
Mataku membulat saat memastikan siapa sosok itu. Tanganku gemetar bahkan ponsel yang ada di tanganku hampir terlepas.
"Mbak Hanna, kenapa tiba-tiba pucat sekali?"
"I-ini, coba kamu perhatikan sosok yang di cermin itu!" ujarku sembari mengangsurkan ponselnya ke tangan Indah.
Indah yang penasaran segera menatap lekat foto yang diambilnya sendiri itu. Benar saja, tepat di dekatnya ada seorang wanita. "Astaga, i-ini kalau aku perhatikan kenapa mirip sekali dengan Mbak Melati ya?" Gadis itu menatapku penuh tanya.
"Itu paling mau melihat sepupumu yang menikah, dia kan kakaknya."
"Mungkin, Mas. Apalagi gaun pengantin yang dikenakan oleh sepupuku adalah gaun yang disiapkan oleh Mbak Melati untuk hari pernikahan mereka, tapi belum sempat semua itu terwujud, dia sudah berpulang."
"Ya sudah, doakan saja sepupumu agar tenang di alam sana."
Aku bisa melihat dengan jelas, mata indah yang memancarkan kekaguman pada pria yang tengah sibuk mengemudi itu. Ada gelanyar yang sama seperti saat melihat mereka tadi untuk pertama kalinya. Ah, lebih baik aku tepis rasa yang belum jelas ini.
Pikiranku tertuju kembali kepada sosok Melati yang muncul di sana. Bagaimana dia bisa tenang, sementara dia dipenuhi dendam dan telah menjadi budak sang penari untuk selamanya. Padahal dia hanyalah korban pengkhianatan seseorang. Jika dari cerita-cerita yang bergulir, Melati adalah gadis yang sangat baik saat hidupnya. Tapi di akhir napasnya, dia mengucapkan sumpah yang penuh dendam.
"Mbak Hanna, sudah sampai! Kamu mau tetap di mobil atau mau kerja?" Sentuhan tangan Indah membuatku tersentak.
"Eh, apa?" Aku cukup kaget kenapa tiba-tiba gadis itu sudah berdiri di sampingku dan pintu mobil sudah terbuka lebar.
"Mbak Hanna, ayo kita turun, sudah sampai ini. Mbak Hanna melamun ya?"
Aku hanya melemparkan senyum tipis padanya, kemudian segera turun dari mobil Ridwan. Aku menutup perlahan dan menunggu Ridwan yang masih ada di dalam entah mengambil apa. Sementara itu aku melihat ke sekeliling, rupanya ini bukan parkiran yang ada di depan gedung produksi. Namun, parkiran yang di depan kantor HRD.
"Maaf ya, Han. Kita parkir di sini ya. Soalnya parkir mobil hanya diijinkan di daerah sini. Jadi kita harus olahraga siang ini."
Lagi dan lagi, Ridwan seperti bisa membaca apa yang tengah aku pikirkan. "Iya, tidak apa-apa. Lagi pula jalan kaki cukup menyehatkan." Aku berucap sembari mengajak Indah berjalan mendahului Ridwan.
"Yang! Tunggu!" Teriakan Ridwan membuatku spontan menoleh padanya. Aku melirik wajah Indah yang bersemu merah dan juga mengembangkan senyumannya. Apa selama di sana Ridwan pun menebarkan benih cinta di hati gadis itu atau jangan-jangan dia pun menyatakan cinta sama seperti denganku. Melihat itu, aku lebih baik berbalik badan dan melangkahkan kaki.
"Mas Ridwan panggil aku dengan sebutan yang. Terima kasih, Tuhan, begitu cepat Engkau membuka hatinya untukku." Gumaman Indah bisa aku dengar dengan jelas, hatiku rasanya sakit. Tapi aku bisa apa kalau nyatanya Indah yang pada akhirnya memenangkan hati Ridwan, bukan aku. Dengan cepat aku langkahkan kaki serta menyeka air mata yang sempat lirih ini.
"Yang, aku bilang tungguin. Kenapa malah jalan duluan, mana cepat banget!"
Langkahku terhenti karena tanganku ditarik oleh seseorang. Mataku membulat karena nyatanya Ridwan yang melakukannya. "Kenapa kamu ninggalin aku? Kan aku mau jalan bareng sama kamu, Yang."
Ada rasa senang, saat mengetahui bahwa yang dimaksud oleh Ridwan adalah aku. Namun, aku merasa tidak enak hati karena telah mematahkan hati gadis itu.
"Yang, yeng, kepalamu peyang! Sembarangan kalau manggil! Aku punya nama."
__ADS_1
"Ya Tuhan! Susahnya mendapatkan hati bidadari ini." Aku hampir saja tertawa melihat tingkah Ridwan yang berucap sembari memegang dada sebelah kiri. "Padahal jantung ini kalau didengar bunyinya bukan dag-dig-dug, tapi menyebut namamu."
"Preeett! Indah, ayo!"
Saat aku melihat gadis itu masuk, bisa aku lihat air matanya lolos dan dengan cepat mengusapnya.
"Ayo, Mbak!" Indah memasang senyum di wajahnya. Aku yakin dia pasti merasa sakit karena tingkah laku Ridwan.
Saat tiba di depan gedung masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum bel berdering dan memekakkan telinga. Setelah presensi di mesin daftar hadir pemindai sidik jari, aku dan Indah duduk di lobi. Sementara Ridwan memilih berkumpul dengan teman-temannya yang tengah bercanda ria di parkiran.
Aku bisa melihat ada raut kesedihan di wajah Indah yang dari tadi diam dan menekuni ponselnya. Aku pun bisa menebak, apa hal yang tengah mengganjal di hatinya. Ingin rasanya aku tanyakan padanya tentang perasaannya pada Ridwan. Tapi aku pun takut jika benar gadis itu menyukai Ridwan, maka perjanjian yang kami sepakati akan berlaku. Jujur, aku mulai terbiasa dengan kehadiran Ridwan yang selalu datang di saat aku membutuhkan seseorang.
"Mbak, apa Mbak Hanna ada hubungan sama Mas Ridwan?" tanya Indah memecah kebisuan kami.
"Hu-hubungan apa yang kamu maksud?" Indah menggigit bibirnya perlahan.
"Hu-hubungan yang lebih dari teman, seperti pacaran?"
Aku membuang napas dengan sedikit kasar. Entah bagaimana harus aku jelaskan pada gadis di hadapanku ini mengenai Ridwan yang pernah menyatakan perasaannya padaku, juga kedekatan kami selama ini.
"Mbak Hanna, kenapa diam saja? Apa artinya yang aku ucapkan benar?"
"A-aku dan Ridwan sejauh ini hanya sebatas teman..." Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, Indah sudah memotongnya dengan berondongan pertanyaan.
Sepertinya ini saat yang tepat untuk mengungkapkan kenyataannya. Apapun nanti reaksi Indah aku harus menerimanya, termasuk jika janji kami harus terlaksana dengan menjauhi Ridwan. Setidaknya aku juga tidak menggantung Ridwan. Meski membayangkan saja rasanya sulit. Bagaimanapun Ridwan sudah punya tempat istimewa di hatiku.
"Jadi gini, Ndah. Sudah beberapa hari lalu Ridwan menyatakan cintanya padaku, tapi aku masih belum menerimanya karena hatiku bimbang. Apalagi saat kamu bilang dia suka merayu anak baru sepertiku."
Ekspresi terkejut begitu kentara di wajah manisnya itu saat mendengar penuturanku. "Jadi Mbak menolak Mas Ridwan?"
Aku menggeleng, memang kenyataan aku tidak menolak tapi aku juga tidak menerimanya. Aku menggantungkan perasaannya.
"Pantas saja, kemarin dia cerita kalau hatinya tengah gundah karena wanita pujaannya tidak kunjung memberi kepastian, Mbak. Kenapa Mbak Hanna gantung hubungan kalian? Mbak ada hati kan ke Mas Ridwan?"
"A-aku bingung, Ndah. Boleh tidak aku nanya sesuatu ke kamu?"
Aku mengumpulkan keberanianku untuk bertanya tentang perasaan Indah pada Ridwan yang sebenarnya. Aku tidak ingin permasalahan ini berlarut-larut. Aku pun ingin kepastian tentang semua ini.
"Mbak, aku memang punya harapan yang besar ke Mas Ridwan tapi aku bisa apa kalau dia memilihmu sebagai tambatan hatinya. Aku tidak bisa melawan takdir bukan, Mbak."
"Lalu bagaimana mengenai janji yang pernah kita buat?"
__ADS_1
Gadis itu mengerutkan keningnya yang lebar. "Janji kita? Memangnya janji apa yang kita buat, Mbak?"
Benarkah dia lupa atau hanya pura-pura lupa, sementara yang punya usul janji itu adalah Indah sendiri. "Janji soal 'jika kita mencintai pria yang sama, maka kita harus melepaskannya dan tidak ada satu pun dari kita memilikinya'. Apa itu masih berlaku?"
Bukannya menjawab, Indah justru tertawa entah apa yang lucu. Apa dia sedang menertawakanku yang mengingat janji itu atau sebenarnya dia tengah menutupi luka yang dideranya.
"Bagaimana?"
"Mbak, lupakan soal janji itu. Aku sendiri lupa perihal janji itu. Sudah, ayo kita masuk. Sebentar lagi saatnya masuk!"
Aku mengikuti langkah gadis manis itu dan masuk ke dalam ruang produksi yang begitu ramai. Tak berapa lama, bel berdering dengan keras. Aku segera menghampiri meja kerjaku. Setelah berbincang sebentar dengan QC sebelumnya, dia segera berpamitan untuk pulang. Hatiku sedikit tenang saat bekerja karena Indah bisa menerima kalau aku dan Ridwan menjalin hubungan dan janji itu dibatalkan. Ingin rasanya segera aku mengungkapkan perasaanku pada Ridwan, tapi aku bingung bagaimana memulainya.
"Han, Hanna!" Panggilan itu membuatku terkejut.
"A-ada apa, Bu?" Rupanya Bu Ning sudah ada di hadapanku.
"Kamu kerja jangan kebanyakan melamun, mana pakai acara senyam-senyum sendiri pula. Ngeri tau, Han." Bu Ning terkekeh menggodaku. "Kamu pasti mikirin tentang cemeng atau malah yang jorok-jorok?"
"Apaan sih, Bu. Enggak." Wanita yang sering disebut singa pabrik itu tertawa melihat wajahku yang merah padam.
"Han, kamu tau tidak pas kemarin kamu pingsan. Dia yang panik dan kuatir sekali, sampai-sampai dia berani bentak aku yang tidak segera membawamu ke rumah sakit. Kalau saja bukan dalam keadaan genting, sudah aku pites hidungnya sekalian aku keluarkan surat rekomendasi pengecatannya. Dia juga ngomel, tidak berhenti meracau saat tidak ada yang mencegahmu berlari keluar saat dia tengah membersihkan meja agar bisa membaringkanmu. Pas kamu terjebak, dia juga marah-marah. Namun, Han, aku kagum sama bocah itu. Dari dulu dia memang baik dan humoris tapi bersikap sangat menjaga itu hanya padamu. Makanya, Han, kamu terima saja dia jadi pacarmu. Lumayan hitung-hitung punya bodyguard gratis."
Hatiku berbunga mendapati begitu besar kepedulian Ridwan padaku. Semoga saja keputusanku untuk menerimanya bukanlah keputusan yang salah, melainkan keputusan terbaik. Jodoh memang sudah ditentukan, tapi tidak ada salahnya untuk diusahakan.
"Ciyee, sepertinya usaha Ridwan untuk menabur benih kasih sayang sudah berhasil."
"Entahlah, Bu."
"Oh, iya. Aku menemuimu karena suatu hal." Bu Ning menyodorkan aku sebuah buku kecil.
"Ini apa, Bu?"
"Itu buku catatan Priyambodo. Aku baru menemukannya semalam. Isinya kumpulan puisi yang dibuatnya. Sebagian aku yakin untuk Gayatri."
"Lalu kenapa diberikan padaku, Bu? Saya kan sama sekali tidak mengenal mereka."
"Tapi entah mengapa semua ini ada hubungannya denganmu. Kamu melihat percobaan bunuh diri yang dilakukan Gayatri dan digagalkan oleh Priambodo. Kamu pula melihat kematian adik sepupuku itu. Seolah mereka meminta tolong padamu agar disingkapkan tabir kematian Priyambodo dan hilangnya Gayatri."
Aku menerima buku itu dengan tangan gemetar. Semoga saja di buku ini aku menemukan jawaban dari semua teror hantu yang mendatangiku.
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...