
Mata ini enggan terpejam, banyak yang menjadi beban pikiran. Bapakku yang tengah sakit, hidupku yang menumpang di rumah orang karena jika terus tinggal di indekos mungkin aku bisa mati berdiri karena teror hantu kepala. Belum lagi misteri hilangnya Gayatri dan masalah Wulan dengan Intan. Sekarang ditambah Indah yang sangat tidak setuju dengan kedekatanku dengan Ridwan. Sepertinya aku harus tau tentang Ridwan agar aku tau bagaimana sifatnya, apakah yang dijaga Indah kepadaku benar adanya.
Bel panjang sebagai pertanda bahwa jam istirahat telah berakhir membuat semua pekerja terbangun dan segera kembali ke rutinitasnya.
"Han, apa semua sudah selesai?" Bu Ning menghampiriku yang sedang menulis beberapa laporan.
"Tinggal sedikit, Bu, sebelum saya laporkan ke anda."
Perempuan yang sering dijuluki singa pabrik itu menyeret kursi kosong dan duduk di sebelahku. "Kalau ada yang tidak kamu mengerti jangan sungkan tanya. Saya seneng cara kerjamu cekatan dan cepat paham kalau diperintah, cara kerjamu yang seperti ini mengingatkan tentang Gayatri. Andai saja dia ada pasti itu anak dipromosikan jadi staf atau paling tidak jadi admin Sayang dia sudah duluan pergi."
"Bu, kalau boleh tau apa Gayatri pernah melakukan percobaan bunuh diri?"
Wajah perempuan itu tidak busa menyembunyikan keterkejutannya. Alisnya saling bertaut sembari menatapku. Dia menggeser kursi dan semakin dekat padaku.
"Apa kamu mengenalnya?" bisik Bu Ning perlahan.
"Tidak, Bu. Hanya saja saya beberapa kali mendengar namanya disebut sebagai gadis yang hilang dari kamar indekosnya dan kebetulan saya pun menempati kamar yang sama dengan kamar tempat dia hilang bak ditelan bumi."
"Ka-kamu tinggal di indekos berdarah di kamar tiga belas itu, Han?" Melihat anggukanku, Bu Ning tampak mengigit bibirnya.
"A-aku ingat jelas, bagaimana mengerikannya mayat yang ditemukan di kamar itu. Hampir satu minggu mata ini tidak bisa tidur karena terus terbayang. Kepala yang bergelantung serta tubuh tanpa busana teronggok di lantai menjadi tempat pesta para belatung."
"Bu Ning tau tentang penemuan mayat itu?"
"Tentu saja. Kamarku ada di kamar empat belas bahkan aku yang pertama kali melaporkan pada penjaga indekos saat itu bahwa ada bau busuk di kamar tiga belas."
"Lalu?"
"Waktu itu aku baru kembali dari kampungku, di Magelang. Aku mencium bau busuk, aku pikir awalnya ada bangkai tikus. Kamar semua aku geledah tapi tentu saja nihil. Kemudian aku lapor ke penjaga indekos. Setelah dicari ternyata sumbernya dari kamar itu. Setelah dibuka ada mayat wanita itu."
Aku ternganga karena Bu Ning merupakan salah satu saksi mata tentang penemuan mayat yang sangat terkenal itu dan boleh dibilang awal mula kenapa kamar indekosku disebut indekos berdarah pada kamar tiga belas.
__ADS_1
"Oh iya, Han. Tadi kamu nanya soal Gayatri pernah melakukan percobaan bunuh diri kan? Dari mana kamu tau? Padahal pihak pabrik menutup rapat semua cerita itu. Semua pekerja sudah disumpah agar tidak menceritakan kejadian yang bisa mencoreng nama pabrik."
Haruskah aku menceritakan apa yang aku lihat tadi. Namun, apa Bu Ning akan percaya kalau Gayatri tidak pernah berusaha mengakhiri hidupnya tapi si penari dengan wajah mengerikan itu yang mengejarnya dan ingin menghabisinya dengan selendang.
"Han, kenapa kamu malah bengong?"
"A-anu, Bu."
"Ona-anu. Aku itu pengen tau dari mana kamu dapat informasi itu? Ya memang para pekerja saat itu dilarang memberi informasi ini kepada orang lain tapi mana bisa mengatur mulut dan ucapan ribuan karyawan."
Aku menghela napas panjang, sepertinya memang harus aku ungkap semua apa yang aku lihat. Terserah Bu Ning percaya atau tidak, itu urusan nanti.
"Jadi begini, Bu. Sebelumnya anda mau percaya atau tidak, silakan." Aku menelan ludah sebelum melanjutkan ucapanku.
"Tadi pas istirahat, aku melihat potongan masa lalu Gayatri. Bukan berniat melakukan percobaan bunuh diri tapi dia dikejar seorang penari. Setelah tertangkap selendang hijau milik penari itu dililitkan di leher Gayatri dan digantung. Untung saja datang seorang pria menyelamatkannya."
"Priyambodo... Dia memang pria yang bodohh. Dia adalah sepupuku, sudah aku bilang padanya agar tidak mendekati Gayatri. Karena sudah dua kali gadis itu setiap kali dekat dengan pria pasti akan berakhir tragis. Ada yang tertimbun gulungan kain, ada pula yang mati tertabrak kereta, dan dia mati karena ada kecelakaan kerja di gedung spinning. Dia terjatuh dari jendela yang ada di lantai dua."
Aku hendak bertanya banyak hal pada Bu Ning tapi seorang teknisi memanggilnya untuk sebuah alasan. Aku tersenyum paling tidak aku bertemu saksi atas mayat yang ditemukan di kamarku juga aku sudah mengetahui seperti apa nasib tiga orang yang sudah merenggut kesucian Gayatri.
Aku melanjutkan pekerjaanku karena sebentar lagi fajar akan menyingsing. Sesekali aku melirik wajah Indah yang masih terlihat masam dan marah kepadaku. Belum pernah aku lihat gadis itu sebegitu marahnya kepadaku. Mungkinkah dia sangat mengkhawatirkan aku agar jangan tertipu oleh Ridwan atau jangan-jangan gadis itu menaruh hati pada pria berlesung pipit itu. Jika itu benar maka memang lebih baik aku melepaskan Ridwan agar tidak merusak persahabatan yang terjalin baik.
Bel panjang berbunyi tanda waktunya kami akan pulang. Jika hari-hari yang lalu setiap pergantian sift sudah ada pekerja sift selanjutnya yang membantuku bersih-bersih, maka kali ini karena ini hari Minggu dan semua pekerja libur maka kamilah yang harus memastikan tempat ini sudah bersih serta semua mesin sudah tidak tersambung pada instalasi listrik.
"Happy weekend, teman-teman! Ingat, cek jadwal kerja kalian untuk minggu depan!" Teriakan Bu Ning membahana sesaat sebelum kami semua pulang.
Aku tengah ada di parkiran saat Indah datang bersama Ridwan, keduanya nampak begitu akrab tertawa dan bercanda. Aku melihat binar mata yang berseri pada Indah ketika menatap pria bertubuh jangkung itu. Apa tebakanku soal Indah yang punya perasaan yang lebih itu benar? Jika benar, aku akan mundur. Aku sudah banyak berhutang budi padanya juga keluarganya. Meski tidak dapat aku pungkiri hati ini begitu sakit menyaksikan kedekatan Indah juga Ridwan. Sahabat dan pria yang mulai membuat hatiku bergetar.
Air mata ini tanpa terasa menetes, buru-buru aku menghapusnya. Satu hal yang aku pikirkan adalah meninggalkan pabrik agar tidak menggangu kebersamaan keduanya. Aku harus bisa melupakan rasa yang mulai kuncup ini, jangan sampai mekar.
Sial, kenapa motorku justru mogok di saat aku ingin secepatnya melesat dari tempat ini. Lebih menyebalkan lagi, Ridwan yang melihatku kepayahan langsung berlari mendahului Indah dan menuju ke arahku. Aku bisa melihat wajah tidak suka yang sempat ditunjukkan olehnya.
__ADS_1
"Apa kamu butuh bantuan?"
"Tidak perlu, aku dorong saja. Sepertinya di depan pabrik ada bengkel."
Ridwan tertawa lebar. "Sayang, mana ada bengkel yang buka hari minggu begini. Sini aku lihat motornya mana tau aku bisa."
"Enggak usah, kalaupun bengkelnya tidak buka, motornya bisa aku dorong. Lagipula indekosku jaraknya dekat jadi tidak mengapa." Aku mencoba menolak tawaran Ridwan.
"Sayangku, bawel banget sih kamu. Siniin kuncinya. Aku mau cek mesinmu."
"Sudah aku bilang aku bukan sayangmu," ujarku sembari menyerahkan kunci motor.
"Saat ini belum tapi next time jika direstui akan jadi sayangku yang halal untuk aku sentuh."
Ridwan berucap sembari mengedipkan matanya sebelah, membuatku bergidik ngeri. Semoga Indah yang berhenti karena tengah mengobrol dengan salah temannya tidak mendengar gombalan yang dilancarkan oleh Ridwan.
"Sudah-sudah. Kamu itu mau bantuin benerin motorku apa mau ngegombal doang?"
"Ya kalau bisa dua-duanya tidak masalah. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, sambil menyelam minum air."
"Iya, biar keselek!" ujarku ketus menanggapi peribahasa yang diucapkan Ridwan. Pria itu justru tertawa mendengar sahutanku.
"Sayang, kamu ngomong gitu saja lucu. Bagaimana nanti kalau kita sudah berumah tangga, pasti rumah kita akan penuh dengan tawa juga omelanmu. Tenang, tidak mengapa aku punya istri yang cerewet. Biar rumah tidak sepi. Omelanmu semangatku, sayang."
Mataku mendelik karena pria jangkung itu terus saja memanggilku sayang. Padahal di parkiran masih ada beberapa orang yang mengobrol.
"Sayang-sayangan terus! Memangnya kalau lagi jatuh cinta itu memang aneh. Dunia serasa milik sendiri, yang lain ngontrak." Ucapan Mbak Juni membuat pipiku memerah.
...----------------...
...--bersambung--...
__ADS_1