
Perlahan aku membuka mataku, entah di mana aku sekarang. Ruang produksi yang tadinya terang benderang dan banyak sekali orang kini berubah menjadi gelap dan sunyi. Hawa dingin begitu terasa hingga menusuk kulit. Sebenarnya di mana aku sekarang? Apakah Gayatri membawaku ke dunianya?
Aku menelisik area sekitarku, sepertinya aku ada di hutan atau entah ada di mana ini. Yang pasti ada pohon di sekitar sini. Karena ada daun berguguran dan mengenai tubuhku.
Dalam gelap aku mencoba mencari jalan keluar ataupun setitik cahaya, di tempat yang sunyi ini bahkan sinar rembulan tidak mampu menembusnya. Soal ketakutan jangan ditanya lagi, seorang diri dalam tempat asing dan gelap seperti ini rasanya takut, panik, dan bingung menjadi satu.
Hati-hati aku berjalan, terkadang tanpa sengaja menginjak ranting yang kering hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras karena tempat ini sepertinya tidak ada kehidupan sama sekali, bahkan seekor nyamuk pun sepertinya enggan tinggal di sini. Sebenarnya tempat macam apa ini, begitu mencekam.
Semakin jauh kakiku melangkah tanpa arah, aku menatap jauh ke depan dengan perasaan lega karena akhirnya aku temukan setitik cahaya. Ah tidak hanya setitik tapi ada beberapa. Semoga saja itu perkampungan seperti perkiraanku.
Aku mempercepat laju langkahku dengan harapan bisa segera meminta pertolongan untuk kembali ke pabrik tempatku bekerja. Tidak aku pedulikan tingginya semak belukar yang menggores badanku demi sampai di sana.
Jalan tanah dan penuh semak sudah berganti dengan jalan yang berbatu. Aku pun semakin dekat dengan cahaya yang berjajar dengan rapi.
Mataku terbelalak saat aku menelisik perkampungan itu. Aku tau pasti ini bukan perkampungan biasa, ini adalah kampung tak kasat mata.
Di sinilah aku pernah tersesat dan bertemu dengan rombongan penari juga hantu yang kepalanya tertebas itu dan di ujung kampung ada rumah simbok, penjaga kampung ini. Ah, aku harus menemukan rumah simbok tapi ke arah mana aku harus mencarinya.
Dalam kebingunganku, aku memilih ke kanan karena aku percaya bahwa sebelah kanan adalah hal yang baik. Aku berjalan dengan hati-hati karena tidak ingin tersandung oleh batu-batu yang tajam itu. Bila aku perhatikan rumah-rumah di sini hanya berdinding anyaman bambu. Jarak satu rumah ke rumah yang lain cukup jauh dan selalu dibatasi oleh rumpun bambu. Hal yang sangat aneh jika biasanya rumpun bambu tertiup angin maka akan terdengar deritan yang cukup merdu tapi itu tidak berlaku di sini. Semuanya sunyi tidak ada suara apa pun.
Ketika langkahku semakin jauh berayun, aku masih saja tidak menemukan ujung jalan ini. Di pikiranku sempat terlintas, mungkinkah aku salah memilih jalan, apa seharusnya aku tadi ke kiri. Jika itu benar maka aku justru masuk ke kampung yang mencekam ini semakin jauh ke dalam. Ah, apa sebaiknya aku putar balik saja.
Saat aku hendak berputar balik, dari kejauhan aku dengar suara gamelan sayup-sayup terdengar. Aku tau pasti siapa mereka, karena sebelumnya pernah melihat betapa mengerikannya rombongan itu. Para pemain gamelan berwajah pucat serta sekumpulan penari yang kulitnya telah terkelupas sebagian.
Lebih baik aku bersembunyi saja, karena bukan tidak mungkin jika mereka melihatku bisa-bisa aku ditangkap dan dijadikan seperti mereka. Rombongan itu kian dekat, sementara aku masih kebingungan harus bersembunyi di mana. Ah, untung aku melihat semak belukar yang cukup tinggi. Mungkin rimbunnya semak bisa aku gunakan untuk bersembunyi.
Mataku mengintip rombongan itu dengan seksama. Para penari itu tetap menari meski darah terus mengucur di wajahnya. Sementara para pria yang matanya memutih terus saja menabuh gamelan tanpa henti, bukan dengan alat pemukul tapi dengan telapak tangannya hingga darah pun mengucur tidak kalah derasnya.
Aku membekap mulutku saat rombongan itu berhenti di depanku, aku mundur selangkah agar tidak terlalu dekat dengan mereka. Selain karena takut bau busuk yang menguar itu, rasanya mengaduk perutku hingga ingin menumpahkan seluruh isinya.
__ADS_1
Mataku terus tertuju pada seorang wanita yang tertunduk lemah di antara para penari itu. "Tolong, aku sudah tidak sanggup lagi. Biarkan aku pulang." Gadis itu bersujud dan mencium kaki penari yang berpenampilan paling mencuri perhatian. Ada mahkota emas di atas kepalanya, wajahnya rusak tapi tidak mengucurkan darah.
"Tolong, bebaskan saya, Nyi. Saya mau pulang ke rumah."
Suara itu memang terdengar pelan dan menyayat betul tapi aku merasa tidak asing dengan pemilik suara lembut itu. Mataku memicing dengan harapan bisa melihat lebih jelas wanita yang tengah memohon-mohon itu. Mataku membulat saat aku tau siapa dia. Intan, kenapa dia juga ada di sini dan terlihat memelas. Apa penari yang mengenakan mahkota itu adalah pemilik bedak pelet itu? Lalu apa itu artinya, aku terjebak di dunia mereka lagi?
"Pulang? Tidak akan bisa kamu pulang kembali ke duniamu. Kamu sudah menjadi budakku saat pertama kali serbuk itu mengenai kulitmu. Aku sudah memberikan yang kamu mau, jadi sekarang giliranmu membalas kebaikanku!" Ucapan penari bermahkota itu begitu menggelegar disusul dengan tawanya yang begitu mengerikan seolah ingin meneror seluruh telinga yang mendengarnya. Aku melihat beberapa pria datang mendekati Intan lalu mencambuk kaki jenjang Intan. Suara cambukan itu beriringan dengan suara teriakan kesakitan dari wanita itu.
Ingin rasanya aku berlari keluar dari tempat persembunyianku ini dan menolong Intan yang disiksa tanpa ampun. Namun, nyaliku tidak sebesar itu. Aku takut jika aku keluar malah mereka pun menyiksa dan menjadikanku sebagai budak mereka. Aku mengurungkan niatku untuk membantu Intan, meski ada rasa bersalah karena diam saja dan tidak berusaha menolongnya.
Aku terus mengamati Intan yang dipaksa untuk menari tanpa henti. Satu per satu wajah para penari aku amati dengan bantuan cahaya obor yang dibawa oleh beberapa pria, obor yang digunakan juga bukan terbuat dari bambu melainkan tangan mereka yang entah sengaja dibakar atau memang mengeluarkan api. Satu wajah penari itu bisa aku pastikan adalah Melati. Aku juga menelisik wajah-wajah pria penabuh gamelan. Dua di antara mereka adalah pria yang merudal paksa Gayatri. Satu adalah pria yang mati karena tertimbun oleh gulungan kain, yang kedua adalah Priyambodo, pria yang menyelamatkan Gayatri waktu itu. Di mana pria bertompel yang merupakan kekasih Melati itu, bukankah dia seharusnya ada di sini?
Saat aku tengah berpikir keras, aku mendengar suara teriakan Intan yang bergema. Kulit wajahnya yang sebagian melepuh tiba-tiba ditarik paksa oleh penari lain, wanita itu dikuliti separuh wajahnya. Entah tidak dapat aku bayangkan rasa sakitnya. Aku tidak tahan lagi melihatnya disiksa seperti itu. Aku memang marah padanya tapi melihatnya tidak berdaya seperti itu rasanya ikut sakit.
Tawa penari itu begitu menggelegar saat Intan berteriak kesakitan, seolah dia sedang menikmati rasa sakit yang mendera Intan. Karena begitu takut aku terus saja mundur kembali ke dalam hutan sampai tanpa sadar menginjak ranting kayu hingga menimbulkan suara yang cukup keras dan menarik perhatian rombongan itu.
"Hahaha... rupanya tamuku sudah datang!" Penari bermahkota itu nampak menyeringai, sementara matanya yang merah menyala menelisik sekitar seolah tengah mencari sesuatu. Itu pasti aku yang dicarinya.
Tidak, aku tidak boleh tertangkap oleh makhluk mengerikan itu sekarang. Aku tidak mau jadi budak penari mengerikan itu. Aku berlari tanpa tujuan semakin dalam masuk ke hutan yang gelap. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku jatuh terpeleset, satu hal yang ada di pikiranku saat ini adalah menjauh dari rombongan penari itu.
Cukup lama aku berlari, sepertinya sudah cukup jauh aku masuk ke hutan. Aku menemukan sebuah batu besar. Aku bersembunyi di balik batu itu. Aku memeluk lututku yang masih gemetar karena berlarian tanpa arah. Aku menumpahkan air mataku sepuasnya. Air mata ketakutan dan kecemasan. Bagaimana aku bisa keluar dari tempat asing ini? Wajah Bapak yang setengah sakit terus saja terbayang di pelupuk mata. Bagaimana perasaannya jika tidak bisa bertemu denganku putri bungsunya.
Tiba-tiba saja indera pendengaranku menangkap suara langkah kaki mendekat. Aku bersiap akan lari karena aku takut bahwa itu adalah salah satu rombongan penari itu.
"Nduk, mau ke mana?" Suara itu sangat serak namun terdengar menentramkan. Perlahan aku menoleh. Hatiku bisa dibilang cukup lega karena rupanya sosok yang di depanku adalah simbok, si penjaga kampung gaib ini.
Aku memeluk tubuh renta itu. "Mbok, mereka ada di sana! Tolong antar aku pulang, Mbok. Aku takut tinggal di sini. Ini bukan duniaku!" Aku menangis tersedu di bahu wanita itu.
"Mereka? Siapa yang kamu maksud, Nduk?"
__ADS_1
"Para penari yang mengerikan itu, Mbok."
"Yang wajahnya terkelupas sebagian, maksudmu?"
"I-iya, Mbok. Aku takut sekali. Hanna mohon, Mbok, antar Hanna pulang ke rumah."
Tiba-tiba saja asap membumbung tinggi menyelimuti tubuh simbok, aku memilih mundur untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya. Tubuh simbok yang kurus kini telah berubah menjadi sosok wanita cantik dan bermahkota.
"Apakah seperti ini yang kamu lihat, Hanna?"
Di-dia bukanlah simbok, melainkan sang penari yang begitu mengerikan itu. Bibirnya yang lebar serta rahang yang hampir terlepas dia pamerkan.
"Arrgghh!" Aku ingin berlari tapi kaki ini rasanya berat sekali seperti tertempel di tanah tempat aku berpijak sekarang. Kukunya yang panjang dan hitam membelai wajahku.
"Kamu cantik tapi karena kamu sudah ada di sini, kamu harus tau peraturan mutlak di sini. Siapa pun tidak boleh menandingi kecantikanku. Maka wajahmu harus aku hancurkan terlebih dahulu sebelum kamu tinggal di sini!"
Kuku yang hitam dan panjang itu mulai menancap di bagian keningku. Rasanya sakit sekali serta panas bagai bara api yang ditempelkan ke kulit. Aku hanya bisa mengeluarkan air mataku karena mulutku pun telah dibekap oleh selendang hijau yang tidak kalah busuk dari tuannya.
Untung di saat genting seperti ini aku masih ingat harus meminta pertolongan pada-Nya. Di antara napas yang mulai tidak beraturan, aku melantunkan doa meski hanya di dalam hati agar semua ini segera berakhir sembari aku memejamkan mata.
Perlahan mulai aku dengar suara orang-orang menyebut namaku. Entah suara siapa itu yang saling bersahutan, ramai sekali. Perlahan aku beranikan membuka mata, diri ini hanya bisa berharap bahwa nanti yang ada di hadapanku bukanlah sesuatu yang mengerikan lagi.
Mata ini mengerjap karena pandanganku sempat kabur mungkin karena terlalu lama terpejam. Hutan yang tadinya gelap kini sudah menghilang. Aku kini sudah ada di ruangan yang sangat terang tapi saat aku pandang sekitarku, sepertinya aku tidak berada di ruangan produksi. Aku mengusap mataku untuk memastikan di mana aku sekarang, Aku ada di gedung spinning. Gedung yang terlarang untuk dimasuki tapi kenapa aku ada di sini. Belum juga aku dapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku. Sesosok pria tengah berjalan naik ke lantai atas gedung ini.
"Mas, ayo, kita keluar dari sini. Tempat ini sangat seram." Aku mencoba mengajaknya berbicara tapi pandangan laki-laki itu kosong. Setelah aku amati baik-baik, pria itu adalah Priyambodo, pria yang pernah menyelamatkan Gayatri. Aku terus mengejarnya hingga akhirnya dia berlari kencang dan menabrakkan dirinya ke jendela. Dari jendela aku bisa melihat dengan jelas, pria itu terkapar dan bersimbah darah. Tidak lama datang Gayatri yang menangis histeris.
"Bangun, Mas! Katanya kamu akan bantu aku melawan penari itu!" Air mata Gayatri terus saja berurai sampai membasahi jasad pria itu.
Tubuh yang telah lemah itu berusaha diguncangkannya agar terbangun tapi usahanya sia-sia. Di tengah tangisan Gayatri, Melati yang telah berubah menjadi penari mendekatinya. "Tidak ada gunanya menangisi pria itu. Sekarang giliranmu, Gayatri!"
__ADS_1
...----------------...
...--bersambung--...