Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 47: Wulan Terkunci di Kamar 13


__ADS_3

Wulan dan aku segera bersiap untuk pergi mencari makan.


"Lan, terus kamarmu ini bagaimana?"


"Seperti lagu dangdut saja lah," jawabnya dengan santai sembari menyisir rambut sebahunya dengan jari.


"Lagu dangdut yang mana? Seperti mati lampu?"


"Piker keri. Sudah ayo gas berangkat!"


Wanita itu menarikku untuk segera keluar kamar dan segera menguncinya. Aku dan Wulan bergegas turun, sesekali melemparkan candaan. Kadang aku berpikir hati Wulan itu terbuat dari apa, mengapa dia bisa tertawa setelah cobaan yang terjadi. Andai itu aku, pasti akan menangis tujuh hari tujuh malam tidak kunjung selesai.


"Lan, kenapa kamu tidak kelihatan sedih sih? Kalau aku pasti sudah mewek."


"Halah, itu kamu saja yang cengeng, Han. Gini, Han. Mau aku nangis tujuh hari pun tidak akan bisa mengembalikan keadaan. Aku harus menerima kenyataan kalau suamiku sudah tidur dengan sahabatku. Aku cuma bisa berdoa semoga dia kembali, tapi jika tidak ya cari yang lain. Masih banyak laki-laki di dunia ini yang mau menerima kondisiku. Aku ini seorang ibu dua anak, prioritasku bukan lagi pasangan tapi kebahagiaan dua malaikat kecilku. Cinta ayahnya sudah direnggut oleh pelacuurr itu, aku tidak ingin mereka juga kehilangan cintaku hanya karena seorang pria."


Aku mengusap punggung wanita hebat yang tengah memegang kemudi dan membelah jalan menuju tempat para cacing mendapatkan pajak mereka.


"Han, mau makan di mana?"


"Terserah deh, yang penting enak dan murah. Maklum efek gajian masih lama."


"Makan tahu kupat ya. Deket pabrikku, enak dan murah plus dapatnya banyak."


Aku menyetujui usulnya karena aku sudah jatuh cinta dengan tahu kupat saat Indah pernah membelikan untukku. Tahu goreng yang baru matang, berpadu dengan irisan ketupat serta bakwan ditambah irisan kol dan kecambah dengan taburan kacang tanah goreng, tidak lupa mie kemudian diguyur kuah berbahan kecap dan bumbu-bumbu yang manis dan gurih. Pasti itu akan membuat perut ini panas.


Di warung yang sederhana tapi sangat ramai, motor Wulan berhenti. Aku dan Wulan harus berdesakan dengan pengunjung lainnya karena memang sudah tidak ada tempat lagi. Untung saja hanya sebentar setelah makanan datang, mereka sudah saatnya pergi.


"Huft, lega." Wulan bergeser agar aku tidak duduk di ujung kursi lagi.


Di tengah acara makan yang hening, tiba-tiba aku teringat Wulan yang semalam terkunci di kamarku dan suara tangisan itu.


"Lan, semalam itu bagaimana ceritanya kamu bisa terkunci di kamarku? Padahal selama ini saja kamu takut sampai tidak mau masuk ke kamarku."


"Kalau ingat semalam nih antara bingung, kesal atau lega. Bingungnya kenapa aku mau diajak sama kamu ke kamar, katamu mau ambil baju. Padahal itu jam dua belasan..."

__ADS_1


"Jam segitu kan aku lagi gelut sama kain, ngapain aku balik ke indekos?"


"Nah itu, aku juga tidak tau kenapa bisa lupa sama sekali!"


"Terus, bagaimana?"


Wulan pun menceritakan saat dia masuk ke kamarku, aku pamit ke kamar mandi sebentar untuk berganti pakaian. Begitu pintu kamar mandi tertutup, tiba-tiba saja angin kencang bertiup hingga membuat pintu kamarku tertutup. Wulan hendak membukanya tapi tidak bisa. Dia mencoba mengetuk pintu kamar mandi tapi dengan satu kali sentuhan pintu itu terbuka dan tidak ada siapa-siapa di sana.


"Lalu aku telepon kamu untuk meminta tolong. Aku juga berteriak-teriak minta tolong pada penghuni lain tapi tidak ada yang mendengar. Sampai pada akhirnya aku tidur karena lelah. Namun, setidaknya aku lega, Han. Jika aku ada di kamar semalam, pasti terjadi tragedi kamar tiga belas indekos berdarah kedua kalinya. Kamu ingat pisau di kamarku sudah kamu buang kan? Lalu dari mana Intan menyayat bantal juga kasur, apalagi kata Lina, dia berkata mau menghabisi aku. Apa jadinya kalau semalam aku tengah tertidur pulas. Sudah lewat pasti."


"Amit-amit jabang bayi. Masa Intan tega, bagaimana pun kalian kan pernah bersama, berbagi suka dan duka. Masa dia akan melakukan hal keji itu."


"Mungkin saja. Kamu tau kan, Han. Dia saja menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Adnan, termasuk bersekutu dengan iblis. Jika orang yang sudah seperti itu maka jalan pikirannya pun dikuasai oleh kegelapan."


"Astaghfirullah! Terus bagaimana kalau Intan datang lagi?"


"Aku dari tadi memikirkan caranya agar bisa terhindar dari tindakan Intan yang bisa jadi gelap mata karena kotak bedak sialann itu."


Setelah cukup lama diam, hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang beradu. Wulan perlahan menggebrak meja, membuatku terkejut dan nyaris tersedak.


"Aku punya cara agar Intan tidak menemukan kotak ini, juga tidak bisa berbuat neko-neko padaku."


"Bagaimana?"


"Aku tinggal di kamarmu saja." Aku terperangah mendengar ucapan Wulan.


"Tinggal di kamarku? Kamu serius, Lan? Kamarku kan ada hantunya yang serem, Lan. Yakin kamu berani?"


"Sepertinya tidak semenyeramkan itu, Han. Buktinya semalam, dia tidak menampakkan dirinya padaku. Malah aku merasa hantu yang ada di kamarmu mau melindungiku dari Intan."


"Terserah kamu deh, Lan. Yang penting kamu baik-baik saja. Terus aku tidur di mana kalau begitu?"


"Awas kalau kamu tidur di rumah Indah. Aku tidak mau temenan sama kamu."


Rasanya jika harus tidur di kamarku itu sangat berat. Beberapa hari di sana saja aku selalu diteror sampai harus melarikan diri ke rumah Indah. Namun, jika harus meninggalkan Wulan sendiri rasanya tidak tega.

__ADS_1


"Kamu temenin aku kan, Han?"


Aku melemparkan senyum ke wanita tangguh itu. "Iya, tapi aku masih takut kalau sendirian di kamar. Kalau kamu masuk malam, gimana? Kalau kamu pulang ke Sragen, aku sendirian dong."


"Masalah itu gampang. Aku tinggal minta supervisorku pindah jadwal sesuai sama jadwalmu. Nah kalau soal aku pas pulang ke Sragen, kamu ikut saja. Hitung-hitung latihan jadi ibu. Kayanya kan kamu sudah ada yang mepetin terus." Wulan terkekeh dengan ucapannya.


"Siapa yang mepetin aku?"


"Itu yang kemarin ketemu pas kita makan."


"Ridwan? Entahlah, Lan. Aku sekarang mulai bimbang kalau mau menerima dia."


"Kenapa? Aku lihat dia baik dan tulus sama kamu. Ya walau suka ngegombal sih."


Aku menceritakan pada Wulan segala keresahan dan kebimbanganku termasuk soal kemungkinan Indah juga menyukai pria jangkung itu. "Kalau benar Indah menaruh hati pada Ridwan, mending aku yang mundur, Lan. Aku tidak mau menyakiti hatinya."


"Cerita cintamu seperti film India saja, Han. Yang mengorbankan perasaannya dan pasangan demi menjaga perasaan sahabatmu. Han, sebenarnya dengan melakukan itu kamu menyakiti tiga hati sekaligus yaitu hatimu, hati orang yang mencintaimu, dan juga hati sahabatmu."


"Kok bisa menyakiti sahabatku, dia kan mendapatkan cintanya?"


"Tidak, dia tidak pernah dapat itu. Lagi pula jangan terlalu baik sama orang, nanti nasibmu kaya aku gimana? Aku sama Intan itu kurang apa coba, dia tidak punya duit bayar indekos aku yang bayar. Dia lagi bokek aku yang jamin makannya. Tetap saja dia ambil suamiku."


Ucapan Wulan memang ada benarnya tapi aku sudah terjerat hutang budi oleh keluarga Indah yang menampungku saat teror hantu itu terus saja mengikutiku.


Piringku dan Wulan sudah lama kosong, es teh yang kami pesan pun sudah tandas. Ini saatnya kami harus beranjak pergi.


"Lan, habis ini antar aku ke rumah Indah ya. Untuk berpamitan dengan keluarganya. Aku kan datang baik-baik jadi harus pamit baik-baik. Sekalian aku juga mau ambil barang-barangku yang ada di sana. Aku ke depan sebentar mau belikan tahu kupat buat Neneknya Indah." Wulan mengangguk, aku melirik dia kembali menekuni ponselnya.


"Mbak, pesan tahu kupatnya empat ya, dibungkus. Cabainya diutuhin saja." Wanita yang duduk di meja kasir itu segera memberi tau rekannya. "Sekalian saya bayar sama yang di meja itu."


Setelah membayar, aku kembali duduk di sebelah Wulan. Wanita itu tampak sibuk dengan ponselnya. Tidak berapa lama pesananku sudah diantar. Aku menyentuh Wulan agar kami segera beranjak pergi. Tepat saat aku keluar, kami berpapasan dengan seorang wanita yang menutupi sebagian wajahnya dengan selendang. Matanya tertunduk menatap tanah. Dari wajahnya tercium bau busuk yang sangat menyengat. Tanpa sengaja kami bersenggolan hingga membuatnya mendongak dan menatapku. Matanya yang tadi sendu berubah liar dan garang.


"Di mana bedakku?"


...----------------...

__ADS_1


...--bersambung--...


__ADS_2