak, soalnya kata mereka, ibunya Indah kirim makanan. Kita makan di kamarku saja. Di sini berantakan." Aku berucap kemudian tertawa kecil. Memang kamar ini seperti kapal pecah, bahkan piring bekas kami semalam yang belum sempat habis karena keburu kedatangan tamu tidak diundang pun masih teronggok begitu saja.


"Nanti aku menyusul deh, Han. Aku mau ganti baju dulu. Masa mau ketemu ayangmu dan calon madumu cuma pakai daster rombengan gini."


Ingin rasanya aku menjitak kepala Wulan yang seenaknya saja bicara. "Sudah, bisa emosi aku dekat-dekat kamu, Lan. Aku ke bawah, cepat nyusul dan ingat..."


Sengaja aku menghentikan ucapanku agar memancing rasa penasaran di benak Wulan yang baru saja masuk ke kamar mandi.


"Ingat apa?"


"Ingat tidak perlu disanggul rambutmu apalagi pasang bunga melati dan siger, kelamaan!" ujarku sembari tertawa karena berhasil membuat Wulan melempar botol sampo ke arahku.


"Kabur, ah. Ada monster mengamuk!" Aku lari terbirit-birit meninggalkan wanita yang tengah mengomel itu. Aku bergegas turun dan segera membuka gerbang yang berkarat itu. Dari kaca mobil, aku bisa melihat Indah yang tersenyum saat mobil Ridwan masuk ke halaman. Ada gelanyar aneh yang menjalar di hati, saat melihat Indah duduk berdampingan dengan Ridwan di kursi depan.


"Mbak Hanna!" Gadis manis itu berteriak memanggilku saat turun dari mobil. Dia memamerkan deretan gigi kelincinya yang manis. Aku melangkahkan kaki untuk mendekati mereka setelah menutup gerbang. Gadis itu berlari menyongsongku kemudian mendekapku erat.


"Indah kangen sekali sama Mbak Hanna!" Aku mengusap punggung gadis itu, sementara mataku tertuju pada Ridwan yang tengah membuka bagasi mobilnya. "Apa kabar, Mbak Hanna?"


"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri bagaimana selama liburan?"


"Baik dan pastinya menyenangkan," ujar Indah dengan ceria. Aku bisa melihat dengan jelas ketika mata Indah sesekali melirik pria yang tengah menurunkan beberapa kantong plastik. Ada rasa tidak suka saat Indah melakukannya.


"Ya sudah, kita masuk saja. Ke kamarku saja ya, soalnya kalau ke kamarnya Wulan masih berantakan."


Kami berjalan beriringan memasuki kamarku. Untunglah kamar ini sempat aku bersihkan saat pulang dari luar tadi.


"Selama ini Indah cuma dengar, memang sih kamar ini jauh berbeda dari bayanganku. Tapi tetap saja aku merasakan ketakutan. Kita makan di teras saja, Mbak."


"Memangnya apa yang ada dalam bayanganmu, Ndah, tentang kamar ini?"


"Aku pikir, kamarnya pengap, kotor, berdebu, dan dindingnya kusam penuh jaring laba-laba. Pokoknya terbengkalai, Mbak. Lah ini kamarmu malah kelihatan baru, Mbak."


"Ya, begitulah. Awalnya saat Wulan dan Intan bilang kamar ini berhantu aku agak tidak percaya. Namun, saat malam pertama aku sudah diteror baru aku percaya kamar ini benar-benar menyimpan misteri besar."


Perbincanganku dengan Indah semakin seru saat Ridwan yang tadi sibuk menelepon orang, ikut bergabung dengan kami. Meski sesekali aku harus membuang napas kasar saat Indah terus saja menatap pria humoris itu.


"Assalamualaikum!" Suara Wulan membuat kami menoleh.


"Waalaikumsalam!" sahut kami bertiga bersamaan. Wanita itu tampak sudah menukar pakaiannya dengan celana panjang juga baju longgar serta kerudung yang menutupi rambutnya.


"Boleh gabung, tidak?"


"Halah, kayak sama siapa saja, Lan. Sini-sini."


Indah terus menatap Wulan dari atas sampai bawah tanpa berkedip. "Mbak Wulan habis kecelakaan ya? Kenapa penuh luka seperti ini?"


"A-anu, ini..." Wulan tampak kebingungan menjelaskan.


"Wulan lagi iseng jadinya main perban-perbanan." Aku terkekeh sembari memberi kode pada indah dengan menyenggol tangannya. Berharap Indah mengerti kode yang aku berikan agar tidak membahas permasalahan Wulan. Namun, dasar Indah tidak peka, dia masih saja bertanya terpaksa harus aku alihkan pembicaraan ini. Aku tidak mau Wulan yang masih dalam tahap penyembuhan, terbebani pikirannya saat harus menceritakan ulang kejadian yang bisa saja merenggut nyawanya.

__ADS_1


"Kamu ini ngeyel bener sih, Ndah. Kan tadi aku sudah bilang sama kamu, walau Wulan itu baru iseng."


"Tapi, Mbak..."


"Sudah, ayo kita makan saja. Mumpung masih ada waktu."


Aku segera mengambil piring untuk alas makan. Rupanya ibunya Indah membawa makanan lebih banyak dari perkiraanku. Selain ada nasi, rendang, sambal goreng hati dengan kentang, beberapa sayur lainnya, dan juga beberapa jajanan khas orang punya hajat seperti jadah, wajik, dan jenang dodol.


"Mas, kamu mau makan pakai apa? Biar Indah ambilkan." Aku yang tengah mengambilkan nasi untuk Wulan sontak melirik gadis itu.


"Kalau cemburu bilang, bosku!" bisik Wulan sembari terkekeh.


"Cemburu itu jajanan apa?" Mataku melotot ke arah wanita yang menutup mulutnya untuk menahan tawanya itu. Aku menyodorkan piring yang berisi hanya nasi kepadanya itu dengan sedikit kasar. "Karena kamu menggodaku terus, kamu hanya boleh makan nasi," bisikku lagi.


"Mana piringmu, Mas. Biar Indah ambilkan." Aku dan Wulan kembali menyaksikan dua orang itu.


"Tidak usah, Ndah. Aku ambil sendiri saja."


Indah nampak terdiam kemudian mundur untuk memberi jalan pada Ridwan untuk mengambil makanannya sendiri.


"Harusnya kamu, Han, yang gercep mengambilkan makan untuknya. Tidak mungkin ayangmu akan menolaknya." Aku melayangkan sebuah cubitan kecil ke paha Wulan hingga dia sempat mengaduh kesakitan.


Suasana makan kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya. Terkadang tawa dan canda menghiasi acara makan bersama kami.


"Lan, ini sisa makanan aku taruh di sini atau di kamar atas?"


"Kamu ini kenapa pakai tanya. Ya kali kalau aku lapar mesti turun dulu terus ketemu sama Miss kunti yang semalam dan hantu kepala buntung. Bisa mati berdiri aku." Aku hanya tertawa kecil mendengar omelannya itu.


Aku dibantu Indah ke atas untuk meletakkan sisa makanan ke kamarnya Wulan. Aku menyisihkan sedikit agar bisa aku bawa sebagai bekal nanti saat istirahat.


"Lan, aku dan Indah berangkat kerja dulu ya. Kamu segera istirahat dan minum obatnya. Ingat waktu liburanmu tinggal besok lo."


Setelah berpamitan dengan Wulan, aku, Indah dan Ridwan berangkat kerja menggunakan mobil Ridwan. Ketika Indah tengah mengenakan sepatu, Ridwan memintaku untuk duduk di depan agar bisa menemaninya. Namun, saat aku hendak membuka pintu depan, Indah tiba-tiba menyentuh bahuku.


"Biar Indah buka sendiri, Mbak. Mbak Hanna, maafin Indah ya tidak bisa menemani duduk di belakang, soalnya kalau duduk di belakang suka mabuk perjalanan."


Tanpa menunggu jawabanku, gadis itu langsung membuka pintu dan duduk di samping Ridwan yang telah memasang sabuk pengaman. Aku bisa melihat Ridwan yang mengernyitkan dahinya sebagai tanda tidak suka dan terkejut.


"I-iya, lagian aku harus membukakan pintu gerbang." aku memilih segera berbalik badan dan berjalan menjauh mendekati gerbang. Aku tidak ingin Indah melihat air mataku yang terjatuh.


Di dalam mobil, Indah menceritakan banyak pengalamannya selama di hajatan saudaranya. Dia juga menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Salah satu momen saat dia tengah berada di kamar rias bersama mempelai perempuan yang tengah dirias.


"Cantik kan, Mbak? Dia ini namanya Matahari, wajahnya bisa dikatakan mirip sekali dengan Mbak Melati."


"Memangnya ini anak umurnya berapa sih, Ndah? Kelihatannya masih belia banget."


Indah tampak tersenyum kecil. "Dia ini lebih mudah setahun dariku, Mbak. Cuma lulus SMA bareng sama aku. Di daerah sana sudah biasa seorang gadis baru lulus SMA langsung dinikahkan."


Sembari mendengar cerita Indah tentang kebiasaan warga di kampung kerabatnya itu. Aku terus memperhatikan foto yang ada di ponsel Indah yang kini ada dalam genggamanku. Aku begitu tertarik pada sosok yang samar dan terlihat di pantulan cermin itu. Aku mencoba memperbesar layar ponsel agar bisa lebih jelas melihat siapa sosok itu. Hampir saja ponsel ini terlepas dari genggamanku karena saat aku melihat dengan jelas ada sosok Melati dengan baju penarinya tengah menatap sang mempelai wanita, adik kandung Melati. Hanya saja wajahnya tidak rusak tapi cantik sama seperti dengan yang dikirim Indah padaku kemarin. Dia cantik dan terlihat bersahaja.


...----------------...

__ADS_1


...--bersambung--...


__ADS_2