
Aku dan Wulan sama-sama terperanjat karena ucapan yang Intan lontarkan. Antara percaya dan tidak dengan apa yang baru saja dikatakannya mengenai adik untuk anak-anak Wulan.
"Apa maksudmu dengan adik untuk anak-anakku?"
"Wulan, katanya kamu dari SD selalu juara kelas? Harusnya kamu dengan mudah mencerna kata-kataku dong!" Ada senyum yang terlihat mengejek terbit di bibir Intan. "Atau kamu selama ini cuma menjual saja? Apa harus aku perjelas maksud dari kata-kataku tadi. Tapi apa kamu yakin tidak akan bunuh diri saat aku jelaskan secara gamblang! Kamu saja waktu ditalak Mas Adnan saja nangis-nangis mau bunuh diri." Tawa jahat membuatku naik darah. Rasanya ingin merobek bibirnya yang dower itu.
"Dasar tidak tau diri. Kamu itu hanya sampah yang selevel sama taaii!" jawab Wulan dengan nada bergetar menahan amarah yang membuncah.
"Iya, aku memang sampah yang sebentar lagi dinaikkan derajatnya menjadi ratu bagi Mas Adnan. Sementara kamu, Wulan, kamu adalah calon sampah yang terbuang dan akan dilupakan."
"Intan! Apa kamu sudah gila? Dengan bangga kamu bilang seperti itu pada Wulan? Apa kamu lupa Wulan itu sahabat yang kamu sakiti?" Aku sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkan kata makian untuk wanita yang pikirannya sudah mati itu.
"Wulan itu sahabatku? Han, bukannya dia sendiri yang bilang kalau aku bukan sahabatnya lagi? Jadi kenapa aku harus jaga sikap? Sudah cukup lama aku menunggu untuk memiliki Mas Adnan sepenuhnya. Sekarang aku tidak perlu sembunyi-sembunyi dengan hubungan kami kan?"
Wulan hendak menyerang kembali Intan tapi aku berhasil mencekalnya. "Lepasin aku, Han. Aku mau menghajar perempuan setaann ini!"
"Jangan! Biarkan dia menuai perbuatannya sendiri. Dia meminta bantuan para penunggu kegelapan bukan? Maka biarlah mereka pula yang menghancurkannya."
"Tapi..."
"Ingat kata Lina tentang bedak itu?" Untuk sejenak Wulan terdiam setelah itu ada senyum sinis di wajahnya serta matanya kini memandang Intan dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
"Kenapa kamu memandangku seperti itu? Kamu iri ya, karena suamimu atau tepatnya sebentar lagi jadi mantan lebih memilih tubuhku untuk dinikmatinya."
Wulan tertawa terbahak mendengar kesombongan dari mulut besar Intan. "Aku kasihan sama kamu karena wajah yang kamu gunakan untuk merebut suamiku akan hancur dan bisa jadi Mas Adnan akan meninggalkanmu karena jijik padamu."
"Apa maksudmu? Jangan sembarangan bicara. Tidak mungkin wajah cantikku hancur!"
"Sudah, Tan. Kamu pergi saja sekarang, ambil semua barangmu dan jangan lagi ganggu Wulan."
Aku memang sengaja membuat Intan tidak tau perihal akibat menghentikan bedak pelet agar dia tidak membeli bedak yang tidak aku tau dimana dia mendapatkan benda penuh aura klenik itu lagi. Biar Intan merasakan akibat kejahatan dan kesombongannya.
"Aku memang mau pergi. Kalian saja yang suka drama jadi menahanku," sahut Intan sembari menyeret kopernya. Tidak berapa lama aku mendengar benda jatuh dan dibarengi teriakan. Aku yang tengah menenangkan Wulan yang masih terengah karena menahan amarahnya segera berlari keluar.
Tidak ada apa pun, aku coba melihat tangga, siapa tau ada yang jatuh. Benar saja, aku melihat Intan terjengkang ke bawah. Dia tengah mengusap keningnya yang sedikit berdarah.
"Rasain kamu! Itu baru jatuh di tangga, belum jatuh di api neraka," ejekku sembari tertawa. Aku bisa melihat ada amarah di mata Intan yang sangat kentara dalam tatapannya.
"Kenapa diam saja? Sakit kan jatuh dari tangga? Besok-besok kalau terjun jangan nanggung, kalau mau terjun dari roof top gedung lima lantai atau gedung pencakar langit lebih seru!"
"Kurang ajar kamu, Han! Teman macam apa kamu yang tertawa di atas penderitaan temanmu!" Gadis itu berusaha bangkit berdiri.
Rasanya lucu ketika seorang Intan berbicara tentang hubungan pertemanan. Aku tertawa dan bertepuk tangan atas ucapan yang baru saja keluar dari mulut si pengkhianat itu.
"Wah, hebat sekali anda. Seorang perempuan yang melakukan berbagai cara untuk menghancurkan sahabatnya berbicara tentang adab berteman!" tawaku membahana membuat Intan pasti naik darah karena matanya melotot.
__ADS_1
Tiba-tiba Intan naik ke atas, tangannya hendak menamparku. Namun, belum sempat tangannya menyentuhku dia berhenti. Mimik wajah yang tadinya penuh amarah tiba-tiba saja berubah. Dia seperti tengah ketakutan.
"Ka-kamu..." Perlahan Intan mundur, tapi pijakannya sepertinya tidak tepat. Maka, gadis itu kembali terjun bebas.
"Aduh!" teriaknya kembali. Matanya sekilas melirikku kemudian gadis itu berlari turun ke lantai bawah sembari berteriak-teriak.
"Jangan ganggu aku!"
Aku bingung sebenarnya, kira-kira mengapa setelah dekat sekali dengan tubuhku, Intan tampak ketakutan. Apa jangan-jangan ada dia yang pernah menampakkan diri pada Lina. Ah entahlah, yang penting pelakor itu sudah pergi dan semoga tidak kembali.
Dalam kamar yang kembali berantakan akibat ulah Intan, Wulan termangu sembari memainkan kotak kayu wadah bedak pelet milik Intan.
"Lan, jangan melamun lagi ya. Kita sudah menghancurkan pelet itu. Sekarang kita tunggu kehancuran si penggoda itu," ucapku berusaha menenangkan Wulan yang terus berurai air mata.
"Bedak itu memang sudah aku buang, tapi bagaimana dengan perut Intan. Tidak mungkin kita menghilang begitu saja, Han, aku tidak sanggup membayangkan perasaan anak-anakku nanti saat tau mereka punya adik wanita yang telah mencuri ayahnya."
"Sudah. Yakin saja Adnan akan pulang kembali setelah ini. Soal kehamilan Intan, nanti kita pikirkan jalan keluarnya. Lan, misalnya Adnan tetap memilih bersama Intan yakinlah ini yang terbaik bagi kalian dan semoga saja setelah badai ini berlalu akan datang jodoh yang terbaik buat kamu juga anak-anakmu. Aamiin."
Aku memeluk erat tubuh yang terlihat kuat tapi tetap saja di dalamnya rapuh. Aku membiarkan dia menumpahkan segala kesedihannya.
"Lan, sudah ya. Jangan nangis lagi." Aku mengusap pipi basahnya.
"Maaf ya, Han. Aku sangat cengeng. Harusnya aku sudah siap kehilangan Mas Adnan apapun alasannya meninggalkanku. Tinggal dua kali sidang lagi sebelum pengadilan memutuskan apakah perceraian ini terjadi atau ditolak."
"Semoga saja nanti hasilnya terbaik untuk kalian, ya." Wulan mengulas sebuah senyuman di wajahnya.
Mendengar soal bekerja, aku jadi ingat akan kewajibanku hampir saja lupa bahwa aku harus bekerja demi banyak impian. Namun, rasanya tidak tega jika harus meninggalkan Wulan yang sangat butuh teman saat ini.
"Kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal kerja, Lan?"
"Enggak apa-apa kok. Lagian aku juga akan langsung tidur. Tapi maaf aku tidak bisa mengantarmu. Kamu bawa saja motorku, Han." Aku mau menolaknya tapi Wulan terus memaksa. "Jarak antara gerbang utama sampai ke gedung produksi kan jauh. Kalau kamu jalan kaki bisa-bisa ketemu para hantu."
"Ya sudah, aku siap-siap dulu ya, Tan."
Aku bergegas bersiap untuk berangkat kerja. Setelah semua siap aku berpamitan pada Wulan.
"Han, kamu perlu ditemenin tidak?"
Aku menolak tawaran Wulan untuk mengantarku sampai di parkiran. Meski takut menyusuri kamar-kamar indekos yang hampir semua penghuninya itu telah terlelap. Aku takut jika hantu penunggu kamarku kembali datang dan mengganggu. Aku menghela napas panjang sebelum membuka pintu sembari berdoa tidak ada makhluk mengerikan yang menungguku di luar sana.
Perlahan aku membuka pintu, setelah memastikan tidak ada sesuatu yang aku takutkan. Aku memilih segera keluar kamar dan kembali menutupnya. Apalagi Wulan nampak sudah tertidur sembari memeluk ponselnya.
"Mbak Hanna mau berangkat kerja?" tanya Lina saat aku akan meninggalkan kamar.
"Iya, Lin. Kamu mau kemana? Malam-malam belum tidur."
__ADS_1
Gadis yang bekerja sebagai kapster di sebuah salon yang cukup ternama itu nampak tersenyum malu. "A-anu, Mbak. Li-lina laper, Mbak. Mau ke bawah beli nasi goreng."
"Ya sudah, kita turun bareng ya. Aku juga sekalian mau beli nasi goreng buat bekal masuk malam. Oh ya, Lin, nanti aku nitip Wulan ya."
"I-iya, Mbak. Lo memangnya Mbak Intan tidak ada ya?"
"A-anu, Intan sudah pindah indekos." Untunglah Lina tidak bertanya lebih lanjut. Kalau tidak, pasti aku akan kebingungan menjawabnya. "Lin, ayo kita ke bawah keburu nasi gorengnya habis."
Hati ini lega karena tidak harus sendirian menyusuri lorong indekos ini yang remang dan sepi. Jadi agak tenang karena kemungkinan untuk hantu itu datang semakin kecil. Di tangga menuju lantai bawah tiba-tiba saja indera pendengaranku menangkap senandung tanpa syair.
"Lin, kamu dengar sesuatu, tidak?" tanyaku dengan suara yang bergetar.
"Suara? Iya, aku mendengarnya, Mbak." Lina memandangku tapi sembari tersenyum kecil. Bocah ini kenapa seperti menahan tawa padahal aku tengah dilanda ketakutan.
"Apa yang kamu dengar memangnya? Apakah sama dengan yang aku dengar, Lin?"
"Aku bisa mendengar dengan jelas cacing di perutku yang tengah menggelar konser dangdut dan keroncong." Tawanya renyah menggema. Mau tidak mau aku ikut tertawa. Dasar Lina, aku bicara serius nyatanya ditanggapinya dengan bercanda.
"Tidak, Lin. Aku tadi serius ya," ujarku pura-pura merajuk.
"Lah, Lina juga serius, Mbak. Aku dengernya suara perutku yang kelaparan."
Aku dan Lina bercanda sampai ke parkiran motor. Aku menggunakan motor Wulan agar tidak terlambat. Berboncengan dengan Lina menuju tukang nasi goreng yang mangkal tidak jauh dari indekosku. Setelah membeli nasi goreng aku kembali mengantarkan Lina ke indekos sebelum berangkat kerja.
"Mbak, terima kasih ya buat traktirannya. Next time biar aku yang bayar."
"Halah, biasa saja. Itu tadi kebetulan ada rejeki dikit. Oh iya, nanti nasi yang buat Wulan langsung ditaruh di dalam saja. Pintunya tidak aku kunci kok."
"Siap, Mbak!"
Aku menarik gas untuk melanjutkan perjalananku ke pabrik. Sebelumnya aku sempat memberi tau Indah agar tidak menjemputku. Agar dia tidak kecewa saat menjemputku.
Memasuki area pabrik tiba-tiba saja motorku rasanya berat seperti tengah memboncengkan beban yang berat. Punggungku pun terasa sangat panas. Dalam hati aku hanya bisa berdoa semoga ini bukan pertanda buruk.
Mataku melirik ke kaca spion. Aku terkejut dengan sosok yang tengah duduk dan membonceng di belakangku. Hati ini terus mengucap istigfar kemudian perlahan menghentikan laju motorku. Aku memberanikan diri untuk menengok ke jok belakang. Untung saja sosok wanita tanpa rupa itu telah hilang.
"Han"! Panggilan Mbak Juni membuatku terkejut.
"Mbak Juni!" Aku memeluk erat tubuh wanita itu karena aku sangat ketakutan. "Mbak, tadi ada yang membonceng motorku. Dia..."
"Aku tau, tadi Gayatri membonceng padamu. Makanya aku tadi teriak-teriak memanggilmu, tapi kamu tidak dengar. Aku mau kamu berhenti dulu. Aku takut kamu jatuh."
"Jadi wanita tanpa rupa itu Gayatri?"
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...