
Wulan terperangah mendengarkan penjelasanku, sampai-sampai wanita itu menepikan motornya dan berhenti di pinggir jalan. Aku bingung dengan sikapnya itu.
"Ada apa, Lan? Kenapa tiba-tiba berhenti? Kamu tidak baik-baik saja ya?"
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit terkejut saja dengan ucapan kamu, Han. Aku tadi juga melongok kolong meja karena ras ini aku letakkan di sana. Tapi tidak melihat pocong atau yang aneh-aneh, seperti yang kamu lihat, Han."
Wulan tampak terdiam sebelum melanjutkan ucapannya, "Han, jangan-jangan kamu itu diberi keistimewaan yaitu punya indera keenam. Apa itu istilahnya? A-anak in-indigo? Ya, indigo."
"Aku bukan indigo, Lan. Aku anak india yang suka nari-nari sambil nyanyi dan mengitari pohon diiringi hujan deras.
Suasana yang tadinya tegang mulai sedikit mencair karena tawa renyah terdengar. "Terus ini makanannya bagaimana nasibnya, Lan? Apa kamu masih mau memakannya? Kalau punyaku, aku buang saja. Ngeri ngebayanginnya," ujarku sembari mengusap tengkukku yang sedikit berat.
"Buang saja deh. Aku juga ngeri sendiri."
"Eh, itu ada tong sampah. Aku buang saja ya."
Wulan menyetujui tindakanku. "Han, kita cari warung apa gimana sekarang? Soalnya perutku dari tadi bunyi, seperti sedang konser." Wulan menggaruk kepalanya sekembalinya aku membuang plastik berisi nasi lengkap dengan ayamnya.
"Di kamarku ada beras sih sama ada stok mie instan. Kita makan itu aja kali, ya."
"Ide bagus, kebetulan juga tadi aku beli sosis yang sudah siap makan."
"Mantap, sekalian aku juga lagi pengen martabak telor."
"Ya Tuhan, kalau ini ada Intan pasti dia ngomel-ngomel sepanjang kereta api karena kita menggagalkan program dietnya. Dia tidak akan menolak jika di depannya ada makanan yang berbau mie dan sosis."
Aku dan Wulan tertawa lebar. "Lagi pula, Han, aku itu kadang heran, Han. Itu si Intan badannya sudah kecil mungil, masih saja pakai acara diet-dietan segala, apa dia mau tubuhnya setipis kertas?"
"Wajarlah, Lan. Si Intan kan mau me..." Ucapanku terhenti karena ingat janjiku pada Intan. Aku merutuki diriku yang selalu saja hampir keceplosan membeberkan rencana pernikahan Intan.
"Intan mau me? Me apa?" tanya Wulan dengan mata yang menatapku tajam seolah hendak menyelidik kedalaman hatiku.
"Intan mau me-menguruskan badannya kan? Mungkin bagi dia tubuh dia terlalu besar."
"Kalau Intan bilang badannya besar apa kabar denganku ini. Turun mesin sebanyak dua kali membuat perut ini menggelambir pengen ikut eksis."
Wulan meremas perutnya yang memang sedikit buncit itu. Aku tertawa melihat aksinya. "Ya sudah, disyukuri saja. Mau gendut mau kurus yang penting napas saja. Ayo, kita pulang. Nanti jam sebelas kurang, aku sudah harus berangkat kerja."
Wulan melajukan kuda besi menuju indekos kami, setelah sebelumnya mampir ke sebuah warung sayur mentah. Sawi juga cabe dibeli agar ada gizi dalam semangkuk mie yang akan membungkam pada cacing, tidak lupa beberapa butir telur.
Mata ini tertuju pada lampu kamarku yang menyala terang, padahal tadi sebelum aku naik ke kamar Wulan, bisa aku pastikan aku sudah mematikannya. Ah, mungkin tadi aku terlupa.
"Wulan, kamu temenin aku dulu ya ke kamar. Aku mau ambil beras sama mie instan sekalian matikan lampu."
"Tapi aku nunggu di luar kamarmu ya, Han. Masih ngeri-ngeri sedap kalau harus masuk ke kamarmu, takut aku. Lagi pula ini sudah jam delapan malam."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk, sikap Wulan bisa aku maklumi karena aku saja lebih memilih tinggal di rumah Indah karena terus saja diteror oleh makhluk tidak kasat mata.
Aku hendak membuka kamar sekalian mau mengambil beras dan juga mie instan yang ada di lemari. Namun, aku mendapati pintuku tidak dalam keadaan terkunci. Kenapa bisa begini, tadi sebelum aku naik ke kamar Wulan pintu ini sudah terkunci.
Pikiranku mulai menerka-nerka yang mungkin bisa terjadi pada kamarku. Rasanya tidak mungkin jika ini adalah kasus perampokan karena tempat ini begitu ramai penghuninya meski mereka masing-masing sibuk di kamar mereka sendiri. Lagi pula jika ingin merampok, maka mereka salah sasaran, kamar indekosku tidak ada sesuatu yang berharga.
Dari Ungaran, aku hanya membawa rice cooker dan bahan makanan mentah, seperti beras, mie instan, dan beberapa makanan kering lain. Sejak tinggal di rumah Indah, otomatis semua aku tinggalkan begitu di kamar yang semua.
Perlahan aku membuka kamar yang sudah terkenal keangkerannya. Ada bau bunga kantil menyeruak menusuk hidung, entah berasal dari mana. Aku tau ini adalah aroma bunga kantil karena mendiang ibuku sangat menyukai aroma kantil.
"Han, kamu pakai pengharum kamar apa sih. Wanginya menyengat banget dan menimbulkan kesan seram."
"Hush, aku tau ada aroma kantil tapi pengharumku wanginya lavender, bukan ini kali."
"Terus ini baunya berasal dari mana? Jangan bilang ada makhluk tidak kasat mata di sekitar kamarmu?"
Ucapan Wulan tentu saja membuat aku semakin ketakutan. Apa benar yang dia bilang saat ini ada penghuni lain sedang ada di kamar ini.
"Naik saja, Han. Berasnya aku masih punya kok."
Iya, beras aku harus segera mengambilnya. Sekarung beras berukuran sepuluh kilogram aku angsurkan ke Wulan. Sementara itu aku mengambil seplastik mie instan yang bahkan belum sempat aku bongkar.
Sebelum keluar, aku memerhatikan kamarku. Tidak ada yang berubah dari kamar ini. Bahkan bantal yang tadi siang dalam posisi miring pun masih seperti itu. Mataku membulat ketika menyadari ada banyak bunga kantil yang bertaburan di sekeliling kasurku. Siapa yang melakukan ini sebenarnya, juga ada taburan tanah di atas kasur.
"I-iya, kenapa banyak bunga dan itu tanah merah seperti tanah kuburan." Aku menatap wanita yang terus mencengkeram lenganku.
"Han, ayo kita naik saja sebelum ada hal-hal yang tidak diinginkan." Wulan menarikku untuk segera meninggalkan kamar.
"Tapi, aku harus bersihkan dulu."
"Tidak usah. Ayo, kita naik. Sekarang dan jangan membantahku."
Aku mengalah dan menuruti kata Wulan. Meski banyak pertanyaan yang melayang tentang bagaimana bunga kantil itu ada di sana? Siapa juga yang kurang kerjaan hingga menabur tanah kuburan di kasurku? Semuanya tidak terjawab.
Di lantai dua aku bertemu Bu Wati yang baru keluar dari kamar mandi. Lebih baik aku tanyakan saja padanya, kira-kira apakah dia melihat orang yang dengan lancang masuk ke kamarku.
"Bu Wati! Tunggu, Bu."
Ibu Wati tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika melihatku datang.
"I-iya, ada apa, Mbak Hanna? Saya kira Mbak Hanna balik ke rumah temannya." Ada suara gemetar yang begitu jelas kentara saat wanita yang sepertinya sebaya dengan ibuku.
"Tidak, Bu. Hanna masuk sift malam sekalian nanti berangkatnya dari sini."
"Oh, begitu. Saya masuk ke kamar dulu."
__ADS_1
Aku cukup terheran biasanya Bu Wati sangat senang diajak ngobrol tapi hari ini sepertinya dia menghindar. "Tunggu, Bu. Hanna mau tanya sesuatu."
"Tanya apa, Mbak?"
"Apa Bu Wati tau siapa yang masuk ke kamar saya dan..."
"Saya tidak tau, Mbak. Saya mau masuk dulu ada urusan." Tanpa menghiraukan aku dan Wulan yang masih melongo dengan sikap Bu Wati yang aneh itu. Pintu kamar Bu Wati ditutup dengan cukup keras, sontak membuatku dan Wulan terperanjat.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan Bu Wati. Apa ini ada kaitannya dengan keadaan kamarku yang seperti itu."
"Jangan berprasangka buruk pada orang, Han. Ayo kita naik dulu. Takutnya ada hantu yang mengikuti kita sampai sini."
Wanita itu segera mengajakku ke lantai tiga menuju kamarnya. Namun, apa ini? Kenapa hidungku terus saja mencium aroma bunga kantil.
"Han, wudu sana. Kata ibuku setiap kali bersinggungan dengan hal gaib alangkah baiknya kita menyucikan diri dengan air wudu."
Sejak keluar kamar aku memang merasa bahuku berat sekali serta punggungku terasa panas sekali. Kepalaku pun pusing karena terus saja mencium aroma bunga kantil yang menusuk hidung. Aku bergegas melakukan apa yang disarankan oleh Wulan. Benar saja semuanya hilang bahkan aroma kantil juga telah lenyap."
"Bagaimana?"
"Lumayan enakan, Lan. Kamu benar, semua rasa tidak nyaman setelah aku masuk ke kamarku hilang. Sekalian aku mau salat dulu deh."
"Iya, nanti kita gantian saja. Aku mau masak nasi dulu."
Aku menjalankan kewajibanku dengan sepenuh hati, tidak ada yang berubah saat beribadah di kamar ini. Padahal jika di kamarku suasana pasti berubah pengap dan panas seperti saat sebelumnya.
Usai beribadah, sembari menunggu Wulan. Aku menyiapkan bahan-bahan memasak mie instan. Setelah bahan-bahannya siap, aku bergegas keluar kamar dan berjalan menuju dapur bersama yang letaknya hanya berjarak satu kamar saja.
Di dapur aku mendapati seorang penghuni lain juga tengah memasak. "Permisi, Mbak!" sapaku berusaha ramah.
Wanita itu berbalik badan untuk melihatku. Namun, tiba-tiba matanya membulat dan badannya gemetar. "A-awas, i-itu!" Ucapannya yang begitu terbata serta terlihat ketakutan sembari tangannya menunjukku.
"Ada apa, Mbak?" Aku salah tingkah dibuatnya. Aku mencoba mendekatinya, tapi baru selangkah wanita itu berlari masuk ke kamar sembari berteriak-teriak, seperti baru melihat setan saja. Wanita itu saking takutnya kepadaku meninggalkan kompor yang masih menyala. Aku mematikannya agar sayur yang sepertinya tengah dia panasi tidak hangus.
"Hanna." Bisikan itu terdengar di telinga kiriku. Saat aku menoleh untuk melihat siapa yang memanggilku. Aku terperanjat potongan kepala yang dari awal sering menggangguku kini bertengger di bahu kiriku. Rupanya kepala mengerikan ini alasan wanita tadi terbirit-birit.
Meski takut tapi aku harus bisa melawannya. Dengan gemetar aku menghempaskan kepala yang terus menyeringai itu, hingga menggelinding ke atas wajan.
"Selamat datang kembali, Hanna! Sejauh apapun kamu pergi, akan terus kembali ke sini!" Suara wanita itu menggelegar serta diiringi tawa yang membuat pendengarnya bergidik ketakutan.
"Pergi! Jangan ganggu aku!" Aku berteriak histeris saat kepala yang hancur itu berputar ke arahku. Tawanya melengking namun perlahan berubah menjadi senandung tanpa lirik yang pernah dilantunkan Mbak Arum. Sementara mataku perlahan mulai mengabur dan pada akhirnya hanya kegelapan yang aku lihat.
...----------------...
...--bersambung--...
__ADS_1