Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 59: Diari


__ADS_3

Aku hanya mengangguk mendengar cerita-cerita dari wanita berkulit legam karena setiap hari harus bergelut dengan panasnya terik sang surya dan asap-asap kendaraan. "Di sini rawan kecelakaan, Mbak. Hati-hati ya. Saya mau ke tengah dulu mumpung lampunya merah."


Wanita itu kembali ke jalanan untuk menjajakan dagangannya. Dari pengendara satu ke yang lainnya, sesekali dia nampak menyeka keringatnya. Aku bisa melihat senyumannya ketika dagangannya ada yang membeli. Ketika lampu hijau menyala, wanita itu bergegas ke tepi jalan untuk sekadar beristirahat.


"Mbaknya apa masih bergetar?" tanyanya saat melihatku masih duduk di atas motor.


"Ini berapa, Bu?" tanyaku sembari mengacungkan botol air mineral.


"Itu gratis buat mbaknya. Tidak usah bayar. Saya kasihan sama kamu yang pucat dan gemetaran karena hampir saja jadi korban laka lantas."


"Tapi, Bu..."


"Sudah, Mbak. Saya ikhlas lahir batin. Niat saya membantu saja." Wanita itu tetap menolak meski aku memberikan uangnya.


"Kalau begitu, saya beli satu botol air lagi ya, Bu. Soalnya tenggorokan saya masih kering."


Aku bergegas pergi setelah membayar lebih minuman yang aku beli. Berbincang singkat dengan wanita itu membuatku tau bahwa di perempatan itu banyak terjadi kasus kecelakaan besar selain karena faktor gaib tapi juga jalanan yang menurun tajam membuat kendaraan mengalami rem blong.


Saat aku memasuki kamar, Wulan terlihat sudah kembali terlelap, mungkin efek obat yang menyebabkan dia kembali tertidur. Biarlah. Wulan juga butuh banyak waktu untuk istirahat. Sementara aku naik ke kamar Wulan untuk melanjutkan bersih-bersih kamarnya yang berantakan.


Mataku terus menatap tajam ke arah buku kecil yang tidak sengaja aku temukan di antara barang-barang yang berserakan. Aku tau benar ini adalah buku catatan harian. Entah siapa pemiliknya, mungkin Wulan atau juga Intan. Setelah melalui peperangan batin, aku putuskan untuk meletakkan kembali tanpa membacanya.


Dengan bersenandung kecil, aku membersihkan kamar itu. Beberapa penghuni kamar lain yang melewati kamar ini melongok dan menyapaku.


"Bersih-bersih, Han?"


"Iya, Mbak."


Beberapa ada yang langsung pergi. Namun, ada juga beberapa orang yang menanyakan sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Wulan bisa sampai kerasukan seperti itu. Aku hanya bisa menjawab, ya mungkin itu hanyalah Wulan sedang apes saja.


Aku melanjutkan pekerjaanku kembali. Mungkin karena terlalu bersemangat, tanpa sengaja aku menyenggol buku diari yang tadi aku letakkan sembarangan di atas lemari. Buku itu jatuh dan dengan keadaan yang terbuka. Semakin tergoda diri ini untuk membaca. Lagian hanya satu halaman. Setelah bernegosiasi dengan hatiku, tetap saja mataku tidak bisa tidak membaca isi dalam diari berwarna merah muda itu.


"Langit yang tadinya cerah tiba-tiba saja berubah dipenuhi awan hitam yang berarak. Gelap dan penuh duka. Langit seolah mengerti hatiku yang telah didera rasa pilu. Enam tahun aku menantimu, Mas, bukanlah waktu yang sebentar. Selama ini aku tidak pernah membuka hatiku untuk siapa pun karena janji setiaku padamu, cinta pertamaku. Namun, hari ini bagai tersambar petir di siang hari. Kamu datang ke kamarku tapi bukan untuk memeluk dan menuntaskan rindu padaku tapi kau datang untuk menemui istrimu sekaligus sahabatku. Rasa sakit ini bertambah parah saat kamu lupa bahwa kita pernah menghabiskan malam bersama. Lihat saja, Mas. Kamu akan bertekuk lutut di hadapanku, sama seperti kamu meminta mahkotaku untuk membuktikan cinta kita dulu."


Aku membekap mulutku agar tidak berteriak. Jadi benar, Intan memang terlebih dahulu mencintai Adnan. Intan juga pernah bilang Adnan adalah pria dari masa lalunya yang datang kembali untuk menyelesaikan akhir cinta mereka yang bahagia. Namun, dia lupa bahwa yang dilakukannya adalah salah. Seharusnya Intan tidak merusak pagar ayu rumah tangga orang lain demi mewujudkan rasa cintanya.

__ADS_1


Aku membuka lembaran demi lembaran, di sini aku tau bagaimana dengan mulut manis dan janji manis Adnan telah membutakan gadis yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas di Wonogiri untuk memberikan mahkotanya atas nama pembuktian cinta pada saat sebelum Adnan mengakhiri KKN di desa Intan.


Intan yang terlanjur terluka nekat menemui orang pintar agar bisa memisahkan Adnan dan Wulan agar Adnan kembali padanya. Setelah melakukan ritual, dia mendapatkan bedak pelet yang tidak sembarangan. Perlahan tapi pasti dia melihat kehancuran rumah tangga Wulan, dan Adnan kembali menemuinya.


Rasanya ingin membanting buku ini. Intan memang licik dan sangat jahat. Sebentar lagi pasti dia akan mendapatkan balasan yang setimpal. Sementara Adnan, dia pun tidak kalah brengsekknya. Tanpa bedak pelet pun, pria itu dengan mudah berselingkuh. Dasar buaya darat.


Aku meletakkan kembali buku diari ini, aku tidak sanggup menahan gemuruh di dada jika harus membaca lebih banyak untaian aksara yang indah sebenarnya tapi memuakkan.


Hatiku yang dipenuhi rasa dongkol akibat ulah Intan, membuatku berhenti membersihkan kamar ini sejenak. Kakiku lemas, aku tidak habis pikir kenapa ada orang bermuka dua sepertinya. Di depan Wulan, dia adalah wanita periang dan pendengar yang baik. Namun, kenyataannya dia pula yang menikam Wulan. Lebih baik sementara aku sembunyikan saja diari usang ini.


Ponselku berdering sebagai pertanda ada seseorang yang tengah menghubungi. Aku meraih ponselku. Oh, rupanya Indah yang memanggilku.


"Assalamualaikum," sapaku sembari melambaikan tangan ke arah kamera karena memang kami melakukan panggilan video.


"Waalaikumsalam, Mbak Hanna apa kabar?"


"Baik, kamu sendiri bagaimana?" Aku bisa melihat gadis itu tersenyum lebar.


"Baik, Mbak. Aku nanti tidak kerja, Mbak. Soalnya sepupuku ada yang mau nikah. Itu lo, Mbak. Adik bungsunya Mbak Melati."


"Nanti aku mau curi bunga pengantin, biar segera menyusul." Indah tampak terkekeh dengan ucapannya sendiri. Banyak orang percaya bila kita bisa mengambil bunga yang menghiasi sanggul pengantin, maka kita akan segera mengikuti jejak langkah si mempelai.


"Kamu memangnya sudah punya calonnya yang bakal melamar kamu?"


Indah nampak melihat sekelilingnya, entah kenapa. "Calonku masih otw, doakan aku Mbak. Semoga saja dia segera peka dan bilang cinta kepadaku."


Dasar bocah, ya semoga saja dia dipertemukan dengan jodoh yang tepat untuknya.


"Ya ampun, Mbak Hanna. Kenapa malah diam dan tidak mendoakanku? Ih jahat." Indah tampak cemberut dan aku tentu saja menertawakan tingkahnya itu.


"Katanya mau didoakan. Mbak kan lagi doakan kamu. Kamunya malah ngambek begitu. Ya sudah deh, aku tarik lagi doanya."


"Jangan, Mbak!" Aku tertawa lebar karena melihat wajahnya yang terlihat panik. "Mbak Hanna tebak deh, aku ke tempat sepupuku selain sama bapak dan ibu sama siapa lagi?"


"Sama nenek ya?"

__ADS_1


"Selain itu?" Aku mencoba berpikir keras tentang jawaban pertanyaan yang Indah ajukan. Namun, semua nama yang aku sebut semuanya salah.


"Indah perginya sama dia! Si kadal burik!" Mataku membulat antara terkejut dan tidak percaya, saat Indah mengarahkan kameranya pada sosok di balik kemudi.


"Hanna!" sapa pemilik senyum manis serta berlesung pipit itu. Ya, dia adalah Ridwan. Baru tadi pagi kami berjumpa tapi kenapa dia tidak bercerita akan mengantar Indah dan keluarganya ke tempat kerabatnya.


"Hai," jawabku dengan senyum yang aku paksakan. Aku sadar memang, aku bukanlah siapa-siapanya yang berhak tau semua kegiatannya. Setelah berbincang sebentar dengan keluarga Indah, panggilan terputus rupanya Indah berada di tempat yang koneksinya buruk.


Saat panggilan sudah berakhir aku membuka beberapa pesan yang masuk. Salah satunya Ridwan. Senyumku tanpa aku sadari terbit, rupanya sebelum berangkat dia sempat mengirim pesan untuk pamit akan mengantar keluarga Indah karena mobil mereka rusak parah. Ridwan juga berkata, dia nanti hanya mengantar saja lalu langsung kembali ke sini untuk bekerja dan bertemu denganku. Aku tersipu malu karena sudah berprasangka buruk padanya. Buru-buru aku ketik sebuah pesan padanya agar dia hati-hati di jalan.


Ingin rasanya aku katakan cepat pulang karena aku akan merindukannya tapi kembali aku hapus. Rasanya tidak pantas seorang perempuan berucap seperti itu, apalagi kami tidak punya hubungan khusus. Segera aku meletakkan ponselku lagi dan melanjutkan pekerjaan rumah. Sesekali aku turun ke bawah untuk melihat keadaan Wulan. Soal makan, aku dan Wulan sepakat untuk menggunakan jasa ojek online saja.


"Lan, aku berangkat kerja dulu ya." Wanita itu nampak mengulas senyumnya.


"Hati-hati, Han."


Aku segera bergegas berangkat kerja. Karena sibuk membersihkan kamar, aku hampir terlambat masuk kerja. Jika saja Wulan tidak mengingatkanku sudah pasti aku akan terlambat.


Sebelum masuk ke ruang produksi, aku menyempatkan membuka ponselku. Rupanya Indah mengirim pesan padaku. Dia mengirimkan sebuah foto, seorang wanita cantik, entah siapa ini tapi wajahnya sepertinya aku mengenalnya.


"Lihat apa sih, Han? Serius banget." Mbak Juni tiba-tiba saja datang dan mengejutkanku.


"Oh, Indah mengirimkan foto, sepertinya ini sepupunya yang akan menikah." Aku menunjukkan layar ponselku padanya.


"Ini mah, Melati. Mana mungkin dia akan menikah, dia kan sudah meninggal."


"Oh, ini yang namanya Melati ya, Mbak? Cantik ya."


"Dia memang cantik tapi nasibnya yang buruk karena punya sahabat cantik bagai ular seperti Gayatri." Wanita itu segera berlalu setelah berucap seperti itu.


Melati, di mana ya aku pernah melihat sorot mata ini? Aku mencoba menelusuri ingatanku. Kenapa dia begitu mirip dengan si penari yang mengejar Gayatri waktu itu? Aku mencoba menutup setengah wajahnya dan benar saja, semuanya sama persis.


...----------------...


...--bersambung--...

__ADS_1


__ADS_2