
Bukannya menjawab pertanyaanku, Wulan malah pergi keluar kamar dengan alasan gerah ingin membeli minuman di depan indekos. Aku merasa ada yang hendak disembunyikan Wulan, semoga saja tebakanku salah. Wulan tidak berniat membalas dendam dengan cara yang salah. Aku tidak ingin Wulan sama seperti Gayatri yang terperosok ke dalam kegelapan karena dibutakan oleh dendam.
Tidak berapa lama, Wulan datang dengan membawa satu kantong gorengan dan dua bungkus es degan. "Nih, minum dulu biar tidak seret." Wanita itu menyodorkan es degan kepadaku.
"Lan, kamu tidak menjawab pertanyaanku yang barusan, kenapa?" tanyaku setelah menyeruput es degan dengan gula jawa sebagai pemanisnya.
"Pertanyaan kenapa aku menyimpan kotak itu? Kan aku sudah bilang agar dia tidak macam-macam dengan kita. Tidak ada yang lain."
"Semoga kamu jujur ya, Lan."
Wulan menatapku tajam, "memangnya kalau amu punya keinginan untuk membalas dendam atas perlakuan Intan padaku juga pada anak-anakku itu salah, Han?" Aku bisa melihat ada air mata yang menggenang di sudut matanya karena jarak kami hanya tiga puluh senti saja.
"Salah. Kamu boleh membencinya, wajar karena dia telah merenggut kebahagiaanmu juga anak-anakmu. Aku pun sangat geram akan tindakannya itu. Namun, kamu harus ingat, biarkan Yang Kuasa saja yang memberi pelajaran untuk Intan, tugas kita berusaha mengikhlaskan. Bukankah kamu sendiri tadi yang bilang padaku?" Aku mengusap bahu wanita yang kini tertunduk lemah. Bahkan dia mulai terisak.
"Aku bisa terima jika dia merenggut Mas Adnan dariku tapi setidaknya biarkan Mas Adnan tetap menjadi ayah buat anak-anaknya. Kamu tau, Han, anakku minggu lalu masuk ke rumah sakit karena dia begitu merindukan sosok ayahnya."
"Apa kamu sudah menghubunginya?"
"Semua aksesku untuk menghubunginya sepertinya diblokir olehnya. Hari itu aku pun mengabari jalangg itu, dia tau kenapa anakku sampai sakit. Seharusnya dia bisa memberitahu ke Mas Adnan atau malah dia sengaja menyembunyikan kabar itu. Hatiku rasanya sakit, Han, saat mengingat anakku yang terkulai lemah tidak berdaya, demamnya sangat tinggi, dan selalu mengigau memanggil nama ayahnya. Namun, ayahnya seolah tidak ada rasa kasihan sedikit pun."
Aku memeluk tubuhnya yang terguncang karena tangisan yang menyayat hati. Rasanya aku ingin mengungkap sebuah kenyataan yang aku tau. Saat anak Wulan terbaring sakit, di saat yang sama Intan pulang ke kampungnya untuk menggelar acara pertunangan dengan Adnan secara mewah. Tidak, sekarang bukan saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Aku tidak mau menabur garam di atas luka yang diderita Wulan.
Wanita yang tadinya terlihat tegar seolah bisa mengatasi semua masalahnya dengan tertawa itu kini nampak begitu rapuh. Air matanya tiada henti keluar. Sebuah pengkhianatan pasti menyisakan luka yang sangat dalam bagi korbannya.
"Lan, kamu harus kuat menghadapi semua ini! Kamu masih punya banyak orang yang mencintaimu."
Keharusan yang menyelimuti kamar indekosku yang biasanya menyeramkan menjadikan kamar ini lebih hangat dari biasanya. Aku membiarkan Wulan terlelap setelah banyak sekali air mata yang dia tumpahkan. Aku beringsut keluar kamar dan menuju kamar Wulan untuk membersihkan kamar yang porak-poranda akibat ulah Intan.
Di lantai dua aku bertemu dengan Bu Wati, dia tengah menyapu. Kebetulan sekali, aku pun masih penasaran dengan ritual yang dilakoninya di kamarku, malam jumat kemarin.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Bu," sapaku. Wanita paruh baya itu tampak terkejut melihat kedatanganku.
"Waalaikumsalam, Mbak Hanna." Bu Wati tampak menghindari kontak mata denganku.
"Bu, Hanna boleh tanya tidak?"
"Ma-mau tanya soal apa?" Kini tatapan Bu Wati lurus menatap lantai.
"Bu, malam Jumat kemarin apa yang Bu Wati lakukan di kamarku? Kenapa ada bunga kantil juga tanah merah di sana?"
"A-anu, Mbak. I-itu kemarin saya disuruh sama pemilik indekos untuk melakukan ritual pengusiran hantu, Mbak. Karena belakangan ini sejak Mbak Hanna tinggal di rumah temanmu, banyak sekali kejadian mistis di kamar itu. Beberapa kali terdengar suara wanita menangis bahkan ada yang melihat seorang perempuan duduk di teras sembari memangku kepalanya."
"Tapi dengan cara menyembelih ayam cemani dan menebar bunga seperti itu apa justru tidak mengundang bangsa tidak kasat mata datang lebih banyak, Mbak, bukan mengusirnya?"
"Saya cuma menuruti perintah pemilik indekos saja. Dia yang bayar saya, Mbak. Ya sudah, saya mau lanjut beberes kamar."
Tanpa berkata lagi, wanita itu menenteng sapunya dan masuk ke kamar. Bu Wati menutup pintunya dengan sedikit keras hingga menimbulkan suara berdentum. Aku terpaku menatap tindakan Bu Wati yang terlihat tidak suka dengan pertanyaanku. Aku menghela napas panjang sembari berpikir di mana letak kesalahanku. Bukankah aku wajar mempertanyakan semua ini apalagi hal mistis itu dilakukan di dalam kamar yang sudah aku sewa.
Saat aku tengah sibuk menjahit bantal yang tersayat, ponsel berbunyi menandakan ada seorang yang sedang meneleponku. Aku lihat layar ponselku yang menyala terang. Siapa ini kepada ada nomor yang tidak aku kenal menghubungiku. Antara takut dan penasaran, aku angkat panggilan itu.
"Assalamualaikum," sapaku perlahan.
"Ini Hanna ya?"
"Iya, saya Hanna. Anda siapa dan perlu apa karena saya merasa tidak mengenal nomor ini?"
"Aku Adnan. Kamu ingat aku kan?"
Adnan? Bukankah dia pria yang menyebabkan persahabatan Intan dan Wulan rusak. Mau apa pria itu menghubungi.
__ADS_1
"Iya, ada apa?"
"Tolong katakan pada Wulan jangan siksa Intan sekeji ini. Aku tau kesalahan yang kami perbuat tidak pantas mendapat maaf tapi juga jangan dengan cara curang seperti ini cara balas dendam kalian. Jangan menggunakan teluh."
"Siapa yang mengirimkan teluh atau apalah itu? Aku dan Wulan di sini sedang..." Otakku kembali berpikir sepertinya ada yang tidak beres di sini.
"Apa kamu sedang bersama Intan?"
"Tentu saja, dia sedang kesakitan se—"
Aku mengubah pengaturan dari yang tadinya panggilan suara berubah menjadi panggilan video. Aku bisa melihat wajah pria itu, pria yang beberapa hari lalu aku jumpai berbuat tidak senonoh bersama Intan. Dia memang rupawan tapi di mataku kini dia sama seperti hewan.
"Kami lihat sendiri, bagaimana Intan sekarang. Dia tengah mengejang kesakitan. Aku terpaksa menyumpal mulutnya dengan handuk agar dia tidak berteriak. Lihat, aku pun mengikat tangannya karena sedari tadi dia berusaha menggaruk wajah dan tubuh yang melepuh. Jika kalian tidak kasihan padanya, tolong kasihan pada anak yang ada di kandungan Intan."
Ada rasa iba saat aku melihat Intan yang kesakitan seperti itu. Tubuhnya yang mulus pun terlihat dihiasi oleh borok yang bernanah. "Tapi, aku memang tidak mengirimkan apa-apa pada Intan. Bahkan aku tidak tau caranya."
"Lalu kenapa Intan selalu menyebut ini ulah kalian?"
Aku terkejut bagaimana bisa di saat Intan kesakitan, mulutnya masih dia gunakan untuk memfitnahku dan Wulan berbuat hal yang mengerikan seperti itu. Aku tengah membersihkan kamar sementara Wulan tengah terlelap, bagaimana mungkin... Tunggu dulu, bukankah tadi Wulan bercerita bahwa jika kotak bedak itu dibakar maka si pemakai akan terbakar juga, jangan-jangan Wulan--
Dengan posisi panggilan yang tetap tersambung, aku berlari ke kamarku. Aku berharap ketakutanku tidak terjadi. Beberapa kali aku hampir terpeleset karena tidak memerhatikan jalan. Sesampai di depan kamarku dan dengan napas yang tersengal, aku mendorong pintu. Mataku terbelalak melihat apa yang tengah dilakukan oleh Wulan.
"Wulan! Hentikan!" teriakku sembari menepis tangannya.
Wulan yang tadinya tertawa sembari membuka kotak bedak itu, berubah melotot ke arahku. Aku bisa melihat wajahnya yang memerah serta bola matanya yang memutih. Kenapa Wulan seperti orang yang tengah kerasukan?
"Jangan ikut campur! Pergi kamu!"
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...