Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 70: Jadian


__ADS_3

Saat aku berkedip, tiba-tiba saja wanita menyeramkan dan bertaring itu beserta para pria yang di belakangnya menghilang, entah ke mana. Mataku kembali fokus memandang Ridwan yang masih seperti orang linglung.


"Ridwan!" Kali ini aku menepuk lengannya sedikit keras. Aku bisa melihat Ridwan yang sangat terkejut.


"Han, i-itu... wanita itu ada di mana? Tadi dia duduk di situ."


Wanita? Apa ini artinya dia melihat wanita mengerikan tadi. Lebih baik aku ajak Ridwan kembali ke mobil saja, aku takut kalau tiba-tiba dia berlari ke tengah rel seperti sebelumnya. Tindakan itu pasti akan membahayakan nyawanya.


"Wan, kita ke mobil dulu yuk. Minum dulu biar tenang." Aku menggandeng pria jangkung itu dengan lembut tapi dia terus bertanya tentang wanita itu.


"Han, wanita yang tadi duduk di situ, ke mana? Dia baik-baik saja kan? Tidak ada kereta api yang lewat dan menyambarnya bukan?"


"Nanti aku jelaskan sama kamu di dalam ya."


Di dalam mobil yang masih terbuka pintunya, aku menyodorkan tumblerku pada Ridwan. Untung tadi sebelum pulang, aku sempatkan mengisinya dengan air mineral yang selalu disediakan oleh pihak perusahaan. "Minum dulu, Wan. Baru kamu cerita pelan-pelan."


Setelah agak tenang Ridwan mulai menceritakan bahwa dia melihat seorang gadis duduk sembari memeluk lututnya tepat di tengah rel kereta. Dia pun mendengar suara kereta api yang mendekat. Ridwan turun dan berusaha menyelamatkan gadis itu.


"Wan, itu tipu daya mereka yang tidak kasat mata. Tadi tidak ada siapa-siapa di sana. Tiba-tiba kamu lari, untungnya aku bisa narik kamu di saat yang tepat, kalau tidak..."


Rasanya tidak sanggup berkata-kata lagi, aku hanya menangis karena maut hampir saja merenggut pria yang telah berhasil mencuri hatiku ini.


"Maaf ya, Han. Aku sudah membuatmu kuatir dan menangis." Pria itu merengkuhku ke dalam pelukan hangatnya.


"A-aku takut kehilanganmu, Wan. Aku tidak mau itu terjadi." Aku tergugu dalam dekapannya.


"Sudah, untunglah kita masih dalam perlindungan Gusti Allah."


Aku bisa merasakan kecuupan yang Ridwan daratkan pada puncak kepalaku dengan lembut. Aku menikmati setiap detak jantungnya. Pria itu mendongakkan wajahku hingga mengadah menatap wajahnya. Dihapusnya air mataku dengan jarinya.


"Jangan pernah menangis lagi, sayang. Aku tidak sanggup melihat air mata jatuh membasahi wajah cantikmu."


Pria itu mengecuup keningku dengan lembut dan lama sekali. Aku menikmati ada sensasi yang berbeda dari kecuupan Ridwan, tidak sama dengan kecuupan orang tuaku. Rasanya manis sekali dan seperti candu membuatku tidak ingin berhenti menikmatinya.


"Han, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"


"Tanyalah, sebisa mungkin akan aku jawab." Dengan hati sedikit was-was, aku menanti pertanyaan yang akan diajukan oleh Ridwan.


"Apakah kamu mencintaiku dan bersedia menjadi calon istriku?"


Pertanyaan ini membuatku cukup terkejut, karena awalnya aku kira dia hanya akan bertanya jawabanku atas ungkapan cintanya. Namun, di luar dugaan dia pun menginginkanku jadi calon istrinya.


"Han, kenapa kamu diam? Apa kamu menolakku?"


Jika biasanya Ridwan yang menggenggam tanganku, maka kali ini aku yang menggenggam tangannya dan meletakkannya di pipiku.


"A-aku juga mencintaimu. Namun, aku butuh waktu untuk sampai ke pernikahan kita."


"Benarkah?" Aku tersenyum kemudian mengecuup lembut tangannya.


"Aku tidak pernah bercanda soal perasaan. Meskipun ini pertama kalinya aku membuka hati, tapi aku akan terus menjaga cinta ini."


Pria itu kembali merengkuhku dalam pelukannya yang hangat. "Bidadari hatiku," bisik Ridwan begitu lembut.


Cukup lama aku dan Ridwan tenggelam dan terbuai saling memeluk raga dengan erat. "Wan, kita harus cepat pulang. Wulan pasti sudah menunggu pesanannya."

__ADS_1


"I-iya. Kita langsung berangkat ya."


"Hati-hati, Wan..." Tiba-tiba saja pria itu menempelkan telunjuknya ke bibirku sebagai pertanda untuk diam sejenak.


"Mulai hari ini, jangan panggil nama tapi panggilan kesayangan." Aku yang baru pertama kali menjalin hubungan dengan seorang pria tidak mengerti maksud Ridwan karena setahuku, orang pacaran paling hanya memanggil dengan sebutan 'sayang' atau semacamnya saja.


"Apa?"


"Sweety?" Aku tertawa mendengar nama yang diusulkan oleh Ridwan.


"Seperti merek popok bayi saja. Sayang saja ya."


"Kurang greget lah. Mmm dewa dan dewi atau raja dan ratu?"


"Ish, aneh. Tidak enak didengar."


"Ayang deh ya."


"Ya sudah, lebih simpel dan tidak berlebihan. Ayo, cepat kita jalan. Ini udah jam berapa coba?" Aku meraih ponselku yang tadi aku letakkan di dashboard mobil. "Astaga, udah setengah satu. Lihat, Wulan sudah kirim pesan banyak sekali."


"Ya sudah, Yang. Kita jalan ya."


Aku tidak bosan-bosannya meminta Ridwan agar berhati-hati saat berkendara. Aku tidak ingin ada kejadian yang serupa seperti tadi terulang. Hampir saja aku kehilangan Ridwan untuk selamanya. Saat sudah sampai, terlihat ramai sekali para pria yang nongkrong di angkringan itu. Ridwan memintaku tetap tinggal di mobil. Biar dia saja turun untuk membeli wedang uwuh.


"Aku ikut ya, Wan. Sekalian aku mau beli gorengan."


"Jangan! Aku saja yang ke sana untuk beli."


"Tapi, kenapa?"


Lebih baik aku menuruti saja kemauan Ridwan, lagi pula ada benarnya dia memintaku menunggu di mobil. Setidaknya para pria itu tidak berpikiran buruk tentangku, wanita yang masih ada di luar pada tengah malam seperti ini bersama seorang pria pula. Sementara menunggu Ridwan aku mencoba menghubungi Wulan.


"Halo, siapa sih? Mengganggu saja telepon malam-malam!" omel Wulan dengan suara yang parau, khas seperti orang yang terbangun dari tidurnya karena terkejut.


"Aku Hanna, Lan."


"Oh, kamu malam ini pulang tidak?" Pertanyaan Wulan membuatku bingung. Apa dia marah padaku karena tidak kunjung datang.


"Pulang dong. Maaf ya, Lan. Aku agak telat tadi ada insiden."


"Insiden apa? Apa Ridwan macam-macam sama kamu? Biar aku tumis dia kalau sampai neko-neko."


"Nanti deh aku cerita. Oh iya, gerbangnya sudah ditutup belum sama Bu Wati?"


"Belum. Tinggal dibuka saja. Aku tadi sudah bilang ke Bu Wati kalau kamu akan pulang terlambat, jadi gerbangnya tidak digembok dulu."


Panggilan telepon aku akhiri saat Ridwan datang dengan menenteng beberapa kantong plastik di tangannya.


"Habis telepon siapa, Yang?"


"Wulan. Kasihan dia menunggu sampai ketiduran lo."


Dalam perjalanan pulang Ridwan memintaku merasakan wedang uwuh miliknya. "Rasanya pedas, semriwing. Tapi enak juga ya."


"Aku beli yang sudah jadi minuman seperti ini sama bahan keringnya jadi tinggal diseduh pakai air panas saja. Sampai kamar langsung diminum ya, Yang. Biar badannya seger lagi."

__ADS_1


"Aku ganti uangnya ya," ujarku sembari menyodorkan selembar uang merah kepadanya.


"Buat apa? Itu buat pegangan kamu. Aku kan juga baru dapat rezeki lebih dari keluarganya Indah. Kalau nanti kita berjodoh, toh semua uangku juga buat kamu kan."


"Kan itu nanti saat kita sudah menikah, sekarang kan belum. Rasanya tidak enak kalau terus-terusan merepotkanmu."


Ridwan diam sejenak. "Gini saja, nanti kalau kamu sudah gajian gantian traktir aku. Nah sementara itu, uang ini kamu simpan dulu buat kebutuhanmu selama menunggu waktu gajian."


"Bener ya kalau aku gajian, aku yang gantian traktir. Deal?"


"Iya, Sayang." Perbincanganku dengan Ridwan seolah tidak ada habisnya. Ada saja yang kami bahas. Entah itu candaan, tapi selalu saja Ridwan berhasil melemparkan gombalan-gombalannya. Tanpa terasa sudah sampai di depan indekos. Aku membuang napas kasar melihat indekos yang terlihat tidak terawat, pantas saja penghuni indekos tiga lantai ini hanya beberapa orang saja.


"Mau aku antar masuk, Yang?"


Tidak mungkin membiarkan Ridwan masuk ke indekos ini pada tengah malam seperti ini. Semua orang juga tau bahwa indekos ini sejak beberapa tahun terakhir menjadi indekos khusus perempuan. Dulunya indekos ini termasuk bebas, bisa digunakan untuk pria dan wanita serta yang berkeluarga pun bisa. Namun karena tanpa pengawasan, banyak yang membawa pasangan tidak resmi untuk tinggal di sini. Indekos ini juga sering digunakan berbuat maksiat, seperti yang menggunakan obat-obatan terlarang. Namun, tetap saja tidak pernah ada yang berani tinggal di kamar tiga belas.


Banyak warga yang mulai gerah dengan kelakuan penghuni indekos yang sudah terkenal seram itu. Mereka berbondong-bondong melapor polisi untuk menggerebek indekos. Saat penggerebekan, polisi menangkap beberapa pasangan tidak resmi, bahkan ada yang menjadikan kamarnya sebagai tempat menjual diri. Beberapa orang tengah berpesta miraas dan narkoobaa. Beberapa orang yang melawan terpaksa terkena timah. Indekos ini sempat disegel selama beberapa bulan, hingga kesan angker dan mistis semakin melekat di sini.


"Yang, bagaimana? Perlu aku antar tidak?"


"Tidak usah, Yang. Ini kan indekos khusus putri, tak boleh kamu bertamu di tengah malam seperti ini. Ini sudah hampir jam setengah dua. Lebih baik kamu pulang saja. Jangan kuatir, aku pasti baik-baik saja."


"Yakin?" Aku tersenyum untuk meyakinkan.


"Ya sudah, masuk sana. Selamat istirahat, Ayangku, bidadari hatiku."


"Kamu juga hati-hati ya, Yang." Aku melambaikan tangan untuk mengiringi kepergian kekasihku itu.


Baru saja selangkah aku masuki gerbang yang penuh karat itu, tiba-tiba saja terdengar suara parau yang begitu aku kenal memanggilku.


"Hanna!" bisiknya lirih. Belum reda rasa terkejutku, ada tangan merangkul bahuku dan menekan leherku, membuatku susah bernapas. Meski mata ini tidak melihat siapa yang di belakangku, tapi dari bau busuk yang menguar dan menyengat di hidungku, membuatku bisa menebak siapa dia.


"In-Intan? Mau apa kamu?" Detak jantungku semakin tidak karuan tatkala, dia menempelkan sesuatu di pinggangku.


"Gadis pintar, jangan berteriak kalau tidak ingin aku merobek isi dalam perutmu!" Aku menyadari bahwa yang menempel di pinggangku adalah sebilah pisau.


"Kamu mau apa?"


"Aku ingin menghancurkan wajahmu dan Wulan serta menjadikannya sama sepertiku, melepuh dan terbakar!"


"Kenapa? Apa salahku kepadamu?"


"Kau lupa saat itu kau menampar pipiku? Maka aku akan memberimu rasa sakit yang jauh lebih sakit dari yang aku rasakan."


"Bagaimana bisa kamu merusak wajahku, sementara aku tidak pernah menggunakan bedak pelet sepertimu? Lebih baik kamu pergi sebelum..."


"Sebelum apa? Ingat, saat kau mengeluarkan suara keras sedikit saja, pisau ini siap beraksi. Oh ya, kau ingin tau caraku merusak wajahmu dengan air keras. Tapi tenang, aku hanya akan melukaimu di pipi kananmu itu. Karena kau juga menampar pipi kananku. Jadi permainan kita impas!"


Intan terkekeh begitu mengerikan. Sebenarnya di mana Intan yang dulu aku kenal, gadis baik dan ramah pada semua orang.


"Masuk ke kamarmu sekarang, jangan sampai keluar suara. Jika sedikit saja bersuara, bisa aku pastikan kamu akan bertemu ajalmu."


Dengan kaki yang gemetar, aku berjalan perlahan ke kamarku. Perlahan membuka pintu kamar. Dalam hati aku terus berharap, ada yang melihat ini hingga aku bisa terbebas dari wanita mengerikan ini. Namun, sampai pintu kamar ditutup oleh Intan yang telah berubah menjadi monster, tidak ada siapapun yang tau bahwa aku dalam bahaya saat ini. Apakah ini akhir hidupku?


...----------------...

__ADS_1


...--bersambung--...


__ADS_2