
Sepertinya yang mengganggu Bu Ning adalah hantu tanpa kepala yang juga sering menampakan dirinya padaku. Ternyata dari dulu memang meresahkan penghuni indekos berdarah ini. Di lain hari, tiba-tiba ada seorang tukang becak yang datang dan mencari perempuan yang sudah setengah jam masuk setelah diantar kemari oleh tukang becak itu. Wanita itu beralasan uangnya ada di dalam. Namun, setengah jam menunggu wanita itu tidak kunjung keluar. Tukang becak itu mengatakan bahwa penumpangnya bilang dia tinggal di kamar tiga belas. Padahal seluruh penghuni in the kost ini tau. Belum genap satu bulan sesosok mayat ditemukan dalam kondisi mengerikan di kamar itu. Bagaimana ada yang menempati kamar yang mengerikan dan masih tersegel oleh garis polisi itu. Banyaknya kejadian mistis membuat penghuni indekos didera ketakutan dan memilih untuk berpindah.
"Bu, selama di sini, pernah ketemu orang gila tidak?"
"Sering banget, Han. Memangnya kenapa?"
"Ma-maksudku dulu dia sering ada di depan indekos berdarah, selama masih tinggal di sana pastinya." Aku mencoba menggali informasi tentang ibunya Ridwan.
"Oh, dulu ada sih, Han. Aku bertemu dia beberapa kali dengan orang gila di depan indekos sebelum akhirnya aku memilih pindah indekos. Orang gila itu sering menggedor gerbang dan selalu memarahi setiap kami yang keluar. Namun, entah apa kabar dia sekarang? Apa masih sering muncul di sana atau malas sudah lewat memangnya ada apa, Han?"
Sepertinya Bu Ning tidak tahu kalau perempuan itu kemungkinan besar adalah ibunya Ridwan. "Tidak apa-apa. Hanna hanya dengar-dengaran saja, takut kalau tiba-tiba datang dan mengamuk seisi penunggu indekos."
Aku terpaksa harus berbohong pada Bu Ning karena rasanya aku tidak pantas menceritakan bahwa wanita yang suka mengamuk di depan indekos berdarah adalah ibunya Ridwan.
Aku pun berusaha mengorek informasi tentang pemilik indekos berdarah, yang menurut Wulan sangat mirip dengan Ridwan. Aku ingin tau apakah ada hubungannya dengan Ridwan. Aku ingin menegaskan kecurigaan yang sempat menghantui bahwa mereka ada ikatan darah. Selain kemiripan, juga karena setiap kali ibunya Ridwan kambuh, tempat yang didatanginya adalah indekos berdarah. Pikiran melebar liar, mungkin saja di alam bawah sadarnya ibunya Ridwan tengah mencari pria yang mencampakannya itu. Ini semua hanya opiniku sementara ini, soal benar atau salahnya masih harus banyak pembuktian.
"Kalau dulu pas aku masih di sana, pemiliknya itu sudah paruh baya. Menurut kabar mereka cuma punya anak satu saja laki-laki kemungkinan usianya sebaya denganku. Tapi saat kejadian penemuan mayat itu, posisi anaknya habis kecelakaan dan koma. Entah kabarnya sekarang masih hidup atau malah sudah meninggal. Soalnya sejak ada kejadian indekos berdarah, ekonomi mereka semakin sulit karena para penghuninya pergi, salah satunya aku. Belum lagi mereka harus menggelontorkan biaya untuk anak mereka yang hidupnya tergantung oleh peralatan medis, pastinya menelan banyak biaya. Aku pun mendengar kabar bahwa indekos itu akan dijual oleh mereka, waktu ada penggerebekan di indekos yang membuat gempar semua orang."
Jika pemilik indekos berdarah adalah pasangan paruh baya, lalu siapa pria yang mirip dengan Ridwan itu. Bisa jadi dia adalah putra mereka yang bangun dari koma. Namun, bisa juga dia pemilik baru indekos berdarah.
"Bu, kalau pemilik indekos berdarah ini orang mana sih?"
"Setahuku ya, karena aku pernah berbincang dengan ibu pemilik indekos, beliau asalnya dari Gunung Kidul tapi suaminya orang Solo. Mereka juga tinggal di daerah kota, tapi itu dulu ya dua puluh tahun yang lalu kira-kira."
"Namanya siapa ya, Bu?"
"Aduh lupa! Siapa ya? Slamet siapa gitu. Wigati apa Wiyadi. Emang kenapa sih, Han, tiba-tiba kamu tanya sedetail itu."
Aku sendiri belum tau apa fungsi dari mengetahui pemilik indekos berdarah. Semoga saja bermanfaat untuk menyingkap tabir kematian mengerikan di kamar tiga belas, serta siapa tau mereka ada hubungannya dengan kondisi ibunya Ridwan sekarang.
"Oh iya, Han, kamu sudah baca buku catatan adik sepupuku, Priyambodo?"
Astaga, bagaimana aku bisa lupa, bahkan menyentuhnya saja belum. "Maaf, Bu. Hanna belum sempat baca. Soalnya semalam Hanna terjebak di kampung gaib lagi."
"Astaga, kamu jangan sering melamun, Han. Biar makhluk tidak kasat mata tidak terus mengganggu seperti ini. Kamu tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka bukan?"
"Tidak, Bu. Hanna baik-baik saja. Semalam Ridwan dan semua orang panik mencariku karena aku hilang."
"Syukurlah kamu bisa pulang. Tidak seperti Gayatri yang hilang dan tidak pernah kembali selama bertahun-tahun, entah di mana dia sekarang? Aku kasihan dengannya, apalagi saat kamu cerita gadis itu dirudal paksa oleh tiga orang sekaligus, rasanya pasti sakit. Han, kalau memang kamu bisa tolong ya. Kamu bantu membuka tabir ini, setidaknya jasadnya bisa ditemukan."
Aku hanya terdiam tidak mampu menjawab permintaan Bu Ning karena nyatanya aku tidak punya daya untuk mengetahui masa lalu seseorang.
Sesaat aku dan Bu Ning dibekap oleh keheningan, sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Satu per satu, rekan kami yang lain berdatangan hingga membuat pembicaraanku dengan wanita yang hampir seusia ibuku itu terhenti dan tidak lagi membahas kisah mistis.
__ADS_1
Senyumku terkembang saat pujaan hatiku datang membonceng temannya. Teman yang semalam mengajak kami ke Tawang Mangu. Selepas Ridwan presensi, dia menghampiriku.
"Bagaimana keadaanmu, Yang? Apa sudah enakan? Demam tidak?" Pria itu mengusap dahiku dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa, Yang."
"Yakin? Kamu semalaman kan tidak tidur. Tadi pagi tidur kan?" Pria jangkung ini mengubah posisinya yang tadinya berdiri dan membuat saat kami berbicara aku harus mendongakkan kepala. Pria itu tanpa malu berjongkok di depanku terus menggenggam tanganku.
"Duh yang lagi kasmaran. Dunia terasa milik berdua, yang lain mah ngontrak." Suara Bu Ning yang menggoda kami disusul suara sorakan dari karyawan yang sudah berkumpul di depan karena waktu masuk tinggal lima menit. Akibat itu, pipiku memerah karena malu.
"Ayangku, malu ya? Sampai pipinya merah, jadi pengen nyium," ucap Ridwan lirih, semakin membuat wajahku bagai kepiting rebus. Aku menghadiahkan sebuah cubitan di lengannya.
"Aduh sakit!"
"Biarin saja." Aku menatap tajam pada pria yang hari ini penampilannya sedikit berbeda seolah ada yang kurang.
"Jaket kamu di mana? Tumben, pake kemeja tanpa jaket."
"Ayangku, jaketku kan kamu peluk seharian. Lupa ya?"
Astaga, bagaimana aku bisa lupa semalam saat pulang, Ridwan memintaku mengenakan jaketnya agar aku tidak keinginan.
"Lupa. Besok aku cuci dulu deh. Baru aku kembalikan, tidak enak itu jaket sudah bau keringatku soalnya."
"Baumu itu candu lo, Yang. Biar saja, jadi kalau ada rindu tinggal cium jaket aja."
Kurang satu menit lagi pasti bel panjang berbunyi. Aku dan yang lain segera berduyun-duyun masuk ke ruang produksi. Mataku tiba-tiba menangkap ada luka memar di lengan Ridwan yang sedikit terlihat membiru. Bukankah tadi aku mencubitnya di situ, mana mungkin cubitanku berefek memar biru seperti itu. Lagi pula tadi aku hanya pelan saja. Tepat sebelum kami berpisah karena ruang kerja kamu berbeda, aku menarik tangannya sebentar agar berhenti.
"Ada apa, Yang? Jangan minta yang aneh-aneh."
"Lengan kamu kenapa memar begitu? Apa karena cubitanku tadi ya? Aku minta maaf ya."
"Bukan, biasa jika ibuku mengamuk, dia memukul semua orang dengan balok kayu."
"Sakit? Sudah diobati belum?"
"Tidak apa-apa. Jangan kuatir ya. Sudah sana masuk! Nanti kena omel sama singa pabrik lo." Saat aku beranjak pergi, Indah memanggilku. Gadis itu datang dengan terengah-engah. Tepat saat itu, bel panjang berbunyi.
"Hampir saja aku terlambat, Mbak. Untung saja di mesin finger print aku tercatat masuk jam tujuh pas. Kalau lebih semenit saja bisa potong gaji ini."
Sembari berjalan, aku bertanya sebab Indah bisa datang terlambat. Rupanya semalaman dia memikirkanku.
"Aku dapat kabar Mbak Hanna diserang sama Intan terus Mbak hilang. Aku kuatir, Mbak. Pengen rasanya ke indekosnya Mbak buat bantu-bantu tapi tidak dibolehin sama Mas Ridwan."
__ADS_1
"Iya, Ridwan benar. Sudah banyak orang kok yang menolong aku." Aku dan Indah menuju tempat kerja masing-masing. Aku melanjutkan pekerjaanku meski pikiranku masih tertuju pada banyak hal dari identitas pemilik indekos sampai luka memar yang ada di lengan Ridwan. Pria itu banyak mengumbar senyum tapi juga menyimpan banyak sekali rahasia bahkan luka dalam hidupnya. Semoga saja kehadiranku mampu mengobati kesedihannya.
Untunglah pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak dan menumpuk hingga aku sedikit bersantai karena tidak ada kendala yang berarti. Hingga waktunya pulang pun semuanya lancar tidak ada gangguan dari makhluk tidak kasat mata.
Saat hendak pulang, Ridwan menghampiriku. "Yang, aku laper. Sebelum pulang kita keluar cari makan dulu yuk."
"Makan? Terus motornya bagaimana? Aku juga tidak tega ninggalin Wulan lama-lama."
"Gini aja, kita ajak sekalian Wulan. Nanti kamu balik dulu ke indekos sambil jemput Wulan, kita makan bertiga."
"Indah tidak diajak sekalian?" Tiba-tiba saja Indah sudah ada di antara kami berdua.
"Kamu mau ikut? Ya sudah sekalian. Hitung-hitung karena aku dan calon kakak iparmu ini resmi jadian."
Aku sempat melihat mendung di wajah ayu milik Indah tapi buru-buru ditutupi dengan senyumnya yang begitu manis. "Selamat ya, Mbak. Tidak sia-sia caraku membiarkan kalian berdua semalaman. Indah tunggu undangannya, Mbak."
Rupanya Indah semalam sengaja meminta agar dijemput oleh orang tuanya untuk memberiku ruang agar bisa bersama Ridwan tanpa gangguan. Dia pula yang meminta Wulan agar menyuruhku mampir membeli sesuatu dengan harapan aku dan Ridwan mengungkapkan isi hati kami.
"Dasar kamu, Ndah. Pintar kamu bohongin kita ya."
"Bohong demi kebaikan apa salahnya?" Tawa gadis itu menggema membuat beberapa orang melihat ke arah kami.
"Kamu memang anak nakal." Indah terkekeh dengan ucapanku.
"Cil, bocil. Kalau kamu mau ikut kita, pamit dulu. Kasihan sama orang tuamu pasti nungguin anak bayinya yang terlambat pulang."
"Ngawur, masa gadis seimut aku dibilang anak bayi."
"Tidak usah protes! Pokoknya cepat minta ijin dulu. Kalau tidak, kami tinggal."
"Iya, cerewet!"
Aku tersenyum melihat keduanya yang beradu mulut. Keduanya itu seperti adik dan kakak yang selalu beradu pendapat tapi saling perhatian. Mungkin inilah yang membuat akhirnya Indah berharap lebih. Karena bagaimanapun persahabatan antara laki-laki dan perempuan pasti akan melibatkan perasaan yang lebih. Entah itu hanya satu pihak yang merasa atau justru malah keduanya sama-sama merasakan.
Dalam kasus Indah dan Ridwan, hanya Indah yang merasakan. Sementara Ridwan justru jatuh cinta padaku. Aku hanya bisa berharap, suatu hari nanti Indah mendapatkan pria yang sangat mencintainya.
Setelah Indah mendapatkan izin dari orang tuanya dan aku sudah memberitahu Wulan bahwa akan menjemputnya. Aku dan Ridwan bergegas berboncengan ke parkiran mobil. Setelah itu kami beriringan ke Indekosku. Indah pun memikirkan motornya, tetapi saat itu Wulan juga sudah turun.
Diselingi canda tawa, kami berempat membelah jalan sembari berunding memilih akan makan di mana, malam ini. Aku tau tempat makanan yang enak di daerah sini. Kalian tidak usah pusing memikirkannya."
Mataku terbelalak saat Ridwan menghentikan laju mobilnya di depan warung lesehan yang sangat ramai pengunjung. Namun, bukan hanya manusia di sana. Di setiap meja, ada seorang pria yang pucat dan penuh darah. Di meja kasir, perempuan yang aku lihat di atas rel semalam tengah duduk di meja, menyeringai memamerkan taringnya.
"Yang, kita pindah warung saja ya," pintaku pada Ridwan. Saat kakiku hendak berbalik arah, sebuah potongan tangan sebatas siku mencengkeram kakiku, memaksa aku masuk ke dalam warung itu. Tidak hanya aku rupanya, kaki para pengunjung dicengkeram kuat.
__ADS_1
...----------------...
...--bersambung--...