Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 65: Kadal Comberan


__ADS_3

"Gayatri dan Melati? Siapa mereka? Sepertinya aku pernah mendengar nama-nama itu."


Aku menjelaskan pada Wulan siapa itu Gayatri dan melati, bahkan sampai akhirnya hubungan mereka hancur karena seorang pria.


"Gayatri adalah gadis yang hilang di kamarku, Lan."


"Waduh, kalau aku tidak diselamatkan mungkin aku juga akan jadi penari seperti mereka ya? Hii... Ngeri bener, Han." Mata Wulan tampak menelisik seluruh sudut kamarku.


"Bisa jadi, Lan. Tapi yang aku heran ya. kalau semua yang menggunakan bedak pelet itu jadi budak si penari, kenapa Gayatri tidak berada di rombongan penari itu. dia justru berubah menjadi hantu yang tidak punya rupa, semuanya rata."


"Iya ya, Han. Apa karena dia punya niatan untuk bertobat ya?"


aku hanya mengangkat bahu. menurut mitos yang berkembang bahwa hantu muka rata adalah arwah wanita yang tewas saat dirudal paksa oleh seseorang. memang Gayatri adalah korban rudal paksa sebelumnya tapi apakah sebelum hilangnya dia ada tragedi lagi, lalu siapa pelakunya? itu masih menjadi misteri tebal juga. kamar ini memang kamar yang menjadi saksi bisu setiap kejadian ganjil.


"Han, kita makan di kamarku saja ya. Serem banget di sini."


"Halah, tadi malam saja nggak balik ke sini. Sekarang malah tidak mau. Labil!" cibirku sembari melirik Wulan yang tampak ketakutan dan merapatkan posisi duduknya padaku.


"Itu kan semalam, sekarang beda cerita. Ayo, Han, kita ke atas."


Wanita itu terus menarik tanganku agar segera meninggalkan kamarku. "Tunggu sebentar, aku mau ambil seragam kerjaku dulu. Eh, Lan, tolong cek buburnya basi atau tidak. Soalnya Ridwan tadi belinya pagi-pagi banget."


"Rebes, Bos," ujarnya sembari mengacungkan ibu jarinya.


"Beres kali," ralatku. Wulan hanya tertawa saja, rupanya dia memang sengaja menyebut kata beres menjadi rebes. Kata Wulan biar gaul seperti anak-anak zaman sekarang.


Aku membuka almari dan mengambil baju seragam yang bersih, sementara yang kotor aku masukkan ke dalam kantong plastik. Agar nanti aku cuci di kamar Wulan.


"Han, buburnya sudah agak gimana gitu. Coba deh cium."


Aku mencium bubur yang disodorkan Wulan. Memang belum basi tapi bau wanginya hilang dan rasanya juga sudah agak berbeda.


"Lan, kita cari makan yang lain saja. Soalnya tadi Ridwan juga pesan kalau sudah basi jangan dimakan ketimbang nanti aku sakit perut. Biar nanti aku ngomong sama..."


"Ayang," sela Wulan sembari terkekeh.


"Terserah kamu, Lan!" Aku bergegas keluar kamar, sementara baju yang tadi aku siapkan aku letakkan kembali di atas matras. Nanti saja pas pulang dari beli makan aku ambil lagi.


"Asem! Aku jangan ditinggal sendirian di kamarmu." Wulan tampak terbirit-birit keluar dari kamar.


"Lan, terus itu buburnya tidak kamu bawa keluar, biar kita buang saja."


"Ogah, kamu saja yang ambil, Han. Takut aku kalau harus masuk ke kamarmu lagi."


"Hilih, penakut!" cibirku sembari masuk ke kamar untuk mengambil kembali kantong yang berisi bubur itu. Meski dalam hati ada juga rasa takut di hatiku tapi aku berusaha menutupinya.


Dengan mengendarai motor, aku dan Wulan membelah jalan raya. Sengatan matahari yang mulai terasa di kulit membuatku menyadari ini bukanlah waktu yang tepat untuk sarapan karena mentari yang berada hampir persis di atas kepala menunjukkan ini waktunya makan siang.


"Lan, ini kita bukan sarapan namanya, tapi rolasan alias makan siang," ujarku disusul tawa kami berdua.


"Ini semua salahmu, Han."


"Sudah mulai ngajak bertengkar, debat terus!" Wulan tertawa saat menatapku yang mengerucutkan bibir. "Mau makan apa? Jangan bilang terserah, karena tidak ada warung yang jualan makanan dengan nama terserah."


"Ciyee, ngambek ya. Kamu itu kaya Adnan dulu. Suka ngomel kalau kita lagi pergi cari makan."


"Ciyee, nostalgia. Sana balikan sama itu si Adnan. Dia kan ngajak balikan tuh," godaku.


"Tidak berminat!"


Gelak tawa selalu saja berhasil kami ciptakan meski kadang kami jadi pusat perhatian beberapa pengguna jalan.


"Seru banget sih, Mbak. Bahas apaan?"


Tiba-tiba sebuah suara dari pengendara motor di sebelahku ikut nimbrung. Aku udah Wulan spontan terdiam tanpa suara karena kami tau persis siapa yang sedang berbicara.


"Umur panjang kamu, baru saja kami bicara tentang kamu," jawabku sembari terus memandang lampu lalu lintas yang masih saja berwarna merah. Aku berharap lampu hijau segera menyala agar tidak berurusan dengan buaya comberan seperti Adnan.


"Wow, kalian bicara apa tentang aku? Pasti kalian sedang diskusi untuk mempertimbangkan aku balikan sama Wulan kan? Iya kan, Mah?"


Rasanya muak sekali melihat Adnan yang menatap mesra Wulan, padahal wanita itu memalingkan muka, tidak mau memandang wajah pria yang telah memberikan dua orang anak bagi Wulan. Ditambah lagi Adnan memanggil Wulan dengan sebutan 'Mah' seperti saat mereka menikah, membuat perutku mual.


"Tidak, kami bicara kapan kamu akan pensiun jadi buaya comberan!" Setelah berucap, aku langsung tancap gas karena lampu sudah berganti hijau. Dari kejauhan aku bisa melihat Adnan yang melongo mendengar kata-kataku. Aku dan Wulan terbahak melihat Adnan yang seperti beku dan tidak bergerak. Baru berjalan saat suara klakson membahana dan saling bersahutan dari kendaraan-kendaraan yang ada di belakangnya. Rasain kamu, Adnan. Begitu aku lihat dia berjalan, aku berbelok masuk gang kecil agar Adnan tidak mengejar kami.

__ADS_1


"Han, memangnya kamu tau kita ada di mana sekarang?" Dengan polos aku menggeleng.


"Astaga, Han. Bisa-bisa kita nyasar ini. Mana perutku lapar banget ini."


"Tenang, sayang. Jaman sudah canggih seperti ini, kita pakai aplikasi penunjuk jalan saja. Kamu mau makan apa?"


Setelah berembuk cukup lama, aku dan Wulan memutuskan makan di warung masakan Jawa. Masakan di sini rasanya pas untuk kami karena rasanya seperti masakan di rumah. Harganya juga ramah untuk kami para buruh yang gajinya hanya sebatas UMR tidak lebih, kecuali ada lemburan. Aku memilih sayur lodeh dan ikan asin, sementara Wulan memilih gudeg sambal goreng.


"Makan begini saja rasanya enak banget ya, Han."


"Iya, rasanya sedikit mirip sama masakan mendiang ibuku. Tapi tetap enakan masakan ibuku."


"Iyalah, bagi seorang anak tetap saja yang paling sedap itu masakan ibunya."


Saat tengah makan, tiba-tiba saja Wulan menarik-narik tanganku. "Ada apa?"


"Lihat itu!" ujarnya sembari menunjuk ke arah luar. Aku dan Wulan memang duduk di meja yang menghadap luar. Aku bisa lihat siapa saja yang datang.


"Asem! Itu buaya comberan kenapa seolah ngintilin kita sih, Lan? Apa jangan-jangan kalian itu sebenarnya memang ditakdirkan tidak akan pernah berpisah?"


"Mbahmu kiper! Aku tidak mau balikan sama bekasan orang."


Aku dan Wulan menundukkan muka dalam-dalam berharap buaya comberan itu tidak melihatku dan Wulan duduk di sini. Siall, buaya comberan itu sepertinya melihat motor Wulan yang terparkir di situ. Aku bisa melihat senyumnya yang menjijikkan saat menatap motor Wulan.


"Lan, kayanya tuh buaya comberan tau kamu ada di sini. Noh, dia lagi elus-elus jok motor. Hi.. Kayanya pulang dari sini, motormu perlu diruwat pakai air tujuh sumur dan kembang tujuh rupa biar tidak terkena sawan dan tidak bau comberan." Wulan terkekeh mendengarku yang bicara dengan berapi-api.


"Han, perasaan yang disakiti hatinya aku, kenapa yang sewot dan benci banget kamu?"


Ingin rasanya aku mengungkapkan ucapan Adnan saat Wulan tengah berjuang melawan maut yang sudah di depan mata dan juga kesedihan serta kekecewaan yang terpancar di mata Wulan, ketika tau bahwa lelaki yang dicintainya di rumah sakit bukan untuk dirinya melainkan untuk perempuan lain.


"Tidak apa-apa. Aku cuma tidak suka dengan sifatnya yang kurang iman, jadi gampang terpengaruh ilmu hitam. Padahal sebagai imam keluarga dia harus mencontohkan yang baik buat anak istrinya, tapi dia..."


Ucapanku berhenti saat ulang menyenggolku dengan sikunya. Wulan melirik ke arah pintu masuk, rupanya si buaya comberan itu sudah masuk ke warung makan dan tanpa rasa dosa duduk di kursi kosong yang ada di sampingku.


"Hai, kalian sedang bicara apaan sih? Tadi di jalan sampai di warung makan saja terlihat tengah bicara asik sekali."


Mataku membulat saat melihat matanya terus menatap Wulan yang tengah menunduk.


"Kepo!" dengusku sembari menyuapkan nasi ke mulutku. Aku mengunyah dengan kasar sebagai pelampiasan rasa amarahku.


Sembuh? Ini orang tidak punya mata kali ya. Sudah lihat lukanya Wulan masih basah. Tangannya juga masih diperban, masih saja ditanya begitu. Andai tidak takut dosa, ingin aku merobek mulutnya itu.


"Lan, kalau kata orang biar luka cepat kering harus banyak makan ikan gabus lo, kalau orang kita nyebutnya iwak kutuk."


Wulan terdiam tanpa menanggapi ucapan pria itu. "Yang jelas agar cepat sembuh, Wulan harus jauh-jauh dari orang kaya kamu."


"Lan, ini Hanna galak bener ya?"


"Biar saja aku galak. Sudah, kalau kamu mau makan, makan saja. Jangan ganggu kami!"


Aku mempercepat makanku hingga mulutku penuh terisi dengan nasi.


"Pelan-pelan, Han. Nanti kamu tersedak lo," ujar Wulan sembari menatapku dan menyodorkan gelas es tehku.


"Mas, bagaimana keadaan Intan? Apa sudah sembuh?" Pandangan mata Wulan yang tadinya ke arahku kini beralih ke arah pria yang menalaknya.


"In-Intan masih ada di rumah kontrakanku, keadaannya bisa dibilang menyedihkan."


"Menyedihkan bagaimana?" Aku hanya melirik keduanya bergantian. Mau tidak mau aku mendengarkan juga, apalagi ini soal keadaan Intan.


"Dia tidak sadarkan diri sejak masuk rumah sakit, bisa dikatakan Intan mengalami fase koma."


Aku menautkan alisku setelah mendengar penjelasan dari pria yang belum resmi menjadi duda itu. "Kalau koma, kenapa dia ada di kontrakanmu? Kenapa tidak dirawat di rumah sakit saja? Toh, Intan punya asuransi kesehatan kan?" cecarku pada Adnan.


"Awalnya aku pikir begitu, tapi orang tua Intan yang meminta putri mereka dibawa pulang saja. Karena menurut mereka, Intan akan lebih cepat pulih bila dirawat oleh keluarganya. Orang tua Intan juga mau mengobatinya dengan pengobatan alternatif, siapa tau ada guna-guna yang dikirimkan padanya."


Saat mengucapkan kalimat terakhir, mata pria itu melirikku. Ingin rasanya aku getok kepalanya itu. Apa dia ini masih berpikiran kalau aku dan Wulan mengirim guna-guna.


"Kamu tidak cerita sama orang tuanya selingkuhanmu itu, kalau yang menimpa putri mereka sekarang itu adalah hasil perbuatannya sendiri? Kan ada pepatah berkata siapa yang menabur angin akan menuai badai. Nah ini Intan lagi dapat badai hidup."


Diamnya Adnan sudah bisa aku tebak, dia tidak akan mungkin menceritakan tentang Intan yang dengan sadar bersekutu dengan setan demi mendapatkan kembali Adnan ke dalam pelukannya.


"Aku belum berani cerita tentang kotak yang kamu ceritakan itu pada orang tuanya Intan. Karena mereka kan sedang sibuk mengurus pengobatan Intan."

__ADS_1


"Jadi orang tua Intan ada di rumahmu juga? Kenapa kamu tidak bawa saja Intan ke Wonogiri?"


"Iya, kalau harus aku bawa ke Wonogiri terlalu jauh." Aku hanya mengangguk mendengar penjelasannya.


Wulan tiba-tiba saja menarikku dan mengajakku keluar sebentar. "Ada apa?"


"Aku pengen lihat Intan, Han. Kita jenguk dia yuk."


Aku cukup terkejut dengan ucapannya itu. Biasanya orang tidak akan mau bertemu dengan orang yang telah merebut pasangannya, tapi Wulan memang berbeda. Sepertinya hati Wulan seluas jagat raya, yang siap memaafkan semua orang.


"Yakin kamu mau ketemu Intan?" tanyaku dengan ragu.


"Aku yakin, Han. Aku justru sekarang iba padanya. Apalagi bukankah orang koma bisa sewaktu-waktu ajal bisa menjemput. Aku tidak ingin terbeban dari rasa bersalah karena belum sempat memberi maaf padanya."


"Tidak tau, Lan. Kamu itu sebenarnya manusia atau bidadari sih? Orang kok punya hati baik banget."


Aku dan Wulan kembali masuk ke warung makan untuk menunggu Adnan, karena hanya dia yang tau di mana Intan sekarang. Aku bisa melihat betapa lahapnya pria itu saat menyantap makanannya. Dalam hati aku berdoa semoga saja Adnan tersedak. Namun, doaku yang jelek itu tidak dikabulkan.


"Lo, aku kira kalian sudah pulang. Nungguin aku pasti ya?" Pria itu melemparkan tawa. Andai Adnan bukan buaya comberan, pasti aku memberinya nilai sempurna. Tapi karena tabiatnya yang memang keparatt, maka di mataku dia mendapatkan poin minus.


"Ish, biasa saja. Aku sama Wulan itu nungguin kamu karena kami itu mau jenguk Intan."


Pria itu tampak membulatkan bibirnya hingga membentuk huruf o. "Ya sudah, aku bayar dulu sama sekalian makan kalian."


"Tidak perlu, cukup kalau kamu ada rejeki jangan lupakan keluargamu. Kamu dan Wulan boleh berpisah, tapi anak-anak tetaplah anakmu. Mereka tetap tanggung jawabmu. Jadi ketimbang kamu traktir orang lain, nafkahi saja anak-anakmu."


Adnan hanya menggaruk kepalanya mendengar ucapanku yang panjang bagai kereta api, kemudian dia pergi ke kasir.


Dengan mengendarai motor aku dan Wulan mengikuti laju motor Adnan yang sudah terlebih dulu melaju menuju rumahnya. Motor Adnan berhenti di sebuah komplek perumahan mewah yang tidak jauh dari pabrik tempat Wulan dan Intan bekerja.


"Silakan masuk," Adnan sang punya rumah menyuruhku dan Wulan masuk ke rumah bergaya minimalis namun indah itu. Saat akan sudah masuk ke rumah, Wulan justru berdiri di depan pintu. Menatap rumah ini dengan mata yang nanar.


"Kenapa?"


"Han, rumah ini adalah saksi bisu di mana aku dan Adnan pernah merajut impian di sini. Tepat di tempat aku berdiri, aku dan Mas Adnan menatap rumah yang rencananya akan kami beli dan membawa serta anak-anak untuk tinggal bersama kami. Namun, rencana itu sudah menguap. Aku bukan lagi nyonya di rumah ini, tapi orang lain."


Aku mengusap air mata Wulan yang sempat lolos dari pelupuk matanya. "Apa tidak sebaiknya kita pulang saja, Lan. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu."


"Aku tidak apa-apa."


Tidak lama setelah Adnan masuk, kini dia keluar dengan seorang bapak dan ibu yang sepertinya pasangan suami istri. Wulan segera mengajakku bersalaman pada dua orang tua itu.


"Wulan, kamu pasti mau ketemu sama Intan kan?" tanya bapak itu ramah.


"I..Iya, Om. Kami ingin lihat keadaan Intan."


"Pasti Intan senang sekali dijenguk sahabatnya. Lah, ini siapa, Lan?" Pandangan pria tua itu beralih menatapku.


"Saya teman satu indekosnya Intan, Pak." Pria itu hanya mengangguk.


"Ya sudah, kalian silakan masuk. Doakan Intan ya agar cepat pulih. Sebentar lagi dia akan menikah dengan orang penting di pabriknya." Mata wanita tua itu melirik ke arah Adnan yang sedari tadi diam.


"Oh, selamat ya, Bu," ujar Wulan dengan suara gemetar. Sepertinya keluarga ini tidak tau siapa itu Adnan sebenarnya.


"Ya sudah, masuk saja." Wanita itu menyuruh kami menemui Intan yang terbaring lemah tanpa daya. Sebelum masuk, Adnan menyodorkan masker kepadaku.


"Pakai saja dulu."


Aku dan Wulan menurut saja. Mataku terbelalak saat melihat kondisi Intan yang bisa dibilang mengerikan. Tidak hanya wajahnya, tapi seluruh tubuhnya dipenuhi dengan koreng yang terus mengeluarkan cairan darah dan nanah serta menguarkan bau yang sangat busuk.


"Han, kenapa Intan separah ini?" Wanita itu tergugu saat melihat kondisi wanita yang beberapa hari lalu dengan sombongnya akan memiliki Adnan seutuhnya. Amarah dan kecewaku padanya pun sudah menguap entah ke mana.


Wulan tiba-tiba saja ambruk, tapi untungnya Adnan segera menangkap tubuh Wulan, seolah mereka tengah berpelukan.


"Lan, bangun, Lan." Aku menepuk pipinya perlahan.


"Coba kamu minta sama ibunya Intan minyak kayu putih, sementara aku akan gendong Wulan ke depan. Mungkin Wulan tidak tahan dengan bau tubuh Intan sekarang."


Saat hendak beranjak, aku sempat melirik ke arah Intan. Matanya yang tertutup tiba-tiba terbelalak. Matanya kini menatap tajam ke arah Adnan yang tengah menggendong Wulan.


"Pantas saja junjunganku memintaku kembali ke sini, rupanya dia ingin aku melihat pengkhianatan kalian di saat aku di ambang kematian. Tunggu saja, aku akan balas dendam atas perbuatan kalian!"


...----------------...

__ADS_1


...--bersambung--...


__ADS_2