Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 28: Pengkhianatan yang Terkuak


__ADS_3

Mbak Juni mengangkat bahunya. "Jujur aku juga bertanya-tanya selama beberapa tahun ini, mengapa Gayatri hilang di kamar indekosnya. Bahkan aku sempat mengira Gayatri kabur setelah terus diteror hantu-hantu menyeramkan dan juga rasa bersalahnya pada Melati."


"Lalu apa gadis yang bernama Melati tau soal pengkhianatan Gayatri?"


"Melati tau tepat sebelum gadis malang itu mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya." Mbak Juniyati tampak begitu emosional, rahangnya mengeras, dan air matanya menitik. "Andai aku mencegahnya untuk pergi dalam keadaan marah mungkin Melati masih hidup."


Aku mengusap tubuh Mbak Juni yang terlihat terguncang karena menangis. Baru kali ini aku melihat wanita yang tampak tegas itu terlihat rapuh. Aku menyodorkan segelas air mineral yang disediakan pabrik untuk karyawannya.


"Mbak, yang tenang ya. Inshallah Melati sudah berada di tempat terindah."


"Entahlah, Han. Dia pergi dengan membawa kemarahan dan dendam yang membara."


Bel panjang berdering, sudah saatnya setiap orang kembali kepada rutinitasnya. Meski banyak cerita yang ingin aku ketahui dari perempuan yang sepertinya tau selak-beluk teror-teror itu, aku memilih kembali ke meja dan bergelut dengan pekerjaan-pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan.


"Mbak Hanna, ngobrol apa sih sama Mbak Juni, tadi kelihatannya seru?" tanya Indah.


"Nanti saja, aku ceritakan. Kita kerja dulu saja."


Bising suara mesin-mesin jahit bercampur suara musik dangdut yang sengaja diputar agar kami para pekerja sift malam tidak mengantuk, terkadang gurauan terdengar diselingi tawa. Semua berusaha membuat kondisi ruang itu kondusif dan meminimalisir para pekerja ada yang melamun.


"Guys, aku punya tebakan nih. Siapa yang bisa jawab, aku kasih hadiah pegang mesinku selama satu jam!" Teriakan Mbak Juni mendapat sorakan dan tawa yang berderai.


"Tidak sudi! Hadiah itu uang atau paling tidak sabun colek. Lah ini, hadiahnya malah suruh pegang mesin obras." Seorang pekerja menyahut sembari diiringi tawa.


"Eh, jangan salah. Mesin obras ini tidak sembarangan orang bisa megang. Hanya orang-orang tertentu saja dan yang terpilih."


"Halah, bohong!" Mataku berbinar saat mendengar suara berat dan sedikit serak, tiba-tiba ikut nimbrung dalam canda di ruang produksi ini.


"Asem! Malah aku dibilang bohong. Coba sekarang kamu pegang mesinku kalau bisa." Semua orang kini menatap pria yang menggunakan wearpack hijau itu.


"Halah, masalah sepele ini!" Ridwan dengan percaya diri berjalan bak model menuju mesin Mbak Juni. Dengan santai tangan kirinya memegang mesin, sementara tangan kanan berkacak pinggang. "Bagaimana, bisa kan?"


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya yang sangat lucu itu. Apalagi saat tubuh kekarnya ditimpuk Mbak Juni dengan kemoceng. Ridwan berteriak-teriak seperti anak kecil yang sedang dipukuli oleh ibunya.

__ADS_1


"Ampun, Mbak!" Teriaknya sembari menangkis sabetan kemoceng yang terus dilayangkan oleh Mbak Juni padanya.


"Bocah tidak...!" umpat Mbak Juni sembari meletakkan kemoceng di lemari yang berada di belakangnya.


"Mbak, aku itu tidak salah lo, kenapa dipukuli seperti ini? Tadi kan Mbak Juni sendiri yang bilang kalau tidak sembarang orang bisa pegang mesinmu. Nah kan aku bisa pegang, jadi aku termasuk orang pilihan. Aku itu sebenarnya lebih hebat dari kamu karena aku juga bisa memperbaiki mesinmu kalau rewel. Cuma satu aku yang tidak bisa adalah membuatnya segera menjawab rasa cintaku."


Pada kalimat terakhir Ridwan mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku langsung menunduk dan tersipu, wajahku memanas pasti wajah ini sudah mirip udang rebus. Aku tidak berani membalas tatapan mata elangnya yang begitu indah dan tajam itu.


"Tidak tau, Wan! Terus kamu di sini mau ngapain?" tanya Mbak Juni.


"Mau makan. Ya mau memperbaiki mesin yang rewel lah, Mbakyu." Ridwan berjalan menuju ujung ruang itu. Di sana memang ada beberapa mesin yang bermasalah. Aku kembali menyibukkan diri meski seringkali aku mencuri pandang pada pria yang berhasil membuat jantungku berdegup kencang tiap kali ada di dekatnya.


Tanpa terasa pagi mulai menjelang, aku lega karena malam ini hantu-hantu tidak lagi mengganguku dengan kemunculannya. Satu-satunya yang mengganguku adalah cerita Mbak Juni tentang hilangnya Gayatri dan kematian Melati.


"Mbak Hanna, sebelum pulang cari makan yuk. Aku lagi pengen makan soto nih." Indah menggandengku saat kami berjalan keluar gedung.


"Kamu suka bener sama soto, Ndah." Aku tertawa karena hampir setiap pagi gadis itu selalu mengajakku untuk sarapan soto, itu juga di tempat yang sama. Padahal menurutku soto di sana rasanya biasa saja bahkan bisa dikatakan hambar. Namun, Indah selalu ingin makan soto di sana. Terkadang pikiran burukku bertanya mungkinkah penjual soto itu menggunakan pelaris, tapi jika menggunakan bantuan ijin kenapa warung itu sepi. Padahal setahuku, jika pedagang curang biasanya ramai pembeli. Ah, tidak baik berprasangka buruk seperti ini. Entah apa alasannya hanya Indah yang tau.


Benar saja, Indah menghentikan laju kuda besinya tepat di warung soto yang sederhana itu. Dua mangkuk soto ayam sudah tersaji di depanku, kali ini aku mencium bau yang sangat harum khas rempah-rempah, berbeda dari hari-hari yang lalu.


Perlahan aku menyeruput kuah soto yang berbau harum. Kali ini soto di sini memang benar-benar nikmat. Kuah kaldu yang berpadu dengan rempah-rempah mampu menggunggah selera. Aku melirik wanita paruh baya yang sedang menungguku memberi pendapat tentang sotonya kali ini.


"Bagaimana, Mbak? Enak tidak?"


"Enak sangat, Bu. Besok pakai resep ini saja." Indah tiba-tiba berucap sebelum aku menjawab pertanyaan ibu penjual soto itu.


"Beneran, Mbak?"


"Bener, Bu. Soto ini enak banget," imbuhku. Aku bisa melihat senyum merekah dari wanita paruh baya itu.


"Alhamdulillah, ternyata ada penjual soto yang luar biasa baiknya. Biasanya mereka enggan berbagi rahasia dapurnya ke orang lain, biasanya dikekep sendiri. Semoga soto Mbah Gugel laris manis tanjung kimpul, dagangannya laris duitnya kumpul."


Aku yang tengah menyantap soto jadi terbatuk. Rupanya jaman sekarang masih ada orang yang tidak mengikuti perkembangan teknologi yang begitu pesat.

__ADS_1


"Bu, anda mau saya kenalin sama Mbah Gugel?" tanyaku perlahan pada wanita yang tengah tersenyum menatap gerobaknya.


"Mau, Mbak. Saya mau berterima kasih sama beliau karena memberi resep soto yang enak. Saya akan berhutang budi dengan beliau karena memberi saya sedikit harapan baru. Cuma warung soto inilah tumpuan hidup saya, Mbak." Ada air mata keharuan yang menggenang di sudut mata yang mulai berhias keriput itu.


Aku menyodorkan ponselku padanya, wanita itu mengernyitkan dahinya. "Mbak mau telepon Mbah Gugel?" Aku menggelengkan kepala menanggapi pertanyaannya.


"Bu, Mbah Gugel itu bukan penjual soto atau orang tapi ini."


"Maksudnya bagaimana, Mbak? Saya kok tidak paham. Orang katanya anak saya, resep soto dari Mbah Gugel, pasti dia juga bisa masak."


"Bu, Mbah Gugel itu mesin pencarian. Mau cari apa saja di sana ada. Mau cari resep bahkan mau cari berita semua ada, Bu."


Aku menunjukkan bagaimana cara mencari resep melalui ponsel pada wanita yang separuh rambutnya sudah dipenuhi uban itu, dia tampak mengangguk-angguk.


"Oalah, jadi Mbah Gugel itu bukan orang ya, Mbak?"


"Bukan, Bu."


"Enak ya jaman sekarang apa-apa tinggal pencet-pencet di handphone, semuanya ada. Berarti buat berita bisa, Mbak?"


"Bisa, Bu. Tinggal ibu ketik mau cari apa, pasti ketemu."


"Nek, cari berita lama apa bisa ya, Mbak? Soalnya dari jaman dulu, saya itu penasaran sama indekos berhantu yang ada di belakang garmen itu lo, Mbak."


Mataku membulat apakah yang dimaksud ibu ini adalah indekos yang aku sewa ataukah tempat lain.


"Memangnya ada apa, Bu?" Aku mencoba mengorek informasi siapa tau aku dapat petunjuk tentang misteri hilangnya Gayatri dan juga kasus pembunuhan dua puluh tahun lalu.


"Soalnya ada kabar yang sempat bikin geger warga sini. Ada anak gadis, dia bekerja di garmen itu hilang di indekosnya. Padahal, Mbak, beberapa hari sebelumnya makan di sini. Saya ingat betul awal-awalnya mbak yang hilang itu makan sama temannya yang perempuan, tiap hari makan di sini. Terus tau-tau bertiga sama laki-laki. Terus cuma berdua sama laki-laki itu. Katanya temannya yang perempuan dapat kerjaan di luar kota."


Pasti itu Gayatri, Melati, dan pria yang menyebabkan persahabatan kedua gadis itu hancur. Aku meneguk sisa es teh, sementara Indah tampak masih menikmati tempe mendoan yang masih hangat.


"Terakhir kali itu si mbak yang hilang itu makan di sini tapi sambil debat sama yang laki-laki, Mbak. Saya sih tidak mau tau urusan mereka, sampai mereka bertengkar seperti itu. Cuma yang saya sempat dengar, si mbak itu menyalahkan pria itu karena menyebabkan kematian orang lain. Nah si laki-lakinya pergi, tiba-tiba si mbak itu teriak-teriak katanya ada potongan jari di soto saya, Mbak. Spontan saja pembeli saya yang ada beberapa orang, saat itu juga ikut kabur. Karena dikira warung saya ini pakai jampi-jampi. Akibatnya sampai sekarang warung saya makin hari makin sepi, Mbak."

__ADS_1


...----------------...


...--bersambung--...


__ADS_2