
Hatiku gemetar mendengar ucapan penari itu. Apalagi lehernya menjulur dan mendekatkan wajahnya ke arahku, sontak aku mundur berapa langkah.
"Bagaimana, kamu mau menggantikan mereka? Bukankah kamu adalah sahabat mereka atau persahabatan kalian hanya omong kosong?"
Penari itu tertawa begitu keras dan melengking, matanya terus melotot bahkan seperti hendak keluar. Aku berusaha menenangkan hati dan jantungku yang terus bergetar.
"Baca doa, Han. Jangan biarkan ketakutan merajaimu dan kamu membiarkan dia yang sedang berusaha kau lawan, bisa menang dengan mudah!"
Bisikan Ridwan membuatku menyadari bahwa aku harus melawan makhluk mengerikan itu. Aku membaca ayat suci agar makhluk berhenti mengganggu kedua temanku itu. Namun, dia hanya menyeringai lalu pergi setelah sebelumnya sempat berujar bahwa urusan kami belum selesai.
Intan mulai bisa bersuara meski itu rintihan kesakitan, tentu saja karena penari itu sudah tidak lagi membekap mulutnya. Matanya tidak lagi melotot, justru kini tampak meredup.
"Maaf, kami akan menindak pasien dahulu. Silakan ke ruang pendaftaran." Seorang suster yang sedari tadi diam menyela setelah kejadian ini. Ridwan menggandeng tanganku serta mengajakku kembali ke kursi tunggu sementara tanpa berkata lagi, Adnan menggeloyor pergi ke ruang pendaftaran.
"Tadi kamu lihat apa sih, Han? Kenapa kelihatan takut banget?"
"Aku lihat penari dengan wajah mengerikan sedang duduk di perut Intan. Dia juga membungkam mulut Intan. Nah pas aku minta dia untuk melepaskan Intan, malah dia minta aku menggantikan tempat mereka. Wajar kan bila aku takut, Wan. Untung saja kamu ingetin aku tadi. Kamu tau saja kalau aku butuh dukungan, seperti paranormal saja."
"Tentu saja aku paham benar, bahkan kedipan matamu saja aku tau. Kamu tau kenapa? Karena kita punya ikatan rasa yang sama yaitu cinta. Mungkin di suatu saat nanti kamu akan menyadari satu hal bahwa kamu terlahir untuk menjadi wanitaku dan bidadari surgaku."
"Dasar gendeng! Di saat seperti ini masih saja melempar gombal," racauku meski tetap saja rayuan yang dilontarkan Ridwan membuat senyumku terulas dan semburat merah jambu menghiasi pipi tembemku. Aku tau apa yang dilakukan semata untuk menghiburku.
*Han, apa kamu kenal sama pria itu? Sepertinya kamu sangat tidak menyukainya?"
"Dia adalah Adnan, suami Wulan. Sementara perempuan yang terkulai lemah di atas brankar adalah Intan, sahabat kami."
"Sahabat kalian bersama suaminya Wulan? Bagaimana ceritanya?"
Aku menceritakan semuanya pada pria ini, termasuk dugaan kami bahwa Intan memikat Adnan dengan bedak pelet milik sang penari yang mengerikan tadi.
"Kamu melihat penari itu tadi?" Aku hanya mengangguk. Wajah menyeramkannya serta ancamannya bahwa urusan kami belum selesai seketika membuat hatiku diselimuti ketakutan yang teramat sangat.
"Kenapa kamu gemetaran?"
"A-aku takut kalau penari itu datang lagi, Wan." Pria itu membawaku dalam dekapan hangatnya, aku yang tengah ketakutan pun tidak kuasa menolak karena memang tempat ternyaman selain pada pelukan ibu dan bapakku adalah pelukan Ridwan.
"Jangan takut. Kita punya Sang Pencipta, tiada hal yang terjadi tanpa seijin-Nya. Lagi pula selain itu ada aku yang akan senantiasa bersamamu. Siapa saja yang hendak melukaimu maka harus menghadapiku dulu. Aku akan menjadi perisaimu sampai titik darah penghabisan." Sekilas aku merasakan kecuupan lembut di puncak kepalaku.
Untung saja tim dokter keluar dari bilik Wulan dan seorang perawat memanggilku agar segera mendekat. Kalau tidak, bisa-bisa aku terbang karena gombalan yang terus dilemparkan Ridwan. Bisa-bisa aku lupa bahwa ini sedang ada di rumah sakit.
"Ibu ini keluarganya pasien?" tanya dokter yang usianya terlihat muda itu.
"Saya hanya temannya, Dok. Kami sama-sama anak perantauan."
"Oh, baiklah, Mbak. Saya akan jelaskan kondisi ibu Wulan. Luka di badannya sudah kami obati dan saat ini beliau kondisinya sudah stabil dan sadar. Inshallah cairan infus dan obat-obatan yang sudah masuk ke tubuh beliau akan memulihkan tenaganya. Meski begitu pasien harus tetap mendapatkan asupan makanan."
"Apa perlu teman saya dirawat inap, Dok?"
"Tidak perlu, karena nanti jika infusnya habis, pasien sudah diperbolehkan pulang."
Rasa syukur tak henti aku ucapkan karena Wulan langsung diperbolehkan pulang setelah ini. Namun, wajahku kembali murung saat mendapati kenyataan bahwa di atas brankar yang lain ada Intan yang terus saja meraung kesakitan serta berteriak.
"Mbak, ini tolong diberikan ke kasir. Mohon maaf sebelumnya karena untuk kasus Ibu Wulan, tidak bisa dicover oleh pihak asuransi. Karena ditemukan indikasi pasien melakukan upaya percobaan bunuh diri. Kami menemukan kulit ari serta darah yang menempel di kuku pasien sebagai pertanda pasien menyakiti dirinya sendiri."
"Bunuh diri? Bagaimana bisa, Dok? Dia itu sedang dirasuki roh jahat, Dok."
__ADS_1
Ada rasa sakit saat dengan mudah dokter menduga Wulan melakukan percobaan bunuh diri.
"Bu, di dalam medis kami tidak mengenal istilah kerasukan. Ini baru dugaan menurut masyarakat yang masih mempercayai hal-hal berbau mistis. Sementara kami, para dokter menjelaskan secara medis. Ini baru dugaan kami semata, bahwa Ibu Wulan bisa saja mengidap dissociative identity disorder atau biasa disebut kepribadian ganda. Seperti orang yang seolah tengah bermain kuda lumping, kalau kata orang mereka dirasuki oleh makhluk astral padahal itu adalah kepribadian mereka yang lain muncul."
"Tapi, Dok. Sejauh ini Wulan tampak baik-baik saja. Emosinya bisa dia redam dengan baik."
"Ya, banyak faktor pencetus bahwa munculnya pribadi yang lain itu ke permukaan. Misalnya trauma berat seperti kerasukan sekssual juga hal yang membuatnya merasa gagal, hingga pasien menginginkan dia menjadi orang lain saja bahkan kebencian terhadap dirinya dan sekitar bisa membuatnya secara tidak sadar ingin melenyapkan dirinya sendiri dan menjadi pribadi yang baru."
"Memang belakangan ini banyak tragedi yang menerpa sahabat saya. Tapi, saya yakin ini memang murni ada roh jahat yang menyakiti sahabat saya, Dok."
"Mbak, kalau ini kita bahas, tidak akan bertemu dengan ujung pangkalnya. Kami sebagai petugas medis hanya bertugas mengobati pasien sesuai diagnosa medis. Sementara jika keluarga atau pasien sendiri menginginkan pengobatan non medis, monggo. Semuanya kami pasrahkan kepada pasien dan penanggung jawabnya."
Dokter muda itu pamit undur diri untuk menangani pasien lain. Aku tau pasti dia akan mengobati Intan.
"Han, ayo kita ke kasir. Kita tebus obat dan segera membawa Wulan pulang agar dia bisa istirahat." Aku hanya mengangguk dan mengekori langkah tegap pemuda jangkung itu. Di perjalanan aku berpapasan dengan Adnan yang terburu-buru. Dilayangkan pandangannya kepadaku.
"Aku kira kamu gadis baik-baik, nyatanya kamu ke rumah sakit malam-malam begini dengan seorang pria. Hmm, kamu hamil berapa bulan, Han? Intan dan Wulan salah menilaimu ternyata."
Dasar pria bermulut sampah, asal bunyi saja mulutnya. Aku tidak tau kenapa Wulan sangat cinta dengan laki-laki model rongsokan seperti ini. Aku hendak bersiap menampar mulut busuknya, tidak mengapa jika aku harus berjinjit yang penting bisa aku tuntaskan amarah ini. Sebuah pukulan sudah terlebih dahulu dilayangkan oleh Ridwan tepat di wajah bapak dari dua orang anak itu. Aku tersenyum puas saat ada darah yang mengalir di sudut bibirnya.
"Jaga bicara anda! Untuk apa malam-malam begini kami di sini? Itu karena kami mengantar seorang istri yang hampir kehilangan nyawanya karena dikhianati suami dan sahabatnya! Paham kamu!"
Aku terperangah melihat Ridwan yang biasanya manis dan lucu terlihat begitu berang karena ucapan Adnan. Aku bisa melihat wajahnya yang berubah merah padam dan kilatan amarah yang begitu kentara dari tatapan mata elang itu. Sementara itu Adnan tampak gusar dengan ucapan Ridwan.
"Seorang istri yang hampir kehilangan nyawa? Si-siapa yang dia maksud, Han?" Pandangan Adnan kini beralih menatapku.
"Wulan! Dia hampir meninggal karenamu."
"Karenaku? Dia memang pantas mati. Dia melakukan hal yang curang. Kau lihat tadi kondisi Intan, bukan? Itu semua ulah Wulan. Ulah kalian yang mengirim teluh padanya."
"Bapak, Ibu, ada apa ini? Kami harap kalian semua tidak membuat keributan atau terpaksa kami mengusir kalian!"
Seorang petugas keamanan menghardik keributan kecil yang terjadi dengan muka yang garang. Lagi dan lagi Ridwan membantuku menjelaskan pada mereka serta meminta maaf.
"Baik, lebih baik anda segera menyelesaikan urusan masing-masing!"
"Baik, Pak." Pria itu kemudian menggamit tanganku dan mengajakku pergi dari sana menuju ruang kasir. Sebelum kami melangkah pergi, Ridwan tampak membisikkan sesuatu pada Adnan. Entah apa yang diucapkannya, hanya aku melihat wajahnya terlihat terkejut dan mengerutkan dahinya.
"Kamu bicara apa sama dia?"
"Biasa urusan pria. Sudah ayo, kita selesaikan urusan administrasi dan membawa Wulan pulang." Tangannya tanpa ragu menjuntai di bahuku. Rasanya ingin melepaskan tangannya tapi daripada kami akan lebih lama lagi ke kasir, lebih baik aku biarkan saja. Toh, tidak ada siapa pun yang melihatnya.
Di meja kasir yang begitu sepi, aku kembali dilanda kebingungan. Di dompetku dan di dompet Wulan hanya tersisa uang tujuh ratus ribu, sementara pengobatan Wulan mencapai angka satu juta. Aku menggaruk kepalaku, karena tidak mungkin aku pulang dulu untuk mengambil kekurangannya.
"Kenapa?"
"I-ini." Aku menyodorkan kertas tagihan yang harus dibayarkan. "Uangku kurang. Kalau kita pulang dulu bagaimana? Aku ambil di indekos dulu. aku masih punya tabungan dua ratus ribu. Nanti yang seratus aku minta diskon atau aku pinjam Lina dulu."
"Tidak usah, pake uangku dulu saja. Sebentar kamu duduk saja. Aku akan ke kasir." Pria itu mengusap kepalaku lembut kemudian berlalu menuju kasir. Karena ruangan ini sepi, aku jadi bisa mendengar apa yang dikatakan Ridwan. Dia memberikan kartu debit sebagai alat pembayaran. Setelah semuanya beres dia mengajakku kembali ke IGD untuk melihat keadaan Wulan.
"Terima kasih ya, Wan. Ini kamu terima uangku dulu. Sisanya aku bayar saat di rumah," ujarku sembari menyodorkan uang yang sudah aku hitung tadi ke tangannya. Pria itu justru tertawa lebar, spontan dia mencubit pinggangku. "Ish, jangan keras-keras, ini di rumah sakit. Nanti diusir pak satpam baru tau rasa."
"Habis kamu lucu." Mataku membulat sempurna. Bagian mana yang lucu dari tindakanku, aku kan berniat baik mengembalikan uangnya meski dengan cara mencicil.
"Han, kalau kamu pakai uang ini dan kasih ke aku, sedangkan gajian kita masih sekitar dua minggu lagi, kalian mau makan apa?"
__ADS_1
"Tapi, Wan, hutang harus dibayar kan?"
"Kalau kamu mau bayar tidak perlu dengan uang tapi..." Ridwan yang menggantung ucapannya seketika membuatku bergidik ngeri. Pikiranku berlari liar ke mana-mana.
"Jangan macam-macam kamu, Wan. Gini-gini aku punya harga diri. Tidak mungkin hanya karena uang satu juta, aku mau menyerahkan sesuatu yang kelak hanya untuk suamiku!" Aku berkacak pinggang sembari berjalan menjauhinya.
Namun, Ridwan justru terbahak-bahak melihat tingkahku. "Dasar bodohh, aku itu belum selesai bicara, kamu sudah mencak-mencak tidak karuan. Tadi itu aku mau bilang syaratnya kamu segera menjawab pernyataan cintaku. Jangan melantur ke mana-mana, biar aku slengean begini, dulu aku juga remaja masjid."
"Sekarang?"
"Ya begitu deh." Pria itu tertawa memamerkan lesung pipitnya yang sangat menawan. "Ayo, cepat kita temui Wulan."
Aku dan Ridwan bergegas menuju IGD untuk melihat Wulan. Jarak yang aku buat sejak ucapan Ridwan tentang hutang sedikit terkikis karena pria itu meraih tanganku dan menggenggam erat. Desiran ini harus sejenak aku hilangkan demi Wulan.
Tirai yang menjadi pembatas antara brankar satu dengan yang lain, sedikit terbuka. Sebagai pertanda tindakan yang dilakukan oleh tim dokter sudah selesai. Aku menghampiri petugas jaga untuk menunjukkan kuitansi pembayaran.
"Baik, Bu. Pasien bisa pulang tapi tunggu sebentar infusnya harus habis, kemungkinan lima belas menit lagi."
"Apa kami boleh menemui pasien, Sus?"
"Oh, silakan. Oh iya, Bu. sesampai di rumah tolong pasien sering diganti perbannya ya. Karena ada beberapa sayatan yang cukup dalam. Untuk tiga hari ke depan, dokter menyarankan pasien istirahat total. Jangan bekerja dahulu. Satu lagi, bila kejadian ini terulang ada baiknya pasien dibawa ke psikolog untuk membantu pasien keluar dari masa sulitnya."
"Baik, Sus. Semoga saja Wulan tidak mengalami hal ini lagi."
"Silakan bila ingin menemui pasien. Tolong jika nanti infus habis bisa menghubungi kami agar kami cabut."
Setelah berucap terima kasih pada perawat yang berkacamata itu, aku bergegas berjalan ke arah brankar tempat Wulan dirawat. Namun, tiba-tiba saja langkahku dihadang oleh Adnan. Mau apalagi dia, apa mau ribut lagi.
"Han, bisa kita bicara sebentar?"
"Untuk apa? Urus aja calon istrimu yang tengah meraung kesakitan akibat perbuatannya itu. Aku mau lihat Wulan dulu."
Dasar pria kepala batu, bukannya minggir dia justru mengikuti gerakanku agar aku tidak bisa lewat.
"Han, tolong. Beri aku kesempatan untuk bicara padamu. Aku ingin tau sebenarnya ada apa ini?" mohonnya dengan suara yang memelas. Wow, kenapa dia berubah dengan cepat, padahal tadi saja bicara seolah paling benar.
"Kamu tanyakan saja pada si ulat bulu itu. Oh iya, tolong berikan padanya karena kotak ini membawa petaka buat Wulan." Aku menyerahkan kotak bedak pelet itu di tangan Adnan.
"Ini apa?"
"Tanyakan saja pada kekasih gelapmu!" Aku mendorong tubuh pria yang tengah mengamati kotak mengerikan itu. "Wan, ayo!"
Jika tadi Ridwan yang menggandeng tanganku, kini posisinya terbalik ke aku yang menggamit tangannya dan membawanya masuk ke balik tirai.
Di atas brankar, terbaring wanita yang penuh perban di tangannya. Wulan membuka matanya perlahan saat aku mengusap rambutnya.
"Han, maaf ya aku merepotkanmu dan yang lain."
"Jangan bicara dulu, habis ini kita pulang ya." Wanita itu mengangguk lemah.
"Han, aku takut sekali tidak bisa kembali ke dunia ini tadi. Aku..." Aku mengusap lengannya dengan lembut meski penasaran apa yang dialaminya tadi, aku tidak ingin dia kelelahan dulu.
"Han, kamu tau tadi penari yang mengerikan membawaku ke dunianya. Gelap sekali di sana. Aku berada di antara beberapa penari yang wajahnya cantik tapi perlahan terkelupas. Aku lari menembus hutan tapi tidak menemukan jalan pulang, hingga seorang gadis cantik yang wajahnya mirip sekali denganmu membantuku mencari jalan keluar. Aku hendak mengajaknya pulang tapi dia menghilang. Saat aku membuka mata aku sudah ada di sini."
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...