Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 31: Mencuri Dengar


__ADS_3

Aku menepis setiap pemikiran buruk, mungkin Bu Wati sedang diet karena menurut artikel yang aku baca, ayam cemani sangat baik untuk orang yang ingin makan protein hewani karena relatif rendah lemak jika dibandingkan ayam potong pada umumnya, bahkan ada beberapa pedagang yang nakal. Mereka mengakali supaya ayam yang hendak dijual terlihat lebih besar dengan menyuntikkan air garam ke dalamnya. Cara ini sudah ada sejak tahun 1970, mereka beralasan itu untuk menambah kelembutan pada ayam nantinya. Padahal semua itu belum terbukti.


Aku melanjutkan acara membersihkan kamar yang mulai berdebu ini. Seprei yang lama aku cuci dan diganti dengan yang baru. Kamar mandi juga aku sikat dengan bersih.


"Wah, beberes, Bu. Apa mau tinggal di kamar ini lagi?"


Suara Wulan membuatku menghentikan kegiatan beberesku. "Masuk, Lan. Ini tinggal jemur seprei saja. Aku nanti nitip di atas saja ya."


"Aku duduk di sini aja, Han. Agak seram kalau harus masuk ke kamarmu, mengingat kejadian beberapa hari ini semenjak kamu memilih keluar dari sini."


"Hush, nanti saja ceritanya, jangan di sini," ingatku. Wulan segera membekap mulutnya.


"Astaga, aku lupa kalau sedang ada di TKP. Aku naik dulu saja ya, Han."


"Eh, jangan tinggalkan aku. Ini bentar lagi selesai kok. Tinggal nyapu ini." Dengan cepat aku menyapu kamar ini.


Setelah aku rasa semua barang yang aku perlukan sudah ada di ransel serta kamar sudah rapi dan wangi, aku keluar kamar untuk segera ke kamar Wulan.


"Sudah, Han?" tanya Wulan saat aku tengah mengunci pintu kamar.


"Iya. Yuk kita naik. Aku kangen cerita-cerita sama kamu."


Dengan diiringi canda tawa, aku dan Wulan berjalan beriringan menuju kamarnya. Di lantai dua tiba-tiba saja aku terasa ingin buang air kecil.


"Lan, kamar mandi di lantai dua dimana sih?"


"Itu di pojok, samping kamarnya Bu Wati." Dengan terbirit-birit segera aku lari menuju kamar mandi. Aku tidak mempedulikan tawa Wulan yang bergema melihatku berlari tapi dengan menjepit kedua tanganku.


Sedari tadi saat keluar kamar memang sudah terasa ingin buang hajat. Namun, aku malas harus masuk ke kamar yang cukup membuat bulu kuduk ini merinding lagi. Aku pikir akan bertahan sampai ke kamar Wulan, nyatanya aku salah begitu di lantai dua rasanya tidak tertahankan. Untung saja lantai dua khusus untuk kamar yang kamar mandinya bersama dan di luar.


Lega rasanya bisa membuang hajat tapi saat aku keluar kamar mandi samar aku mendengar seseorang yang tengah berbincang. Suara itu berasal dari Bu Wati.


"Ba-baik, Pak. Saya usahakan malam ini ritual saya jalankan tapi..." Suara Bu Wati terputus. Aku mencoba mempertajam pendengaranku karena dari awal melihat ayam yang berwarna hitam itu aku merasakan ada yang berusaha disembunyikan oleh wanita yang masih betah melajang itu.


"Dia kembali, akan sulit jika dia ada, Pak." Aku mengernyitkan dahi berusaha menyusun kalimat demi kalimat Bu Wati. Tadi saat melihatku di kamar, dia tampak begitu terkejut dan sepertinya tidak suka pada kehadiranku di indekos ini. Kini dia tengah melapor pada entah siapa itu menyebut ada yang kembali. Ah pikiranku kacau balau.


"Lama banget sih kamu, Han. Sampai lumutan aku nunggu di tangga. Kamunya malah berdiri di depan pintu."


Buru-buru aku beri isyarat dengan menempelkan jariku ke bibir, berharap Wulan diam dulu. Karena aku masih penasaran dengan perbincangan Bu Wati yang sepertinya terhubung lewat sambungan telepon.


"Ada apa?" bisiknya setelah berdiri di dekatku.

__ADS_1


"Diam dulu. Kita dengarkan Bu Wati ngobrol sama siapa dulu. Aku penasaran ini ada hubungannya sama ayam cemani yang dia bawa tadi."


Samar kembali aku mendengar suara Bu Wati, "Iya, akan saya usahakan seperti petunjuk anda."


Setelah itu hening, sepertinya percakapan itu berhenti. Beberapa saat kemudian aku bisa mendengar meskipun hanya samar, Bu Wati bergumam, "Bagaimana caraku agar kamar itu kosong biar semua rencanaku dan tuan berjalan lancar. Apa aku rusak saja kerannya atau berpura-pura jadi hantu, tapi bagaimana jika setelah itu penghuninya gantian menghantuiku. Ah pusing. Lebih baik aku keluar cari angin saja, siapa tau ketemu jalan keluarnya. Lagi pula, aku heran sudah beberapa hari aman kenapa sekarang berbeda. Ah mumet. Jaketku dimana ya?"


Ucapan Bu Wati yang sepertinya akan keluar kamar membuatku dan Wulan saling pandang. Segera aku menarik tangan wanita itu untuk segera naik ke atas.


"Jangan gaduh. Kita larinya sembari jinjit saja. Pokoknya jangan gedebak-gedebuk."


Ucapanku ditanggapi dengan anggukan Wulan. Untung saja saat kami sudah ada di anak tangga terakhir baru terdengar suara deritan pintu yang dibuka.


"Selamat, Bu Wati sepertinya tidak tau kalau kita tadi mencuri dengar." Aku melihat Bu Wati berjalan tanpa memerhatikan tangga.


"Ayo kita masuk dulu. Aku butuh minum yang banyak."


Napas yang masih tersengal terdengar begitu jelas di kamar Wulan. Segelas air putih membantu aku dan Wulan untuk kembali mengatur napas yang hampir terputus ini.


"Gila, kita ini seperti maling ayam yang kabur karena takut terkena amukan massa," ucapku sembari menyenderkan kepala di tembok, sementara tanganku terus memijit pergelangan kaki yang terasa gemetar. Karena baru kali ini berlari tapi dengan posisi kaki jinjit agar tidak berisik.


"Kayanya kita berdua tidak cocok jadi atlet lari, kita cocoknya lari dari kenyataan."


Tawa itu berderai karena mengingat tingkah konyol kami tadi. Sesaat setelah tawa itu ada keheningan yang tiba-tiba saja menyergap. Aku dan Wulan sama-sama sibuk dengan pikiran kami masing-masing.


"Mungkin, Bu Wati mau mengadakan ritual pengusir hantu. Beberapa hari ini kan hampir seluruh penghuni indekos mendengar ada suara tangisan yang berasal dari kamarmu."


"Tapi bukankah menurut mitos ayam cemani bukan digunakan sebagai sarana pengusir tapi justru mengundang makhluk tidak kasat mata. Bahkan bagi sebagian orang percaya, ayam hitam itu adalah makanan bagi mereka, lalu..."


"Sudahlah, Han. Jadi merinding dengan pembahasan kita meski masih siang aku tetap takut. Kita cerita hal yang lucu saja, yuk."


Wulan benar, lebih baik kami cari topik pembicaraan lain meski begitu segudang tanya tentang ritual yang akan dilakukan oleh Bu Wati dan orang yang disebutnya dengan tuan itu, kadang masih terbesit di benak.


"Han, besok kan Intan ulang tahun. Bagaimana kalau kita kasih kejutan? Sebenarnya aku ingin memberinya hadiah tapi bingung."


"Wah, benarkah. Aku belum beli apa-apa buat kado dia. Lagi pula bulan depan dia kan..." Seketika aku teringat akan pesan Intan yang melarangku untuk berbicara tentang pernikahannya pada Wulan.


"Bulan depan memang dia mau apa?"


Pertanyaan yang diajukan Wulan membuatku yakin bahwa Intan belum memberitahu rencana pernikahannya pada Wulan. Sebenarnya Intan belum memberitahu kabar bahagia ini, padahal Wulan adalah teman sekamar gadis yang berasal dari Wonogiri itu.


"A-anu, tidak apa-apa kok," jawabku dengan sedikit tergagap.

__ADS_1


"Beneran?"


"Iya. Kalau pun ada yang penting pasti dia terlebih dulu memberitahumu bukan, Lan?"


"Iya juga ya. Intan kan dulu pernah janji kepadaku akan memberitahu semua padaku, tidak ada rahasia antara kami berdua."


Aku menghela napas panjang, karena aku tau Intan sudah menyembunyikan sebuah fakta besar dari Wulan, yaitu pernikahan yang sebentar lagi digelar oleh Intan dan kekasihnya, Adnan. Hanya Intan yang tau alasan dia melakukan ini.


"Lan, bagaimana kalau kita keluar untuk memberi hadiah buat Intan. Aku belum punya sesuatu buat dia."


Usulku diterima dengan baik oleh Wulan. Kami memutuskan untuk pergi ke sebuah toko serba ada yang cukup besar di kota ini. Semua kebutuhan sudah komplit di dalam satu tempat. Memang harganya sedikit mahal jika dibandingkan pasar, tapi mutu barang yang dipajang lebih terjamin yang menjadi satu hal penting lagi adalah di supermarket aku tidak perlu menawar barang seperti yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu yang belanja di pasar tradisional. Tidak ada istilah kemahalan karena tidak bisa menawar, di sini semua harga sudah tertera pada semua produk, termasuk baju pun ada di tempat ini.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang?" Aku mengangguk. Kami berdua kembali keluar kamar, berjalan beriringan menuju area parkir yang memang disiapkan oleh pemilik indekos ini. Tanpa sengaja aku dan Wulan bertemu Bu Wati. Entah kenapa tiba-tiba saja aku kikuk karena tadi sempat mencuri dengar percakapannya dengan seseorang melalui sambungan telepon. Mataku tidak berani menatap wajah yang mulai dihiasi oleh keriput itu.


"Mau kemana, Mbak Hanna? Pasti mau kembali ke rumah temannya ya? Soalnya..."


"Ti-tidak kok, Bu. Saya sama Wulan mau ke supermarket sebentar."


"Oh, kirain mau ke sana. Berarti malam ini tidur di sini?"


Tepat saat mulutku terbuka karena hendak menjawab pertanyaan Bu Wati, Wulan meneriaki aku.


"Han, cepat!" Buru-buru aku menghampiri wanita itu serta tidak lupa berpamitan pada Bu Wati.


Belanja memang membutuhkan waktu yang banyak meski hanya membeli sepotong kemeja perempuan bermotif kotak-kotak sebagai kado ulang tahun untuk Intan.


Hari sudah gelap saat aku dan Wulan keluar dari supermarket itu. Dalam perjalanan pulang kami mampir ke warung lesehan demi membungkam para cacing yang sempat berdemo di perutku ini. Kakiku yang pegal karena dari tadi ke sana ke mari hanya untuk mencari kado yang terbaik untuk Intan. Aku menyelonjorkan kaki di bawah meja, tapi kakiku terantuk sesuatu. Saat aku melongok ke arah meja, mataku terbelalak serta aku hampir teriak saat melihat ke kolong meja panjang itu. Sesosok pocong tengah tertidur di kolong meja. Matanya yang merah menatap tajam serta bibirnya menyeringai mengerikan.


"Wulan, makanannya dibungkus saja. Aku sakit perut."


"Kok tiba-tiba sih, Han. Jarang kita bisa makan di luar seperti ini."


"Nanti aku ceritakan di indekos."


Mataku kini terus menatap kresek yang berisi nasi tersebut. Ada rasa ragu, apakah makanan itu lebih baik aku buang saja tapi jika itu yang aku pilih, maka yang bersemayam di perutku akan semakin keroncongan.


"Lan, ini makanan aku buang saja ya?" tanyaku saat motor Wulan sudah melaju agak jauh dari lesehan itu.


"Kamu kenapa sih, Han? Tadi bilang kelaparan terus di warung kamu bilang sakit perut dan sekarang kamu mau buang makanan itu, ada apa? Apa ada masalah dengan makanannya?"


"Masalahnya tadi aku lihat ada pocong yang lagi rebahan di kolong meja. Aku takut warung itu menggunakan penglaris. Yang membuatku lebih heran, pocong itu sama dengan yang pernah aku lihat di pabrik tempo hari."

__ADS_1


...----------------...


...--bersambung--...


__ADS_2