
Intan mendorongku dengan keras hingga kepalaku terantuk lemari. Ada darah segar mengalir di keningku. Entah kenapa, Intan mengendus bau anyir dari darahku. Bahkan mencolek dengan jarinya, tanpa rasa jijik dijilatinya.
"Aku suka darahmu. Manis seperti gula-gula." Gadis itu menyeringai, "tapi bukan darahmu yang ingin aku rasakan tapi temanmu, Wulan. Rasanya pasti lebih sedap karena dendamku padanya lebih besar dari amarahku padamu."
Ingin rasanya aku berteriak minta tolong, tapi pisau yang terus menari di kulit wajahku dan digerakkan oleh Intan, membuatku memilih tetap membisu.
"Duduk di situ!" Intan berbisik sembari menunjukkan arah kamar mandi. Apakah itu artinya aku harus duduk di sana.
"Telingamu masih berfungsi kan, sayang?" Intan semakin mempercepat tarian pisaunya. Aku mengangguk ketakutan.
"Kalau begitu cepat masuk!" Gadis itu berbisik tapi tetap penuh penekanan. Matanya yang merah menatapku tajam.
Aku berjalan ke kamar mandi. "Anak manis dan penurut. Diam dulu di situ! Kalau kamu berani teriak, maka tidak akan segan aku tuangkan isi dalam botol ini!"
Aku mengamati Intan yang menelisik isi kamarku, entah apa yang dia cari. Sampai aku melihatnya tertawa, aku menyadari bahwa dia telah menemukan yang dibutuhkannya. Ada rasa takut ketika dia mengambil sesuatu.
"Buka mulutmu!" Aku membuka mulutku dengan hati-hati.
"Lebih lebar!" Intan menyumpal mulutku dengan pakaian dalam lalu melakbannya kuat hingga aku tidak bisa mengeluarkan suara. Kemudian mengikat tanganku dengan tali tambang. Aku hanya bisa menangisi nasibku. Entah apa yang dilakukan Intan padaku setelah ini. Bisa saja dia menghabisiku karena dia bukan lagi Intan temanku, tapi dia adalah budak sang iblis.
Intan membaringkan tubuhnya di kasur. "Aku sudah lama rasanya tidak tinggal di sini. Apa baiknya kita berkumpul bertiga lagi? Sepertinya seru jika kalian saling melihat hukuman yang aku jatuhkan pada kalian. Ide bagus!"
Aku berusaha mencegah Intan yang tampak mengambil ponselku. Aku mau berteriak tapi sumpalan ini membungkamku. Aku melihat dengan mata nanar, saat tangan yang melepuh itu dengan lincah menari di atas ponselku. Ponselku memang tidak pernah aku kunci selama ini, jadi orang asing bisa saja dengan mudah menggunakan ponselku.
"Wulan, aku baru saja pulang dan istirahat di kamarku. Bisakah kamu turun ke kamarku?" Wanita itu tampak menghentikan aksinya, kemudian dia tampak berpikir.
"Oh, tidak. Sepertinya ini terlalu biasa, kurang dramanya." Dengan senyuman yang terkembang, Intan menggerakkan jarinya di atas tuts keyboard ponselku. "Ini baru keren. Tinggal tunggu saja, apakah dia teman yang baik atau sama saja denganku."
Aku terus memikirkan bagaimana cara keluar dari sini, sementara di tangan Intan sudah siap air keras yang bisa saja melukaiku kapan pun juga. Intan terus saja membuka ponselku, gerakan tangannya terhenti saat melihat satu foto.
"Hanna, kau ingat foto ini?"
Mataku membulat menatap foto yang ditunjukkan oleh Intan. Bagaimana bisa lupa, foto itu diambil saat kami makan di salah satu resto mewah untuk ukuran sebagai buruh pabrik seperti kami. Dalam foto nampak Wulan dengan lahap memakan daging itu. Ada rasa sesak di dadaku karena setahuku saat itu Wulan membutuhkan uang untuk biaya kontrol putra sulungnya.
"Wanita yang bodohh! Dia tampak menikmati makanannya, padahal itu uang yang dipakai membayar adalah hak anak-anaknya. Ibu macam apa dia!"
Ingin rasanya aku membalas ucapannya itu dengan makian padanya. Wulan tidak akan bisa makan jika dia tau uang itu adalah pemberian dari Adnan.
"Ah, lama sekali Wulan tidak segera turun. Aku jadi ragu persahabatan kalian itu sedekat apa. Oh iya, kita baru berkenalan kan baru dua minggu yang lalu ya. Tidak bisa disebut sahabat ya. Mungkin disebutnya hanya kenalan saja, jadi tidak mungkin dia mau ke sini dan menyelamatkanmu."
Intan tertawa kecil seolah menertawakan persahabatan antara aku dan Wulan. Memang belum lama kita kenalan tapi bisa aku pastikan Wulan adalah sahabat terbaik.
Saat ini aku justru berharap Wulan tidak turun dan ke kamarku, karena aku tau Intan pasti sudah menyiapkan jebakannya pada ibu dua anak itu. Harus aku juga apapun rencana licik Intan, hanya saja tangan dan mulutku dalam keadaan tidak berdaya seperti ini.
Intan tengah sibuk dengan ponselku membuatku berpikir keras untuk kabur darinya. Aku harus bisa mendapatkan waktu saat dia lengah. Aku melirik pintu yang kuncinya masih tertancap di sana. Aku tinggal membuatnya sibuk saja, kemudian aku akan keluar untuk meminta pertolongan. Namun, bagaimana caranya? Sementara Intan terus menggenggam sebotol air keras yang terkena kulit saja akan melepuh.
Saat gadis itu tampak kesusahan melepas hoodienya, aku merasa ini saat yang tepat untuk melarikan diri. Dengan cepat aku keluar dan berusaha memutar kunci agar pintu terbuka.
"Hanna! Kamu mau ke mana? Kabur?" Pertanyaan itu membuatku menghentikan aksiku yang berusaha membuka kunci dengan susah payah karena kedua pergelangan tanganku diikat. Intan berjalan mendekatiku dengan tatapan mata yang bengis. Aku hanya bisa berdiri dengan kaki gemetar.
"Hanna, apa kamu sudah tidak sabar merasakan air surga ini menyentuh kulitmu yang lembut seperti bayi? Atau mungkin kamu sangat ingin tau apa isi dalam perutmu itu ya?" Intan mendentingkan botol kaca yang berisi air keras dengan pisau yang terlihat sangat tajam.
__ADS_1
"Katakan, wahai sahabat karibku, kamu mau pilih yang mana dulu, sayang? Pisau atau air surga ini?" Intan semakin mendekatiku kemudian membuka penutup botol itu.
"Kenapa kamu diam saja dan tidak menjawab pertanyaanku? Kau mendengar aku bukan?" Gadis yang hanya mengenakan tanktop berwarna hitam itu, hingga aku bisa melihat dengan jelas luka itu hampir tidak menyisakan lagi kulit tubuhnya yang dulu halus bak batu pualam.
"Ah, kenapa aku bisa lupa kalau mulutmu yang pernah memakiku itu sudah aku sumpal dengan pakaian dalammu sendiri, jadi tidak mungkin Hannaku bisa berucap barang sepatah kata pun. Baiklah, akan aku pilihkan untukmu mana yang akan kau cicipi dulu!"
Intan tampak menimbang kedua benda yang ada di tangannya. "Air surga atau pisau? Pilihan yang sulit karena keduanya menimbulkan sensasi yang berbeda."
Di depan mataku persis, mungkin hanya berjarak sepuluh sentimeter saja. Intan menunjukkan dua benda yang mengerikan itu bergantian.
"Ah, aku punya cara. Kamu bisa memilih di antara dua benda yang akan kau nikmati terlebih dahulu. Kedipkan matamu, jika kamu memilihnya. Ingat, kamu hanya boleh memilih satu saja. Namun, jika kamu tidak memilih keduanya maka aku akan memberikanmu keduanya di saat yang bersamaan."
Gadis itu mengacungkan botol kaca yang berisi air keras. "Apa kamu mau menikmati ini, sayang."
Aku melotot tanpa berani berkedip, karena jika sekali saja berkedip bisa aku pastikan air keras itu akan diguyurkan kepadaku.
"Oh, kamu tidak mau ini? Kenapa? Padahal ini adalah air surga, apa kamu tidak ingin merasakan kesegarannya?"
Hatiku ini rasanya mulai putus asa, rasanya tidak ada harapan lagi untuk selamat dari monster ini. Sangat kecil kemungkinannya.
"Baiklah, berarti kamu memilih ini, sayang!" Pisau itu digesekkan di wajahku. Sedikit saja Intan menekankan pisau itu pasti akan ada darah yang mengalir, bisa jadi akan menyisakan bekas luka codet.
Hatiku dalam dilema, jika aku memilih pisau, bisa saja gadis licik itu tidak hanya melukai wajahku, bisa jadi dia akan membelah perutku sama seperti ancamannya tadi. Namun jika aku tidak memilih pisau atau air keras, aku akan mendapatkan keduanya. Entah harus bagaimana ini aku menentukan jalan takdirku selanjutnya.
"Cepat jawab pertanyaanku. Karena jika kau tidak memilih satu, maka akan aku berikan kepadamu dua kenikmatan sekaligus. Bagaimana, kurang baik apa aku padamu?"
Kurang baik? Andai mulut ini tidak disumpah seperti ini, pasti sudah aku maki-maki dia. Bila perlu aku ludahi wajahnya yang busuk, sebusuk hatinya.
"Takut padamu? Tentu saja itu hanya satire semata karena yang seharusnya gentar adalah kamu. Kamu yang akan bertemu dengan malaikat maut. Ah kamu sudah bertemu dengan pencabut nyawamu, yaitu aku!" Intan tertawa perlahan tapi mengerikan.
"Hanna, seharusnya kamu hanya mendapat hukuman ringan tapi karena ulahmu barusan yang berusaha kabur, maka jangan salahkan aku jika aku menghukummu cukup berat. Tapi tidak apa, nikmati saja permainan ini."
Gadis itu membuka tutup botol yang berisi air keras dan mengangkatnya tinggi dengan tangan kirinya, bersiap mengucurkan kepadaku. Sementara tangan kanannya bersiap menikam perutku.
"Terimalah kematianmu, Ha..." Belum usai berbicara, aku beranikan diri menendang perutnya. Untung saja, sepertinya Intan tidak memperhitungkan seranganku membuatnya limbung terduduk di lantai. Botol yang ada di tangannya terlepas begitu saja. Air keras itu berceceran di lantai. Pisau yang sedianya untuk menikamku juga terjatuh. Tidak membuang waktu, aku berusaha membuka kunci meski kepayahan.
Berhasil, aku berhasil membuka kunci pintu. Namun, saat aku hendak membuka daun pintu, Intan menyerangku dengan pisau. Untunglah aku berhasil menghindar, hanya tanganku sedikit saja sedikit tergores. Posisiku kini berubah, pintu ada di sisi kiriku.
"Kamu harus mati, Hanna!" teriaknya begitu lantang sembari bersiap menikamku. Aku tidak boleh terlambat, aku memukul pergelangan tangannya tepat ketika pisau hampir mengenai perutku. Pisau itu kembali terjatuh. Belum usai perlawananku padanya, sekuat tenaga aku tendang perutnya lagi. Intan ambruk tepat di atas pecahan botol kaca dengan genangan air keras.
Senjata makan tuan, air keras yang sedianya digunakan Intan untuk melukaiku dan Wulan, kini justru melukainya atau tepatnya memperparah keadaannya. Aku memilih segera keluar kamar dan meninggalkan Intan yang mengerang kesakitan. Tepat saat aku keluar kamar, Wulan terlihat berlari turun tangga.
"Hanna!"
Aku pun berlari mendekatinya. "Hanna! Kamu kenapa? Maaf, aku baru ketiduran tadi san baru saja membaca pesanmu. Kamu tidak apa-apa kan? Mana yang sakit? Apa yang Intan lakukan ke kamu?" Wanita itu berderai air mata sembari membantuku melepas ikatan tanganku. Setelah terbebas, perlahan dia pun melepaskan lakban dengan hati-hati. Beberapa kali aku harus menahan rasa perih dan panas saat Wulan melakukannya. Pada akhirnya aku terbebas juga dari ikatan dan sumpalan yang menyiksa. Aku mengambil napas panjang untuk menetralkan detak jantungku.
Suara teriakan kesakitan Intan di kamarku, membuat Wulan terkejut. "Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Intan berniat melenyapkan kita, tapi aku berhasil menggagalkannya."
"Lalu kenapa sekarang dia mengerang kesakitan?"
__ADS_1
"Dia terkena air keras. Nanti saja aku ceritakan detailnya. Sekarang kita lihat kondisinya dulu."
Wulan merentangkan tangan dan mengadang langkahku."Tidak, kita tunggu Ridwan atau siapa saja dulu, agar ada yang melindungi kita. Intan itu sangat berbahaya. Hampir saja kamu terluka."
"Intan sudah tidak memegang air keras, malah dia terkena sendiri. Sekarang dia tengah kesakitan dan tidak berdaya, mana mungkin dia bisa menyakiti kita, Lan."
"Lalu bagaimana dengan pisau dan bagaimana kalau iblis itu merasuki Intan dan menyerang kita, bagaimana? Pokoknya kita tunggu Ridwan dulu. Aku tidak mau terjadi sesuatu kepadamu!"
Tidak lama, Bu Wati dan beberapa penghuni indekos berdarah ini turun dengan tergopoh-gopoh. "Ada keributan apa, Mbak? Kenapa seperti ada yang teriak-teriak?"
"Ada yang mau menyekap Hanna, Bu. Dia adalah Intan," terang Wulan singkat.
"Intan? Bukannya kalian bertiga itu bersahabat ya?"
"Dulu, tidak untuk belakangan ini." Dalam suasana yang riuh tiba-tiba saja aku dengar deru mobil berhenti. Seorang pria memasuki gerbang yang masih terbuka itu.
"Hanna!" Pria itu adalah Ridwan, dia berlari mendekatiku.
"Apa yang terjadi? Kamu tidak terluka bukan? Kenapa Wulan bilang kamu dalam bahaya besar?" Pria itu menangkup wajahku.
"Intan menyerang Hanna." Wulan menjawab pertanyaan Ridwan. Pandangan Ridwan pun tertuju pada wanita yang tangannya masih dibalut perban.
"Intan? Temanmu yang kulitnya melepuh dan kita berpapasan di rumah sakit itu?"
"Iya, dia ingin menghabisi kami."
Tangan Ridwan terkepal dan giginya bergemeletuk. Wajahnya merah padam menandakan bahwa dia tengah marah besar. "Kurang ajarr! Di mana dia? Siapa pun yang menyakitimu harus berhadapan denganku dulu. Aku tidak peduli mau dia perempuan atau laki-laki, siapa saja yang menyakiti bidadariku tidak akan aku maafkan."
Melihat langkah Ridwan yang menuju kamarku, aku segera menariknya. Dia memang pria yang baik dan lucu, tapi aku tidak tau sebesar amarahnya nanti saat melihat gadis yang hampir saja merenggut nyawaku.
"Jangan, Wan. Dia sudah mendapatkan ganjarannya yaitu terkena air keras yang akan diguyurkan padaku. Dia..."
"Apa! Dia akan menyerangmu dengan air berbahaya itu. Kurang ajarr!"
"Wan, sudah. Yang terpenting sekarang aku baik-baik saja. Justru kita harus menolongnya. Tubuhnya itu sudah penuh dengan luka, sekarang terkena air keras, aku tidak bisa membayangkan bagaimana pedihnya yang dirasakan Intan. Bagaimana kalau kita bawa dia ke rumah sakit saja?"
Ridwan dan Wulan tidak menyetujui usulanku, bahkan mereka bersyukur bila melihat wanita sejahat Intan menerima hukuman yang setimpal.
"Tapi, Wan. Kalau dia sampai mati di kamarku pasti akan jadi berita besar. Apalagi saat dia menyerangku tidak ada saksi. Bisa saja kan keadaannya malah berbalik, Adnan dan keluarga Intan menuntutku ke pengadilan dengan tuduhan pembunuhan?"
"Terus kita harus bagaimana sekarang?"
Aku dan yang lain berunding kira-kira apa yang akan kami lakukan. Tiba-tiba saja Intan yang tubuhnya tengah kesakitan, tampak berlari dengan kaki terpincang-pincang.
"Ampun! Jangan kejar aku!" Tepat di depanku dia terjatuh. Matanya terus terbelalak menatap kamarku. Dia merangkak sembari meminta ampun. Setibanya di gerbang, dengan susah payah dia berdiri dan menghilang ditelan kegelapan malam.
Mataku kini tertuju pada sosok hantu tanpa kepala yang melayang keluar dari kamar sembari menenteng kepalanya. Saat melintas di depanku, biji matanya yang satu keluar dari kelopaknya dan menatapku.
"Kamu mau ikut aku?"
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...