Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 34: Kejutan!!


__ADS_3

Mendapat tatapan dan pertanyaan yang tanpa basa-basi dari Indah, membuatku cukup terkejut dan bingung harus menjelaskan dari mana. "Ta-tadi aku ketemu dia tidak sengaja pas makan di angkringan ketika lagi makan sama Wulan, jadi sekalian bareng ke pabriknya. Takut kalau terlambat karena kalau sama Wulan kan aku cuma sampai pos satpam. Ke sininya jalan pasti tidak keburu."


"Oohh, begitu. Kirain Mbak Hanna a-anu..."


"Apa sih, Ndah? Kita masuk yuk, sudah mepet banget ini." Aku menarik tangan gadis yang masih saja termangu menatapku, sesekali pandangannya beralih pada pria yang tadi bersamaku.


"Kalian berdua ini kenapa? Malah tidak segera masuk. Kalau telat gaji kalian dipotong lo." Mendengar ucapan Ridwan aku dan Indah bergegas masuk ke gedung produksi. Peraturan di pabrik ini cukup ketat, jika terlambat maka akan dihitung tidak masuk. Otomatis jika tetap bekerja pun tidak akan dibayar, jadi jika terlambat lebih baik pulang saja.


Untunglah aku dan Indah juga Ridwan masih terhitung aman. Masih kurang lima menit lagi sebelum jam sebelas malam.


"Mas, nasimu tidak kamu ambil?" tanyaku pada Ridwan saat dia akan masuk ke ruangan yang khusus disediakan bagi para teknisi mengganti bajunya dengan wearpack.


"Aduh, perhatian banget sih kamu, Han."


"Perhatian apa? Ini kan memang makanan yang kamu beli buat di pabrik."


"Kamu bawa saja dulu. Nanti biar aku ambil pas istirahat."


"Tapi..." Belum sempat aku lanjutkan berbicara, tiba-tiba saja bibir tipis itu sudah sangat dekat dengan telingaku.


"Biar makanan itu menjadi alasanku untuk menemuimu agar aku bisa melepaskan rasa rinduku yang membuncah pada paras dan kelembutan hatimu."


Bulu kudukku meremang karena embusan napasnya yang hangat menyentuh bahkan menusuk kulitku.


"Harummu adalah candu bagiku."


"Ya sudah, terserah kamu. Sana masuk ke ruanganmu." Aku mendorong tubuh jangkung itu agar sedikit menjauh dariku. Rasanya jantungku tidak akan kuat lagi menahan getaran yang datang. Aku juga tidak ingin cepat terbuai bujuk rayu pria itu. Kata bapak aku harus hati-hati dengan makhluk yang disebut dengan pria. Karena salah memilih pria nyatanya akan menyengsarakan hati dan pikiran.


Pria itu tertawa hingga lesung pipinya tercetak dengan jelas, menambah ketampanan yang memang dia punya. Pria itu masuk ke ruangannya setelah melambaikan tangan.


"Good bye, Hanna dan kamu, Bocil!" Wajah yang penuh senyum itu hilang seiring ditutupnya pintu ruangan itu. Aku meraup sebanyak mungkin oksigen karena selama ada Ridwan rasanya dadaku begitu sesak.


"Mbak Hanna, tadi Mas Ridwan bicara apa sih? Kenapa sampai bisik-bisik begitu?"


Aku bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan yang Indah ajukan. Rasanya tidak mungkin aku cerita tentang ucapan Ridwan tadi. Aku takut Indah tidak akan berhenti mengganggu dan menggodaku.


"Mbak Hanna, kenapa malah diam? Indah nanya lo ini, malah dicuekin."


"A-anu, itu tadi Ridwan nitip makanannya ke aku karena kalau dia yang bawa pasti sebelum saatnya istirahat sudah habis."


Indah membulatkan bibirnya dan mengangguk-angguk sebagai pertanda dia bisa menerima alasanku. Sebenarnya ada sedikit rasa bersalah karena membohongi gadis sebaik dan setulus Indah.


Bel panjang yang berdering membuatku bergegas memasuki ruang produksi. Di mejaku ada Quality Control yang sift siang, masih ada di situ tampaknya dia sedang menungguku.


"Ada masalah, Mbak?"


"Tidak, aku cuma mau pamit. Hari ini terakhir masuk kerja."


Aku terkejut dengan ucapannya. "Kenapa, Mbak?"


"Kontrakku tidak diperpanjang karena sebulan ini banyak kesalahan yang aku buat. Maaf ya, Han, kalau ada salah."


Setiap pertemuan akan ada perpisahan sama seperti kehidupan dan kematian yang tidak akan pernah terpisahkan.


Aku memulai pekerjaan selepas dia pergi. Banyaknya pekerjaan hari ini membuatku dituntut harus fokus dalam menjalankan tugasku. Belajar dari Quality Control yang sebelumnya, kontraknya tidak diperpanjang karena banyak kesalahan. Oleh karena itu aku lebih berhati-hati dalam bekerja. Bahkan saat bel tanda istirahat aku sampai tidak mendengarnya.


"Mbak, ayo kita keluar. Apa kamu mau kerja terus bagai kuda sampai lupa tidak makan?"

__ADS_1


"I-iya." Aku bergegas menghampiri Indah yang telah jalan mendahului aku.


Di lobi suasana sangat sepi hanya ada aku dan Indah. Mungkin teman-teman yang lain, sudah ada di luar untuk makan.


"Mbak, Indah mau ke toilet dulu ya." Aku menganggukkan kepala dan menyilakan Indah ke toilet sementara aku mengambil tas plastik yang berisi makanan dari loker yang disediakan oleh pabrik untuk menaruh barang-barang pribadi para karyawan seperti mukena dan juga ponsel.


Aku menyalakan ponselku setelah membaca pesan masuk. Aku matikan lagi ponselku dan menyisipkannya di saku bajuku.


"Hai, Sayang." Bisikan itu kembali membuatku meremang. Aku membalikkan badan dan alangkah terkejutnya aku kini di hadapanku, berdiri Ridwan. Tangan Ridwan menjulur ke loker seolah mengurungku.


"Apa sih, Mas? Pergi sana! Jangan sampai ada orang yang melihat kita seperti ini. Nanti bisa-bisa orang pada salah paham."


"Kalau mereka salah paham, biar aku kasih paham kalau aku tengah tergila-gila padamu."


"Gila kamu! Minggir sana!"


"Han, aku tidak mudah menyerah meskipun nanti kamu menolakku, akan aku pastikan aku akan menjadi bayanganmu."


Suara pintu toilet yang terbuka tidak membuatnya menurunkan tangannya. Hatiku berdesir selain karena Ridwan tapi juga takut Indah melihatnya. Entah kenapa aku punya pemikiran bahwa gadis itu sepertinya dia menyimpan rasa pada Ridwan. Namun, aku juga tidak sepenuhnya yakin.


Suara derap langkah barulah membuat Ridwan menurunkan tangannya. Kini aku pun bingung saat pria itu menengadahkan tangannya.


"Apa sih?"


"Aku mau minta makananku, Hanna. Kamu kan yang bawa makananku. Jangan bilang makananku kamu makan, Han."


Aku menepuk dahiku, kenapa aku bisa lupa bahwa makanan Ridwan aku bawa. Indah yang baru keluar dari kamar mandi terus menatapku. "Ada apa sih, kalian ini?"


"Ini Cil, temanmu. Dia tidak mau memberikan makananku. Padahal kan aku lapar."


"Sama-sama, Hanna!"


Dasar pria menyebalkan, baru saja bersikap manis dan begitu puitis, kini berubah menyebalkan. Aku jadi ragu apa dia benar-benar serius mencintaiku ataukah hanya buaya yang tengah mencari mangsa.


"Aku akan merayumu di depan banyak orang nanti saat kita sudah halal." Mataku membulat mendengar bisikan Ridwan saat kami tengah berjalan keluar gedung. Ridwan bagai peramal yang ulung, dia seperti tau apa yang tengah aku pikirkan saat ini. Aku diam saja menanggapinya.


Semua orang duduk di jalan depan gedung produksi. Ada yang makan dan ada yang hanya bermain ponsel karena memang aturan pabrik kami tidak boleh makan di gedung produksi. Jika hendak ke kantin malam begini rasanya takut. Lebih baik begini, makan bersama di jalan. Sepanjang makan aku mendengar Indah yang tengah sibuk bersenda gurau. Gadis itu memang sangat ceria dan ramai sekali. Kedua orang yang begitu dekat di hatiku mempunyai sifat yang hampir mirip, jadi obrolan mereka bisa nyambung. Meski ada rasa tidak nyaman tapi mau bagaimana lagi. Indah lebih dulu mengenal Ridwan.


Ponsel yang berada di sakuku bergetar sebagai pertanda ada yang meneleponku. Rupanya Wulan yang mengingatkan bahwa besok akan menjemputku untuk memberi kejutan di hari ulang tahunnya.


"Han, aku juga mau bilang besok pagi kamu cek kamarmu. Masalahnya semalam saat aku pulang, Bu Wati terlihat masuk ke kamarmu, dia bawa keranjang rotan itu, entah apa isinya. Untuk detailnya aku jelasin besok ya. Ini aku masih gemetaran. Ya sudah, aku matikan dulu. Ingat jangan lupa aku yang jemput."


Sambungan telepon sudah ditutup dan menyisakan banyak pertanyaan apa yang sebenarnya dilakukan Bu Wati di kamarku.


"Hanna! Jangan melamun nanti didatangi hantu lagi lo!" Sentuhan tangan kekar membuatku terkesiap.


"I-iya," jawabku tergagap.


"Mbak, kamu kenapa?" Aku menggelengkan kepala. Lebih baik aku mendengar dulu cerita Wulan tentang apa yang dilakukan oleh Bu Wati di kamarku. Pikiranku melayang bahkan saat semua sudah tidur bareng, sejenak mataku masih terjaga. Saat kembali bekerja pun pertanyaan demi pertanyaan masih bergelayut di benak.


Bel panjang tanda pulang berdering, membuatku bergegas keluar gedung.


"Ndah, kamu ikut ke indekosku kan?"


"Maaf, Mbak. Indah capek banget. Badanku rasanya mau rontok semua. Indah mau bobo saja, Mbak. Nanti kalau mau pulang kabarin saja. Biar Indah jemput."


"Gampang, nanti aku bisa minta tolong sama Wulan atau Intan. Kamu istirahat saja."

__ADS_1


Di depan gerbang utama kawasan industri tekstil, aku melihat Wulan sudah menungguku. Setelah berbincang sebentar Indah meninggalkan kami berdua.


"Lan, lanjutin cerita Bu Wati dong."


"Nanti saja di indekos, soalnya cuma kamu yang berani ngintip. Kita fokus memberi kejutan untuk Intan dulu."


Hampir saja aku lupa hal itu karena terlalu banyak memikirkan yang terjadi di kamarku. "Terus roti tart bagaimana? Sudah kamu belikan?"


"Sudah dong, ini!"


Aku dan Wulan berangkat ke indekos untuk memberi kejutan pada Intan, setelah sebelumnya kami sarapan nasi rawon yang ada di depan pabrik. Namun, saat Wulan memarkirkan motornya. Matanya lurus, tatapannya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di sana juga.


"Kamu kenapa?"


"I-itu, Han. Itu mobil mantan suamiku, Han. Mau apa dia kemari?"


"Mungkin dia ada perlu sama kamu, Lan." Wulan mengangkat bahunya. Ada senyum yang tidak bisa dia cegah. Wulan pernah bercerita bahwa dia ingin sekali memulai kembali rajutan asmaranya dengan sang mantan, selain karena masih cinta tapi juga kedua anaknya yang masih kecil dan membutuhkan kasih sayang bapaknya.


Segera aku dan Wulan mempercepat langkah agar segera sampai ke kamar Wulan. Setiba di depan kamar, pintu tertutup rapat. Tidak ada sepatu pria di depan pintu. Hanya ada sandal Intan yang mungkin sudah terlelap.


"Han, kita ke dapur dulu, yuk. Kita pasang lilinnya dulu sekalian nyalain."


Roti tart cantik sudah berhias lilin yang menyala. Aku dan Wulan hendak mengetuk pintu, saat terdengar dessahann dan lenguhan dari dalam kamar. Dessahann ini sama persis dengan yang aku dengar beberapa hari lalu. Namun, bukankah dulu saat ada dessahann ada pula sepatu pria.


"Bagaimana, Lan?"


"Kita tunggu saja lah di dapur. Aku tidak mau mengganggu pasangan yang dimabuk asmara."


"Tapi, Lan, yang mereka lakukan itu salah meski mereka akan menikah. Kita harus hentikan mereka."


"Menikah? Apa maksudmu Intan akan menikah, Han?"


Aku hanya bisa mengangguk lemah karena sudah keceplosan.


"Kita bicara di dapur." Wanita itu menggandeng tanganku untuk meninggalkan kamar Wulan. Tepat saat itu mata Wulan tiba-tiba saja membulat saat terdengar lenguhan yang panjang setelah itu terdengar suara Intan berucap dengan jelas meski perlahan.


"Bagaimana, Sayang? Kau lebih puas dan bahagia kan denganku? Aku kan dulu pernah bilang akan melayani jauh di atas mantan istrimu itu. Aku dan Wulan beda level!"


Aku bisa melihat ada air mata yang mengalir di sudut mata Wulan. "Han, siapa yang bersama Intan saat ini? Apa kamu tau?"


"Entah, Lan. Tapi kemarin Intan sempat mengajak seorang pria menemuiku. Dia bernama Adnan kalau tidak salah."


"Baajiingann! Kau tau, Han siapa itu Adnan?"


"Tidak tau. Setahuku Intan berkata dia adalah calon suaminya dan Intan juga melarangku untuk memberi tau kamu. Karena dia akan memberitahu sendiri."


"Mana mungkin dia memberitahuku. Adnan Dwi Wijaya adalah pria yang menalak aku tiga bulan lalu!"


Aku terkejut dengan ucapan Wulan, belum sempat aku menenangkannya, Wulan menerobos masuk ke kamar yang juga tidak terkunci itu. Aku pun segera mengikutinya. Mataku terbelalak saat mendapati dua manusia tanpa busana bergumul di atas kasur tipis. Mereka tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut saat aku dan Wulan sudah ada di depan mereka.


"Seetaannn kalian!"


Wulan berteriak histeris sembari melemparkan semua benda kepada dua orang yang masih menempel, termasuk sebuah gelas kaca dan roti yang seharusnya jadi hadiah kejutan untuk Intan telah mendarat di tubuh polos kedua orang itu.


...----------------...


...--bersambung--...

__ADS_1


__ADS_2