
Aku terkejut dengan bangunnya Intan. Setahuku jika orang terbangun dari koma, badannya masih lemas tapi tidak dengan dia. Intan mencabut selang infus begitu saja, seolah tanpa rasa takut dan sakit. Dia langsung berjalan menuju Adnan yang masih menggendong Wulan.
"Keparatt! Aku sudah berkorban banyak demi kamu, Mas. Aku rela disiksa oleh junjunganku tapi kamu justru kembali dengannya!" Tangan Intan terayun hendak menarik tubuh Wulan dari gendongan Adnan. Buru-buru aku menangkis agar dia tidak menyakiti Wulan.
"Intan, hentikan!" hardikku. Matanya nyalang kini berganti menatapku.
"Hanna, bawa pergi temanmu atau..."
"Atau apa?" Nada bicaraku tidak kalah tingginya dengan Intan.
"Atau aku akan menghabisinya."
"Rupanya jadi budak setann tidak juga membuatmu jera. Berapa kali kau dicambuk di sana? Apa rasa sakitmu sudah mati? Hingga kau lupa untuk kembali ke jalan yang benar?"
"Diam kamu, Han! Mau semenderita apa aku di sana, itu bukan urusanmu. Yang penting dendamku terbalaskan!"
"Dendam? Lucu sekali kamu bahas soal dendam. Harusnya yang marah itu Wulan, karena dia yang kau sakiti."
Intan terus saja menatapku, matanya merah seperti mata penari itu. Mungkin karena Intan adalah budaknya jadi dia mengerikan seperti ini. Di saat aku dan Intan terlibat adu mulut, perlahan Wulan mulai sadar. Dia pun meronta agar Adnan menurunkan badannya.
"Intan, kamu sudah sadar?" Aku terperangah menatap Wulan yang justru memeluk Intan yang hampir saja mencelakainya. Wulan pun terlihat tidak jijik sama sekali, padahal koreng di tubuh Intan hampir memenuhi tubuhnya.
"Lepaskan aku! Kamu seneng kan kalau aku mati, jadi bebas mengambil lagi Mas Adnan. Ingat, Lan, sampai mati pun aku tidak rela dia kembali kepadamu! Jika dia tidak bisa jadi milikku, maka tidak ada yang bisa bersamanya." Intan mendorong tubuh Wulan hingga wanita itu terjatuh.
Raut wajah Adnan seketika berubah menjadi merah padam. "Hentikan, Intan! Aku bukan barang yang bisa kamu miliki dengan sesuka hatimu. Apa kamu pikir aku tidak punya hati? Aku pun tau selama ini kamu pakai cara kotor untuk mendapatkanku! Andai kamu tidak sedang hamil, pasti aku akan membatalkan pernikahanmu."
__ADS_1
Keributan semakin membesar tatkala orang tua Intan masuk ke kamar karena mendengar keributan yang terjadi. Aku yang dianggap orang luar, diminta menjelaskan duduk permasalahan ini. Bapak Intan terlihat terkejut tapi tidak dengan ibunya.
"Memangnya kenapa kalau Intan menggunakan bedak itu? jadi orang itu modern sedikit, di mesin pencarian ada tuh yang jual bedak pelet atau bedak pengasihan. Bahkan ada yang berani mengklaim benda ini halal karena tujuannya untuk mempercantik diri." Wanita bertubuh gempal itu rupanya yang memberi saran kepada Intan agar menggunakan bedak itu.
"Bu, kenapa kamu jerumuskan putri kita ke hal yang mengerikan seperti ini?"
"Bapak tau apa soal Intan yang selalu menangis karena Adnan sudah mengkhianati janjinya sendiri. Apa bapak tau, kalau anakmu ini hampir bunuh diri di waduk? Siapa yang bikin dia berbulan-bulan ini Intan terus tersenyum riang, Pak, kalau bukan ibu yang bantu!"
Keributan itu merambat ke mana-mana. Aku rasanya sesak sekali berada di rumah ini. "Lan, kita pulang saya yuk. Biarkan ini urusan keluarganya Intan dan Adnan."
Tanpa berpamitan pada pemilik rumah, aku dan Wulan meninggalkan rumah yang sebenarnya asri tapi penghuninya saja yang panas. "Han, kasihan ya si Intan. Baru beberapa hari lalu aku memuji kulitnya yang semakin glowing dan cerah tapi sekarang..."
"Membusuk sama seperti hatinya yang telah busuk. Aku tidak habis pikir saja, Lan. Bagaimana bisa seorang ibu bisa seperti ibunya Intan yang justru menjerumuskan anaknya ke jurang kehancuran?"
"Ya, mungkin karena dia tidak tega melihat Intan yang menangis dan tadi bilang hampir bunuh diri bukan?"
"Entahlah, Han. Dalamnya laut bisa diukur tapi dalamnya hati siapa yang tau. Kita tidak pernah tau sedalam apa rasa cinta yang sudah terpatri di hati Intan untuk Adnan. Apalagi sampai dia menyerahkan mahkotanya, itu membuktikan cintanya sangat besar."
"Itu bukan cinta, Lan, tapi bodohh! Sudah jangan bicarakan tentang hal itu lagi." Lebih baik aku hentikan saja pembicaraan kami tentang Intan dan kelakuannya. Bisa-bisa aku dan Wulan yang hatinya terlalu baik jadi bersitegang.
Aku dan Wulan dalam diam menyusuri jalanan. Kami sibuk dengan pemikiran masing-masing. Saat mendekati jalan menuju perlintasan kereta api tanpa palang, aku melihat keramaian entah ada apa di sana. Aku menghentikan motor di tepi jalan dengan niat aku akan putar balik saja mencari jalanan yang tidak macet.
"Kenapa berhenti, Han? Kan indekos kita masih lumayan."
"Bukan berhenti, aku mau putar balik dan cari jalan lain saja. Di depan macet parah. Entah ada apa. Mungkin ada demo di sana." Mataku terus mengawasi spion untuk memastikan jalanan sepi. Namun, saat hendak menyeberang dari jauh di belakangku, bisa aku lihat mobil ambulans yang berjalan cukup kencang dan sirinenya meraung-raung sebagai tanda ada kegawatdaruratan. Bisa jadi tengah mengangkut pasien yang butuh pertolongan segera atau sedang menuju lokasi kecelakaan. Lebih baik aku mengurungkan niatku untuk menyeberang.
__ADS_1
Aku terus menatap laju ambulans yang semakin dekat denganku, dan pada akhirnya melesat menembus keramaian di depan sana. c
Cukup lama aku mengamati karena ingin tahu apa yang terjadi di sana.
"Lan, kira-kira di depan sana ada apa ya? Kenapa ramai sekali."
"Entahlah, biasanya kalau ramai di dekat perlintasan kereta api tanpa palang pintu seperti ini karena ada kecelakaan. Coba saja kita maju ke depan. Itu jalanan juga sepertinya sudah mulai lancar karena ada petugas polisi yang membantu mengatur jalan."
"Semoga saja ya, Lan, tidak ada kecelakaan. Aku ngeri sekali membayangkan tubuh manusia harus berhadapan dengan besi berjalan yang beratnya bisa berton-ton itu. Pasti hancur lebur dan jadi makanan celurut got."
Aku dan Wulan segera berjalan lurus ke depan, mungkin sekitar satu kilometer jauhnya, aku melihat kereta api yang berhenti dan beberapa petugas dari kepolisian menenteng kantung jenazah. Ada yang tengah mau memunguti sesuatu. Aku bisa melihat dengan jelas tangan polisi yang mengenakan sarung tangan itu berlumuran darah. Warga pun banyak yang berkumpul di sana. Benar dugaan Wulan ternyata memang ada yang kecelakaan di sana.
"Kasihan ya, Mbak. Mana korbannya laki-laki ganteng pula. Kasihan masih muda tapi pikirannya cupet, bunuh diri." Aku sempat mencuri dengar pembicaraan beberapa warga yang sibuk merekam dengan kamera ponsel mereka.
"Ya kalau bunuh diri, kalau dijadikan tumbal oleh orang bagaimana? Kata orang, perlintasan kereta ini adalah tempat orang-orang menuang jin pesugihannya untuk mencari mangsa."
"Bisa jadi sih. Aku juga pernah dengar warung lesehan yang jaraknya tidak jauh dari sana itu selalu ramai pembeli. Padahal kalau dipikir tempatnya jorok dan makanannya tidak enak, tapi ramai sekali. Bahkan ada beberapa pengunjung yang melihat ada pocong di bawah meja."
"Aku juga dengar itu. Kata orang, ada yang pernah melihat mata juga potongan jari di piringnya. Wah ngeri. Anehnya warung itu tetap ramai lo."
Aku dan Wulan yang mendengar kasak-kusuk itu saling berpandangan. Apa yang dimaksud orang-orang adalah warung lesehan yang pernah kami datangi waktu itu. Aku juga melihat pocong di bawah meja, selain itu otakku juga berpikir jangan-jangan kekasih Melati yang tewas di perlintasan itu juga menjadi tumbal pesugihan.
"Lan, kira pulang ya? Lama-lama ngeri juga di sini." Wulan pun menyetujui ajakanku, rupanya sedari tadi dia mual melihat kejadian mengerikan ini.
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...