
Bagaimana ini mereka semakin dekat, sementara kaki ini rasanya berat sekali, bagai dipaku dengan tanah. Aku hanya bisa berharap simbok atau siapa saja tolong aku. Aku bisa merasanya keringatku mengalir begitu deras, air mata ketakutan juga membasahi.
Sang penari berwajah mengerikan dan mengenakan mahkota itu berada di barisan paling depan rombongan. Langkahnya begitu anggun bak peragawati yang berjalan di atas catwalk. Namun, senyumnya yang menyeringai begitu menakutkan.
"Oh, selamat datang gadis kecilku!" serunya dengan suara lantang. Tangannya merentang seolah menyambutku dengan kasih sayang, padahal aku tau semua itu hanyalah dusta. Iblis tetaplah iblis. Apa tadi dia menyebutku gadis kecilnya, cuih, tidak sudi.
Jarak antara aku dan rombongan itu tinggal beberapa meter saja. Dalam hati ini terus berharap agar bisa berlari seperti angin dan meninggalkan tempat mengerikan itu.
"Hanna." Sebuah suara mendayu memanggilku, kemudian disusul suara tawa yang mengerikan. Kepalaku mendongak, tepat di atas kepalaku, hantu tanpa kepala itu menatapku tajam. Entah kekuatan dari mana, aku bisa menggerakkan kaki dengan segera berbalik badan. Mataku terbelalak karena jalanan setapak yang ada di hadapanku yang tadinya hanya satu, kenapa sekarang menjadi dua?
Di lajur kiri, aku melihat banyak berjajar rumah-rumah yang sama, khas rumah di kampung gaib. Sementara jika aku menuruti kata simbok untuk mengambil lajur kanan, maka aku akan masuk hutan belantara yang sangat gelap. Aku bimbang, jika aku ke kiri mungkin saja bisa bertemu simbok atau orang lain yang bisa aku minta tolong tapi bagaimana kalau ucapan simbok benar, aku akan semakin jauh ke dalam kampung ini. Namun, jika aku masuk ke hutan, nasibku juga belum tentu baik-baik saja. Semua juga tau bahwa makhluk seperti mereka itu pandai sekali berdusta.
Di tengah kebimbanganku menentukan jalan, jarak antara aku dan rombongan penari itu semakin dekat. Belum lagi hantu tanpa kepala itu terus tertawa dan mengitari kepalaku. Aku menghela napas panjang sebelum mengambil keputusan yang tidak mudah itu. Aku berlari kencang ke arah kanan sesuai petunjuk simbok. Biarlah aku memasuki hutan belantara yang sangat gelap itu, ketimbang nanti dari rumah-rumah yang berjajar keluar makhluk yang mengerikan.
Aku berlari menembus jalan setapak yang ada di tengah hutan belantara. Sudah tidak terhitung lagi aku jatuh dan terpelanting ataupun terpeleset karena jalanan yang sangat licin.
Jalan setapak itu rupanya mempunyai ujung. Saat tiba di ujung jalan itu, aku bingung harus ke mana lagi karena di depanku hanyalah hutan belantara serta dipenuhi semak dan perdu.
"Ikuti aku. Jangan lengah, terus ada di belakangku!" Aku tidak bisa melihat sosok yang ada di depanku dengan jelas karena kegelapan malam. Entah siapa dia sebenarnya, mungkin dia adalah sosok yang disebut simbok terus mengawasi dan menjagaku.
Beberapa kali aku harus menembus semak-semak yang tinggi karena memang tidak ada jalan yang lebih lega. Sudah tidak terhitung berapa kali lengan dan kakiku tergores pada dedaunan yang tajam. Langkah kaki sosok yang aku taksir adalah seorang perempuan jika dilihat dari perawakannya. Dia berhenti di tempat yang sedikit lapang.
"Tunggulah di sini dulu. Seseorang akan datang menjemputmu."
"Siapa? Siapa yang akan menjemputku di hutan belantara seperti ini?" tanyaku keheranan. Seandainya ini adalah dunia manusia, siapa juga yang akan mau masuk ke hutan belantara seperti ini.
"Dia yang pasti adalah orang yang dekat di hatimu. Aku pergi dulu, jaga dirimu." Wanita itu berlalu meninggalkanku.
"Tunggu! Aku belum berterima kasih kepadamu!"
"Sama-sama." Wanita itu menoleh ke arahku. Alangkah terkejutnya aku, sampai-sampai terperangah dibuatnya. Aku seperti tengah bercermin karena wanita yang menunjukkan jalan tadi bisa dikatakan serupa denganku.
"Siapa kamu? Kenapa sangat mirip denganku? Kita ini bagai pisang dibelah dua."
Wanita itu hanya melemparkan senyum saja. "Jaga dirimu baik-baik." Dia menghilang di antara gelapnya hutan.
Pikiranku dipenuhi dengan tanya mengenai sosok yang sangat mirip denganku. Apa dia juga yang menyelamatkan Wulan Saat tengah nyaris kehilangan nyawanya karena ulah junjungan Intan. Entahlah, aku tidak tau pastinya. Ketika aku masih sibuk mengira-ngira siapa kiranya sosok itu. Aku mendengar suara azan Subuh berkumandang bersahutan dari berbagai arah.
Aku memandang sekitarku, hutan belantara sudah berubah menjadi ruko-ruko yang berjajar. Tepat di hadapanku adalah dinding pembatas antara makam dan jalan raya. Makam yang sama tempat dulu aku pernah terjebak di sana. Di tempat inilah aku makan di angkringan tidak kasat mata.
Jalanan ini begitu sepi, ruko-ruko pun masih tutup. Untuk kembali ke indekos rasanya lumayan jauh jika jalan kaki. Lebih baik aku ke rumah Indah dulu saja. Jaraknya tidak terlalu jauh dari makam yang sudah sangat tua ini. Aku hendak mengayunkan langkah, tiba-tiba sorot lampu mobil menimpaku dan sungguh menyilaukan. Mobil berhenti di depanku.
"Hanna!" Aku tersenyum ketika melihat Wulan turun dari mobil. Tidak hanya Wulan, Ridwan juga membersamai kami. Rupanya wanita itu benar, orang-orang terdekatku datang untuk menjemputku.
"Hanna!" dengan berderai air mata, wanita itu memelukku erat. "Kamu ke mana? Kenapa tiba-tiba lari keluar dan pergi begitu saja?"
Aku melepaskan pelukannya dan segera menghapus air mata yang meleleh. "Jangan menangis lagi. Nanti air matamu kena luka. Itu pasti akan membuat lukamu basah lagi dan terasa perih. Sudah ya, jangan nangis. Lagi pula aku sudah ada di sini dan dalam keadaan baik-baik saja. Jangan kuatir lagi ya."
"Bagaimana kami tidak kuatir, Han. Kamu pergi dalam keadaan tidak sadar, seolah tengah terhipnotis oleh sesuatu setelah kepergian Intan. Kamu tepis semua orang yang menghalangimu..."
"Kamu mendorong Ridwan hingga ia tersungkur, Han." Wulan memotong ucapan Ridwan. Aku harus memandang wajah pria yang baru semalam resmi menyandang status sebagai kekasihku itu dengan rasa bersalah.
"Apa ada yang sakit?"
"Tidak ada, sayang. Aku baik-baik saja. Kan pacarmu ini bukan pria lemah yang sekali jatuh terus kesakitan." Pria itu mengacak rambutku lembut. Aku memang bukan wanita yang saleha, masih sering aku lakukan buka tutup kerudung. Tapi aku berjanji, suatu saat akan menutup mahkotaku dan hanya akan aku buka saat bersama suamiku.
Wulan berdehem, membuatku mengalihkan pandangan dari wajah Ridwan. "Sebenarnya ada apa, Han? Apa yang terjadi sampai kamu seperti ini, menghilang begitu saja. Aku dan Ridwan juga beberapa penghuni indekos bahu-membahu mencari kamu, tapi tidak ada di mana-mana. Bahkan aku dan Ridwan menembus makam ini pun tidak ada."
__ADS_1
"A-aku..."
"Sudah, kita cerita sambil makan saja, pasti kalian lapar kan. Setelah makan, aku antar kalian pulang agar kalian bisa istirahat." Kami segera menaiki mobil. Awalnya aku ingin menemani Wulan di kursi penumpang, tapi dia mengusirku. Dia menyuruhku duduk di depan menemani Ridwan.
"Kamu itu jadi perempuan yang peka sedikit kenapa sih, Han. Memangnya Ridwan itu sopir kita? Harusnya kamu duduk di depan, apalagi kan kalian baru jadian. Jadi kalian harus tampil mesra!"
Ridwan yang memerhatikan aku yang seperti seorang bocah yang tengah diomeli ibunya tampak terus tersenyum.
"Dasar bawel! Kaya ibu-ibu!" gumamku sembari turun dari mobil dan berpindah duduk di depan, samping Ridwan.
"Memang aku ibu-ibu, anak dua malah. Memang masalah buat kamu kalau aku ini ibu-ibu bawel?"
"Biarin, tidak urus! Ayo, Yang, kita jalan daripada ibu-ibu bawel ini semakin mengeluarkan jurus seruduk bantengnya." Aku menjulurkan lidah dan mengejek Wulan dari pantulan spion dalam mobil.
"Kalau saja tanganku tidak sakit, sudah aku cubit pipimu itu, Han."
"Coba saja. Memang bisa?" Gelak tawa memenuhi ruang mobil yang tengah berjalan membelah jalanan itu.
"Kita makan di mana?" Ridwan yang sedari tadi hanya memerhatikan saja, tiba-tiba ikut berbicara.
"Terserah!" Aku dan Wulan bersamaan.
"Ciyee, kompak banget jawabnya. Kalian berdua itu mungkin dulunya saudara kembar yang dipisahkan mungkin."
Godaan yang Ridwan lontarkan membuatnya mendapat hadiah cubitan dariku dan Wulan pun memukul lengan Ridwan dengan botol air mineral yang digenggamnya sedari tadi.
"Waduh, dikeroyok ibu-ibu PKK aku!" Aku dan Wulan sama-sama mencebik, pura-pura marah pada pria berlesung pipit ini. "Sudah, jangan ngambek lagi ya, sayangku dan saudara kembar sayangku. Sekarang ini kita mau makan di mana?"
Tiba-tiba aku teringat pada bubur ayam yang kemarin sempat dibelikan oleh Ridwan tapi dengan terpaksa harus dibuang karena sudah hampir basi. "Yang, kita makan bubur ayam saja, kelihatannya menggugah selera."
Usulku diterima oleh Ridwan dan Wulan. Pria jangkung itu melajukan mobilnya menuju gerai bubur ayam yang buka di dekat pabrik.
"Jadi itu pas si Intan keluar bahkan sampai merangkak, itu hantu tanpa kepala ternyata mengejarnya. Tiba-tiba dia mengajakku untuk ikut dengannya."
"Lah, kenapa kamu ikut? Bisa saja dia mau membawamu ke dunianya dan tidak kembali seperti yang terjadi pada Gayatri."
"Sepertinya dia baik."
"Astaga, dari ceritamu saja sudah ngeri seperti itu wujudnya, bagaimana kamu bisa ngira dia baik?" Saking emosinya, Wulan sampai meletakkan kembali sendok yang berisi bubur.
"Bagaimana ya, Lan? Itu hantu pas kamu mau dibawa ke rumah sakit, dia sempat bilang akan membawamu kembali. Nah tadi itu, aku diajak ke sana untuk mengajak Intan pulang ke dunia kita. Kasihan di sana disiksa."
"Terus, sekarang di mana Intan? Apa dia sudah kembali ke rumahnya?"
"Tidak, dia tidak mau aku bantu malah hendak menyerahkanku sebagai nyawa pengganti agar dia terbebas dari sana. Rupanya dia dikembalikan ke sini agar bisa menghabisi dua nyawa sebagai tumbal menggantikan dirinya, yaitu kita."
Aku bisa melihat Wulan terperangah, sementara Ridwan tampak mengepalkan tangannya.
"Lalu bagaimana seterusnya?"
"Setelah dia menolak ajakanku untuk kembali ke sini, dia justru memanggil junjungannya itu dengan mengatakan bahwa aku akan menggantikan dirinya untuk menjadi budak sang penari. Selain aku, dia juga menyerahkan bayi yang ada dalam kandungannya."
"Kurang ajarr! Teman dan ibu macam apa dia, mengorbankan siapa saja demi kebebasannya sendiri. Harusnya biarkan dia tersiksa untuk selamanya di sana," desis Ridwan dengan penuh amarah.
"Ridwan betul, lagian kamu mau-maunya menyelamatkan dia, Han."
Aku menceritakan semuanya yang aku alami, termasuk risiko yang akan terjadi bila aku tidak mau melakukannya.
__ADS_1
"Aku akan terjebak di sana selamanya, meski aku bukan budak mereka tapi aku tidak dapat membayangkan selamanya harus hidup di kampung yang sangat gelap dan pastinya penuh makhluk berwujud mengerikan di sana."
Ridwan mengusap lenganku, tindakannya ini sedikit menenangkanku. "Bersyukur bidadari hatiku kembali."
"Lalu bagaimana caranya kamu bisa kembali, Han? Kami sudah keliling jalan tempat kamu berdiri tadi beberapa kali, tapi kamu tidak ada di sana."
"Saat aku lari dari rombongan penari dan masuk ke hutan, seorang wanita mengantarku ke sebuah padang. Aku terkejut saat wanita itu menoleh, wajahnya sangat mirip denganku, Lan. Aku seperti melihat bayanganku sendiri di cermin."
"Mungkin dia wanita yang sama saat menyelamatkanku kemarin itu, Han. Aku kan bilang dia sangat mirip denganmu. Aku pun sangat heran, kenapa ada makhluk tak kasat mata yang mirip sekali denganmu. Jangan-jangan kamu sebenarnya punya saudara kembar, Han? Hanya saja kamu tidak tau."
"Rasanya tidak, jikalau aku punya saudara kembar, pasti orang tuaku memberitahunya. Tidak mungkin disembunyikan."
"Atau jangan-jangan dia ibumu?"
"Bukan, ibuku tidak mirip denganku. Mbak Arum yang persis seperti ibuku. Kalau aku itu, perpaduan keduanya."
Saat tengah berbincang, tiba-tiba ponsel Ridwan berdering. Dia segera mengangkat panggilan itu, entah kabar apa yang dia terima hingga wajahnya menegang. "Iya, Kung. Ridwan pulang sekarang. Tolong jaga ibu sebentar."
"Ada apa, Wan?" Aku bertanya karena dari gelagatnya pasti telah terjadi sesuatu pada ibunya.
"I-ibuku sakitnya kambuh. Apa bisa kita pulang sekarang? Karena aku harus mengurus ibuku dulu dan memberinya obat."
"Memangnya ibumu sakit apa, Wan?" Buru-buru aku menyenggol kaki Wulan agar tidak bertanya apa-apa dulu.
"Yang, kamu pulang saja. Biar aku habiskan makan dulu."
"Ta-tapi..."
Aku berdiri mendekatinya. "Utamakan ibumu dulu. Jika butuh bantuan, hubungi aku."
"Benar kalian tidak apa-apa pulang sendiri?"
"Tidak apa-apa, Ayang. Cepat pulang, aku tidak mau terjadi sesuatu pada calon ibu mertuaku. Hati-hati."
Ridwan segera meninggalkan kami di gerai bubur setelah membayar makanan kami. Dasar pria keras kepala, sudah aku bilang biar aku yang membayar semua pesanan kami, Ridwan tetap saja bersikukuh membayarnya. Bahkan dia menyarankan kami naik taksi online, padahal jarak gerai ini dan indekos tidak jauh, tidak sampai satu kilometer.
Sepeninggal Ridwan, Wulan menatapku tajam seolah hendak menginterogasiku. "Ibunya Ridwan sakit apa?"
"Sakit jiwa. Menurut Ridwan itu terjadi saat dia masih anak-anak, sekitar tiga tahun kalau tidak salah."
"Astaga! Han, aku kan baru benar-benar memerhatikan wajah Ridwan kan baru saja ya. Kenapa setelah aku perhatikan, wajahnya seperti tidak asing ya. Rasanya aku pernah bertemu dengan dia."
"Ya kan, dulu kita ketemu pas makan di lesehan itu, Lan."
"Bukan, sebentar biar aku ingat-ingat dulu."
Setelah sekitar tiga menit kami dibekap keheningan dan hanya suara motor yang sesekali berlalu. "Ah, aku ingat siapa orang yang jika dilihat sepintas mirip dengan ayangmu itu."
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Pemilik indekos berdarah."
"Memangnya kamu pernah ketemu dengan dia? Bukannya pemilik kos kita itu tinggalnya jauh ya, di luar pulau?"
"Waktu awal-awal tinggal di indekos, dia sempat mampir ke indekos, bahkan kami sempat berbincang sebentar. Benar, Han. Dia sepintas mirip sekali dengan Ridwan. Kok bisa ya, padahal mereka kan tidak ada hubungan apapun?"
Aku terdiam sejenak, sementara pikiranku terus melayang memikirkan ucapan Wulan.
__ADS_1
...----------------...
...--bersambung--...