Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 35: Bedak Pelet


__ADS_3

Dua manusia itu tampaknya masih syok dengan amukan Wulan yang bertubi-tubi. Wulan menjambak rambut Intan serta menyeret tubuh wanita itu yang masih duduk di atas Adnan. Sebuah tamparan keras membuat sudut bibir Intan mengeluarkan setitik darah. Ingin rasanya aku melerai dan menjaga Wulan agar tidak gelap mata. Namun, tubuhku kaku. Aku tidak bisa membayangkan jika saat ini aku ada dalam posisi Wulan, pasti amarah ini akan meledak.


Berkali-kali Wulan mengumpat sembari membenturkan badan tanpa busana itu ke dinding. Intan hanya bisa berteriak meminta ampunan sahabatnya. Sementara pria kekar itu terlihat hanya menatap kosong diam saja padahal Intan sering kali menyebut namanya untuk meminta tolong.


"Dasar Binaatangg!" teriak Wulan begitu lantang. Untung saja jam segini hampir semua penghuni indekos tidak ada. Rata-rata mereka adalah karyawan pabrik. Tangan Wulan mencengkeram dagu Intan yang tampak diam saja.


"Kamu sudah kehilangan otak atau memang tidak punya otak? Sampai-sampai kamu tidur dengan suami temanmu. Kamu hanyalah pelaacuurr!" Wulan mendorong tubuh tanpa busana itu hingga terduduk di lantai. Tidak hanya itu, Wulan pun meludahi tubuh Intan yang berhias tanda cinta.


"Aku akan menghabisimu, Jalaangg!" Sebilah pisau yang ada tadi tergeletak di atas lemari, kini sudah ada dalam genggaman Wulan. Seperti kesetanan wanita itu hendak menikam tubuh Intan yang duduk dan lemas.


"Astagfirullah, Wulan! Hentikan, Lan. Nyebut!" Aku memegangi tangan Wulan yang sudah terangkat tinggi.


"Lepaskan aku, Han! Wanita itu tidak pantas hidup!"


Terjadilah perebutan pisau antara aku dan Wulan, untunglah pisau itu berhasil aku ambil dan segera aku lemparkan keluar kamar. Meski tanganku harus terluka karena insiden ini.


"Kenapa kau mencegahku menghabisi wanita yang telah merebut suamiku, Han. Karena dia, anak-anakku harus kehilangan kasih sayang orang tuanya." Air mata kembali lolos di pelupuk mata wanita cantik itu.


"Lan, jangan kamu kotori tanganmu dengan darah wanita kotor itu. Biarkan dia nanti mendapat hukumannya sendiri dari Gusti Allah. Entah dengan apa tapi percaya akan lebih pedih dari yang dia bayangkan," ujarku sembari membebat luka ini dengan kain sembarangan.


"Mantan suami! Mas Adnan itu mantan suamimu!" Mata Intan yang tadi meredup kini terlihat nyalang. Intan sepertinya sudah siap melawan sahabatnya.


"Pengadilan masih belum memutuskan. Aku pastikan akan mempersulit perceraian ini agar pernikahan yang kalian rencanakan batal!"


"Jangan seenaknya saja kamu. Mas Adnan itu sudah melepasmu dan memilih bersamaku!"


"Memang sampah seperti kalian pantasnya bersatu." Sebuah tamparan hampir dilayangkan Intan menanggapi sindiran yang dilontarkan Wulan tapi berhasil ditangkis oleh ibu dua orang anak.


"Kenapa? Tidak terima dengan ucapanku. Kamu memang sampah, Tan. Lihat tubuhmu yang kotor penuh peluh pria yang sudah kamu curi dari keluarganya!"


"Jaga ucapanmu, Lan! Tanya pada dirimu sendiri, kenapa suamimu lebih memilih menuntaskan hasratnya denganku ketimbang bersamamu?"


Aku yang mendengarnya saja rasanya hatiku tertikam begitu sakit, lalu bagaimana dengan Wulan? Pasti rasa sakit dan amarah itu sangat melukai hatinya. Intan tidaklah ada rasa bersalah sedikitpun karena telah menyakiti sahabatnya.


"Kamu tau, Tan? Seekor babbi lebih memilih kubangan yang lumpur dan penuh kotoran, sama dengan dia yang memilih wanita yang lebih rendah dari pelaacuur!"


"Jaga mulutmu!" Tangan Intan terayun hendak menampar pipi Wulan yang basah oleh air mata kesedihan dan kemarahan. Namun, saat ia memukul Wulan justru dia mengenai Adnan yang menjadi perisai bagi Wulan. Tubuh kekar itu memeluk Wulan selain untuk melindungi ibu dari anak-anaknya juga agar Wulan berhenti menyerang Intan.


"Mas, kenapa kamu membela mantan istrimu yang telah memakiku?"


"Karena Mas Adnanmu ini masih menjadi suamiku. Ingat itu!" sahut Wulan dari balik tubuh kekar Adnan yang telah mengenakan baju. Walau terlihat berantakan dan asal-asalan memakainya. Bajunya terlihat kusut dan juga terbalik. Wulan tertawa mengejek Intan saat gadis itu menarik kaos Adnan agar melepaskan pelukannya.


"Tan, kamu pakai bajumu dulu. Aku akan bicara pada Wulan." Meski menggerutu Intan tetap menuruti perintah Adnan. Sementara Wulan masih berusaha meronta dari pelukan pria yang menurut ceritanya dulu adalah cinta pertama Wulan. Bahkan demi bisa bersama Adnan, Wulan rela melawan orang tuanya dan memilih kabur dari rumah.

__ADS_1


"Sudah, Lan. Jangan mengamuk seperti ini. Kita harus terima kenyataan ini. Kita tidak bisa bersama lagi, sementara aku adalah pria normal yang punya hasrat."


"Bajingaann kamu! Kenapa harus sahabatku? Kenapa, Yah?" Wulan tampak emosional. Dia terus memukul dada bidang pria yang sudah lima tahun ini menjadi suaminya.


"Cinta tak bisa memilih, Lan. Kamu harus terima semua. Aku sudah jatuh cinta pada Intan."


"Sejak kapan?" Wulan kini menatap tajam wajah pria itu, "sejak kapan kalian bermain api di belakangku? Katakan, Mas!" Wulan menarik kerah baju Adnan. Aku terus mengusap bahu Wulan agar dia sedikit tenang.


"Kau mau tau kenyataannya, Lan? Yakin hatimu kuat?" sahut Intan yang baru saja selesai mengenakan bajunya.


Ingin rasanya aku menyumpal mulut Intan yang begitu busuk dalam berucap, bisa-bisanya dia tertawa di atas penderitaan Wulan. Tatapan Intan kini beralih kepadaku.


"Han, kamu ingat aku pernah bilang padamu pacarku yang sekarang adalah masa laluku yang kembali datang. Kami sepakat melanjutkan cinta yang sempat terhalang oleh hadirnya orang ketiga?" Aku mencoba mengingatnya, memang beberapa hari lalu Intan sempat menceritakan.


"Orang itu adalah Adnan, mahasiswa yang pernah tinggal di Wonogiri. Dia pergi dengan sebuah janji, selepas menyelesaikan kuliahnya akan kembali ke Wonogiri untuk meminangku. Namun, ternyata dia tidak kembali lagi karena terjebak oleh gadis murahan sepertimu."


Aku terperangah mendengar penuturan Intan. Tidak hanya aku, Wulan pun menatap tajam ke arah Adnan. Wulan sempat melemah, dalam dekapan Adnan mulai kembali berontak ingin menyerang mulut jahat Intan.


Entah keberanian dari mana, tanganku bergerak menampar mulut menjijikkan milik Intan. Aku sangat marah dengan setiap ucapan yang keluar dari bibir tipisnya. Tidakkah dia merasa bersalah sedikit saja.


"Han, kenapa kamu ikut-ikutan. Ini urusanku dan Wulan."


"Jaga mulutmu, Tan! Wulan bukan wanita murahan, justru dirimu yang rendah. Adnan tidak kembali kepadamu bukan karena terjebak oleh Wulan tapi memang pada dasarnya buaya. Jika dia mencintaimu, dia tidak akan merayu Wulan. Oh iya, tadi kau bilang kalian beda level. Tentu saja kalian jauh berbeda. Wulan ditiduri suaminya mendapatkan pahala, sementara kamu dapat apa? Hanya jadi bahan pelampiasan saja bangga!"


Pada akhirnya aku tidak sanggup menahan rasa sakitku atas ucapan Intan yang begitu membuat telinga ini panas.


"Aku tidak tau apa-apa memang. Tapi kau harus tau, Tan. Jika seorang pria bisa mengkhianati pernikahannya lalu apa yang kau harapkan dari dia? Dia akan setia padamu atas nama cinta? Taiii! Kamu harus bersiap suatu saat akan ada di posisi Wulan!"


Perdebatan terus terjadi, semua pihak saling merasa benar. Aku tentu saja terus membela Wulan. Sampai pada satu titik, Wulan mengusir dua binatang berwujud manusia.


Wulan yang tadinya begitu kuat, pada akhirnya luruh. Matanya terus menatap kasur tipis yang selama ini menjadi saksi pengkhianatan suami dan sahabatnya. Wanita itu terus berurai air mata.


Aku memeluk tubuh yang terlihat sangat lemah dan ringkih. "Istigfar, Lan."


"Han, sebenarnya apa kurangku pada mereka sampai-sampai aku kehilangan dua orang yang sangat dekat denganku dalam waktu yang bersamaan."


"Lan, kamu tidak bersalah. Harusnya kita bersyukur sudah diperlihatkan kebusukan yang tersimpan rapi selama ini. Kamu harus kuat menghadapi semua ini."


Memang mudah untuk mengatakan kuat menghadapi jalan hidup yang terjal dan tidak terduga. Andai aku yang ada di posisi Wulan pun belum bisa tetap waras. Dalam gugatan cerai yang diajukan Adnan seolah-olah Wulan lah yang menyebabkan perceraian mereka, padahal yang sebenarnya adalah Adnan buta hatinya karena kehadiran Intan yang merusak keharmonisan rumah tangga mereka.


"Han, kita ke kamarmu saja yuk. Aku tidak sanggup jika harus lama-lama berada di kamar ini. Bau peluh dua binatang masih menguar dan menusuk hidung serta melukai hatiku."


"Ka-kamarku? Apa kamu tidak takut?"

__ADS_1


"Lebih baik aku bertemu hantu ketimbang harus ada di kamar ini."


Memang saat ini tidak ada pilihan lain, selain ke kamarku. Tidak mungkin kami akan istirahat, kami harus merebahkan diri di teras.


Perlahan aku dan Wulan menyeret langkah ke bawah menuju ke kamarku. Aku membuka kamarku, untung saja bunga kantil yang semalam sudah hilang dan tanah kuburan yang bertabur di kasur pun hilang. Sebenarnya siapa yang masuk ke kamarku, apa Bu Wati? Soalnya tadi sebelum insiden di kamar, Wulan ingin bercerita tentang kejadian di kamarku semalam. Ah, nanti saja jika Wulan sudah lebih baik keadaannya, baru akan aku tanyakan padanya.


Wulan terlihat sudah terlelap, mungkin dia lelah karena terlalu banyak mengeluarkan air mata sepagi ini. Aku pun mulai mengantuk karena belum tidur dari semalam.


Cukup lama aku dan Wulan tidur hingga kami melewatkan azan Zuhur yang bahkan tidak membuat kami terjaga. Aku terperanjat ketika terjaga sudah saatnya masuk salat Asar. Wulan yang aku bangunkan kembali tidur setelah menghubungi atasannya serta mengabarkan bahwa dia tengah sakit dan tidak bisa bekerja.


Seusai mandi aku memutuskan ke kamar Wulan. Aku bersihkan setiap inci kamar Wulan yang berantakan. Seprai kasur yang belepotan kue tart aku cuci. Aku pun bisa mencium bau yang aneh dari seprai, hampir muntah aku dibuatnya.


"Lo, kenapa Mbak Hanna bersih-bersih di kamar ini? Mana Mbak Wulan?"


"Ada di kamarku sedang istirahat."


Lina, gadis yang sempat takut padaku itu berlari setelah berbincang sebentar denganku. Aku melanjutkan dengan membersihkan kamar termasuk gelas yang pecah dan berserakan dimana-mana. Di sudut kamar, aku menemukan sebuah kotak yang terbuat dari kayu yang diukir cantik. Ketika aku buka, isinya hanyalah sebuah bedak. Di permukaan cermin ada tulisan dalam huruf jawa. Aku memang orang Jawa, tapi tidak bisa membacanya, hanya saja terselip nama Intan dan Adnan tertulis dalam huruf biasa.


"Mbak Hanna pegang apa itu?" Lina kembali datang dan mengejutkanku.


"Ini bedak tabur, Lin."


"Itu punya Mbak Hanna?"


"Bukan, ini sepertinya punya Intan yang ketinggalan."


"Coba Lina lihat, Mbak." Meski aku bingung kenapa Lina sangat ingin tau tentang bedak yang aku pegang itu, tapi tetap saja aku berikan padanya.


"Astagfirullah, benar dugaanku. Ini bukan bedak sembarangan. Ini bedak yang mengandung klenik di dalamnya. Orang awam menyebutnya bedak pelet. Siapa pun yang memakainya akan terlihat sangat cantik dan orang yang disebut sebelum mengenakan bedak ini akan tergila-gila pada si pemakai bedak."


Apa mungkin Intan menggunakan ini untuk menjerat Adnan atau untuk yang lainnya. Tidak ada yang tau.


"Hanya saja tidak banyak orang tau, bahwa jika pemakaian bedak ini dihentikan maka wajah pemakainya akan berubah rusak."


"Rusak?" tanyaku.


"Ya, seperti yang terjadi pada pelanggan salon tempatku bekerja Mbak. Wajah dia hancur dalam semalam, warna kulitnya yang putih menjadi merah seperti tomat, bahkan beberapa kulitnya terkelupas. Ketika dibawa ke dokter spesialis kulit pun akan sia-sia."


"Berapa lama wajah itu bisa rusak jika dihentikan."


"Biasanya satu minggu tidak menggunakan wajah mulai rusak."


Aku tersenyum kecil, rasanya tidak sabar melihat Intan dalam kondisi seperti itu. Agar dia merasakan akibat yang sudah dilakukannya, merebut suami dari sahabatnya sendiri. Dia mungkin akan merasakan ditinggal oleh Adnan dikarenakan Intan yang selalu dipuja karena kecantikannya telah hilang berganti dengan wajah yang mengerikan bagai monster.

__ADS_1


...----------------...


...--bersambung--...


__ADS_2