Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 55: Riwayat Misteri Kamar 13


__ADS_3

"Mirip denganku?" tanyaku tidak percaya.


"Iya, hanya saja dia sedikit lebih dewasa darimu. Rambutnya pun lebih panjang darimu, sekitar sepinggang dan sedikit bergelombang."


Mungkin dia adalah hantu yang kepalanya tertebas itu. Dia kan tadi berjanji akan menolong Wulan. Namun, kenapa kata Wulan wajahnya mirip sekali denganku? Apakah dia makhluk yang sama dengan dilihat neneknya Indah waktu itu? Ah, rasanya pening kepalaku memikirkan itu semua.


"Lan, apa wanita itu kepalanya tertebas?"


"Kamu ini sembarangan kalau bicara. Dia itu seperti kita bahwa perawakannya sama sepertimu. Dia mengenakan daster selutut berwarna biru dengan motif bunga mawar merah. Kalau dia berwujud seperti yang kamu katakan barusan aku, bukannya menurut malah kabur menjauh."


Mungkin benar kata orang bahwa mereka, para makhluk tidak kasat mata bisa mengubah wujud mereka menjadi siapa pun, seperti saat lalu dia menyerupai seperti Wulan bahkan menjadi diriku pun pernah.


"Ya sudah, yang paling penting sekarang kamu cepat pulih dan harus banyak istirahat agar bisa bekerja lagi. Habis ini kita cari makan ya. Tuh kasihan para penghuni perutmu pasti dari tadi demo karena belum dapat jatah," candaku agar mencairkan suasana. Wulan tampak tersenyum tapi sorot matanya berubah sendu saat menatap tangannya yang terbalut perban.


"Eh, itu infusmu sudah mau habis. Aku keluar dulu untuk panggil perawat agar infusnya dilepas terus kita pulang deh."


Aku hendak keluar dari bilik itu tapi dicegah oleh Ridwan yang sedari tadi terdiam, di belakangku.


"Kamu di sini saja, temani Wulan. Biar aku yang panggil perawatnya." Pria itu tanpa menunggu jawabanku, dia langsung mengayunkan langkah keluar.


"Han, bagaimana dengan biaya rumah sakitku? Bisa pakai kartu asuransiku, kan?"


Entah bagaimana aku menjelaskan padanya. Aku takut Wulan malah jadi semakin banyak beban pikirannya.


"Han, kenapa kamu diam saja, tidak menjawab pertanyaanku? Apa kartu asuransiku sudah tidak berfungsi atau tidak menanggung biaya rumah sakit karena kenyataannya aku sendiri yang menyakiti tubuhku?"


Untunglah dua orang perawat datang sebelum aku menemukan jawaban yang tepat untuk rentetan pertanyaan Wulan tadi. Aku keluar dari bilik yang tertutup tirai. Aku bisa mendengar para perawat itu mengajak berbincang Wulan. Aku pun juga mendengar rintihan Intan yang tengah diobati tepat di sebelah brankar Wulan.


"Bagaimana keadaan Intan ya, Wan? Jujur aku juga kuatir sama dia tapi rasa sakit ini masih membara di dada."


"Kamu tidak perlu memikirkan Intan saat ini. Dia ada dalam penanganan yang tepat."


"Semoga saja, bagaimanapun dulu kami sangat dekat. Secara pribadi Aku tidak mempunyai masalah dengan gadis itu."


Di tengah perbincangan Antara Aku dan Ridwan, Adnan kembali menyela. "Han, sebenarnya ini kotak apa? Kenapa di cerminnya tertulis namaku dan Intan? Lalu mengapa kamu bilang kotak ini membawa petaka untuk kalian?"


"Aku sudah bilang padamu tadi, tanyakan semua itu pada kekasihmu itu. Sudah jangan ganggu kami lagi."


Aku hendak mengajak Ridwan menjauh dari pria itu. Namun, Ridwan justru ingin aku menjelaskan padanya perihal kotak itu. "Untuk apa?" bisikku pada Ridwan.


"Katakan saja, biar dia terbuka matanya. Aku bisa melihat sebenarnya pria itu baik tapi mungkin karena pengaruh pelet itu, dia berubah," jawabnya dengan suara lirih.


Benar saja kata Ridwan, mungkin dengan dia tau kenyataan ini. Adnan bisa kembali kepada Wulan.


"Jadi begini, kotak itu adalah tempat bedak pelet. Kenapa di situ ada namamu karena memang yang dituju adalah kamu. Intan mau kamu tergila-gila dengannya dan melupakan keluargamu sama seperti sekarang. Kamu lupa kewajibanmu sebagai suami dan ayah untuk mereka!"


Aku berucap dengan gemetar karena rasa amarah ini begitu membuncah di dada ini. Ridwan tidak hentinya mengusap bahuku agar tenang.


"Pelet? Tidak mungkin!"


"Terserah, kamu mau percaya atau tidak. Satu hal yang jelas wajah Intan yang terlihat sangat cantik itu perlahan membusuk karena dia tidak menggunakan lagi bedak itu."


Aku bisa menangkap keterkejutan di wajah Adnan, bahkan dia sampai menjatuhkan kotak yang ada di tangannya. "Makanya jadi orang itu yang dekat sama Gusti, jangan mikirin dunia terus. Jadi tidak gampang kena ilmu hitam. Sudah jelas kan? Aku mau lihat Wulan dulu!" ucapku perlahan tapi dengan nada sinis kemudian memilih meninggalkannya karena aku lihat seorang perawat sudah keluar dari bilik Wulan.


"Tadi aku dengar seperti ada keributan. Ada apa, Han?"


"Anu, nanti saja aku ceritakan. Sekarang kita pulang ya." Aku mencoba memasang senyum meski hatiku masih jengkel karena bertemu dengan Adnan. "Sus, kami boleh langsung keluar kan?"

__ADS_1


"Oh, silakan, Ibu. Namun, sebelumnya ke petugas dulu ya. Ada beberapa hal yang harus kami sampaikan."


"Baik." Aku membantu Wulan untuk turun dari brankar sementara Ridwan pamit keluar terlebih dahulu untuk mengambil mobilnya.


Perlahan aku gandeng wanita itu menuju meja perawat. Adnan yang tengah duduk di kursi tunggu terlihat terkejut melihat kondisi Wulan yang penuh luka. Dia berjalan mendekati kami. Langkahnya terhenti saat perawat mendekatiku dan Wulan.


"Ibu Wulan, ini obatnya ya. Soal aturan minumnya sudah ada di kemasan. Jangan lupa rutin ganti perban, maksimal dua hari sekali." Setelah menandatangani beberapa berkas, kami diperbolehkan pulang. Di depan pintu sudah terparkir mobil Ridwan. Namun, masalah lain menghadang, Adnan berdiri menghalangi langkah kami.


"Wu-wulan, kamu kenapa? Kenapa kamu seperti ini?"


Dasar buaya darat, Adnan mendekati Wulan dan memeluknya erat. Hatiku terbakar amarah, ingin rasanya memisahkan keduanya. Namun, saat melihat senyuman Wulan yang terlihat nyaman dalam pelukan pria yang sudah jelas menghianatinya membuatku mengurungkan niatku itu, lagi pula keduanya masih sah sebagai suami istri.


"Mas, kamu di sini untuk aku? Kamu masih peduli denganku, Mas?"


Aku kasihan pada Wulan saat aku dengar pertanyaannya, andai dia tau kenapa Adnan di sini dan apa yang dikatakannya tadi saat tau Wulan kesakitan, apa bisa Wulan menerima pelukan Adnan.


"Keluarga Ibu Intan!"


Syukurin kamu, Adnan. Perawat memanggilmu saat kamu tengah menikmati pelukan istrimu. Namun, aku tetap saja iba pada Wulan yang terlihat sangat kecewa karena nyatanya keberadaan Adnan di sana bukanlah untuk dirinya tapi untuk wanita yang telah membuatnya kehilangan suami.


"Pergilah, Mas. Aku harusnya sadar kalau aku bukan lagi ratumu." Wulan melepaskan pelukan mereka kemudian mengajakku keluar. Aku bisa melihat jelas air mata yang menetes. Buru-buru aku hapus agar tidak mengenai luka di wajahnya.


"Jangan menangis lagi. Kita pulang dan meninggalkan semua luka di sini."


Kami bertiga pulang tanpa banyak berbincang. Mata Wulan tampak menerawang jauh ke depan, entah apa yang dia pikirkan sekarang sementara aku hanya bisa menggenggam tangannya agar dia tidak merasa sendiri.


Gerbang indekosku sudah terlihat. Aku terperangah karena dia yang menenteng kepalanya berdiri di depan gerbang, seolah menyambut kedatangan kami. Saat mobil Ridwan masuk dan melewatinya, aku melemparkan senyum padanya sebagai wujud terima kasihku. Entah kenapa aku yakin gadis yang disebut bulan itu adalah dia.


Mobil Ridwan sudah terparkir di pelataran indekos yang cukup luas. Aku membantu Wulan keluar dari mobil.


"Wan, terima kasih ya. Kamu sudah repot-repot bantu kami," ujarku saat turun dari mobil.


"Terima kasih ya, Wan. Maaf sudah merepotkanmu," ujar Wulan perlahan.


"Sama-sama, Lan. Kamu cepat sembuh ya."


Aku meminta Ridwan untuk tetap tinggal dulu di sini karena aku mau membahas soal uangnya yang digunakan untuk membayar rumah sakit tadi. Aku bergegas mengantar Wulan masuk ke kamarku, karena untuk naik ke kamarnya rasanya tidak mungkin, mengingat kamar Wulan masih sangat berantakan sementara kamarku sudah dibersihkan oleh Bu Wati.


"Lan, kamu istirahat dulu ya. Aku mau ketemu Ridwan dulu sebentar." Wulan hanya mengangguk lemah, tampaknya dia masih memikirkan perihal pertemuannya dengan Adnan.


Aku segera keluar kamar untuk menemui pria yang menyatakan cintanya padaku itu. Pria itu duduk di teras sembari memainkan ponselnya.


"Wan!" Pria itu mendongak ke arahku kemudian menepuk kursi sebelahnya sembari melemparkan senyumnya, sebagai pertanda dia memintaku duduk di sebelahnya.


"Han, kamu sudah lama tinggal di kamar itu?"


"Belum, baru sejak aku bekerja di pabrik," Mata Ridwan terus melihat seluruh penjuru indekosku.


"Kamu kenapa memilih tinggal di sini, di kamar tiga belas lagi? Memangnya kamu tidak tau indekos ini terkenal dengan sebutan..."


"Indekos berdarah? Aku tau itu beberapa hari lalu. Hanya saja aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa, karena terlanjur membayar indekos ini lunas untuk waktu setahun penuh. Kalau untuk pindah indekos aku harus mengeluarkan uang lagi. Tidak mungkin kan aku minta bapakku lagi. Kami bukan orang berada."


"Apa tidak bisa kamu minta uang yang sudah masuk ke pemilik indekos. Toh pemilik indekos ini kan bisa memotongnya untuk sewa kamar selama kamu tinggal di sini, katakanlah sebulan atau dua bulan."


"Tidak bisa, Wan. Dari awal kami sudah sepakat untuk pelunasan di muka. Apabila penghuni indekos ingin pindah maka uang yang masuk tidak boleh diambil kembali."


"Perjanjian macam apa itu? Lagi pula kamu kenapa gampang banget sih, dibodohi perjanjian merugikan seperti itu. Pemilik tempat ini tidak beres nih. Apa semua kamar juga peraturannya seperti itu?"

__ADS_1


"Entahlah, tapi kata Wulan, kamarnya bisa dibayar per bulan."


"Lah tambah aneh. Kenapa kamarmu harus lunas di muka sementara kamar lain bisa setiap bulan?"


"Aku juga taunya pas tinggal di sini, Wan. Makanya selama ini aku tinggal di rumah Indah karena terus diteror oleh makhluk tidak kasat mata semenjak tinggal di sini."


Ridwan tampak menggaruk kepalanya. "Kamu itu kenapa sih, Han? Perasaan di mana-mana diganggu sama makhluk halus. Di indekos, di pabrik, dan entah di mana lagi. Rasa-rasanya ada sesuatu yang menarik mereka datang padamu."


Aku mengangkat bahuku. Aku pun tidak mengerti kenapa makhluk tidak kasat mata itu sering kali menampakan wujudnya di depan mataku.


"Han, Aku berharap kamu segera pindah dari sini, soal biaya biar aku yang tanggung. Aku saja yang bertamu merasa tidak nyaman saat ada di sini lo."


"Ya takut sih tapi mau bagaimana lagi. Nanti saja kalau sudah gajian, aku cari indekos yang murah tapi tidak penuh misteri seperti ini. Eh tapi sepertinya harus aku tunda satu bulan lagi karena aku kan masih punya hutang sama kamu."


Ridwan kembali mengajak rambutku dengan lembut. "Jangan kamu pikirkan soal itu, sayang. Aku ikhlas membantu kok. Han, aku pamit pulang dulu sudah sangat malam. Takutnya terjadi hal-hal yang kita inginkan."


Ridwan tertawa renyah setelah mendapatkan cubitan ku yang melayang di pinggangnya. "Kalau ngomong suka sembarangan saja. Hal-hal yang diinginkan? Enak saja. Enak di anda, susah di saya," omelku sembari mengerucutkan bibirku.


"Jangan gitu, aku nanti khilaf lo. Tapi tidak apa-apa deh, pas aku khilaf terus digerebek Pak RT bisa langsung nikah deh."


Mataku membulat mendengar perkataannya yang terdengar sedikit liar. "Ah, aku cuma bercanda ya walau dalam hati ya berharap. Ya sudah aku pamit dulu ya, Han. Kamu masuk kamar gih. Aku takut ada yang lihat kamu di luar kamar lalu naksir. Sainganku tambah deh."


"Dasar kadal burik, tidak apa-apa aku sekalian mau ambil nasi di motor. Tadi kan sebelum ke rumah sakit aki beli nasi buat Wulan juga makan."


Dasar Ridwan kepala batu, dia tetap bersikukuh tidak mau pulang selama aku belum masuk ke kamar. Dengan cepat aku ambil tas plastik dan masuk ke kamar agar pria itu bisa segera pergi sebelum diusir oleh penghuni yang lain.


Deru mobil Ridwan terdengar keluar dari pelataran saat aku sudah masuk di kamar. Mataku kini tertuju pada bulan yang rupanya belum tertidur.


"Lan, kita makan dulu yuk. Dari sore perutmu kosong lo."


"Han, maaf ya aku merepotkanmu terus."


"Sudah aku bilang kamu tidak pernah merepotkanku dan ingat, jangan minta maaf padaku, apa yang aku lakukan ini hanya kecil. Sebagai teman kita harus saling menolong bukan? Kita tidak pernah tahu kapan kita butuh pertolongan, jadi selama kita bisa menolong seseorang, ya harus dilakukan."


Aku menuangkan nasi ke piring yang sudah dicuci kembali oleh Bu Wati saat kami di rumah sakit tadi. Dalam diam aku dan Wulan menyantap makanan untuk memulihkan tenaga setelah melewati hari yang begitu melelahkan serta menegangkan itu. Setelah meminum obatnya, Wulan pun terlelap meninggalkanku yang masih terjaga karena sisa-sisa ketakutan saat berada di kamar ini masih ada. Apalagi jika mengingat teror yang sempat aku hadapi di kamar ini. Dari mulai hantu yang kepalanya tertebas sampai wanita bermuka rata, yang aku yakini dia adalah Gayatri.


Sudah lewat tengah malam aku masih belum tidur juga. Namun, saat aku hampir saja terlelap, tiba-tiba saja indera pendengaranku menangkap ada suara gemericik air dari kamar mandi. Mirip sekali dengan suara keran air yang mengalir. Tidak lama kemudian aku mendengar deburan air, persis seperti ada yang tengah mandi.


Astaga, ada apa lagi ini? Kenapa para penghuni kamar ini tidak membiarkan tidurku tenang. Aku merapatkan selimutku bahkan sampai menutupi kepalaku sembari terus merapalkan doa. Tepat ketika suara misterius dari kamar mandi berhenti, ponselku berdering cukup keras. Ah, bagaimana ini ponselku ada di atas lemari kecil. Aku takut saat kubuka mataku, salah satu hantu atau bahkan mungkin lebih, sudah menunggu di hadapanku dan tentu saja hal itu sebuah kejutan besar yang menyeramkan.


Perlahan aku menyingkapkan selimut yang menutupi kepala dan aku buka mata ini perlahan. Aku bernapas lega karena ketakutanku tidak menjadi nyata. Dengan cepat aku ambil ponselku yang masih berdering kemudian kembali bersembunyi di balik selimut.


Rupanya Ridwan yang menghubungiku, baru saja akan aku angkat sambungan teleponnya tapi sudah terlanjur terputus. Mungkin karena aku terlalu lama mengangkat telepon jadi dimatikan.


Satu menit kemudian sebuah pesan dari Ridwan masuk. Dia mengatakan bahwa tadi dia sempat mencari di internet tentang indekos yang berdarah yang aku tempati adalah tempat yang sudah terkenal di masyarakat luas. Tempat ini sebelum dibangun menjadi indekos merupakan hutan. Menurut salah satu orang yang mempunyai indera keenam untuk melihat masa lalu, hutan ini adalah tempat seorang penari mati dengan bersimbah darah. Menurut cerita yang beredar dari mulut ke mulut, dia dihabisi oleh sahabatnya sendiri karena skandall cinta segitiga.


Berjalannya waktu, saat pembangunan daerah ini mulai berkembang akibat adanya pabrik garmen yang menyerap banyak pekerja. Hanya tanah ini yang tidak pernah dibangun karena siapa pun yang hendak membangun di atas tanah ini ada saja kejadian mengerikan. Hingga puluhan tahun lalu ada yang berhasil membangun indekos ini Tapi tetap saja tempat ini terlihat angker apalagi sejak diketemukan mayat dalam kondisi yang mengerikan di kamar ini, semakin menambah keangkeran tempat ini. Sekitar tiga tahun semenjak kasus penemuan mayat mengerikan itu, indekos ini sempat kosong selama lebih dari delapan tahun. Baru belakangan ini dihuni kembali. Biasanya penghuninya tidak tau riwayat indekos berdarah.


Rasanya pegal sekali mataku harus menatap layar ponsel sedekat ini. Lebih baik aku pindah posisiku menghadap ke Wulan yang terdengar mendengkur.


Mataku terbelalak saat melihat wajah wanita yang ada di hadapanku. "Ka-kamu!"


Aku menyibakkan selimutku, benar saja, dia ada di antara aku dan Wulan. Dengan mulutnya yang menyeringai lebar sembari mata merahnya yang terus melotot ke arahku, sementara tangannya melambai-lambai.


"Hanna! Ke sini. Jangan jauh-jauh!" Ucapannya dilanjutkan dengan tawa yang begitu menggelegar.


...----------------...

__ADS_1


...--bersambung--...


__ADS_2