
Aku meletakkan kembali ponselku ke dalam tas meski masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang bergelayut di pikiranku mengenai dugaanku jika si penari itu Melati. Namun, bel panjang sebagai tanda aku harus mulai bekerja sudah bergema.
"Ayo, Han!" ajak Mbak Juni sembari menepuk bahuku.
"Tunggu, Mbak!" Aku mempercepat langkahku untuk menyusul wanita yang awal masuk sempat aku takuti itu. Ternyata benar kata pepatah 'jangan menilai orang dari tampilan luarnya', meski Mbak Juni terlihat wanita galak karena rahangnya yang tegas tapi bisa aku pastikan dia adalah perempuan yang baik hati. Beberapa kali menyelamatkanku dari teror hantu Gayatri yang mengurungku di gedung spinning.
Aku bergelut dengan kain dan tumpukan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sesekali menimpali candaan yang terus saja bersahutan di ruangan yang berisi ratusan orang dengan berbagai macam sifat dan latar belakang ini.
"Han, si cemeng tumben sekali tidak keluyuran di sini?" tanya Mbak Juni. Cemeng? Bagaimana aku bisa lupa itu adalah julukan Ridwan saat di pabrik. Menurut cerita Mbak Juni, dulu saat pertama kali masuk ke pabrik ini badan Ridwan begitu kurus dengan kumis tipis yang menghiasi wajahnya. Ditambah lagi saat itu dia merupakan teknisi paling muda karena baru saja menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruannya. Belum juga dinyatakan lulus tapi dia sudah diterima bekerja di pabrik sebesar ini.
"Tadi kalau tidak salah sih, mengantar keluarganya Indah ke hajatan sepupunya Indah, Mbak. Ini lo, adiknya Melati."
Wanita itu tampak terkejut dengan penuturanku. Dimatikannya mesin jahit yang dia pegang, kemudian dia berjalan menujuku.
"Lo, apa hubungan Indah sama Melati?" bisik Mbak Juni.
"Sepupu, Mbak. Memangnya Mbak Juni tidak tau?" Wanita itu menggeleng. Mumpung Mbak Juni ada di dekatku, lebih baik Aku pastikan lagi wanita yang ada di foto itu adalah Melati.
"Mbak Juni, apa benar wanita yang di ponselku tadi adalah Melati?"
"Tentu saja. Aku mengenalnya meski kami berbeda bagian. Dia pun sering masuk ke sini."
"Mbak Juni apakah pernah dengar kisah penari yang dibunuh oleh sahabatnya sendiri dan meninggalkan dendam kesumat pada kotak bedak miliknya?"
"Aku tau, bahkan Gayatri juga pernah memakainya. Aku pikir selama ini hanya mitos. Memangnya kenapa?"
Aku menceritakan pada Mbak Juni bahwa beberapa hari lalu, Gayatri seperti memperlihatkan padaku yang terjadi di masa lalu. Dia pernah dikejar oleh sesosok penari yang separuh wajahnya terkelupas dan jika diperhatikan baik-baik si penari itu adalah Melati.
"Aku memang pernah mendengar bahwa semua orang yang diambil sebagai budak oleh sang penari akan berubah menjadi penari juga. Aku pun mendengar kalau si pemilik bedak pelet selalu mengambil nyawa dalam jumlah genap. Pertama adalah pemakai dan yang kedua bisa si pria atau wanita yang direbut kekasihnya apabila si wanita itu menyimpan dendam yang membara. Namun, kenapa dalam kasus Gayatri ada tiga nyawa yang direnggut?"
Aku hanya bisa mengangkat bahu karena aku tau si penari itu tidak hanya merenggut tiga nyawa, tapi lima nyawa, Gayatri, Melati, dan tiga pria yang telah merudal paksa Gayatri. Aku tidak berani bilang kejadian ini karena kenyataannya kejadian ini hanyalah sebuah rahasia yang terkubur dengan kematian kelima orang itu.
"Han, kamu jangan melamun gitu. Bentar lagi magrib lo, hati-hati kesambet." Wanita itu menggeleng pergi meninggalkanku dan kembali ke mesinnya. Sementara aku kembali bergelut dengan pekerjaanku yang seolah memanggil untuk disentuh lagi. Aku membuang napas dengan kasar sebelum melanjutkan pekerjaanku, sementara aku singkirkan pikiranku tentang Melati.
Azan Magrib lirih berkumandang dari masjid yang berada di luar komplek perusahaan ini. Beberapa karyawan memastikan mesinnya untuk menunaikan ibadah salat. Kami terbiasa bergantian saat melakukannya karena tempatnya terbatas.
"Han, kamu salat nanti atau sekarang?" tanya Mbak Juni.
"Nanti deh, Mbak. Nanggung banget kurang dikit lagi."
__ADS_1
"Ya sudah, nanti bareng ya." Aku melanjutkan pekerjaanku kembali. Hanya butuh waktu lima belas menit sebelum nanti pekerjaan baru aku mulai lagi.
"Mbak, ayo!"
Mbak Juni segera mematikan mesinnya dan berjalan ke arahku. Beriringan aku dan Mbak Juni serta beberapa karyawan bergantian ke musala yang ada di depan gedung. Setelah mengambil air wudhu, aku bersiap melaksanakan salat. Musala sudah sepi hanya ada aku, Mbak Juni, dan beberapa teman kami saja. Mbak Juni bersiap memimpin salat.
"Han, kamu sudah salat?" Aku segera mencari sumber suara yang begitu aku kenal itu.
"Baru mau, Wan. Kamu mau salat kan?" Belum sempat aku jawab pertanyaan Ridwan, Mbak Juni menyela pembicaraan kami.
"Ini aku mau salat, Mbak."
"Ya sudah. Sana jadi imam kita!" Mbak Juni mempersilakan pria jangkung itu ke depan. Ridwan berjalan menempati posisi terdepan yang dipisahkan oleh tirai pembatas.
"Kita lihat semoga saja dia bisa menjadi imam yang baik untukmu nanti." Bisikan Mbak Juni membuatku tersipu malu hingga menimbulkan rona merah di pipi.
"Ciye, malu nih ye!"
"Sudah, Mbak. Jangan menggodaku terus. Ini kita mau salat lo."
Godaan Mbak Juni Baru berhenti ketika Ridwan memulai salat. Hatiku rasanya tenang saat pria yang selalu slengean itu nyatanya ketika membaca hapalan salat dan melantunkan ayat suci begitu merdu. Dari awal hingga akhir rasanya benar-benar meneduhkan.
"Suaranya indah ya, Mbak. Saking merdunya sampai mengena di hati."
"Makanya kamu terima saja si cemeng, biar dia bisa jadi imamnya kamu selamanya dan tidak berubah jadi kucing garong yang liar."
Aku terbahak dengan ucapan Mbak Juni tentang kucing garong. Namun, gelak tawa itu terhenti saat aku masuk ke ruang produksi langsung disambut aroma bunga setaman yang begitu menyeruak dan menusuk hidung. Bau yang membuat suasana yang ramai orang tapi begitu mencekam.
Aku menarik tangan Mbak Juni dan mundur beberapa langkah, keluar dari ruangan itu.
"Ada apa? Kenapa kamu ajak aku keluar? Kamu mau ketemu Ridwan, tadi dia kan bilang kerjaannya lagi banyak banget."
"Bu-bukan, Mbak. Memangnya Mbak Juni tidak mencium tadi saat kita masuk ke ruang produksi?"
"Bau? Bau apaan? Bau keringat mungkin." wanita itu bisa-bisanya terkekeh di saat aku tengah didera ketakutan yang teramat sangat seperti ini.
"Ada bau bunga setaman yang sangat tajam, masa Mbak Juni tidak menciumnya?"
Wanita itu melepas pegangan tanganku dan berjalan masuk ke ruang produksi sembari mengendus-endus semua yang ada di dekat pintu.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, Han." Dia kembali menghampiriku dan menggamit tanganku. "Ayo, masuk. Tidak ada apa-apa."
Perlahan aku memasuki ruangan produksi, bau itu masih menyengat. Kini bukan hanya bau tapi juga suara tangisan yang sangat jelas terdengar.
"Mbak, ada yang nangis," ujarku dengan suara bergetar.
"Tidak ada apa-apa, Han. Berdoa saja semuanya baik-baik saja." Wanita itu terus mengusap lenganku. Diantarnya aku sampai ke meja. Mataku terbelalak saat aku dapati wanita tanpa rupa itu duduk di atas mejaku. Aku mundur berlari menyusul Mbak Juni yang sudah kembali ke tempatnya.
"Mbak, a-ada Gayatri di mejaku. Di-dia sedang membelai kain yang di mejaku sembari menangis."
"Beneran?" Aku mengangguk sembari sesekali melirik hantu tanpa rupa itu.
"Aku harus bagaimana, Mbak? Padahal ini belum malam lo, masih jam segini sudah muncul saja."
"Kamu baca doa gih. Biar dia pergi. Kalau kamu punya nyali gede sih, tanyain maunya apa biar dia tidak menggangu kamu terus."
Mataku membulat menatap ke arah wanita yang terus saja menjahit itu. Usul yang pertama bisa saja aku terima, tapi yang kedua mencoba bertanya pada makhluk mengerikan itu rasanya mustahil.
"Tidak mau, aku tidak mau bicara sama dia."
"Ketimbang kamu diganggu terus sama dia? Memangnya kamu mau?"
Tentu saja aku tidak mau. Sejak tinggal di indekos berdarah kamar tiga belas itu, rasanya hidupku tidak tenang. Harus berhadapan dengan hantu-hantu di setiap harinya.
"Hanna tidak kau, Mbak, tapi juga tidak mau jika harus berbicara sama si muka rata itu."
"Terserah, kalau saranku lebih baik kamu tanyakan saja apa maunya daripada terus-terusan menerormu seperti ini." Aku bersikukuh dengan pendapatku. Aku ini manusia biasa yang terkadang lemah iman tentu saja takut jika harus berhadapan dengan makhluk mengerikan itu.
Aku terus berjongkok bersembunyi di samping Mbak Juni. Sesekali aku melihat mejaku, wanita itu tetap saja ada di sana. Kadang dia menangis tapi kadang tertawa melengking. Aku menutup mataku berharap dia segera pergi agar aku bisa melanjutkan pekerjaanku.
Tiba-tiba saja telinga kiri seperti ada yang meniup. Ini pasti ulah Mbak Juni yang iseng karena melihatku bersembunyi padahal pekerjaanku menumpuk begitu banyak.
"Apa sih, Mbak? Aku kan lagi takut," omelku pada Mbak Juni. Namun, saat aku menengok ke kiri bukan wajah Mbak Juni yang aku dapati, melainkan wajah tanpa rupa.
"Tolong aku, di sini gelap sekali!"
"Aaaa!" aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku berlari ke sembarang arah bahkan menabrak beberapa mesin tapi wanita tanpa rupa itu terus mengejarku sampai semuanya berubah menjadi gelap.
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...