
Baru kali ini aku mengulas sebuah senyum pada makhluk tidak kasat mata itu. Padahal biasanya aku akan berteriak ketakutan. Meski aku mendapatkan balasan seringai yang menyeramkan, tidak apalah yang terpenting Wulan bisa pulih. Bagaimana pun caranya yang harus aku tempuh.
"Han, kenapa lihat luar sambil senyum-senyum? Kita berangkat sekarang ya," ajak Ridwan.
"Oh iya, cepat ya, Wan. Aku takut Wulan kenapa-kenapa."
"Identitas Wulan sudah kamu bawa?" Aku mengangguk sementara Ridwan segera tancap gas membelah keramaian jalan menuju rumah sakit.
Mataku basah saat melihat kondisi Wulan yang tidak sadar dan penuh luka. Kenapa dia harus mengalami hal seburuk ini belum kering luka hatinya kini ditambah dengan luka fisik yang harus dia tanggung.
"Lan, bangun!" bisikku perlahan pada wanita yang kepalanya tengah aku pangku itu. "Kamu harus bertahan demi anak-anakmu. Mereka masih sangat kecil, siapa yang akan mengurus mereka nanti? Kamu bangun ya, Lan."
Memandang wajah ayunya yang penuh bekas cakaran membuatku ngilu sendiri. Entah bagaimana perihnya luka ini. Air mataku terus mengalir bahkan sempat menetes di wajah Wulan.
"Ambil ini dan aku mohon jangan menangis lagi. Aku tidak suka wanitaku menangis seperti ini." Ridwan menyodorkan kotak tisu padaku. Sementara tangan kanannya tengah memegang setir. Lebih baik aku terima saja, aku tidak ingin nanti justru membahayakan kami karena Ridwan tidak fokus menyetir.
"Terima kasih," jawabku pelan, Ridwan tampak tersenyum saat aku menghapus air mata.
"Nah begitu kan cantik. Senyum dikit dong, cantik. Abang rindu dengan senyum manismu." Pria itu melemparkan senyum padaku melalui kaca spion dalam. Di saat genting seperti ini Ridwan masih bisa membuat hatiku bergetar.
"Apaan sih, Wan. Sudah sana lihat jalan. Hati-hati kalau nyetir!"
Pria itu hanya tersenyum kemudian kembali konsentrasi membelah jalan yang ramai agar cepat sampai ke rumah sakit. Tepat di depan ruang IGD, Ridwan meminta bantuan petugas keamanan yang berjaga.
"Pak, tolong, ada pasien tidak sadarkan diri di kursi penumpang. Sepertinya kami perlu brankar!"
"Baik, Pak!"
Dengan sigap para petugas keamanan membopong tubuh lemas Wulan sementara yang lain mengambil brankar. Tubuh lemas Wulan segera dibawa ke dalam. Seorang tenaga medis di sana memintaku dan Ridwan untuk ke ruang administrasi agar segera mendaftarkan diri.
"Tapi, Mbak. Wulan langsung bisa ditangani kan?"
"Mbak, tenang saja. Sudah ada tim yang langsung memeriksa kondisi pasien." Sebenarnya aku sangat ingin menunggui Wulan saat ini. Aku ingin tau apa yang dilakukan para petugas medis itu.
"Kamu mau tunggu di sini? Kalau gitu biar aku saja yang ke ruang administrasi."
Ridwan seperti tau saja yang aku pikirkan. Aku mengangguk lemah karena memang rasanya berat harus meninggalkan Wulan dalam keadaan seperti ini meski dia saat ini ada di dalam pemeriksaan petugas kesehatan.
"Sus, boleh kan pasien ditungguin?"
"Bisa, Pak. Tapi penunggu harus ada di luar dulu ya, sampai tim dokter mengijinkan." Ridwan memandangku seolah meminta jawaban dariku.
"Penanganannya sekitar berapa lama, Sus?"
__ADS_1
"Tergantung kondisi pasien, kalau saran saya lebih baik ibu dan bapak ke ruang administrasi dulu setelah itu baru menunggu pasien. Takutnya saat ibu menunggu sendiri ada pasien datang dalam keadaan yang tidak biasa. Ibu terkejut."
"Tidak biasa?"
"Ya, kami harus siap menerima apapun keadaan pasien. Takutnya Ibu yang tidak biasa melihatnya, syok dan terjadi sesuatu yang buruk!"
Lebih baik memang aku dan Ridwan ke ruang administrasi bersama, lagi pula data diri Wulan ada di dalam tasku. Dengan hati yang terus berdoa aku terus meminta kesembuhan untuk sahabatku. Semoga saja hantu tanpa kepala itu berhasil membawa kembali jiwa Wulan yang mungkin sudah dibawa oleh makhluk yang merasukinya tadi.
"Sudah, jangan panik dan tegang. Wulan adalah wanita hebat, pasti dia bisa melewati semua ini." Tangan kekarnya menggenggam erat tanganku. Rasa nyaman saat bersentuhan dengan pria jangkung ini membuat hatiku sedikit lebih tenang.
Aku dan Ridwan menuju ruang administrasi yang lengang itu, hanya ada satu petugas saja di sana karena memang ini sudah malam jadi sangat jarang ada pasien yang datang, itu pun biasanya pasien gawat darurat.
"Ada yang bisa dibantu, Bapak dan Ibu?" Meski risih karena dari tadi dipanggil dengan sebutan ibu, aku tetap memaksakan diri untuk tersenyum. "Silakan duduk," ujar petugas berkacamata itu.
"Anu, Pak. Saya mau mendaftarkan teman saya. Dia sekarang ada di ruang IGD."
"Oh, baiklah. Bisa saya pinjam kartu identitas pasien?" Aku segera merogoh tas dan mengambil dompet Wulan. Di dalamnya banyak sekali kartu. Entah apa saja. Untuk mencari kartu identitasnya, aku mengeluarkan semua isi dompetnya.
"Sebentar ya, Pak. Saya cari dulu." Aku memilah-milah kartu yang jumlahnya puluhan itu.
"Bu, kalau ada sekalian kartu asuransi pasien. Biar kami proses sekalian," ujar pria penjaga itu. Dibantu Ridwan akhirnya aku menemukan dua kartu yang diminta petugas. Pria berkacamata itu segera mengetik data-data Wulan.
"Bu, ini kartu identitas dan asuransinya. Lembaran ini nanti tolong diserahkan ke petugas IGD ya, Bu. Soal biaya penanganan semua tergantung petugas dan dokter juga. Bisa tercover asuransi atau harus membayar seperti pasien umum." Aku hanya mengangguk pelan dan segera meninggalkan ruang itu dan menuju ruang IGD.
"Mbak, ini dokumen dari ruang administrasi," ujarku sembari menyerahkan map besar kepada petugas yang duduk di balik meja.
"Oh, ini atas nama Wulan yang ada di situ ya?" tanyanya sembari menunjuk ke balik tirai yang tertutup itu. "Yang tangannya penuh luka dan wajahnya penuh cakaran?"
"I-iya, Mbak, itu teman saya. Bagaimana keadaannya, Mbak?"
Perawat itu tampak menulis sesuatu di kertas tadi tanpa menjawab pertanyaanku.
"Bapak dan Ibu, tolong bisa dijelaskan kronologi ceritanya pasien bisa seperti ini?"
Dengan tergagap aku menceritakan semuanya, termasuk penyebab Wulan seperti ini karena sedang dalam pengaruh roh jahat yang merasukinya. Memang terdengar tidak masuk akal tapi mau bagaimana lagi, itulah kenyataan yang terjadi.
"Berarti benar, pasien itu menyakiti dirinya sendiri? Bukan korban KDRT atau kejahatan lainnya?" Sontak aku menggeleng. Perawat itu tampak menautkan alisnya serta mengerutkan dahinya.
"Pak, Bu, kemungkinan pasien tidak bisa dicover menggunakan asuransi. Untuk lebih jelasnya biar dokter jaga yang menjelaskannya," ucapnya datar kemudian pamit untuk menyerahkan dokumen pada dokter yang tengah menangani Wulan.
Ridwan mengajakku duduk di kursi tunggu. "Wan, kenapa tadi suster bilang pengobatan Wulan tidak bisa menggunakan kartu asuransi kesehatan ya. Padahal fungsinya untuk membantu pembiayaan agar saat-saat tengah sakit seperti ini. Dulu ibuku saja saat sakit dan harus dioperasi semuanya ditanggung, tapi kenapa giliran Wulan tidak."
"Mungkin ada pertimbangan khusus, lagi pula kan belum tentu itu. Siapa tau bisa, yang penting sekarang kita terus berdoa agar Wulan selalu dalam perlindungan Yang Kuasa."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk, memang benar apa yang dikatakan Ridwan, aku harus fokus dengan kesehatan Wulan dulu.
Tidak berapa lama aku melihat sebuah mobil berhenti di depan pintu IGD. Tunggu, sepertinya aku pernah melihat mobil itu tapi entah di mana, aku lupa.
Sesosok pria yang aku kenal keluar dari mobil dengan terburu-buru. Dia—
"Tolong!" teriaknya. Ridwan hendak berdiri untuk menolong pria yang tengah kebingungan karena di depan memang sepi, mungkin para petugas keamanan tadi tengah beristirahat.
Ridwan berdiri mungkin berniat membantu, segera aku tahan dengan menarik tangannya dan memintanya untuk duduk kembali. "Sayang, mau bantu pria itu, sepertinya dia butuh bantuan atau mungkin dia sedang membawa pasien gawat darurat."
"Biarkan. Cukup panggil suster saja untuk membantunya." Ucapanku yang sangat datar dan tatapan tidak suka yang aku arahkan pada pria itu agaknya bisa terbaca oleh Ridwan.
"Baiklah, aku paham. Aku panggil suster dulu ya, untuk membantu pria itu."
Aku tatap punggung pria yang mengenakan kaos oblong warna putih tulang itu. Dia berjalan menuju bilik tempat Wulan ditindak. Beberapa suster keluar dari sana dengan tergesa-gesa, dua di antara mereka bergerak keluar sembari menarik brankar sementara yang lain menunggu di dalam.
Aku yang tau pasti bahwa siapa yang tengah kesakitan dari dalam mobil memilih menunduk dan menekuni ponselku, meski dalam hati aku juga takut terjadi apa-apa padanya.
Saat brankar didorong melewatiku, sengaja aku menutup wajahku dengan rambut. Namun, dari atas brankar terjuntai sebuah selendang berwarna hijau lumut. Selendang itu, bukankah itu mirip sekali dengan milik si penari yang setengah wajahnya terkelupas.
Aku angkat wajahku, benar penari itu tengah menduduki tubuh Intan sementara selendangnya menutup mulut gadis yang wajah dan tangannya melepuh. Aku berlari mendekati Intan. Gadis itu tampak mengerikan matanya melotot ke arah penari itu, mulutnya terbuka lebar seolah hendak berteriak tapi tidak bisa karena dibekap oleh selendang si penari.
"Tunggu!" Teriakanku menghentikan pergerakan para perawat itu. Adnan terkejut aku pun ada di ruangan itu.
"Hanna, mau apa kamu di sini? Kamu mau menghalang-halangi kesembuhan Intan? Apa kurang kalian menyakiti Intan?"
Ingin rasanya aku robek mulut pria yang secara hukum masih menjadi suami Wulan ini. Untung saja ini di rumah sakit aku bisa menahan diri.
"Anda bisa tidak sopan dengan perempuan? Harusnya anda berterima kasih pada Hanna karena dia yang menyuruh saya memanggil suster!" Aku terperanjat karena rupanya Ridwan sudah ada di depanku, membuat tubuhku tertutup olehnya.
"Sudah!" Aku harus menghentikan perdebatan dua pria itu sebelum ujungnya kami semua diusir oleh petugas keamanan karena membuat keributan di rumah sakit. "Kalian diam dulu, aku mau bicara kepadanya."
Tidak aku pedulikan tatapan bingung dari dua pria dan para suster. Aku berjalan di ujung brankar, tepat di atas kepala Intan. Kini aku berhadapan langsung dengan penari, pemilik kotak bedak pelet itu.
Aku menghela napas panjang agar ketakutanku mereda. Tidak, aku tidak boleh takut menghadapi makhluk mengerikan yang masih menduduki perut Intan itu sementara tangannya yang juga melepuh tampak menari dengan mata terpejam.
"Saya tau kamu mendengarkan ucapanku. Tolong, lepaskan teman-temanku dari jeratanmu. Bebaskan mereka!"
Mata si penari yang tadinya terpejam, kini terbuka. Matanya merah menyala dengan tajam menatapku. Tetesan darah yang keluar dari ujung matanya perlahan membasahi lantai. Dia menyeringai lebar dan tertawa keras, siapa pun yang mendengarnya pasti akan ketakutan. Aku berusaha memantapkan hati dan terus menjaga agar tidak kalah oleh rasa takut. Rahang wanita itu seperti hendak terlepas karena saking lebarnya mulutnya menganga.
"Aku akan lepaskan mereka, asal kamu jadi gantinya. Ikut ke duniaku dan menjadi budakku!"
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...