
Wanita itu duduk dan memeluk lututnya dengan erat. Dia menyembunyikan wajahnya kemudian menangis dengan lirih sampai-sampai bahunya terguncang dengan hebat. Dia bagai seorang anak kecil yang kehilangan mainannya. Cukup lama Bu Wati menangis seperti itu. Setelah puas dia mendongakkan kepalanya kemudian mengusap air mata yang membasahi wajahnya.
"Kamu tau sakitnya mencintai tanpa bisa memiliki? Tentu tidak bukan. Rasanya itu sakit dan sesak menjadi satu. Bertahun-tahun memuja tapi tidak pernah dianggap ada, itu rasanya sudah hancur lebur. Ingin lepas tapi kenyataannya rasa ini sudah terikat kuat."
Wanita itu mengambil sesuatu yang tersembunyi dari balik bajunya. Tuhan tolong aku. Aku hanya bisa terus berdoa dalam hati. Apalagi saat wanita itu mengeluarkan pisau yang sangat tajam. Mirip sekali dengan pisau yang dia tinggalkan di rumah sakit kemarin.
"Kau lihat pisau ini? Pisau ini selalu aku bawa kemana-mana karena dulu aku telah mengambil sumpah jika ada yang menyentuhku sebelum ndoro kakung, maka aku akan menghabisi diriku sendiri. Itulah pengorbananku untuknya agar dia tau, dia punya seorang wanita yang selalu menjaga hati dan tubuh. Dia tidak akan menyesal jika mencintaiku barang sedikit saja."
Kenapa Bu Wati begitu bodoh, sebuta itukah cintanya. Padahal dia sangat tau bahwa pria itu tidak pernah mengganggunya.
Bu Wati menceritakan masa kecil mereka yang begitu indah. Ibunya merupakan abdi dalem yang bertugas mengasuh Ndoro Kakung. Selisih umur yang tidak jauh membuat masa kanak-kanak mereka terus bersama. Dimana pun ada Ibunya Bu Wati, kedua bocah itu ikut bersama.
"Bermain kelereng, layangan, sampai mandi di bilik selalu bersama. Pernah saat itu diam-diam kami keluar pagar tanpa izin dari Ndoro nyonya hanya untuk bermain petasan di lapangan bersama anak-anak kampung, tapi sayang aksi kami tertangkap oleh beliau. Aku dihukum untuk membersihkan kamar mandi di rumah beliau yang jumlahnya cukup banyak, ada lebih dari sepuluh mungkin. Merasa tidak tega karena aku saja yang dihukum, dia membantuku membersihkan kamar mandi yang kotor."
Namun, kebahagiaan masa kecil mereka lenyap saat keluarga pria itu diusir oleh keluarga besar mereka. Semua itu akibat ayah dari pria itu menjual beberapa hektar tanah warisan leluhur tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya yang lain. Setelah drama pengusiran yang cukup alot, keluarga itu memutuskan untuk kembali ke kota kelahiran sang istri yakni kota Solo.
"Hanya aku dan ibuku yang setia tetap ikut keluarga mereka yang saat itu berubah 180 derajat, dari orang kaya menjadi tidak punya apa-apa. Mereka tinggal di rumah kontrakan yang kecil. Tidur berhimpitan karena saat itu ndoro kakung mempunyai adik perempuan."
Hari-hari mereka lalui dengan hidup seadanya. Orang tua ndoro kakung tiba-tiba saja pergi setelah menitipkan ndoro kakung pada ibunya Bu Wati. Keduanya pergi mengajak adik ndoro kakung yang baru mendapat haid pertamanya. Tiga tahun mereka hilang tanpa kabar. Selama itu kehidupan mereka dipanggang oleh ibunya Bu Wati yang bekerja sebagai buruh cuci dari satu rumah ke rumah yang lain.
Hubungan Bu Wati dengan putra majikan ibunya itu semakin dekat. Bu Wati yang beranjak remaja mulai merasakan desir asmara dalam dadanya. Namun, rasa yang berbeda itu tidak dirasakan oleh pihak lain. Pria itu memang telah merasakan jatuh cinta tapi bukan pada Bu Wati. Dia jatuh cinta pada teman sekelasnya yang selalu menjadi juara kelas. Sementara Bu Wati harus merelakan keinginannya untuk meneruskan pendidikannya agar sang ibu bisa membiayai sekolah putra majikannya.
"Nawang Prameswari, itulah nama gadis yang menjadi cinta pertamanya. Itu sebabnya aku membencimu karena saat melihatmu, ndoro kakung menyebut nama itu. Kamu tau aku begitu terluka saat itu. Amarahku membuncah sampai rasanya aku ingin sekali menghabisimu saat itu juga."
Dengan bengis, wanita itu menusuk bantal yang berada di samping kepalaku. Dadaku rasanya sesak takut kalau perempuan paruh baya itu bertindak nekat. Bisa jadi yang ditusuknya bukan lagi bantal tapi tubuhku. Bulu kuduknya meremang tapi aku tidak berdaya karena semua tubuhku sudah diikatnya.
Bu Wati tampak menenggak air minum dari gelas yang sama dengan yang aku pakai tadi sebelum melanjutkan kisahnya. Setelah hampir lima tahun hidup bertiga, orang tua pria itu kembali. Namun, keadaan mereka jauh berbeda dari saat mereka pergi meninggalkan kota Solo. Putri mereka juga tidak terlihat pulang. Mereka kini tinggal di salah satu rumah mewah di pusat kota Solo dan memiliki beberapa aset lainnya yang menyebar di beberapa kota, salah satunya indekos berdarah ini. Di saat itulah keangkuhan mulai merajai keluarga ini. Bu Wati dilarang berbincang dengan putra mereka.
"Wati, kamu jangan melunjak. Jangan pernah menganggap putra saya itu teman kamu. Dia adalah ndoromu. Ingat posisi kamu itu hanya babu!" Bu Wati menirukan perkataan sang majikan.
"Hatiku hancur karena harga diriku diinjak-injak, bahkan pengorbanan yang sudah aku dan ibuku berikan di saat susah sama sekali tidak dihargai. Hanya ndoro kakunglah yang mengerti kamu. Dia sering kali menyisihkan uangnya untuk kebutuhan kami. Di situlah aku semakin yakin bahwa dia lah pria yang tepat untuk menjadi suamiku nanti."
Bu Wati tampak mengusap air matanya sebelum melanjutkan ceritanya. "Hari ini ndoro kakung yang tengah magang di sebuah perusahaan pulang bersama dengan seorang wanita yang tengah berbadan dua. Hatiku semakin remuk karena cintaku bertepuk sebelah untuk kesekian kalinya. Hanya saja aku senang karena keluarga ndoro kakung menentang hubungan mereka. Wanita itu diseret keluar dari rumah ini dengan kasar oleh nyonya. Ndoro kakung sempat melindungi tapi oleh tuan, ndoro kakung dicegah dan dipegangi erat."
__ADS_1
Wanita itu tampak tersenyum dengan sinis. "Aku sangat menikmati pertunjukan keluarga ini. Aku juga menikmati setiap rintihann dari mulut wanita yang sedang bunting itu, entah dengan siapa sebenarnya hamil. Aku rasa dia hanya menjebak ndoro kakung agar bisa menikmati kekayaan keluarga ndoro kakung saja."
Keluarga pemilik indekos ini ternyata sangat kejam. Bagaimana mereka bisa mengusir wanita yang tengah hamil dari putra mereka. Bukankah itu juga cucu mereka. Tunggu, apa perempuan yang hamil itu adalah ibunya Ridwan? Ah entahlah. Aku hanya bisa menerka-nerka siapa perempuan itu.
"Hanna, kamu masih mau kan mendengar ceritaku ini? Kalau kamu mengantuk, bilang saja. Biar aku congkel matamu agar kamu tidak bisa merasakan betapa beratnya menahan kantuk." Wanita itu tertawa seperti kuntilanak, begitu menyeramkan membuat bulu kudukku meremang.
Ini orang memang sudah sakit jiwa sepertinya. Mengikat dan mengancamku sedemikian rupa hanya untuk menceritakan masa lalunya. Memangnya dia tidak pernah punya teman curhat apa. Meski takut, tetap saja ada rasa kesal terhadap Bu Wati.
Perempuan itu menceritakan setelah tragedi itu, pria itu diminta menjaga kekasihnya di kamar tiga belas. Bu Wati merasa dalam dilema karena berada di antara rasa cemburu juga perintah majikannya.
Jadi wanita itu penghuni kamarku, apa dia adalah wanita yang terbunuh itu atau dia ibunya Ridwan yang gila?
"Kamu tau setiap kali aku melihatnya timbul rasa ingin menghabisi wanita itu. Apalagi saat ndoro kakung datang, sikapnya berubah menjadi manja. Cih! Kumpul kebo saja sok romantis. Ndoro kakung ngelus-elus perut jalangg itu, padahal itu pasti juga bukan darah dagingnya. Wanita itu hanya seorang buruh pabrik. Untuk menjadi istrinya ndoro kakung yang seorang keturunan ningrat, berdarah biru, dan termasuk orang terkaya di kota ini, rasanya begitu jauh, bagai punguk merindukan bulan."
Hati Bu Wati rupanya penuh dengan kebusukan. Dia cemburu pada seseorang yang jelas-jelas dicintai majikannya. Hah, apa dia itu tidak punya cermin saat mengatakan bahwa perempuan tadi itu bagai punguk merindukan bulan. Dia sendiri lebih parah, sudah tau tidak dicintai masih saja berharap.
Wanita itu tiba-tiba saja kembali tertawa lebar. Kemudian mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Kamu mau tau tidak, apa yang aku lakukan pada wanita itu sampai-sampai ndoro kakung begitu membencinya?" Bu Wati berbisik dengan suara parau. "Aku pergi ke orang pintar untuk menghabisinya."
Mataku melotot menanggapi perbuatannya yang mengerikan itu. Terlintas olehku adegan-adegan di film horor yang sering aku lihat. Seorang dukun menusuk boneka jerami yang sudah diberi jampi-jampi sebelumnya. Setiap kali boneka jerami ditusuk maka orang yang namanya disebut pada jerami itu akan mengalami kesakitan yang luar biasa di bagian yang sama dengan tempat boneka itu ditusuk dengan paku berkarat.
Bu Wati pernah mencoba mengirim pelet pada pria yang sudah dicintainya sejak usia belia itu. Namun, gagal karena rupanya pria itu memiliki penjaga dari leluhurnya hingga sihir sekuat apapun akan mental.
"Satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan ndoro kakung adalah menyingkirkan setiap wanita yang berada di dekatnya. Lagi pula untuk satu hal ini tuan dan nyonya menyetujuinya bahkan mereka yang memintaku agar bagaimana pun caranya, ndoro kakung harus berpisah dengan wanita rendahan itu."
Wanita itu tiba-tiba saja menyingkap bajuku ke atas sampai-sampai tubuhku polos tanpa tertutup oleh benang. Begitu pula dengan celanaku. Aku ingin berontak tapi percuma. Kini aku bisa dikatakan tanpa busana yang menutupi tubuhku.
"Berposelah yang menggoda, sayang," ujarnya sembari mengarahkan kamera ponselnya kepadaku. Aku ingin menangis karena pasti wanita itu punya rencana jahat di balik setiap aksinya. Aku berusaha menghindar dari sorotan kamera Bu Wati. Aku berguling-guling bahkan sampai di lantai. Wanita itu bukannya iba justru dia tertawa.
"Kamu memang hebat Hanna. Tanpa aku arahkan saja, sudah pandai berpose. Aku yakin jika video ini aku kirimkan pada salah satu website tempat para pelacuurr menjajakan dirinya secara online pasti banyak pria hidung belang yang berani membayar mahal dirimu. Apalagi kamu masih gadis bukan?"
Wanita itu terus saja tertawa tapi sedetik kemudian dia menatapku dengan bengis. "Tapi semua ini tidak akan aku kirim pada rumah bordil karena aku lebih menyukai jika video ini aku kirimkan pada keluargamu, ah terutama ayahmu. Bukankah katamu dia sedang sakit? Pasti akan semakin seru jika dia tau putri bungsunya berpose begitu erootiss di perantauannya."
Air mataku semakin deras. Ingin rasanya menyahut ponsel itu dan membantingnya hingga hancur agar wanita yang sakit jiwa itu tidak berbuat nekat. Di mataku terbayang wajah ayah yang pasti hancur karena anak gadis yang disayanginya dalam kondisi menjijikan seperti ini. Ayah pasti semakin bertambah beban pikirannya. Bagaimana kalau ayahku kesehatannya semakin drop dan... Ah, tidak sanggup aku membayangkan jika sampai video ini sampai ke tangan ayahku.
__ADS_1
"Hanna, dengarkan aku baik-baik. Aku akan melepaskanmu tapi kamu harus menuruti mauku. Kemauanku hanya satu, kejadian ini tidak boleh ada yang tau satu orang pun. Jika bocor, aku tidak akan segan menyebarkan videomu!"
Perlahan wanita itu membuka ikatan di tubuhku ini. Ketika akan membuka lakban, uang dia tempelkan untuk membekapku. Maka Bu Wati menyentakkan dengan kuat serta menariknya dengan cepat.
"Aw! Sakit!" erangku kesakitan. Akibat perbuatan Bu Wati, aku kesakitan di bagian bibir, pipi, dan juga rahangku. Rasanya perih bercampur panas, tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Aku mengusap lembut mulut dan pipiku, berharap bisa sedikit mengurangi rasa sakit ini.
Bu Wati menatap tajam ke arahku. "Kali ini aku sedang baik, jadi melepaskanmu. Jangan sia-siakan kesempatan ini dengan membocorkan rahasia kecil kita ini. Karena jika kamu membocorkannya, maka kamu harus siap menerima risikonya, yaitu menuju ajalmu dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya."
Dengan santai, dia melenggang pergi dan keluar kamar. Namun, baru beberapa saat wanita itu kembali.
"Ah, sial! Aku lupa memberitahu kepadamu, ada satu hal lagi yang harus kanu lakukan mulai detik ini. Kamu harus menjauhi ndoro kakung. Dia hanyalah milikku. Itu pun jika kamu masih ingin hidup lebih lama lagi. Kamu sanggup bukan?"
Dengan cepat aku anggukkan kepala. Lagi pula, aku sama sekali tidak tertarik pada pria yang usianya mungkin dua kali lipat bahkan bisa jauh lebih dari itu. Aku pun sudah memiliki Ridwan sebagai kekasihku.
"Baguslah, kamu paham dengan ucapanku. Jadi aku tidak perlu menjelaskanmu panjang lebar dan perlu menumpahkan darah lagi. Oh, bersihkan kamarmu sebelum Wulan pulang dan mencurigaimu."
Wanita itu pergi, dengan cepat aku kunci pintu kembali. Aku terduduk di balik pintu dengan kaki yang gemetar. Aku tumpahkan air mata ketakutan dan kegelisahan yang sedari tadi aku tahan. Entah berapa lama aku menangis, tiba-tiba ada notifikasi yang menandakan ada pesan masuk. Rupanya dari Bu Wati. Sebenarnya mau apalagi wanita itu menghubungiku.
"Cepat, bersihkan kamarmu. Sebentar lagi Wulan akan pulang. Jangan sampai dia melihat kamarnya berantakan." Aku membaca selarik pesan dari wanita itu dengan gemetar. Perlahan aku membersihkan kamar ini.
Setelah semua beres hanya tinggal dengan membuang sampahnya saja. Tepat saat pekerjaanku selesai, Wulan sudah pulang.
"Han, kan sudah aku bilang lebih baik kamu istirahat dulu. Jangan dulu kanu melakukan apapun. Fokus memulihkan tubuhmu terlebih dahulu."
"Tidak apa-apa. Justru kalau cuma rebahan, rasanya badan ini tidak karuan."
Aku dan Wulan sama-sama sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku harus mencari cara agar hidup tidak terus dihantui banyak hal yang tidak masuk di akal. Ingin rasanya aku pindah ke indekos yang lebih tenang. Namun, untuk pindah dari indekos berdarah yang menyimpan kengerian dan keangkeran membutuhkan uang yang tidak sedikit padahal aku pun belum gajian. Namun, jika aku pulang ke Ungaran maka akan lebih lama lagi untuk bisa membelikan batu nisan untuk ibuku.
"Lan, sepertinya aku mau pulang saja ke Ungaran."
"Ke-kenapa? Apa ada yang mengganggumu lagi?"
"Tidak, aku hanya merindukan ayahku juga Mbak Arum."
__ADS_1
...----------------...
...--bersambung--...