
Wajah dibalik jendela itu terus menyeringai lebar, memamerkan giginya yang runcing dan hitam. Air liurnya yang berwarna hijau sedikit kehitaman meleler ke mana-mana. Darah yang memenuhi wajahnya menetes ke lantai. Pintu yang tadinya tertutup rapat, kini perlahan terbuka. Wajah yang begitu menyeramkan itu melongok keluar. Dia adalah hantu kepala, penghuni kamarku.
"Kenapa diam saja di luar? Cepat masuk!" ucapnya dengan suara serak kemudian disusul dengan tawa yang melengking.
"Ti-tidak!" Seketika aku memilih lari meninggalkan kamar itu. Tawa itu terus bergema bahkan saat aku sudah naik ke lantai tiga.
"Lan! Bukain pintu!" ujarku sembari mengetuk pintu dengan keras.
"I-iya, sebentar!" sahut Wulan dari dalam. Saat pintu terbuka, aku bergegas masuk bahkan hampir lupa mengucap salam, lalu dengan cepat mengunci pintu.
Aku terduduk lemas dibalik pintu dengan napas yang terengah-engah. Melihatku yang seperti ini, Wulan menyodorkan segelas air mineral. Tanpa basa-basi aku menenggak hingga tandas, tidak bersisa barang setetes pun.
"Kamu kenapa, Han? Kelihatan ketakutan dan keringatan seperti ini."
"A-anu, hantu kepala itu ada di kamarku."
"Bukannya memang dia ada dan tinggalnya memang di sana? Kamu kan sudah sering ketemu dia, kenapa takut seperti baru pertama kali bertemu saja?" Wulan terkekeh.
"Mau ketemu pertama sampai berjuta kali pun yang namanya takut, tetap saja takut, Lan. Gini deh, kamu jadi aku deh. Di mana-mana diteror sama hantu."
"Ogah. Aku merasakan kerasukan kemarin saja sudah takut banget apalagi kamu yang hampir setiap saat berinteraksi dengan mereka. Bisa mati muda aku."
"Hish, jangan sembarangan ngomong. Kamu tau tidak, tadi aku masuk ke kamar, ada yang tidur di kasur. Aku pikir itu kamu, Lan. Makanya aku santai saja pas mandi dan bersih-bersih. Eh tidak taunya hantu kepala buntung itu. Mana serem bener."
"Untung saja tadi habis Isya aku naik ke atas soalnya hawa di kamarmu tiba-tiba saja merinding."
Entahlah terkadang aku bingung, saat Wulan kerasukan kemarin si hantu kepala itu membantuku. Tapi malam ini dia muncul dengan mengerikan. Ah, lebih baik aku tidak mempercayai bangsa mereka. Bukankah banyak dusta yang mereka lakukan.
"Lan, di pabrik tadi aku mengalami hal mistis yang aneh sekali." Wulan yang tadi sedang melihat layar ponsel, mendongakkan kepalanya ke arahku yang tengah berdiri mengintip keadaan luar dari balik jendela.
"Kejadian mistis apaan? Bikin penasaran saja."
Aku menceritakan pengalaman mistis ku tadi saat di pabrik, termasuk keadaan Intan yang menjadikan, dipaksa menari dalam keadaan penuh luka serta bila menolak tidak segan beberapa orang mencambuknya.
"Ya ampun, ngeri banget sih, Han. Apa benar ya itu yang terjadi bila kita bersekutu dengan kaum mereka?"
"Mungkin saja, Lan. Makanya semarah apa pun kita, jangan sampai terlena dengan bujuk rayu mereka."
Mata wanita itu mengembun. "Aku pernah berniat membalas dendam pada Intan, Han. Setelah tau dia sudah menghianatiku makanya begitu tahu aku bisa menyiksanya dengan media kotak bedak itu, hatiku enggan melepaskan kotak itu. Setiap kali melihat kotak itu, ada kemarahan besar yang seolah hendak meledak dan keinginan untuk membalaskan dendam begitu kuat. Namun, setelah tragedi yang bisa saja merenggut nyawaku kemarin, aku menyadari tidak seharusnya aku menyimpan kotak terkutuk itu. Kita buang saja, Han."
"Kotak itu sudah aku berikan pada pemiliknya, Lan. Aku tidak mau berurusan dengan kotak terkutuk itu. Aku hampir panik saat kamu penuh luka kemarin."
"Pemilik bedak itu? Siapa yang kamu maksud?"
"Intan, aku berikan pada Intan lewat Adnan. Biarlah dia sendiri yang menanggung perbuatannya. Namun, jika yang aku lihat kemarin benar, dia dihukum seberat itu rasanya tidak tega juga, apalagi dia tengah hamil muda."
"Aku juga kasihan padanya, Han. Seburuk apapun hubungan kami sekarang, dulu kami bersahabat baik. Lagi pula ini semua tidak sepenuhnya salahnya, Adnan juga ikut ambil peran dalam masalah ini. Dia pergi meninggalkan harapan besar di hati seorang remaja yang tengah mencari jati diri. Gadis yang rela memberikan mahkotanya atas nama pembuktian cinta. Aku tidak menyangka suami sebajingan itu."
__ADS_1
"Kamu tau itu semua dari mana, Lan?" aku terkejut dengan ucapannya. Wanita itu menunjukkan diari yang sempat aku baca tadi siang, aku memang tidak menyimpannya lagi hanya meletakkan dengan sembarangan di atas lemari. Aku tidak menyangka Wulan akan menemukannya.
"Aku ada di mana saja selama ini? Kenapa tidak tau sahabatku menyimpan hal sebesar ini?" Air matanya luruh. "Dia pasti sangat sakit hati karena di dalam penantiannya yang panjang harus berakhir ketika tahu Mas Adnan sudah punya anak dan istri. Jika aku tahu dari awal, Han. Pasti aku rela menjadi kakak madu baginya. Akan aku minta Mas Adnan mempertanggungjawabkan setiap tindakannya. Meski dengan begitu hatiku akan terluka, tidak apa. Toh hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan."
Mata indah itu tampak mengembun, air matanya turun membasahi pipinya yang penuh luka.
"Lan, sudah ya, jangan menangis lagi. Nanti kena lukamu lo," ujarku sembari mengusap air matanya dengan tisu.
"Aku kasihan sama Intan, Han. Hanya karena cinta masa lalunya, dia berani mengambil risiko besar yang mungkin akan mengorbankan dirinya dengan bersekutu dengan setan. Han, jika yang kamu lihat itu benar Intan, apa artinya Intan sudah tiada?" Wulan kembali terisak.
Ah, benar juga kata Wulan. Jika aku melihat Intan di kampung tidak kasat mata dan sudah menjadi budak sang penari. Bisa jadi Intan sudah menemui ajalnya tapi kenapa tidak ada kabar berita apa pun.
"Entahlah, Lan. Kita hanya bisa berharap yang aku lihat bukanlah Intan tapi orang lain. Apa perlu aku hubungi ponselnya atau ponsel Adnan agar kita tau pasti keadaannya?"
Wulan nampak menautkan alis serta mengerutkan keningnya. "Menghubungi Adnan? Memangnya kamu tau nomor ponselnya?"
"Aku tau nomornya..." Belum sempat aku lanjutkan ucapanku, Wulan sudah memotong dan menyela ucapanku.
"Dari mana kamu tau nomornya? Apa jangan-jangan dia juga menggodamu, Han?"
Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku. "Tidak, aku juga baru mempunyai nomor ponselnya semalam. Dia marah pada kita karena mengira kitalah yang mengirim teluh pada Intan sampai dia kesakitan."
"Semalam aku dengan sadar memang menyiksa Intan, Han. Tapi baru sebentar aku sadar bahwa yang aku lakukan adalah salah, makanya aku berhenti. Di saat itulah seseorang datang menarik tanganku dan membawaku ke tempat yang sangat gelap. Kalau terjadi sesuatu pada Intan, aku tidak akan pernah berhenti menyalahkan diriku, Han. Biar dia telah menyakitiku tapi aku tidak tega menyakitinya."
"Sudah, jangan kamu salahkan dirimu sendiri. Toh, bukan salahmu sepenuhnya, Lan. Wajar kok kalau kamu marah dan membenci mereka. Yang penting sekarang kamu belajar memaafkan mereka, soal hukuman mereka biarlah urusan sang pencipta. Besok aku akan coba cari tau tentang keadaan Intan. Kamu sudah makan belum?"
"Aku sudah kenyang, Lan. Tadi pas istirahat Aku makannya banyak dan karena tadi aku pingsan, Ridwan membelikan aku banyak sekali makanan." Aku menunjukkan isi tasku yang penuh dengan roti.
"Temani aku makan ya, Han. Aku mohon." Aku menyanggupi permintaan wanita yang terus mengerjapkan matanya demi merayuku.
"Tapi kalau perutku sakit, kamu harus tanggung jawab lo, Lan."
Suara tawa kini perlahan menjadi hening karena kami sama-sama menikmati nasi padang dengan lauk potongan daging rendang, makanan yang konon dinobatkan menjadi makanan terenak di dunia. Melihatku lahap makan dengan menggunakan tangan, di sini orang menyebutnya muluk atau makan menggunakan tangan tanpa sendok.
"Han, kamu bikin ngiler tau. Aku juga mau makan seperti itu tapi lihat kondisiku, aku pegang sendok saja susah sekali."
Aku tersenyum getir menatap Wulan, bagaimana aku bisa lupa bahwa dia tengah terluka. "Gini deh, Lan, aku suapin kamu ya?"
Senyum lebar ditunjukkan wanita itu ketika aku menawarkan diri untuk menyuapinya. "Aku mau, asal kamu nyuapinnya muluk, gimana? Deal?"
Dasar teman yang unik, saat orang lain akan jijik jika makan dengan tangan orang lain, Wulan justru mengajukan syarat seperti itu.
"Memangnya kamu tidak jijik, Lan? Ini tanganku lo, kan belum tentu bersih?"
"Kamu makan pakai tangan kan? Kalaupun harus sakit perut karena tanganmu kotor, setidaknya aku tidak sendirian karena ada kamu yang pasti juga sakit perut itu."
Gelak tawa terdengar di kamar kami pada saat tengah malam. "Sudah. Jangan tertawa lagi. Nanti pada gedorin kamar kita karena mengganggu istirahat penghuni yang lain." Aku menempelkan telunjukku agar kami diam.
__ADS_1
"Rasanya tidak mungkin ada yang menggedor pintu kita, Han. Mereka semua ketakutan mendengar suara kita."
"Kok bisa?"
"mereka mengira yang tertawa dua kunti yang tengah gibah bersama, jadi mana mungkin mereka berani mengusik kita." mendengar perkataan yang diucapkan Wulan aku semakin terpingkal-pingkal dibuatnya, sampai-sampai perut ini rasanya sangat kaku.
"Gila saja, kita dikira dua Miss kunti." aku menepuk bahu wanita itu perlahan, andai saja dia saat ini tidak terluka pasti sudah aku cubit pipinya yang tembem kuat-kuat.
"sekarang coba pikir deh, Han. siapa yang suka tertawa tengah malam begini selain Miss kuntilanak?" Aku menggeleng dengan cepat karena yang suka tertawa di tengah malam itu identik dengan hantu perempuan bergaun putih dan dengan rambut panjang terurai itu.
"Hush, ketawaku tidak semenyeramkan itu kali, Lan. Kalau aku tertawa kan lebar, hahaha, gitu. Berbeda jauh lah sama mpok kunkun yang tinggal di pohon mangga di dalam pabrikku."
"memangnya kalau yang di sana itu tertawanya bagaimana, Han? coba praktekkan dong."
Wulan memang aneh, aku harus memeragakan tawa si Kunti ganjen itu di tengah malam seperti ini.
"Yakin kamu mau dengar, Lan? Suaranya ngeri lo." Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Cepat, Han. Aku kan belum pernah mendengar hal gaib sebelumnya, cuma lewat siaran televisi saja."
Aku menghela napas panjang, rasanya tidak tega menolak keinginan wanita di hadapanku ini. "Semoga saja mirip ya tapi jangan ditertawakan ya, Lan. Tertawanya Miss kunti itu kira-kira seperti ini. Hi... Hi... Hi...!"
tepat saat aku berhenti, aku mendengar suara tawa mirip dengan yang aku bunyikan.
"Lah itu kamu bisa menirukan suara si kunti, malah lebih mirip dariku." Aku menatap Wulan yang tengah duduk sembari memandangku.
"Enak saja. Aku dari tadi sibuk ngunyah, Han. Bagaimana bisa tertawa? Bisa-bisa aku tersedak."
"Terus, siapa yang tertawa setelahku tadi?"
Wulan mengusulkan untukku mengulangi memperagakan tawa si Kunti menunggu pohon mangga itu lagi. namun, kali ini pandanganku tertuju pada Wulan, aku yakin tadi dia hanya mengerjaiku saja. aku membuang nafas kasar sebelum aku tertawa menirukan suara hantu itu.
"Hi... Hi... Hi..."
Bulu kudukku sontak merinding saat suara tawa itu kembali terdengar. Tidak mungkin itu Wulan, karena wanita itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Lan, kamu dengar itu?"
"I-iya, tapi sumpah itu bukan suaraku. Aku diam saja dari tadi."
"Lalu itu suara siapa?"
Suara tawa itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas dari sebelumnya.
"Aaaaa!"
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...