Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 42 : Amarah yang Membakar


__ADS_3

Apa mungkin wanita yang dilihat si bapak adalah hantu penghuni indekosku datang dan kembali mengikutiku. Aku pun memikirkan rasanya sangat aneh karena dia pun tau makanan kesukaanku adalah burung puyuh bakar. Perlahan tubuh bapak penjual angkringan itu merosot. Aku dan Wulan tidak mampu lagi menahan berat badan pria yang sedikit gempal.


"Tolong! Tolong!" teriak Wulan berusaha menarik perhatian orang, sementara aku terus memanggil si bapak agar dia sadar kembali.


Untung tidak berapa lama, orang-orang berdatangan dan menggantikan posisiku dan Wulan yang menahan tubuh bapak itu agar tidak ambruk karena di bawah banyak sedikit pecahan gelas yang siap menusuk siapa saja.


"Itu bagaimana kronologinya, Mbak?" Seorang bapak menanyai aku karena selain bapak itu hanya ada aku dan Wulan di sana.


"Kami tidak tau pasti, Pak. Cuma memang tadi beliau katanya melihat seorang perempuan duduk di kursi terus tiba-tiba kulitnya terkelupas dan kepalanya lepas jadi si bapak terkejut dan pingsan."


"Lalu wanita itu sekarang dimana?"


"Kita juga tidak tau, Pak. Orang kita di sini juga tidak lihat wanita yang diceritakan oleh bapak itu. Kami juga bingung." jelas Wulan. Pria yang rambutnya sudah memutih itu hanya mengangguk.


"Berarti yang dilihat sama Pak Bagyo itu sejenis demit ya."


"Mungkin, Pak. Ini terus angkringannya bagaimana?"


"Kamu tunggu di sini dulu, Mbak. Ada yang lagi menghubungi anaknya Pak Bagyo. Nanti urusan bayar membayar biar sama anaknya saja. Kalian lanjutkan makannya saja." Pria itu meninggalkan kami dan menuju kerumunan orang yang tengah berusaha menyadarkan bapak itu.


"Sudah kita lanjut makan saja." Wulan kembali menyantap nasi bandengnya sementara aku rasanya tidak sampai hati memakannya. Rasanya tidak enak dan tidak nyaman harus makan, sedangkan di tikar sebelah ada kerumunan orang, rasanya tidak punya simpati ke orang.


"Han, kenapa kita tidak jadi makan?"


"Nanti saja di rumah, aku nanti tak minta plastik saja."


"Aku juga deh. Rasanya aneh kita makan dalam kondisi seperti ini."


Tidak berapa lama seorang remaja datang bersama ibunya dengan naik sepeda ontel. Remaja itu langsung menembus kerumunan untuk melihat kondisi bapak penjual angkringan. Mungkin dia anak dari penjual angkringan tadi. Sementara itu, wanita paruh baya tampak membereskan barang dagangannya.


"Han, ini istrinya kali. Kita bayar saja sekalian minta plastik." Aku berjalan mendekati wanita yang ternyata berlinangan air mata.


"Bu, kami mau membayar makanannya, Bu." Wanita itu diam saja tidak menjawab. Baru setelah aku menyentuh bahunya dia menoleh ke arahku. "Bu, kami mau bayar makanan kami. Nasi..."


Aku baru akan menyebutkan apa saja yang aku ambil, wanita itu menggoyangkan tanganku kemudian dia memberi isyarat dia tidak bisa mendengar dan berbicara. Ada rasa iba yang menyelimuti hatiku.


Aku melambaikan tangan ke arah Wulan, dia pun mendekatiku.


"Ada apa?"


"Ibunya ternyata tidak bisa dengar dan bicara, bagaimana kita tau nominal yang harus kita bayar?"

__ADS_1


"Kita tunggu bapaknya siuman atau anaknya deh."


Tidak berapa lama aku mendengar seruan syukur dari kerumunan itu. Semoga saja bapak penjual angkringan itu tersadar. Saat perlahan orang-orang pergi dari sana. Aku dan Wulan mendekat.


"Bagaimana, Pak?"


"Sudah agak mendingan, Mbak. Mbak berdua kok belum pulang?"


"Bagaimana bisa pulang dengan tenang, sementara kami masih mempunyai tanggungan dengan bapak. Kami mau membayar makanan yang sudah kami makan dan sebagian kami bungkus."


"Tidak usah, Mbak. Tadi walaupun wanita itu menyeramkan dia bayar kok, termasuk makanan Mbak berdua ini." Aku dan Wulan terperangah dari mana hantu itu punya uang, atau jangan-jangan seperti di film-film duitnya berubah menjadi daun.


"Pak, coba dilihat lagi takutnya itu bukan uang, tapi daun lagi."


"Enggak mungkin, Mbak. Orang saya menghitung jumlahnya genap."


"Tapi, mbaknya bener, Pak. Siapa tau ucapan Mbak ini bener!" Remaja itu tampak menyetujui usulku. Dia bergegas membuka laci penyimpanan uang."


"Bagaimana, Le?"


"Isinya bukan daun tapi juga bukan uang, Pak. Isinya gulungan rambut yang ada cokelat-cokelatnya, seperti darah yang mengering."


"Pak, tolong hitung makanan kami, sekalian makanan yang sudah dimakan oleh hantu tadi. Meski kami tidak tau, tapi kami merasa bertanggung jawab atas ulah wanita menyeramkan itu."


Setelah menghitung bapak itu menyebutkan sebuah nominal, angkringan di sini memang termasuk murah meriah. Aku merogoh uang yang ada di kantungku. "Pak, ini ya."


"Sebentar, Mbak. Biar anak saya ambil kembaliannya dulu."


"Tidak usah, Pak. Kembalinya buat ganti gelas yang pecah saja." Pria itu menolak tapi aku memaksanya. Aku mengaminkan setiap doa tulus dari bapak itu. Sebuah pelukan juga dihadiahkan oleh si ibu. Ada kedamaian yang tidak bisa ditukar oleh apapun.


"Han, kamu bilang harus hemat dalam mengatur uang tapi mengapa hari ini kamu membayar dua ratus ribu hanya untuk nasi bandeng."


"Bapakku selalu mengajarkan aku untuk berhemat dalam segala hal, kecuali dalam hal beramal. Keluargaku bukan orang mampu, Lan. Namun, kami tidak pernah kekurangan soal makanan. Bahkan saat bapak sudah pensiun jadi guru honorer, ada saja rejeki."


Aku bersyukur dilahirkan di tengah keluarga sederhana tapi bersahaja. Mereka membentuk pribadi anak-anak walau kami perempuan harus berdikari, tidak boleh ada kata lemah. Ya, walau ketika harus berhadapan dengan hantu dan demit tetap saja gemetar. Aku dan Wulan berkeliling daerah sekitar pabrik hanya untuk menyegarkan pikiran.


"Lan, kita mampir sebentar yuk, ke rumah Indah. Tidak enak aku sudah beberapa hari ini tidak ke sana." Wulan yang sedang menyetir mengangguk mantap. Jalan menuju rumah Indah dari tempat kami sekarang harus melalui jalan yang membelah pemakaman besar. Pemakaman yang sama saat aku terjebak di sana.


"Lan, apa tidak bisa kita lewat jalan lain untuk ke rumah Indah? Kenapa harus lewat pemakaman sih," ujarku sembari meremas pinggang Wulan.


"Bisa, tapi kita harus muter jauh dulu. Ini jalan paling deket menuju rumahnya Indah."

__ADS_1


"Ta-tapi aku takut banget, Lan. Ini bulu kuduk mulai merinding."


"Han, kamu tenang saja kan ada aku di sini. Arau kamu baca-baca apa gitu, biar tidak merasa takut gitu."


"Assalamualaikum, ya ahli kubur. Permisi, kami mau numpang lewat," ucapku lirih. Ketika kami sudah di depan pemakaman.


Motor Wulan mulai memasuki gerbang belakang pemakaman tua yang letaknya di tengah rumah-rumah padat penduduk. Angin dingin mulai menusuk kulitku, aku merapatkan pelukanku pada Wulan yang perlahan membelah jalan yang berlubang-lubang itu. Desiran air membawa suara seperti dentingan gamelan yang ditabuh dari tempatnya sangat jauh, jadi suaranya timbul dan tenggelam. Suara itu mengingatkanku ketika aku terjebak di perkampungan hantu. Semoga saja suara tadi hanya halusinasiku saja. Aku meminta agar Wulan mempercepat laju motornya. Untung saja gerbang utama pemakaman ini sudah terlihat.


Mataku menatap makam paling ujung dan tertutup atap seng dan dipagari teralis. Samar aku melihat seorang nenek mengenakan kebaya cokelat muda serta kain jarik, tengah tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Aku tau siapa beliau. Dia adalah Nyai Sukarti alias Simbok, seseorang yang dulunya adalah juru kunci makam ini di masa penjajahan Belanda.


Aku membalas senyumnya dengan anggukan dan senyum tipis. "Han, kamu senyum sama siapa?"


"Dengan Simbok, penjaga pemakaman ini."


"Perasaan tidak ada orang di sana."


"Memang dia bukan orang, tepatnya mantan orang. Halah gimana ya nyebutnya. Pokoknya gitu deh, nanti deh kapan-kapan aku cerita kenapa aku bisa mengenal nama itu."


"Hidupmu memang penuh memedi, Han."


"Aku juga tidak mau seperti ini, tapi mau bagaimana lagi."


Motor berhenti di rumah joglo yang luas, rumah inilah tempat berlindung dari teror hantu penunggu indekos berdarah. Aku hendak mengetuk pintu rumah Indah, tapi sang empunya rumah sudah membukakan pintu. "Mbak Hanna, Mbak Wulan, masuk yuk!"


Indah menggandengku dan Wulan dengan senang. "Pak! Bu! Mbak Hanna datang!"


Kedua orang tua Indah yang sangat baik itu keluar kamar dan memelukku.


"Ibu kira kamu sudah tidak mau lagi tinggal di sini," ujar Bu Yuni sembari terus menggenggam tanganku.


"Kebetulan Hanna ada urusan di indekos, selain itu Hanna kan masih masuk malam jadi tidak tidur dimana-mana."


"Tidak apa-apa, Nduk. Yang penting kamu jaga diri baik-baik."


Di tengah perbincangan hangat, tiba-tiba nenek keluar dengan menenteng kipas.


"Panas... panas, bukan hanya matahari yang panas tapi ada hati yang tengah terbakar oleh amarah. Dia siap menghanguskan setiap benda bahkan tidak segan melebur semua yang ada di hadapannya tanpa ampun. Namun, dia lupa bersamaan dengan itu dia juga ikut terbakar dan lenyap."


...----------------...


...--bersambung--...

__ADS_1


__ADS_2