
Entah siapa lagi pria ini. Di buku ini tidak menjelaskan secara utuh bagaimana perawakan si pria misterius yang seolah terus-menerus mengawasi Gayatri. Di dalam buku hanya tertulis pria misterius itu berperawakan jangkung, kurus, dan berkumis tipis. Tidak diterangkan hal yang lainnya, misalkan dia memiliki tompel atau yang lainnya. Jika hanya disebutkan seperti itu, semua orang bisa menjadi tersangkanya. Bahkan Ridwan pun memiliki ciri yang sama. Tidak mungkin kan, Ridwan adalah si pria misterius itu.
Tidak ada informasi mengenai pria itu, mungkin karena Priyambodo sendiri tidak pernah melihatnya secara langsung. Semua informasi hanya didapatkan dari cerita yang dituturkan oleh Gayatri. Masih belum jelas apakah pria itu benar adanya atau hanyalah perasaan Gayatri yang tidak tenang karena terus saja dikejar oleh Melati yang telah menjadi budak sang penari.
Aku membuang napas kasar sembari membuka halaman berikutnya. Priyambodo menuangkan keresahannya ke dalam goresan tinta. Dia begitu takut kehilangan Gayatri, gadis yang telah lama dicintainya. Apalagi sejak beberapa kali Gayatri mencoba melakukan percobaan bunuh diri. Dia ingin menjaga Gayatri bahkan jika dia bisa akan menggantikan hukuman gadis yang terlanjur bersekutu dengan iblis itu.
"Andai pun aku harus berakhir menjadi budak sang penari itu aku rela." Priyambodo menulis kata-kata itu dengan sangat jelas.
"Han, bagaimana pendapatmu tentang pengorbanan Priyambodo yang begitu besar cintanya kepada Gayatri? Apa kamu masih menganggapnya bajingann?"
Tentu saja, di mataku Priyambodo tetaplah seorang bajingann. Aku masih ingat bagaimana matanya berbinar dan senyumnya merekah, saat tubuh Gayatri ditelanjaangii serta dirudal paksa oleh pria bertompel itu. Dia tidak mendengarkan rintihaann kesakitan Gayatri, bahkan membantu kedua temannya membekap mulut gadis tidak berdaya itu. Dia tidak peduli Gayatri yang terus saja menangis karena kebiadaban mereka bertiga.
"Kamu tau, Lan. Priyambodo adalah orang terakhir yang menggagahi Gayatri."
"Astaga! Berarti si Priyambodo itu dapat bekas dong, Han?"
"Bisa dibilang begitu. Makanya aku itu meragukan cintanya," ujarku berapi-api.
"Tapi, Han, dia membuktikan cinta dan penyesalannya dengan mengorbankan nyawanya lo."
"Entah lah, Lan. Sudah besok saja kita bahas." Aku melirik jam yang ada di ponselku, sudah jam satu siang. Lebih baik sekarang aku mengajak Wulan untuk membungkam mulut cacing yang tengah demo besar-besaran di dalam perutku, sampai-sampai terdengar hingga ke telinga Wulan. Aku dan Wulan sama-sama tertawa terbahak dengan suara yang berasal dari perutku. Aku dan Wulan bergegas meluncur ke angkringan yang menggelar lapak tidak jauh dari indekos.
"Lo kok habis-habisan, Pak?" tanyaku pada pria yang tengah mencuci piring di samping gerobaknya. Aku tidak melihat makanan satu pun yang tersisa di atas gerobak itu.
"Mbaknya telat sih. Kan kalau jam segini sudah habis diserbu sama anak-anak pabrik."
Ya, memang ini sudah lewat dari jam istirahat para pekerja. Aku tatap wajah Wulan dengan muka melas, "bagaimana ini?"
"Anu, kita makan di warung makan Padang situ saja, Han." Wanita itu menunjuk ke arah warung makan yang ada di dekat perempatan kecil di depan. "Kayanya itu lauk yang dipajang di etalase masih banyak tuh, semoga kebagian deh."
"Iya, Mbak. Makan di sana saja. Itu tadi Bu Wati sama yang punya indekos berdarah juga tadi ke sana. Coba kenalan, siapa tau dapat diskon." Bapak pedagang angkringan itu menyela pembicaraanku dan Wulan diselingi tawa.
"Bapak kenal sama yang punya indekos saya?"
Pria itu menceritakan beberapa kali Bu Wati dan pria itu makan di angkringan ini. "Orangnya kalem, tidak banyak bicara. Kalau ngomong seperlunya saja!"
Dalam perjalanan menuju rumah makan, aku berbisik pada Wulan. "Lan, katamu yang punya indekos ada di luar Jawa?"
"Mungkin dia sedang mudik atau bagaimana.Han, kebetulan sekali aku juga mau bilang terima kasih karena sudah membantu mengeluarkan si penari sialann yang hampir membuatku terjebak di hutan gelap itu. Aku yakin sekali wanita yang mirip sekali denganmu itu adalah kiriman beliau, nah agar aku tidak takut."
__ADS_1
"Teori dari mana itu?" Rasanya tidak mungkin aku bercerita bila hantu tanpa kepala itu turut andil dalam kepulangan Wulan ke dunia ini.
"Teoriku dong. Coba deh pikir katamu, Bu Wati dan si pemilik indekos kan yang membantu mengeluarkan si penari itu kan?"
"Sudah, terserah kamu saja. Ayo, kita ke sana. Perutku sudah kelaparan ini."
Aku bergegas mengajak Wulan. Selain lapar, juga untuk melihat bagaimana rupa pemilik indekos berdarah. Benarkah kata Wulan bahwa dia mirip sekali dengan Ridwan. Aku ingin memastikannya sendiri semuanya. Jika dia pemilik indekos berdarah yang lama, dia pasti tau semua kejadian yang ada di indekos berdarah. Banyak pertanyaan yang akan aku ajukan, salah satunya mengapa meminta Bu Wati melakukan ritual gaib di kamarku.
Sesampainya di depan rumah warung makan yang menyediakan berbagai lauk dan sayur dari tanah Padang, seperti rendang dan ayam pop. Aku terbelalak mendapati pemandangan yang sangat aneh itu. Seorang pria duduk di atas kursi, wajahnya tertutup masker hitam dan dia pun mengenakan topi. Di meja itu terlihat ada bekas makanan yang telah habis. Sementara itu, Bu Wati bersimpuh di lantai dan menundukkan kepala. Entah apa yang diucapkan oleh pria itu sehingga Bu Wati hanya bisa menunduk.
Ada rasa sesak di hati, meski Bu Wati hanyalah pegawainya tapi tidak sepantasnya diperlakukan seperti ini. Ini sudah jaman modern, sudah saatnya kita menghargai orang lain meski dia pegawai kita.
"Lan, sebenarnya siapa sih pria itu?"
"Dia sepertinya pemilik indekos berdarah. Perawakannya sama, hanya saja aku tidak melihat wajahnya sekarang karena tertutup masker."
Aku mengajak Wulan untuk mendekati mereka. "Bu Wati!" Bu Wati mendongak ke arahku, begitu pula pria itu. Gelas yang tengah dipegang pria itu tiba-tiba terjatuh.
"Na-Nawang? Kamu Nawang?" Pria itu berdiri dan memegang bahuku. Buru-buru aku menepis tangan pria berkulit sawo matang itu.
"Maaf, saya bukan Nawang. Permisi."
"Nanti saja, aku sudah lapar!"
Sembari mengambil makanan, sesekali aku melirik dua orang yang tengah berbincang. Tidak, lebih tepatnya seperti seorang majikan yang berbicara kepada budaknya. Berkali-kali aku dengar dengan samar Bu Wati berucap "sendiko dawuh" bisa diartikan bahwa dia siap mengemban tugas-tugas yang diberikan pada perempuan paruh baya itu.
"Lan, kalau boleh tau. Umur tuh bapak yang punya indekos berdarah berapa sih? Seperti tidak punya adab saja. Orang terkaya di negeri ini saja tidak seperti itu bicara dengan bawahannya."
"Yang aku dengar, dia itu masih keturunan keluarga ningrat, darah biru."
"Dari kerajaan mana?"
"Entahlah, aku juga tidak tau. Sudah kita lanjut makan saja, bagaimanapun juga dia yang membantuku terlepas dari kerasukan si penari itu, Han."
Di balik sikap yang terkesan angkuh, memang benar dia adalah bukanlah orang sembarangan. Mungkin dia mempunyai ilmu kebatinan. "Han, kalau dia buka masker, kamu pasti akan sependapat denganku. Dia itu versi dewasanya ayangmu."
"Sudah kita makan saja."
Aku memang dari tadi terus memperhatikan wajah pria berkemeja biru yang tertutup rapat dengan masker hitam itu. Aku tau dia pun sering mencuri pandang ke arah Wulan. Andaikata aku tidak penasaran pada rupa orang itu, maka aku sudah mengajak Wulan pergi karena tatapan mata itu sangat tajam.
__ADS_1
"Bu, pokoknya lakukan semua sesuai perintah saya. Jangan ada yang terlewat sedikitpun." Pria itu berucap sembari berdiri, hendak bersiap untuk pergi sepertinya.
Wulan pun tampak berdiri pula. "Kenapa kamu ikut berdiri? Kamu mau mengantar pria itu ke depan?" bisikku bingung.
"Aku mau mengucapkan terima kasih padanya."
Aku membiarkan Wulan bangkit berdiri dan berbincang pada pria itu. Siapa tau saja pria itu menunjukkan wajahnya. Sesekali aku melihatnya, meliriku.
"Siapa namamu? Kalian tinggal satu indekos bukan?" Tiba-tiba saja pria itu berbicara padaku. Dia yang tadinya hendak pergi, kini malah duduk di hadapanku.
"Nama saya, Ha.."
"Hanna ya. Tadi Wati juga sudah menyebut namamu tapi saya lupa. Kamu penghuni kamar tiga belas bukan? Semoga betah ya."
Betah? Bagaimana betah jika kamarku penuh dengan hantu gentayangan. Sejak tinggal di kamar itu pula, hidupku tidak karuan karena terus bersinggungan dunia gelap.
"Pak, saya mau tanya boleh?"
"Tanya saja." Pria itu dengan santai menyalakan cerutunya. Aku terkejut melihat wajah pria yang mungkin usianya sekitar empat puluhan tahun itu memang mirip dengan Ridwan. Apa jangan-jangan dugaanku benar, ada hubungan antara ibunya Ridwan dan pria ini.
"Katanya ingin bertanya? Kenapa sekarang diam saja?"
"Ke-kenapa dulu Bu Wati melakukan ritual di kamar saya?" Pria itu tersenyum seperti tidak terkejut dengan pertanyaanku.
"Karena kamarmu itu adalah tempat yang angker. Kami harus senantiasa memberi persembahan bagi penunggu kamar itu agar tidak terjadi hal yang buruk pada semua penghuni indekos."
"Lalu bagaimana dengan penemuan mayat mengerikan dan hilangnya salah satu penghuni di kamar tiga belas? Dan apa anda mengenal wanita gila yang sering menggedor pintu gerbang lebih dari dua puluh tahun yang lalu?"
Pria itu bukannya menjawab malah bangkit berdiri, kemudian membisikkan sesuatu padaku yang membuatku bergidik ngeri dan ketakutan.
"Jangan mengorek kisah yang sudah lalu, jika kamu tidak ingin jadi nasibmu seperti mereka. Mati mengenaskan. Aku hanya mengingatkan saja karena mereka yang tidak kasat mata sebenarnya tidak suka rahasia yang terbongkar. Mereka sering membuat cerita yang berbeda dari sebenarnya. Hidup saja yang normal. Pura-pura saja tidak melihat mereka. Oh iya, mengenai perempuan gila yang selalu menggedor pintu gerbang itu aku tidak mengetahuinya apalagi mengenalnya."
"Tapi kenapa hantu tanpa kepala itu berkali-kali meminta tolong padaku, bahkan hantu muka rata itu pun sama!"
"Abaikan mereka!" Pria itu berlalu pergi meninggalkan banyak pertanyaan dalam benakku. Apa yang tengah dia sembunyikan?
...----------------...
...--bersambung--...
__ADS_1